1.10.15

Ketukan di Daun Pintu

Aku meletakkan lengan tepat di atas kening, berbaring mencoba tidur. Pintu kamar yang tak biasa kukunci diketuk, sebelum akhirnya segera terbuka. Wajah ayahku muncul.

"Mengapa tidur seperti itu, banyak pikiran?"

Tentu saja tidak. Pikiran apa yang membebani siswa sekolah menengah atas. Aku sendiri tidak mengerti mengapa kerap kali aku tidur dengan cara seperti itu. Membiarkan tanganku tergeletak di atas kening atau sesekali mata. Mungkin upaya kecil menghalau cahaya.

Aku tak menjawab, hanya tersenyum singkat seraya menyingkirkan tangan.

Wajah ayahku menoleh ke meja belajarku. Ia melangkah masuk. Meraih buku yang belum tuntas kubaca. "Renungan dan Perjuangan", Sutan Sjahrir. Buku bersampul merah putih dengan potret Sjahrir yang tampak menatap sesuatu.

Buku ini memuat renungan-renungan Sjahrir yang ia tulis berdasarkan pengalamannya. Juga catatan-catatannya selama di pengasingan, terutama Banda Neira. (Dan kelak, dari sini pulalah muncul mimpi untuk mengunjungi Banda Neira suatu hari nanti, mimpi yang belum juga berangkat nyata).

"Kamu boleh membaca apa pun, tapi tidak menjadi komunis," Ayahku berkata seraya meletakkan buku tersebut ke tempatnya kembali.



Sjahrir, siapa pun tahu ini, bukan seorang komunis. Tapi ide-ide sosialistis memang jembatan yang bagus untuk seseorang menjadi komunis.

Aku kembali hanya terdiam, kecuali lagi-lagi senyum singkat.

Aku memahami Ayahku dengan segala pengalamannya, pengalaman senior-seniornya, dalam suasana tak menyenangkan bersitegang dengan kaum komunis di Indonesia.

Apa yang menyenangkan dari sebuah generasi yang diwarisi kesumat tak tuntas? Generasi yang jika hendak membaca indahnya kisah cinta Minke dan Annelise, harus melalui kertas fotokopi seraya sembunyi-sembunyi?

Komunisme haram dipelajari. Sepanjang tahun, setiap generasi yang baru lahir, dijejali dengan ketakutan-ketakutan mengenai sosok-sosok komunis.

Tak ada. Tak ada yang menyenangkan.

***


Namun di balik sikapnya itu, justru hal yang hangat yang aku rasakan mengenai ayahku. Nilai-nilai kebebasan untuk merambah apa pun, mencari tahu apa pun, harus dibiarkan dan terus dijaga. Ketidaksepakatan bukan berarti harus diekspresikan lewat kekerasan, lewat pelampiasan yang tak masuk akal.Ruang-ruang kebebasan di mana manusia harus tetap dimanusiakan, harus terus dibangun.

Maka hingga hari-hari berikutnya, semakin beragam buku-buku yang aku bawa: tentang syiah, tentang komunisme, filsafat-filsafat pra-Islam, dan seterusnya, dan seterusnya. Tak satu pun yang ia larang untuk kubaca. Sebaliknya, sesekali ia pinjam untuk ia baca-baca. Jika sudah demikian, diskusi sampai larut malam berdua, akan cukup sering terjadi.

Sikapnya mengenai kebebasan untuk mencari sesuatu tak pernah berubah. Sikap yang sama yang ia perlihatkan saat aku masih sekolah dasar.

"Menurut guru agama, syahadat itu seperti ibujari, dia yang pertama dan utama," kataku kepada ayahku. Syahadat, bentuk pengakuan orang Islam bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, adalah rukun pertama dari lima rukun Islam. Yang kedua, ketiga, keempat dan kelima, ialah shalat, puasa, zakat, dan berhaji jika memungkinkan.

"Percuma mengerjakan empat sisanya, tapi tidak bersyahadat. Ini sama seperti seseorang memegang gelas, namun hanya dengan keempat jari selain ibujari. Kebaikan apa pun yang ia lakukan, tapi jika ibujarinya tak ada, maka gelas tersebut akan jatuh pecah," aku mengulangi penjelasan guruku.

"Bagaimana, misalnya, dengan Bunda Theresa? Dia orang baik. Apa kemudian akan masuk neraka hanya karena dia tidak bersyahadat?" Aku bertanya ke ayahku.

"Yang menjadi urusan Tuhan, biar tetap menjadi urusan Tuhan. Urusan keselamatan, surga-neraka, sepenuhnya hak Tuhan," ayahku menjawab. "Bukan urusan manusia untuk menentukan seseorang akan masuk surga atau neraka."

Aku terdiam. Jawaban itu sudah lebih dari cukup untukku.

***


Aku meletakkan lengan tepat di atas kening, berbaring mencoba tidur. Pintu kamar yang tak biasa kukunci diketuk, sebelum akhirnya segera terbuka. Wajah ayahku muncul.

"Mengapa tidur seperti itu, banyak pikiran?"

"Tentu saja, Pak," aku menjawabnya singkat.

Tidakkah ini semua tidak menyenangkan? Hari ini setiap orang bisa saling melempar fitnah satu sama lain hanya lantaran berbeda pandangan. Hari ini begitu banyak orang yang siap menjadi makhluk paling kejam sekali pun, hanya karena mereka berpikir bahwa hanya merekalah yang manusia, sementara yang berbeda dengannya bukan. Urusan-urusan ekonomi dan kekuasaan, tak segan-segan menelan nyawa.

"Tentu saja banyak pikiran," aku mengatakan itu dengan wajah murung.

Malam ini, 2.808 hari setelah kepergiannya, aku membayangkan itu terjadi.

No comments: