18.11.16

Dari Akira Sampai Kiarostami: Film-film Penenang

I don't know what I've been doing with my life all these years. 
- Kanji Watanabe


Sekira sebulan lalu sebuah keisengan yang saya buat sendiri berhasil memberi saya ketenangan yang menyenangkan. Beberapa bulan lalu hidup saya memang mengalami sejumlah perubahan. Mulai dari waktu yang tiba-tiba lebih banyak harus saya lewati sendirian--yang dengan demikian membuat saya tidak banyak bicara kepada manusia lain--hingga beberapa kegiatan yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan namun kini mulai saya biasakan. Banyak. Mungkin juga besar. Ada kalanya ketika mengingat-ingat mengenai perubahan tersebut saya tersenyum sendiri.

Keisengan yang memberi ketenangan nan menyenangkan itu adalah Pekan Film Jepang. Itu bukanlah agenda yang dihelat oleh Pusat Kebudayaan Jepang di mana pun. Pekan Film Jepang adalah agenda yang saya susun sendiri dan digelar di kamar saya sendiri. Seluruh film yang dijadwalkan untuk diputar adalah film-film yang saya pilih sendiri. Penontonnya, ya saya sendiri.

Sebelumnya saya tak banyak menonton film Jepang (atau film mana pun). Saya sepenuhnya sadar bahwa saya bukanlah penggemar berat film. Sesekali saja saya menonton. Jika kebetulan film yang saya tonton (menurut saya) bagus, saya senang. Jika tidak bagus, ya biasanya malah saya tertidur sebelum film itu usai.

Pekan Film Jepang organized by me itu sepenuhnya gagal. Kenyataannya saya tidak benar-benar menonton film Jepang selama seminggu penuh (1 film 1 hari). Agenda tersebut molor hingga lebih dari satu pekan. Saya keranjingan menonton film-film Jepang.

Beberapa film Jepang yang kemarin saya tonton ialah (saya tidak akan memberikan review atau menceritakan sinopsis. Ada banyak sekali di internet tulisan-tulisan mengenai film-film ini):

Ikiru


Film besutan Akira Kurosawa ini dirilis pertama kali pada tahun 1952. Selama menyaksikan film ini, saya merasa apa yang terjadi di film ini mirip dengan kondisi di Indonesia. Saya memang bukan pegawai pemerintahan. Tetapi saya kerap mendengar cerita-cerita miring soal pegawai pemerintahan Indonesia, termasuk kemunafikan-kemunafikannya. Kanji Watanabe, tokoh utama film ini yang diperankan keren sekali oleh Takashi Shimura, berhasil menggoda saya untuk terus menyaksikan film-film Jepang di hari-hari berikutnya.

A Bride for Rip Van Winkle


Film panjang ini mungkin agak membosankan untuk ditonton. Tapi setelah menontonnya, film karya Shunji Iwai ini berhasil membuat saya melamun panjang dan mulai berpikir, "tidakkah Iwai tengah menyodorkan cermin besar untuk kita?"

Midnight Diner


Bukan, ini bukan sekadar film mengenai makanan. Nyaris 90 persen film hanya ber-setting di sebuah rumah makan berukuran kecil dengan meja letter u serupa warung bubur kacang ijo. Rumah makan itu hanya buka di malam hari dan tutup menjelang pagi. Demi apa pun, saya suka sekali film ini dan kisah-kisah yang ada di dalamnya. Kisah-kisah kekalahan orang-orang biasa, kisah-kisah kerumitan pecinta-pecinta yang malang. Saya suka!

The Boy and The Beast


Jepang adalah anime. Dengan pertimbangan tersebut, saya memilih tiga film anime: The Tale of Princess Kaguya (film ajib produksi Ghibli), Journey to Agartha, dan The Boy and The Beast. Yang saya suka, film-film ini mengingatkan saya pada realisme magis ala Gabriel Garcia Marquez. Segala hal yang sebenarnya bakal bikin pusing seandainya benar-benar terjadi di dunia nyata, diceritakan dengan gaya yang santai dan seolah-olah merupakan kenyataan sehari-hari.

Wood Job!


Menurut resensi, ini film komedi. Saya sendiri tidak terlalu paham di mana letak komedinya. Film ini seperti film-film biasa yang dibuat dengan konsep dan biaya yang seadanya. Tetapi entah mengapa, film ini sepertinya akan segera muncul sebagai ingatan begitu memasuki kawasan hutan. Selama lima hari lalu saya melakukan perjalanan untuk urusan pekerjaan. Selama lima hari itu hidup saya dekat dengan pohon. Berjalan kaki keluar-masuk hutan, menyusuri jalan sempit dan curam di tengah hutan atau perkebunan lebat. Film inilah yang kerap ada di kepala saya.

Like Someone in Love


Saya tidak akan berkata banyak untuk film ini. Abbas Kiarostami, sutradara film ini, memang bukan orang Jepang. Kiarostami orang Iran. Tetapi film ini, mulai dari pemain hingga setting-nya, berada di Jepang. Dan  demi apa pun, saya menyukai film ini. Lemparan batu Noriaki ke kaca jendela kamar seorang kakek tua, berhasil menemani saya, sangat menemani saya, dalam menghadapi problema yang menjadi teror laten di benak saya bertahun-tahun lamanya.

20.10.15

Agenda Penting

Image: pixabay.com

Kamar menjadi satu-satunya dunia kecil saya sejak dua bulan terakhir. Keluar kamar (dan rumah) demi urusan pekerjaan, tak terlalu sering saya lakukan. Demikian pula duduk melingkar dengan sejumlah kawan baik. Syukur-syukur bisa sebulan sekali.

"Kamu ini orang yang tahan gak ke mana-mana. Berdiam di kamar sampai dua minggu," kata teman saya suatu saat dengan nada heran.

Saya diam saja. Baru tahu kalau tidak ke mana-mana sampai dua minggu merupakan hal janggal.

Maka ketika hari ini saya harus meninggalkan kamar demi meeting urusan kantor, saya susun agenda penting yang akan saya lakukan sebelum pulang: pergi ke pasar.

Pasar selalu tempat yang menyenangkan. Segala macam aroma masuk berdesakan ke lubang hidung. Jika bertandang pada malam hari, bohlam-bohlam yang bergelantungan di atas setiap lapak pedagang memberi kesan meriah. Terang dan segar.

Saya memarkir motor. Saya ingin membeli buah.

Satu lapak saya datangi. Semangka, jambu, mangga, buah naga (sejak kecil saya selalu menyangka naga itu serupa hewan, ternyata nama buah), melon, alpukat, pisang, salak, anggur, dan seterusnya.

"Ini berapa?" Saya menunjuk melon.

Harga disepakati. Melon madu berukuran tak terlalu besar sekaligus tak terlalu kecil. Memiliki bobot 2,5 kg.

"Ini bagus kan?" Saya tak terlalu piawai membedakan mana buah yang bagus dan tidak.

"Mau dicoba dulu?" Si penjual menantang.

"Gak usah. Ya sudah, bungkus."

Selepas dari deretan buah, giliran blok tukang sayur. Cabe merah, labu, bayam, kangkung, segar-segar. Baru datang entah dari mana.

Saya ingin timun. Sampai saat ini saya masih tidak mengerti apakah timun itu sejenis buah-buahan atau termasuk sayur-sayuran. Tapi saya tak terlalu peduli. Yang saya pedulikan adalah bayangan saya soal air parutan timun. Dingin. Segar. Menu yang nyaris rutin selama orang tua saya masih ada.

"Dua kilo, Bang!"

Si tukang sigap mengambil plastik. Memilih timun sementara saya mengawasi. Jika ada yang --menurut saya-- kurang oke, saya minta ganti.

Heran juga saya. Butuh waktu berapa lama untuk timun tumbuh dan siap dijual? Mengapa harga per kilo tak terlalu mahal?

Saya kembali ke parkiran dan segera pulang.

Sepanjang jalan saya berpikir-pikir: mengapa ideologi-ideologi besar, agama-agama besar, tak suka menyuruh para penganutnya untuk rajin makan buah? Tidakkah buah baik untuk kesehatan?

11.10.15

Tentang Orang Ketiga

Ia sesungguhnya tak pernah merencanakan sepedanya akan berakhir sebagai rongsokan tua. Bertahun-tahun yang lalu, saat bunga krisan di depan rumahnya mulai bermekaran, ia katakan itu pada ibunya. "Sepeda ini akan bersamaku, sampai kapan pun."

Ibunya, yang tengah sibuk menyirami deretan bunga krisan, sama sekali tak memberi respons. Sementara ia mulai membawa masuk sepedanya melewati pagar, ibunya melontarkan pertanyaan singkat. "Apa kamu tahu, bunga krisan mekar pertama kali pada zaman kapur, empat juta tahun yang lalu?"

Ia hanya berhenti sejenak, menolehkan kepala ke arah ibunya, untuk kemudian kembali menggiring sepedanya ke pinggir teras.

Ia dan sepeda. Betapa teman-teman sekolahnya dulu tak henti-henti mengolok dirinya karena sepeda itu. Tapi kepalanya memang sekeras batu.

Tak terhitung jumlah kawan yang mulai meninggalkan sepeda, ia tetap setia mengayuh sepeda, dari rumah menuju sekolah. Di halaman parkir sekolah berjejal kendaraan-kendaraan bermesin. Namun sepeda biru telur asin miliknya, senantiasa sentosa di salah satu sudut halaman parkir.

Hal semacam itu terus terjadi bahkan ketika ia mulai berpacaran dengan salah seorang laki-laki atlet tim hoki sekolahnya. Tak peduli sejuta kali si atlet melancarkan bujuk-rayu agar ia meninggalkan sepeda, dan dengan demikian mau untuk diantar-jemput menggunakan mobil, ia dan sepedanya tetap tak terpisahkan. Seteguh sumbing dan sindoro.

Tapi semuanya berubah bertahun-tahun kemudian.

1.10.15

Ketukan di Daun Pintu

Aku meletakkan lengan tepat di atas kening, berbaring mencoba tidur. Pintu kamar yang tak biasa kukunci diketuk, sebelum akhirnya segera terbuka. Wajah ayahku muncul.

"Mengapa tidur seperti itu, banyak pikiran?"

Tentu saja tidak. Pikiran apa yang membebani siswa sekolah menengah atas. Aku sendiri tidak mengerti mengapa kerap kali aku tidur dengan cara seperti itu. Membiarkan tanganku tergeletak di atas kening atau sesekali mata. Mungkin upaya kecil menghalau cahaya.

Aku tak menjawab, hanya tersenyum singkat seraya menyingkirkan tangan.

Wajah ayahku menoleh ke meja belajarku. Ia melangkah masuk. Meraih buku yang belum tuntas kubaca. "Renungan dan Perjuangan", Sutan Sjahrir. Buku bersampul merah putih dengan potret Sjahrir yang tampak menatap sesuatu.

Buku ini memuat renungan-renungan Sjahrir yang ia tulis berdasarkan pengalamannya. Juga catatan-catatannya selama di pengasingan, terutama Banda Neira. (Dan kelak, dari sini pulalah muncul mimpi untuk mengunjungi Banda Neira suatu hari nanti, mimpi yang belum juga berangkat nyata).

"Kamu boleh membaca apa pun, tapi tidak menjadi komunis," Ayahku berkata seraya meletakkan buku tersebut ke tempatnya kembali.

28.9.15

Hujan, Bakso, dan Ciuman

Toh, hujan sama menakjubkannya,
di Paris atau di tiap sudut Surabaya.


- Puan Kelana, Silampukau

"Mam, kapan nih akan turun hujan? Sudah kirim surat ke BMKG, mencoba menanyakannya?" Pesan seorang kawan baik masuk ke ponsel tepat seusai saya makan siang.

Saya hanya tertawa. Mengirimkan surat ke BMKG, kata saya, adalah pekerjaan yang hanya mungkin dilakukan mereka yang begitu kesepian. Dan saya tak ingin mengulanginya.

Tapi hujan memang seperti enggan datang. Anggapan lazim yang terpelihara sejak masa kecil, bahwa jika nama-nama bulan berakhir -ber, itu artinya kita memasuki musim hujan, sama sekali tak terbukti beberapa tahun belakangan ini. Tak peduli September, Oktober, November atau Desember, hujan bisa sama sekali tak tumpah dari awan. Sebaliknya, pada bulan-bulan di mana semestinya matahari bersinar garang, justru hujan kerap datang. Perubahan pola cuaca? Saya tak terlalu tertarik mencari tahu.

Tapi hujan memang kadang menyenangkan. Setiap kali hujan datang dan keponakan saya yang baru berusia satu tahun menatap ke luar rumah, saya selalu mencoba menerka apa yang ada di benaknya. Pada usianya itu, barangkali belum banyak hujan yang pernah ia saksikan. Melihat air tumpah begitu banyak dari langit, membasahi semua yang ada di bawah, apa rasanya? Takjub? Ataukah menakutkan?

Sebagai pengendara motor saya pun kadang menikmati hujan. Jika kebetulan membawa jas hujan dan hujan tak turun terlampau deras, saya akan menembus hujan. Merasakan setiap air yang jatuh menerpa muka. Kenikmatan ini akan berlipat ganda jika hujan begitu deras sementara malam mulai larut yang memaksa kita harus tetap pulang. Sederas apa pun, saya akan tetap memacu motor di bawah guyuran hujan. Pada masa-masa seperti itu pemandangan di sekitar jalan akan menjadi begitu berbeda. Pendar-pendar lampu akan menjadi sangat cantik, berkelebat di balik tetes-tetes air, berganti-ganti warna. Kala berhenti, pandangan akan menjadi tak terlalu terang. Kabut putih seperti menyeliputi pandangan mata, untuk kemudian kembali terang saat kembali memacu motor.

Tak ada penjelasan yang masuk akal mengapa saya menikmati memacu motor di bawah hujan kecuali bahwa itu merupakan sisa-sisa kesenangan purba di masa kecil dulu. Bermain-main di bawah guyuran hujan sepuas-puasnya.

"Hujan-hujan, lebih senang naik motor?" Tanya seorang teman saya keheranan.

"Iya," kata saya menjawab singkat.

"Hmm. Well, saya barusan bilang ke teman saya, mereka yang mengatakan 'hujan-hujan itu enaknya makan bakso', pasti belum pernah merasakan berciuman saat turun hujan. Bagiamana bisa ini ada yang jauh lebih menyedihkan, lebih enak naik motor?" Dia tertawa lebar.

Saya menelan ludah. Mematikan rokok yang sebenarnya masih belum sepenuhnya habis.  

19.9.15

Merah


"Sebel banget gue setiap liat loe dengan jaket merah loe itu," kata dia begitu saya sampai.

Saya membuka jaket merah yang dia maksud. Syal yang melingkar di leher juga saya lepas. Keduanya saya letakkan di atas tas yang saya taruh di samping kursi tempat saya duduk.

Kawan yang lain tak kuasa menahan tawa. "Entah sudah berapa banyak orang yang selalu ngomongin soal jaket merah ini," kata dia.

Saya hanya bisa ikut-ikutan tertawa.

Jaket merah itu saya beli lima atau enam tahun lalu, saya agak lupa kapan persisnya. Saya beli di Pontianak, Kalimantan Barat. Di deretan para penjual pakaian lelong, sebutan khas untuk pakaian bekas yang diimpor dari negara tetangga, saya temukan jaket berwarna merah itu. Saya tidak terlalu ambil pusing, apakah jaket itu bekas kepunyaan Nurul Izzah Anwar ataukah bekas kepunyaan Ipin-Upin.

Saat itu warna merahnya masih benar-benar merah. Lima atau enam tahun berlalu, warnanya sudah berubah menjadi merah jambu dan bahkan di sana-sini lebih banyak corak-corak putih. Waktu memang terkadang mujarab memudarkan warna-warna.

Dia tentu bukan orang pertama yang bicara soal jaket merah itu. Saat bermotor dan terjebak dalam kemacetan, seorang kawan tiba-tiba ada di samping. "Jaket loe masih ini-ini aja. Ampun...." kata dia. Teman yang lain, yang dengannya saya kerap minum kopi dan saling berbagi cerita, cukup sering geleng-geleng begitu saya tiba di warung kopi. "Masih saja itu jaket."

Jika dipikir-pikir, frekuensi saya untuk membeli pakaian baru, entah itu kaos, kemeja, sepatu, sandal, atau jaket, sangat bisa dibilang minim. Pakaian yang saya pakai ya itu-itu saja. Batik yang saya pakai untuk berkunjung ke tempat klien, juga itu-itu saja.  Apa sebabnya? Ya banyak. Beruntung tidak harus setiap hari saya masuk ke kantor atau ke tempat klien.

Tapi malam tadi, selepas seorang kawan mengatakan sebal sekali setiap kali melihat saya masih saja menggunakan jaket merah, ia mengeluarkan sebuah bungkusan.

"Ini, semoga muat. Ukurannya sih besar. Ayo coba dulu, pasti muat."

Saya terkejut. Sebuah jaket baru untuk saya. Saya kenakan dan, segala puji bagi setiap bintang yang bersinar terang pada malam itu, jaket tersebut pas di badan.

"Nah, besok-besok, silakan pakai jaket itu," kata teman saya.

Saya hanya mengucapkan terima kasih. Di atas langit saya lihat bulan tersenyum begitu manis.

"Cheers!"

17.9.15

Terlelap

Source: INFP FB


#1
Adam tidur begitu lelapnya. Tatkala Adam sedang tidur, Tuhan mengeluarkan salah satu tulang rusuk Adam dan kemudian menciptakan Hawa dari tulang tersebut. Sedemikian nyenyaknya tidur Adam, tak ia rasakan tulang rusuknya hilang.

#2
Ibrahim terbangun dari tidurnya. Ia terkejut dengan mimpi yang mendatanginya kala tidur. Ia menyembelih anaknya. Mimpi yang datang semacam pertanda. Sejenak ia ragu, tidakkah mimpi itu merupakan pesan dari Tuhan ataukah godaan setan?

#3
Yusuf putra Yakub, menceritakan mimpi yang mendatanginya kala ia tertidur. Ia katakan, dalam mimpinya ia melihat matahari bulan bintang tunduk bersujud kepada Tuhan. Yakub ayahnya tertegun mendengar Yusuf. Menyadari bahwa kelak ialah yang akan menjadi pewaris penerus firman.

#4
Yesus bersama para muridnya berada di atas kapal. Ia memilih bantal dan kemudian berbaring tidur begitu nyenyak. Tanpa diduga, badai tiba. Perahu goyang, dan geladak dipenuhi air. Para murid membangunkan Yesus. Dengan ketenangan tak terperi, Yesus hanya berkata, "Diam dan tenanglah."

#5
Muhammad akan segera berangkat tidur pada awal malam. "Tuhanku, dengan nama-Mu aku mati, dan dengan nama-Mu pula aku hidup," ia lafalkan doa itu sebelum benar-benar terlelap. Tubuhnya akan dimiringkan ke kanan, bantal yang ia gunakan hanyalah tangan kanannya.

Belajarlah untuk tidur. Yang baik, yang lelap.

16.9.15

Terbang

"Passion kamu apa, Mam?" Pertanyaan boss saya memecah kebekuan di tengah-tengah kemacetan sepulang pertemuan di kantor klien.

"Maksudnya bagaimana, Mas?" Saya meraba arah pertanyaannya.

"Ya, passion... sesuatu yang kamu sukai. Yang jika kamu melakukannya, kamu bisa lupa waktu."

"Hmm...." saya sebenarnya sering merasa bingung bila berhadapan dengan pertanyaan yang lazim saya temui di formulir-formulir pencari kerja semacam ini.

"Kalau saya programming. Saya otodidak. Saya suka coding, mempelajari logika-logika script, bikin ini-itu. Kalau sudah menghadapi hal-hal kayak gitu, saya bisa lupa waktu, lupa makan," kata boss saya.

Saya tetap terdiam. Saya merasa minat saya pada suatu hal tak pernah berlangsung ajeg. Saya bisa meminati film, untuk kemudian beralih ke musik. Mempelajari bahasa pemprograman web, dan lantas beralih begitu saja ke desktop publishing. Kadang ada kalanya saya gemar mengumpulkan resep-resep masakan, kadang pula ada waktunya saya lebih memilih mengunjungi pameran dan toko buku. Tapi tak ada yang rasanya benar-benar menarik minat saya hingga pantas saya labeli sebagai passion saya.

Jalanan di Jakarta benar-benar semrawut. "Mas, jika boleh, saya ingin menetap di Bali. Bekerja dari sana. Memungkinkan?" Saya bertanya, mengambil momentum kemacetan dan mengatakan bahwa situasi kota seperti ini sangatlah tidak sehat.

Boss saya tertawa. "Belum, Mam. Belum."

Saya kembali diam. Langit mulai beranjak gelap dan lampu-lampu mobil mulai gemerlap. Gemerlap yang selalu gagal sanggup mengusir kemuraman.

"Saya tidak tahu apa passion saya. Tidak ada yang benar-benar saya minati secara serius," ujar saya setelah kami berhasil melewati kemacetan. "Tapi ada satu hal yang saya gemari sejak dulu, belasan tahun lalu, hingga hari ini. Kegemaran yang barangkali akan saya tinggalkan sementara waktu, untuk kemudian pasti akan saya geluti lagi: menjelajah sejarah agama-agama."

Boss saya tersenyum. "Pencarian?"

Mungkin saja, kata saya dalam hati. Tapi saya lebih suka menyebutnya 'kerinduan'.

Di kepala saya melintas kembali petikan The Infancy Gospel of Thomas yang dikutip teman saya.

"Terbanglah jauh-jauh, hiduplah, dan ingatlah aku."

15.9.15

Dua Detik

Source: tech.magazinemanager.com

Bertahun-tahun lampau, saat ayah saya masih aktif bekerja, ada suara yang cukup familiar ketika dia pulang dan memasuki rumah. Suara itu suara koran yang ia letakkan di meja. Suara yang begitu khas. Kemudian, seperti biasa, kami --saya, mama, dan kakak-kakak saya maksudnya-- akan membaca koran tersebut berganti-gantian.

Malam tadi, selepas pukul 19, saat saya menuruni tangga menuju kamar mandi, suara itu kembali terdengar. Sangat nyata terdengar. Seketika itu saya merasa, atau berpikir, ayah saya baru pulang bekerja.

Dua detik lamanya saya memiliki perasaan, atau pikiran, tersebut. Sampai saya sadar ayah saya sebenarnya sudah tidak ada lebih dari tujuh tahun lalu. Dua detik yang melipat waktu tujuh tahun.

11.9.15

Tak Mudah

Tak mudah. Belum pernah mudah. Belum pernah.

Jalan ini.

7.9.15

Demikianlah

Hidup selalu menuntut sebuah keputusan. Dengan kalimat klise itulah tulisan ini dibuka. Sebuah tulisan yang dibuat saat rasa sakit di kepala tak juga berhenti sejak beberapa hari ke belakang. Rasa sakit ini begitu terpola. Di sisi sebelah kiri, seperti ada yang menarik dengan keras. Dari rahang bagian bawah hingga tepat sedikit di atas telinga, seperti rajin berdenyut-denyut. Jika suatu waktu sedang butuh variasi, rasa sakit itu akan berpindah ke atas tengkuk bagian belakang. Menyisakan ngilu panjang. Kadang paracetamol sedikit membantu. Kadang tidur yang baik akan meringankan. Tapi segalanya lebih sering hanya untuk sementara.

Maka hari ini saya mencoba membuat keputusan. Rokok di asbak--asbak tanah liat berukiran nama saya, yang ia buat dan bawakan untuk saya meski belum sempurna--sisa setengah batang. Saya mungkin harus turun setelah ini. Pergi ke toko membeli rokok, alat cukur, atau apa saja. Saya tak terlalu hirau pada kesempurnaan. Saya menjalani apa yang ada dan yang bisa. Mentalitas orang-orang kalah.

Ada hal-hal yang tidak pernah betul-betul kita pahami mengapa bisa terjadi. Ada hal-hal yang bisa sebenarnya dapat mudah kita pahami mengapa harus terjadi. Tapi saya seperti berada di titik tak lagi merasa perlu untuk menyadari apakah diri saya paham ataukah tidak. Saya hanya merasa selalu menjadi penyebab dari ketidaknyamanannya, kesusahannya. Dan saya memutuskan diri untuk berusaha sekeras mungkin berhenti menjadi sumber malapetaka.

"Jangan ajari saya soal itu," kata saya hampir marah kepada seorang teman. Saya meneleponnya dua malam lalu dan memintanya menemani saya. Kami memacu kendaraan tanpa tahu harus ke mana. Saya tentu tidak pantas marah kepadanya. Dia sendiri memiliki persoalan yang juga tak kalah pelik. "Saya hanya tidak tahu harus berbuat apa. Saya menyakiti diri saya sendiri. Memukuli diri saya sendiri, bermain api, bermain jarum. Saya mencari rasa perih saya sendiri." Teman saya hanya diam. Tak mau pulang dan berkeras menemani sampai kamar.

Pada akhirnya saya membuat keputusan ini. Keputusan yang saya sendiri tak terlalu berselera untuk memahaminya. Keputusan yang saya sendiri tak pernah tahu seberapa mampu menjalaninya dan entah akan seperti apa kemudian menangani diri saya sendiri.

Saya hanya berharap kebaikan untuk semua.

4.1.15

Caramel Cake

"Bukan seperti itu caranya," kata Ibuku seraya mengambil alih mixer dari tanganku. "Kau harus mengaduknya dengan rata, sampai bawah juga. Buihnya nanti akan mengembang."

Ia mencontohkan dan kemudian memintaku untuk terus melanjutkan. Setelahnya, ia menangani hal lain termasuk menyiapkan loyang untuk memanggang kue.

Saat membakar kue tersebut, Ayahku pulang bekerja. Membawa bingkisan berisi bahan-bahan kue. Ia juga bercerita soal kabar-kabar menyenangkan.

Kue kemudian matang dan aku mencicipinya pertama kali. Dua potong segera habis.

Sampai kemudian aku terbangun pagi ini, rasa kue itu tetap tinggal di lidah. Sangat terasa.

Di sana, pasti ada banyak kue untuk kalian. Dan entah kapan, akan ada waktu saya untuk juga pulang.

24.11.14

....Paries cum proximus ardet

Ketika hal itu terjadi lagi di akhir pekan lalu, saya tahu hal serupa akan kembali terjadi di waktu yang entah kapan. Hal di mana kita mencoba lagi mengurutkan setiap jejak yang pernah ada, dan kemudian melihatnya dari jarak yang muskil untuk dikatakan cukup. Lalu dengan segala keterbatasan, keputusan-keputusan rapuh hendak dibangun. Keputusan-keputusan yang saya yakini akan selalu sulit untuk saya yakini.

Ketika hal itu terjadi lagi di akhir pekan lalu, saya tahu hal serupa akan kembali terjadi di waktu yang entah kapan. Hal di mana kita mencoba lagi menerka lanskap daftar agenda dan rute perjalanan. Merasa percaya diri telah mengantongi semua bekal yang diperlukan. Tetapi bahkan, ketika itu terjadi, satu-satunya kesadaran yang menggantung di kepala adalah keinginan untuk tetap tak beranjak ke mana pun.

Ketika hal itu terjadi lagi dan lagi dan lagi dan lagi: biarlah tembok tetap menjadi tembok, dan dunia tetap digerakkan seribu satu rahasia.

9.11.13

Pesan Pecopet Pada Pacarnya

Sitti,
kini aku makin ngerti keadaanmu.
Tak’kan lagi aku membujukmu
untuk nikah padaku
dan lari dari lelaki yang melamarmu.

(Lelawa terbang berkejaran
tandanya hari jadi sore.
Aku berjanji
di kamar mandi
tubuhku yang elok bersih kucuci.
O, abang, kekasihku
kutunggu kau di tikungan
berbaju renda
berkain biru).

Nasibmu sudah lumayan.
Dari babu jadi selir kepala jawatan.
Apalagi?
Nikah padaku merusak keberuntungan.
masa depanku terang repot.
Sebagai copet nasibku untung-untungan.
Ini bukan ngesah.
Tapi aku memang bukan bapak yang baik
untuk bayi yang lagi kaukandung.

(Lelawa terbang berkejaran
tandanya hari jadi sore.
mentari nggeloyor muntah di laut
mabuk napas orang Jakarta.
O, angin.
O, abang.
Sarapku sudah gemetar
menanti lidahmu
‘njilati tubuhku)

Cintamu padaku tak pernah kusangsikan.
tapi cinta Cuma nomor dua.
nomor satu carilah keselamatan.
Hati kita mesti iklas
berjuang untuk masa depan anakmu.
Janganlah tangguh-tangguh menipu lelakimu.
Kuraslah hartanya.
Supaya hidupmu nanti sentosa.
Sebagai kepala jawatan lelaki normal
suka disogok dan suka korupsi.
Bila ia ganti kautipu
itu sudah jamaknya.
Maling menipu maling itu biasa.
Lagipula
di masyarakat maling kehormatan cuma gincu.
Yang utama kelicinan.
nomor dua keberanian.
Nomor tiga Keuletan.
Nomor empat ketegasan, biarpun dalam berdusta.
Inilah ilmu hidup masyarakat maling.
Jadi janganlah ragu-ragu.
Rakyat kecil tak bisa ngalah melulu.

(Lelawa terbang berkejaran
tandanya hari jadi sore
Hari ini kamu mesti kulewatkan
kerna lelakiku telah tiba.
Malam ini
badut yang tolol bakal main acrobat
di dalam ranjangku).

Usahakan selalu menanjak kedudukanmu.
Usahakan kenal satu mentri
dan usahakan jadi selirnya.
Sambil jadi selir mentri
tetaplah jadi selir lelaki yang lama.
Kalau ia menolak kaurangkap
sebagaimana ia telah merangkapmu dengan istrinya
itu berarti ia tak tahu diri.
Lalu depak saja dia.
Jangan kecil hati lantaran kurang pendidikan
asal kau bernafsu dan susumu tetap baik bentuknya
Ini selalu akan menarik seorang mentri
Ngomongmu ngawur tak jadi apa
asal bersemangat, tegas dan penuh keyakinan.
Kerna begitulah cermin seorang mentri.

(Lelawa terbang berkejaran
tandanya hari jadi sore.
kenanganku melayang ke saat itu
di tengah asyik nonton pawai
kau meremas pantatku
demikianlah kita lalu berkenalan
ialah setelah kutendang kakimu.
Dan sekarang setiap sore
bagaikan pisang yang ranum
aku rindu tanganmu
untuk mengupasku)

Akhirnya aku berharap untuk anakmu nanti.
Siang malam jagalah ia.
Kemungkinan besar ia lelaki.
Ajarlah berkelahi
dan jangan boleh ragu-ragu memukul dari belakang.
Jangan boleh menilai orang dari wataknya.
Sebab hanya ada dua nilai: kawan atau lawan.
kawan bisa baik sementara
Sedang lawan selamanya jahat nilainya.
ia harus diganyang sampai sirna.
Inilah hakekat ilmu selamat.
Ajarlah anakmu mencapai kedudukan tinggi.
Jangan boleh ia nanti jadi professor atau guru.
Itu celaka, uangnya tak ada.
Kalau bisa ia nanti jadi polisi atau tentara
suapaya tak usah beli beras
kerna dapat dari Negara.
Dan dengan pakaian seragam
dinas atau tak dinas
haknya selalu utama.
Bila ia nanti fasih merayu seperti kamu
dan wataknya licik seperti saya – nah!
ini kombinasi sempurna.
Artinya ia berbakat masuk politik.
Siapa tahu ia bakal jadi anggota parlemen.
Atau bahkan jadi mentri.
Paling tidak hidupnya bakal sukses di Jakarta

(Lelawa terbang berkejaran
tandanya hari jadi sore.
Oplet-oplet memasang lampu.
Perempuan-perempuan memasang gincu
Dan, abang, pesankan padaku
di mana kita bakal ketemu).

WS Rendra, Blues untuk Bonnie (1971).

26.3.13

Orang Muda Berhidung Merah Jambu

Ketika hari itu benar-benar datang, tak satu pun yang ia lakukan kecuali terus-menerus duduk dan melemparkan senyum termanisnya. Itu hari jumat di ujung tahun. Jumat yang cerah di mana pada saat itu hal terpantas yang semestinya terjadi adalah turun hujan dari langit Desember. Hari itu hujan tak turun, ada awan cerah di sekitar matanya.

Dia telah membayangkan semuanya sejak semula: “Tentu saja,” pikirnya, “aku akan mendapatkan ini. Dari sini semuanya akan berdatangan. Mula-mula barangkali permintaan menjadi pembicara di sekolah-sekolah.  Lalu meningkat ke seminar-seminar dalam ruangan dingin di hotel-hotel mewah. Itu semua tentu setelah melewati serangkaian wawancara melelahkan permintaan dari majalah-majalah remaja, televisi berskala nasional dan radio-radio. Di koran-koran edisi hari minggu, seolah-olah setiap halaman melulu bercerita tentangku. Memuat fotoku dan mengutip karya-karyaku yang dulu cuma termangu di folder-folder tak tertata.”

Di hari itu, ia terus-menerus memikirkan itu semua. Jam dua siang, ibunya hampir mati jemu ketika harus keseratus kalinya mengingatkan ia agar segera menyentuh makan siangnya dan berhenti senyum-senyum sendiri. 

27.2.13

Every new time of year, I'm farther from my corpses. Kidzuki is still 17. Naoko, 21.




And that's forever.

 - Norwegian Wood (2010)

17.1.13

Sajak Putih

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...

- Chairil Anwar

2.9.12

lantas kau pergi
tak hendak menukar apapun dengan apapun
tak juga hendak melepas jejak seribu sajak

di bawah angin
suaramu lesak menggerutu
di leherku
mengapung-apung sunyi berpendar

malam itu
tak kau
genggam
lagi
sepuluh
jemariku

(2005)

Asap

karena semuanya bisa saja menjadi begitu buruk, menjadi momen-momen luka bila terkenang. tapi bisa saja sebaliknya....

pernah kau dengar kisah guru zen dan para tetangganya? di suatu pagi guru itu kehilangan seekor kudanya. para tetangganya ramai melihat, menghampiri ia yang berdiri di beranda. ''malang sekali kau,'' seorang tetangga dari luar pagar angkat suara. ''ya, mungkin seperti itu,'' begitu guru itu menjawab singkat. kenyataannya, di esok pagi kuda guru itu kembali lagi ke kandangnya. begitu sentosa, begitu tenang. para tetangga berkumpul lagi, kali ini seseorang di antara mereka berkata, ''beruntung sekali kau.'' guru itu cuma menjawab, ''ya, mungkin seperti itu.''

di keesokan harinya anak guru tersebut patah kakinya ketika hendak menunggang kuda itu. di pagi yang mestinya cerah, guru itu harus mendapati anaknya patah kaki. ''malang sekali kau,'' tetangga-tetangganya begitu prihatin di luar pagar rumahnya. ''ya, mungkin seperti itu,'' kata guru itu seraya memapah anaknya ke dalam rumah. tapi kau tahu, di keesokan paginya lagi, segerombolan tentara datang mencari anak-anak yang sehat fisiknya untuk dikenakan wajib militer bagi negara. semua anak tetangganya dibawa pergi. tentu saja anak guru tersebut tidak dibawa. kakinya yang patah membebaskannya dari wajib militer. ''lihatlah guru,'' kata para tetangga, ''kau benar-benar orang yang beruntung!''

dan guru itu lagi-lagi bilang, ''ya, mungkin seperti itu.''

maka, mengapa kau harus menjadi asap ketika ingin menari?

26.3.12

Indonesia for Sale

Intinya, 230 juta penduduk Indonesia akan disulap jadi sekumpulan pasar belaka. Kumpulan konsumen saja. Bukan kumpulan orang-orang produktif yang terlatih mengembangkan nilai tambah dan gemar berproduksi. Bangsa konsumen, bukan bangsa produsen. Ini akibat serangkaian kebijakan yang kurang merangsang dan memberi insentif pada kegiatan-kegiatan produksi, dibandingkan konsumsi. Bunga bank dikerek terus untuk kosmetik politik agar wajah inflasi tak tinggi, tapi akibatnya para produsen tak berani mengambil kredit untuk usaha.

Di sisi lain, kredit konsumsi digenjot habis-habisan. Bayangkan saja, sekarang lebih mudah membeli motor atau mobil dengan cara kredit daripada kontan. Ini sudah di luar nalar kita. Mereka yang punya uang kontan, justru tak bisa membeli barang. Jadi kita dipaksa berutang dan membayar bunga untuk menghidupi perusahaan-perusahaan penyedia jasa keuangan.



Indonesia for Sale, hal. 80-81.

Dhandy Dwi Laksono menulis buku Indonesia for Sale. Buku ini pernah terbit pada 2009 dan diterbitkan oleh Pedati, penerbit di Surabaya yang saat ini sudah tutup. Menjelang kenaikan harga BBM, Dhandy membagi buku ini secara gratis. "Dengan ini, saya telah membebaskan semua copyright yang melekat pada buku ini," tulis Dhandy dalam emailnya di sebuah milis.

Sila download di sini.