21.7.04

Revolusi Tidak Akan Disiarkan Melalui Televisi:
Bermain-main dengan Peri-peri Merah Muda
 
 
Bagi mereka yang mengenal akronim ini dapat mudah diuraikan: 20 Juli 2001, seruan aksi disampaikan kepada ratusan ribu orang dengan mengarahkan mouse: Genoa. Saya belajar tentang protes Genoa pertama kali melalui internet, sebagaimana kebanyakan mereka yang berkumpul di sana. Surat berantai dikirimkan kepada ribuan orang dan diteruskan kepada lebih dari ribuan orang, yang akhirnya sampai kepada saya. Perang maya (cyber war) dengan pesan jelas: ke sanalah, jika Anda berpikir globalisasi gagal. Ke sanalah jika Anda ingin protes menentang kapitalisme global. Ke sanalah jika Anda berpikir perusahaan-perusahaan multinasional terlalu kuat. Jika Anda tidak lagi mempercayai wakil-wakil terpilih Anda akan mendengar. Ke sanalah jika Anda ingin didengar.
 
Pada 20 Juli, Genoa adalah kota tuan rumah puncak pertemuan tahunan negara-negara G-8, tempat bagi kericuhan para ‘veteran’ Seattle, Melbourne, London, dan Parliament Square, bagi para veteran Washington, Prague, Nice, Quebec, dan Gohenburg (jika 11 veteran adalah istilah pantas yang bagi sebuah pergerakan yang baru berumur beberapa tahun). Mereka berkumpul di Genoa: peri-peri merah muda mengamuk, setan-setan merah mengacungkan spanduk ‘Boycott Baccardi’, para anarkis Italia membentuk perisai tubuh yang dilindungi permainan pertunjukkan, para pecinta lingkungan dengan telepon genggam, orang-orang kota pinggiran dengan jepretan kamera seolah-olah sedang dalam perjalanan liburan ke kota besar—suatu ungkapan bahasa dan tujuan berbeda berkumpul di bawah satu bendera “anti”, saya siap untuk gas air mata: saya telah membaca buku pegangan California-based Ruckus Society, bacaan wajib bagi pengunjuk rasa, dan membaca jeruk lemon dan cuka serta sebuah sapu tangan untuk menutupi muka, dan juga darah buatan dalam botol shampo (baik apabila Anda ingin menyelinap ke dalam suatu kerumunan).
 
Saya siap bentrok dengan polisi. Saya telah mempelajari taktik pembangkangan sipil dan aksi langsung di workshop non-kekerasan yang saya ikuti sebelum tahun itu di suatu gudang mirip tempat pertemuan di pinggiran barat laut Prague. Walaupun tidak ada hal yang sepenuhnya dapat memancing saya atas kebrutalan polisi Italia. Apa yang tidak siap bagi saya adalah tingkat rasa-komunitas di antara kepentingan berbeda dan sering berseberangan, rasa kesetiakawanan dan persatuan atas lawan bersama terhadap status-quo­. Begitu juga saya tidak siap untuk kemarahan belaka, disulut oleh suara genderang terus-menerus dan barisan terompet dihiasi warna pelangi yang dijual dengan harga satu dollar per buah: para anarkis mazhab hitam asyik masyuk menghancurkan jendela depan toko; fokus kebanyakan mereka di sekitar saya merobek pagar yang dipasang penguasa Italia untuk menjaga para pemimpin dunia yang berada di dalam dan pengunjuk rasa yang di luar.
 
Barangkali, setidaknya, saya siap untuk tingkat di mana mereka yang berbicara dengan saya sangat kecewa terhadap politik dan politikus, terhadap perusahaan dan orang-orang sejenisnya, dan sepanjang mereka siap untuk membongkar konspirasi diam-diam. Pemuda bertelanjang dada dengan tangan terbentang sebagai tanda pecinta damai, yang tetap bertahan sekalipun semprotan meriam air menghantam punggungnya; Venus, seorang gadis dengan rambut merah muda dan bintang-bintang gemerlap menempel pada kelopak matanya, yang berbicara kepada saya dengan logat lembut Irlandia bahwa ia ‘rela mati demi perjuangan ini’.
 
Sepuluh tahun setelah tank-tank merangsek menuju Red Square, 20 tahun setelah Tembok Berlin runtuh, setelah periode terpanjang ledakan ekonomi, perlawanan terus tumbuh dengan percepatan luar biasa, yang disuarakan bukan hanya oleh ratusan ribu orang yang berkumpul di Genoa atau Gothenburg, Prague atau Seattle, bukan hanya barisan pelangi, namun juga oleh partai-partai putus asadan sering mengejutkan—orang-orang biasa dengan kehidupan biasa, ibu-ibu rumah tangga, guru-guru sekolah—kaum miskin kota dan warga kota. Kepedulian orang-orang di belahan dunia muncul berkenaan loyalitas pemerintah dan tujuan-tujuan perusahaan. Kepedulian bahwa pendulum kapitalisme hanya dapat sedikit bergeser; bahwa perselingkuhan kita dengan pasar bebas telah mengaburkan kebenaran sejati; bahwa terlalu banyak orang kalah. Bahwa negara tidak dipercaya lagi untuk melindungi kepentingan kita; dan bahwa kita akan membayar harga terlalu tinggi untuk pertumbuhan pesat ekonomi kita. Mereka khawatir pada kekuatan bisnis akan melenyapkan suara-suara rakyat.
 
Akhir kisah yang dimulai di Westminster pada 3 Mei 1979, saat Margaret Thatcher mulai berkuasa, dan kemudian direproduksi di AS, Asia Timur, sebagian besar negara-negara Afrika dan ujung Eropa—yaitu cerita tentang jalan-jalan yang sedang diaspal emas, dan realisasi mimpi amerika—tidak lagi diterima begitu saja. Mitos=mitos yang diabadikan selama era Perang Dingin, yang tanpa takut melemahkan posisi ‘kita’, mulai hilang. Kekayaan tidak selalu menetas ke bawah. Ada batas-batas pertumbuhan. Negara tidak akan melindungi kita. Masyarakat yang dituntun oleh konsep pasar invisible hand bukan hanya tidak sempurna, tetapi juga tidak adil. Dunia yang muncul dari perang dingin merupakan antitesis satu dunia para hiperglobalis yang terselubung. Dunia tersebut sebenarnya bingung, bertentangan dan tidak beraturan. Inilah sebuah dunia yang di dalamnya litani keragu-raguan mulai dipanjatkan. Sebuah dunia yang di dalamnya loyalitas tidak lagi ditentukan, dan aliansi tampak telah berganti.
 
Sementara BP sedang menjalankan program-program untuk dua ratus eksekutif papan atas tentang masa depan kapitalisme di mana keuntungan dan kerugian globalisasi diperdebatkan, pemerintah Partai Buruh Inggris sedang berjuang melakukan privatisasi terhadap kontrol lalu lintas udara. Dunia Space Odyssey 2001, dengan penuh bahaya, sedang mendekati visi-visi apokaliptik Rokerball, Network dan Soylent Green. Inilah dunia yang di dalamnya, seperti yang akan kita lihat, perusahaan-perusahaan besar mengambil alih negara, pengusaha menjadi lebih kuat ketimbang politikus, dan kepentingan komersial menjadi sangat penting. Seperti yang akan saya tunjukkan, unjuk rasa akan menjadi satu-satunya metode yang cepat untuk mempengaruhi kebijakan dan mengontrol ekses-ekses aktivitas perusahaan.
 
Gagasan Besar Benetton
 
Kita dapat memberi tanggal permulaan dunia ini, dunia Perampokan Diam-diam, dari kekuasaan Margaret Thatcher. Perempuan besi dengan rambut bercat ini, bersama kawannya Reagen, menganut bentuk khusus kapitalisme dengan memberi kekuasaan penuh kepada tangan-tangan perusahaan, dan memperoleh saham pasar dengan mengorbankan bukan hanya politik tetapi juga demokrasi. Bentuk khusus kapitalisme tersebut menjadi produk tahan lama. Terlepas dari gigitan yang perlahan, bentuk khusus kapitalisme mereka menjadi ideologi dominan sebagian besar negara dunia. Politik pasca-Perang Dingin menjadi suatu komoditas yang kian terhomogenisasi dan terstandarisasi. Benetton memberi metafor yang pas untuk politik saat ini.
 
Sekitar enam belas tahun lalu perusahaan pakaian kampanye mode Italia ini mengiklankan kampanye paling provokatif yang pernah terlihat. Dua puluh papan iklan berkaki dengan foto bayi kulit hitam yang sedang kelaparan; penderita AIDS yang sedang sekarat; seragam penuh darah prajurit Bosnia yang mati; kampanya “Serikat Pembunuh Benetton”; sisipan majalah 96 halaman yang berisi foto-foto para tahanan yang sedang berjejer meratapi kematian prajurit Amerika. Benetton mengejutkan perhatian kita, namun kejutan hanya kejutan.  Kejutan tersebut tidak mendorong kita bergerak, berusaha, dan menyelesaikan persoalan itu. Iklan mereka tidak menjelaskan apa pun tentang moralitas perang, tidak ada upaya untuk mengurangi kemiskinan dan mengobati AIDS. Satu-satunya tujuan iklan tersebut adalah meningkatkan penjualan, bukan memulai diskusi tentang persoalan-persoalan di balik tingkah polah modal. Dan jika Benetton memperoleh keuntungan di atas kesengsaraan orang lain, lalu apa?
 
Kita sedang hidup di bawah gagasan besar Benetton. Kita dicekoki citra foto-foto mengejutkan oleh para politikus yang berusaha meraih dukungan kita dengan mengutuk lawan-lawannya dan menyoroti bahayanya representasi yang ‘salah’. Para politikus tersebut berkoar tentang perubahan dan upaya mengubah hidup kita. Partai-partai besar menawarkan solusi dan pilihan yang sangat berbeda kepada kita: orang-orang Demokrat menggembor-gemborkan kebijaksanaan liberal, orang-orang Republik menggembor-gemborkan konservatisme. Semua berupaya memperoleh suara kita. Namun retorika tidak sesuai dengan kenyataan. Solusi yang ditawarkan politkus kita sama palsunya dengan solusi Benetton: gadis China di samping pria Amerika, perempuan kulit hitam sedang berpegangan tangan dengan perempuan kulit putih. Model-model dengan wajah yang tidak biasa, wajah menyolok, kadang indah dan kadang tidak. Orang-orang dengan berbagai warna kulit berpakaian warna-warni. Jawaban-jawaban politik menjadi ilusi seperti halnya deretan pakaian yang diseragamkan, T-shirt standar, dan cardigan yang dipajang di toko Benetton lokal Anda. Konservatisme dan kompromi yang dikomersialisasikan par excelence. Para politikus hanya menawarkan solusi tunggal: sebuah sistem berdasarkan ekonomi laissez-faire, budaya konsumerisme, kekuatan uang, dan perdagangan bebas. Mereka memperjuangkannya, dan menjualnya dengan variasi corak biru, merah atau kuning. Namun semuanya masih dalam sistem, di mana perusahaan adalah raja, negara adalah subyeknya, dan warga negara konsumennya. Penelikungan diam-diam sebuah kontrak sosial.
 
Namun, saya akan berargumen, bahwa sistem tersebut benar-benar gagal. Di balik konsensus ideologis dan kemenangan telak kapitalisme, keretakan muncul. Jika segalanya begitu indah, mengapa, seperti yang akan kita lihat, orang-orang mengabaikan kotak suara, dan sebaliknya lebih suka di jalanan dan pusat-pusat perbelanjaan? Seberapa bermaknanya demokrasi jika hanya setengah yang memberikan suara, seperti dalam pemilihan presiden Gore-Bush, meskipun setiap orang tahu pemilihan tersebut akan menjadi pertarungan tertutup? Apa kelaikan perwakilan kita sekarang lebih patuh pada perintah perusahaan daripada amanat rakyat mereka sendiri?
 
Kapitalisme Tak Terbatas
 
Membutuhkan waktu bagi masyarakat untuk bangkit melawan, untuk menyadari bahwa negara yang lemah tidak mungkin menciptakan dunia yang aman dan bersih yang mereka inginkan untuk tumbuh kembang anak-anak mereka. Sekian lama masyarakat tidak mempertanyakan dunia yang homogen dan dunia dengan ideologi tunggal. Mengapa?
 
Bagi kebanyakan orang, kehidupan telah cukup baik dan akan lebih baik lagi. Bagi sebagian besar orang pada dua puluh tahun lalu, pasar bursa meningkat dan tingkat suku bunga turun. Lebih banyak orang, dibanding sebelumnya, memiliki rumah sendiri. Dua pertiga dari kita, di negara maju, memiliki televisi. Kebanyakan kita, di Barat tepatnya, memiliki mobil. Anak-anak kita memakai Nike dan Babay Gap. Kelas menengah tumbuh dengan pesat. Kita adalah patung-patung yang diberi makan yang menguatkan impian kapitalis ini. Studio dan berbagai jaringan media memperindah esensi kapitalisme. Norma-norma yang berlaku dan pemikiran arus utama, direkam, diputar kembali, dan diperkuat dalam Technicolor, sementara berbagai kritik terhadap ortodoksi secara sadar ditarik kembali. Unsur damai dalam unjuk rasa Seattle, Gothenburg dan Genoa, sulit ditayangkan. Proctor dan Gambble secara terang-terangan melarang program iklan komersialnya “yang dengan berbagai cara dapat mendukung konsep bisnis menjadi dingin dan kejam”. Program-program yang dicari adalah program yang mendukung pesan-pesan pengiklan. “Setiap saat televisi dihidupkan, basis politik, ekonomi dan moral bagi tatanan sosial yang dikemudikan oleh profit, secara implisit dilegitimasi”.
 
Pada 1997 Adbuster, sebuah organisasi ‘pengacau kebudayaan’ Kanada, berusaha mengudarakan iklan counterconsumerism di mana babi aminasi yang melapisi bagian atas peta Amerika Utara mengecap-ngecapkan bibirnya sambil berkata, “Orang Amerika Utara mengkonsumsi rata-rata lima kali lebih daripada orang India... Berikanlah sisanya.”
 
Tanggal 28 November adalah hari tanpa belanja (Buy Nothing Day). Namun stasiun televisi AS seperti NBC, CBS, dan ABC dengan tegas menolak mengampanyekannya, kendatipun ada dana untuk biaya iklan itu. “Kami tidak ingin mengambil iklan apa pun yang bertentangan dengan kepentingan bisnis sah kami,” kata Richard Gitter, wakil presiden standar pengiklan di General Electric Company milik NBC. CBS Westinghouse Electric Corporation, dalam suratnya, bahkan lebih keras menolak iklan komersial tersebut, sambil membenarkan keputusannya dengan alasan bahwa Buy Nothing Day, “Bertolak belakang dengan kebijakan ekonomi yang berlaku saat ini di AS.”
 
Raksasa-raksasa perusahaan yang demikian adalah warisan kami. Suatu dunia di mana kepentingan-kepentingan perusahaan merajai, perusahaan-perusahaan besar menyebarkan jargon melalui gelombang udara dan mencekik bangsa-bangsa lainnya dengan aturan imperialistik mereka. Perusahaan-perusahaan telah menjadi raksasa, raksasa global yang sangat besar yang memegang kekuatan politik sangat besar. Didorong kebijakan pemerintah tentang privatisasi, deregulasi, dan liberalisasi perdagangan dan kemajuan teknologi dua puluh tahun yang lalu, pergeseran kekuasaan telah berlangsung.
 
Saat ini, ratusan perusahaan multinasional terbesar mengendalikan sekitar 20 persen aset asing global, dan 51 dari 100 kekuatan ekonomi paling besar di dunia adalah perusahaan. Penjualan General Motors dan Ford lebih besar daripada GDP seluruh negara Afrika sub-Sahara; aset IBM, BP, dan General Electric, melebihi kemampuan ekonomi sebagian besar negara-negara kecil; dan Wal-Mart, sebuah supermarket, memiliki pendapatan lebih tinggi daripada sebagian besar negara-negara Eropa Timur dan Tengah.
 
Ukuran perusahaan terus meningkat. Pada tahun pertama milenium kedua, Vodafone bergabung dengan Mannesman (harga jual $183 miliar), Chrysler dengan Daimler (perusahaan gabungan yang saat ini mempekerjakan sekitar 400.000 orang), Smith Mine Beecham dengan Glaxo Wellcome (yang keuntungan pra pajaknya $7,6 miliar seperti Glaxo Smith Kline), dan AOL dengan Time Warner dengan harga merjer $350 miliar. Jumlah total perusahaan yang merjer pada tahun 2000 adalah 5000 perusahaan, dan dua kali lipat tingkat merjer pada dekade sebelumnya. Mega merjer ini memukul aktivitas M&A tahun 1980-an. Setiap merjer baru selalu menjadi lebih besar dibanding sebelumnya, sementara jarang sekali pemerintah yang memiliki kekuasaan tetap. Seluruh barang yang kita beli atau gas yang kita gunakan, obat-obatan yang dianjurkan dokter, kebutuhan penting seperti air, kesehatan, transportasi, dan pendidikan, bahkan komputer-komputer sekolah baru dan peningkatan hasil panen sawah di sekitar komunitas kita—berada dalam genggaman perusahaan yang mungkin, sesuai kehendak mereka, merawat, menghidupi, atau mencekik kita.
 
Inilah dunia Perampokan Diam-diam, dunia pada fajar milienium baru. Kekuasaan pemerintah nampak terbelenggu dan kita semakin tergantung pada perusahaan. Bisnis berada di tempat duduk pengemudi, perusahaan menentukan aturan main, dan pemerintah mejadi wasit, yang menguatkan aturan yang didiktekan orang lain. Sekarang perusahaan yang mudah dipindah-pindah adalah pesta besar yang dapat dipindahkan, dan pemerintah berusaha keras menarik atau menahan perusahaan tersebut tetap berada di negerinya. Mata-mata buta dijebak kedalam lobang pajak. Para gembong bisnis memakai alasan pajak yang rumit untuk membiarkan kekayaannya tetap di luar negeri. Rupert Murdochs News Corporation hanya membayar 6 persen pajak di seluruh dunia. Dan di Inggris, sampai akhir 1998, perusahaan tersebut sama sekali tidak membayar pajak perusahaan, walaupun telah mengeruk keuntungan 1,4 miliar poundsterling sejak 1987.
 
Inilah sebuah dunia di mana, walaupun kita telah melihat tanda-tanda pengikisan dasar pajak yang meremukkan dalam pelayanan publik dan infrastruktur, para wakil terpilih kita menyembah-nyembab bisnis, takut tidak ikut menari mengikuti irama pemusik tiup. Dulu pemerintah berjuang demi teritori fisik. Sekarang mereka berjuang melawan penyakit demi kepentingan pasar. Salah satu tugas utama mereka adalah menciptakan lingkungan bisnis yang kondusif, yang menarik bagi bisnis. Peran negara bangsa pada skala luas menyediakan sarana publik dan infrastruktur yang diperlukan bisnis pada harga paling rendah sambil melindungi sistem perdagangan bebas dunia.
 
Dipecah Kita Runtuh
 
Hal-hal berkenaan keadilan, persamaan, hak-hak, lingkungan, dan bahkan persoalan keamanan nasional, telah runtuh. Ambillah kasus Taliban—yang didukung AS sampai 1997 karena kepentingan perusahaan minyak, walaupun rekor rezim atas HAM suram. Keadilan sosial menjadi alat untuk mengakses pasar. Jaringan Pengaman Sosial diperlemah. Kekuatan serikat buruh dihancurkan. Tidak pernah sebelumnya di zaman modern ini jurang pemisah antara kaum kaya dan kaum miskin begitu lebar, juga tidak pernah sebelumnya begitu banyak orang malang atau kalah. Empat puluh lima juta orang Amerika memiliki asuransi kesehatan. Di Manhattan orang-orang mengais kaleng dan botol minuman kosong dari tempat sampah untuk ditukar dengan harga lima sen, sementara di London, para pencuci kaca depan mobil dengan alat pembersih dan seember air kotor menghadang mobil-mobil di perempatan lampu lalu lintas. Orang-orang Amerika menghabiskan $8 miliar pertahun untuk membeli kosmetik, sementara dunia tidak dapat mencari uang $9 miliar, menurut hitungan PBB, yang dibutuhkan untuk memberikan akses air minuman bersih dan sanitasi kepada semua orang.
 
Partai Buruh Inggris dengan terus terang menyatakan bahwa sekarang ini menciptakan kekayaan jauh lebih penting daripada redistribusi kekayaan. Di Amerika, selama 10 tahun setelah 1988, pendapatan keluarga termiskin naik kurang dari 1 persen, sementara pendapatan seperlima keluarga terkaya melonjak 15 persen. Di New York City 20 persen keluarga termiskin berpendapatan rata-rata $10.700 per tahun, sementara 20 persen keluarga terkaya berpendapatan $152.350 per tahun. Upah bagi keluarga kelas bawah tersebut begitu rendah sehingga, walaupun gambaran pengangguran di negeri tersebut rendah, jutaan orang Amerika dipekerjakan , dan 1 dari 5 anak Amerika, hidup di bawah garis kemiskinan. Tidak pernah sebelumnya sejak 1920-an jurang pemisah antara yang kaya dan miskin begitu besar. Keuntungan bersih Bill Gates sendiri pada akhir abad lalu, misalnya, pada dasarnya sama dengan 50 persen pendapatan total keluarga Amerika.
 
Kapitalisme telah menang, namun kehancurannya tidak ditanggung bersama oleh semua orang. Kegagalan-kegagalannya diabaikan pemerintah yang, sambil berterima kasih atas ukuran-ukuran kebijakan yang diperkenalkan pemerintah, semakin tidak mampu menghadapi konsekuensi-konsekuensi sistem mereka.  Dan sistem tersebut busuk. Skandal-skandal politik terlalu sering terbongkar: Kohl, Schmidt, dan Mitterland adalah di antara mereka yang telah kita kenal atau curigai. Bahkan para politikus yang tidak menanggung akibatnya tersebut semakin merasa berutang budi pada atau terlibat dengan bisnis. Tidak ada tempat yang lebih nampak jelas daripada di AS. Kepresidenan Clinton terjerembab skandal secara simultan: dari tuduhan Whitewater, lebih semalam tinggal di kamar tidur Lincoln demi para pemberi dana partai, sampai kebijakan final mengampuni para pengelak pajak dan pedagang senjata Marc Rich. Untuk para kandidat pemilihan presiden Amerika 2000, kemampuan mereka meraih suara terbanyak sangat tergantung pada pendanaan perusahaan kuat mereka.  Kotak dana perang kampanye George W. Bush adalah $191 juta, Gore $133 juta. Dan keberatan-keberatan terhadap RUU McCain Feingold tentang reformasi keuangan kampanye, yang dampaknya akan menghambat bisnis, serikat dagang, dan individu-individu untuk menciptakan kontribusi ‘uang lunak’ tak terbatas bagi partai-partai politik, berasal dari demokrat dan republik. Tidak heran bintang politikus memudar. Rakyat mengetahui kepentingan yang bertentangan para politikus dan keengganan memenangkan mereka, dan memulai meninggalkan politik.
 
Sebaliknya, pada 1980-an demokrasi muncul di seluruh dunia sebagai bentuk pemerintah yang dominan, yang diperkuat legitimasi unik dan dukungan massa yang kuat. Pada 1990-an partisipasi pemilih di mana-mana turun, keanggotaan partai berkurang, para politikus dihargai di bawah ukuran pembantu yang layak dihormati. Di seluruh dunia, dari demokrasi tua AS dan Eropa Barat, sampai negara-negara Amerika Latin dan Timur Jauh, masyarakat kurang mempercayai institusi pemerintah saat ini daripada satu dekade yang lalu. Hanya 59 persen pemberi suara Inggir memberikan suara pada pemilihan umum 2001, turun dari 69 persen pada 1997, kemunduran terendah sejak Perang Dunia I. Di AS, tidak sampai dua abad, begitu banyak warga negara AS dengan sadar tidak memberikan suara seperti 6 tahun lalu. Produk yang dijual politikus dianggap rusak, tidak lagi dianggap layak beli.
 
Memecahkan Kebisuan
 
Inilah dunia Perampokan Diam-diam yang akan saya uraikan dalam buku ini. Tujuan saya adalah memahami dunia ini dan mengerti ke mana kita akan di bawa: sebuah dunia yang di dalamnya penghasilan perusahaan memperkecil penghasilan negara-negara, dan pengusaha lebih tinggi pangkatnya daripada politikus; yang di dalamnya tiga perempat rakyat AS sekarang berpikir bahwa bisnis memperoleh kekuasaan terlalu besar atas banyak aspek kehidupan mereka; dan yang di dalamnya, meskipun teknik menjual politik partai lebih kuat dan agresif, kian sulit untuk dipilih. Sekarang ekonomi dihargai lebih besar daripada politik. Rakyat telah ditinggalkan. Dan konsumen adalah segalanya. “Partisipasi dalam pasar telah menggantikan partisipasi dalam politik.”
 
Argumen saya tidak dimaksudkan antikapitalis. Kapitalisme jelas merupakan sistem terbaik untuk menghasilkan kekayaan. Perdagangan bebas dan pasar modal terbuka telah membawa pertumbuhan ekonomi luar biasa untuk kebanyakan, jika tidak semua orang di dunia. Begitu pula buku ini tidak bermaksud antibisnis. Perusahaan tidaklah amoral tetapi, saya berargumen, secara moral ambivalen. Sebenarnya di bawah kondisi pasar tertentu, bisnis lebih mampu dan lebih memiliki kemauan untuk menangani banyak persoalan di dunia daripada pemerintah. “Tanggung jawab sosial”, “Pembangunan berkelanjutan”, dan “Dampak lingkungan” adalah istilah-istilah yang saat ini kemungkinan lebih didengar dari CEOs daripada menteri-menteri pemerintah.
 
Demikian juga, saya tidak bermaksud mengagungkan pemerintah. Walaupun, seperti yang akan saya katakan, negara memiliki peran jelas dalam masyarakat, saya tetap sangat meragukan kemampuan pemerintah memainkan peran ini, terutama saat ini di mana batas-batas antara bisnis dan pemerintah sangat kabur, dan terdapat kesenjangan kepemimpinan atau kemauan politik.
 
Namun sejujurnya, tujuan buku ini adalah untuk mendukung rakyat, demokrasi, dam keadilan. Saya bermaksud mempersoalan justifikasi moral bentuk kapitalisme yang menganjurkan pemerintah menjual warga negaranya dengan harga yang sangat murah; menentang legitimasi dunia di mana banyak yang kalah dan sedikit yang menang; menjelaskan bagaimana pengambil-alihan ini membahayakan demokrasi; juga berargumen bahwa ada paradoks mendasar pada jiwa kapitalisme laissez-faire, bahwa dengan mereduksi negara pada tingkat paling rendah dan menempatkan perusahaan pada tingkat paling tinggi, negara mengancam legitimasinya sendiri. Saya akan menjelaskan implikasi-implikasi sebuah dunia yang di dalamnya pemerintah tidak bisa dipercaya untuk menjaga kepentingan-kepentingan kita, dan yang di dalamnya kekuasaan bukan hasil pemilihan (unelected powers)—yaitu perusahaan-perusahaan besar—mengambil peran pemerintah, dan meneliti konsekuensi-konsekuensi watak politik yang menghargai pengerjaan pasar di atas segalanya. Saya akan memetakan pengejaran keuntungan yang gesit ini, dan mengonfrontasikan mereka yang menjustifikasi politik uang sebagai sebuah ungkapan kebebasan berbicara, dan mereka yang membenarkan non-intervensi dalam urusan negara lain untuk alasan kepentingan dagang mereka sendiri. Sekitar dua dekade terakhir, keseimbangan kekuasaan antara politik dan komersial telah berubah secara radikal, yang meninggalkan politikus semakin menjadi subordinat kekuasaan ekonomi kolosal bisnis besar.
 
Disebarkan oleh poros Reagen-Thatcher, dan dipercepat oleh akhir Perang Dingin, proses ini telah menumbuhkan hidrolik sekitar dua dekade lalu dan sekarang mewujudkan dirinya dalam beragam bentuk negatif dan positif. Bagaimanapun cara kita melihatnya, perusahaan sedang mengambil alih tanggung jawab pemerintah. Dan ketika bisnis meluaskan perannya, wilayah publik, seperti yang akan kita lihat, benar-benar akan ditentukan oleh bisnis. Negara politik telah menjadi negara perusahaan. Pemerintah, dengan tidak mengakui pengambilalihan pun, mengambil risiko hancurnya kontrak penuh antara negara dan rakyat yang menjadi inti masyarakat demokratik. Menolak kotak suara dan yang mencakup bentuk non-tradisional ungkapan politik menjadi alternatif yang kian menarik. Menjelaskan perkembangan proses-proses ini dan konsekuensinya merupakan isi buku ini. Keputusan saya menulis The Silent Takeover bukanlah tanpa kepentingan. Saya perlu memahami ketidakpuasan saya yang sedang tumbuh dan perasaan saya sendiri bahwa hal-hal tersebut menjadi serba salah. Apa sebabnya kehidupan dalam banyak hal tidak pernah lebih baik, sekalipun saya dan begitu banyak orang di sekitar saya sudah tampak begitu susah?
 
Bagaimana bisa demikian, saya, putri seorang perempuan yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk membawa perempuan ke dunia politik, sekarang menyaksikan dunia politik terkooptasi, seperti arena yang kian kehilangan makna—arena yang dagelan politik terbaiknya adalah pemilihan presiden AS terakhir? Bagaimana bisa, setelah 10 tahun mendarat di Leningrad untuk menata bursa saham Rusia yang pertama—seorang pelayan toko dengan gelar MBA dari Wharton di tas saya—sekarang merasa terbakar untuk mempertanyakan pendirian-pendirian saya? Mengapa di Fakultas Ekonomi Universitas Cambridge, tempat saya mengajar, ketika saya menjelaskan bahwa saya ingin mengawasi isu yang diuji buku ini, saya dibanjiri pertanyaan mahasiswa, yang saya gagal memberikan jawaban memuaskan kepada mereka?
 
Kita sekarang berdiri di titik waktu yang kritis. Jika kita tidak melakukan apa pun, jika kita tidak melawan perampokan diam-diam ini, jangan tanyakan sistem keimanan kita, jangan akui kebersalahan kita sendiri dalam rangka mencetak “tata dunia baru,” dan kemudian hilanglah semuanya.
 
Sebagaimana kita lihat, ketidaksetaraaan dalam pendapatan bukan hanya buruk bagi kaum miskin, namun juga bagi kaum kaya. Pengikisan terus menerus terhadap pemerintah dan politik berbahaya bagi semua, tidak peduli pada persuasi politik. Sebuah dunia di mana, George Bush mengesahkan Undang-Undang setelah disahkannya Undang-Undang yang mendukung kepentingan bisnis, Rupert Murdoch memiliki kekuasaan melampui Tony Blair, dan perusahaan mengatur agenda politik, merupakan dunia yang menakutkan dan tidak demokratik. Gagasan perusahaan mengambil alih peran pemerintah dalam banyak hal mungkin nampak sebagai seruan, naum risiko-risikonya semakin membiarkan kita tanpa sumber daya. Kisahnya akan diceritakan melalui beragam warna karakter yang akan kita temui. Granny D, nenek berusia 90 tahun, yang menyeberang ke AS untuk memenangkan reformasi dana kampanye; saudara putri Patricia Marshall, aktivis biarawati pemegang saham, yang membujuk PepsiCo menjual kebun pembotolan di Burma, Oskar Lafontaire, Menteri Keuangan Jerman, yang dalam pidato perpisahan pengunduran dirinya mengatakan, “Hati tentu tidak dijual di bursa saham.” Suara-suara tersebut merupakan sebagian kecil suara yang akan kita dengar. Namun buku ini bukanlah kumpulan kisah-kisah mereka yang berbeda-beda, buku ini merupakan kumpulan kisah kita semua. Kita semua tengah dalam perampokan diam-diam yang dilakukan perusahaan. Tujuan saya adalah menunjukkan bagaimana perampokan diam-diam ini merangkak di atas kita, mengapa ini bermasalah, dan apa yang dapat kita lakukan untuk ini.
 
Pendahuluan buku Noreena Hertz, The Silent Takeover, Global Capitalism, and the Death of Democracy, Associate Director pada Center for International Business, University of Cambridge. Diterjemahkan Farid Assifa, TRADEM YOGYAKARTA.


25.3.04

sebuah tulisan setahun yang lalu:

obituari sunyi
sebuah catatan perjalanan di malam buta


:I O T

"Kenapa, Cintaku, ketika kau-aku bersekutu yang lahir justru benih-benih seteru"
(Sitok Srengenge, Gurit Rindu Dendam)


siapa sangka pada akhirnya begini. suatu malam, saya bayangkan saya di sampingmu, barangkali agak lelah, berjalan kaki di malam yang dingin, di sebuah pinggir kota tanpa tuan, mencari entah apa.

setumpuk puisi pernah menikam saya pelan-pelan. iseng sendiri, saya putuskan memulai sebuah perjalanan. tak satu pun yang saya bawa, kecuali seikat dendam pada diri sendiri. dendam batu dari hati yang membatu. malam itu, beberapa menit sebelumnya, ada semacam kemewahan luar biasa yang menghinggapi punggung-punggung saya (kamu tahu jumlah punggung saya?). mirip seikat bunga yang dulu pernah kau letakkan begitu saja di depan pintu kamar saya, katak bersuara berlomba, jangkrik, meski sesekali diam,
sempat mengejek saya, menyeret seenaknya ingatan saya menujumu.

ada yang lupa dari pembentukan kota-kota, ternyata. seperti ada yang lupa hendak kemana perjalanan diakhiri. apakah yang membuat kita --kamu dan saya-- lupa kalau dingin adalah hal biasa di kota ini, tapi mengapa justeru malam ini baru kita rasakan benar betapa dinginnya malam di sini. dingin seperti kalimat yang dilepaskan ibu-ibu kita saat kepergian kita. sebuah perjalanan, adakah ia mewajibkan akhir?

semalam, beberapa perhentian sengaja saya lewati. juga malam ini: saya ingin liar, dan di tangan minuman keras belum lagi habis. biar, sampai puas ingin saya susun keping diri di pinggir jalan ini. adakah dengan begitu kamu mengerti? bahwa perjalanan adalah keniscayaan, dan dendam adalah sesuatu yang alamiah, yang natural dan begitu sempurna? rasanya tak ada yang sempurna selain dendam yang membatu.

siapa sangka pada akhirnya begini. sekian dosa, sekian durhaka, sekian amarah dan tatap mata nyalang, belum cukup untuk membuatmu, sekali saja, melihat saya di sini, mengurai-urai waktu, menyusun keping diri. tak ada, jika bisa, niscaya saya buat dosa terbesar padamu, sekadar untuk menggores tubuhmu dan jiwamu, meninggalkan bekas untuk kau kenang segenap kebodohan saya.

juga catatan ini. catatan rapuh yang melulu hampa. biar bulan menetes di langit kamarmu, membentuk genangan darah bertuliskan nama saya, dan teman saya, yang dengannya seteru begitu indah dan dosa sesuatu yang lumrah.

karena dia, juga karena kamu, perjalanan ini begitu penuh dendam, penuh dosa, dan begitu sempurna.

terima kasih membuat saya menjadi manusia. jangan buat lagi perhentian buat saya....

23 februari 2003

3.3.04

satu dari blog b' ivan:

Thursday, February 06, 2003
Buku

"Gila Ah. Apa gak ada hadiah lain?"
"Kenapa mesti buku sih, kan bisa aja kasih hadiah lain. Mobil kek, berlian kek, atau rumah BTN. Kenapa mesti buku? Memangnya Putri bakalan suka kalo dikasih buku?" tanya Gilang bertubi-tubi. Mukanya seperti orang heran.

"Cari hadiah lainlah. Gak usah buku."
"Bukan apa-apa Fan, hadiah perkawinan itu harus yang berharga, yang bernilai. Jadi, jangan sembarangan. Nanti, apa kata keluarganya Putri. Masak Ivan hanya ngasih buku? Inikan hadiah perkawinan, bukan kado ulang tahun." Gilang terus nyerocos. Nada tak setuju begitu terasa. Mendengar itu, saya hanya terdiam, meski berusaha untuk tetap tersenyum di depannya.

Gilang adalah orang keenam yang saya tanya soal ini. Sebelumnya, ada Agung, Lia, Nuke, Ari, dan Dika. Semuanya tidak setuju kalau saya memberi buku ke Putri sebagai hadiah perkawinan.
"Jangan ngaco ah," kata Nuke, sambil tertawa.
"Sudahlah Van, jangan seperti orang linglung gitu. Apa perlu saya belikan tiket pesawat ke Bali untuk kalian berbulan madu. Nanti, bilang saja ke Putri, kalau tiket itu sebagai hadiah perkawinan dari kamu. Beres kan? Nuke benar-benar tidak memahami rencana saya.
Hanya Sinta yang sedikit memuji rencana saya. "Smart idea," katanya, datar. Tapi, kenapa harus buku sih?
Lho...?

Hari pernikahan semakin dekat, tinggal 30 hari lagi. Panitia juga sudah dibentuk. Setiap hari bapak mengecek segala persiapan. Dari tenda, pelaminan, undangan, cattering, hingga transportasi ke rumah Putri saat hari H. Dia tidak mau ada yang tertinggal. Apalagi, bapak mengundang kawan-kawannya untuk resepsi itu. Ada anggota DPR, pejabat pemerintahan, penegak hukum, dan rekan-rekan organisasinya. "Pokoknya, semua harus beres. Uang tidak usah dipikirkan," kata bapak. Maklumlah, ini adalah pertama kali bapak menikahkan anaknya. Itulah sebab, setelah pernikahan di tempat Putri, dia akan mengadakan resepsi di gedung dekat rumah.

Imam dan Iman, dua adik saya yang kuliah di Bandung dan Yogya juga sudah datang ke rumah. Biasanya mereka paling malas bila disuruh pulang ke rumah, kecuali jika Hari Raya Idul Fitri. Saya masih ingat respons Imam ketika diberitahu bahwa abangnya akan menikah. "HAH, menikah...serius bang... Ahamdulillah....akhirnya menikah juga...he..he..he.." begitu ledeknya. Nah, gitu dong berani. Kan enak kalau sudah menikah, ada yang mengurus abang...he..he..he...

Waktu terus bergulir. Waktu membeli buku juga semakin sedikit. Tapi, keinginan membeli buku itu buat Putri semakin kuat. "Ya, saya harus membelikannya. Ini buka bagus. Putri pasti suka". Buku yang saya maksud adalah seri Dimata (Pribadi Manusia Hatta). Buku soal Bung Hatta, yang terdiri 489 kisah dalam 12 seri. Penulisnya ada 86 orang yang memiliki kedekatan dengan Bung Hatta dalam berbagai peran dan kesempatan.

Saya pernah membacanya. Bagus. Apalagi, ditulis dengan gaya cerita pendek sehingga cocok menjadi bacaan segala usia. Di sana ditulis secara utuh keistimewaan dan keunikan pribadi Bung Hatta yang bisa menjadi teladan bagi masyarakat. Pembaca akan menemukan kisah tawa, kekaguman, dan keharuan di dalamnya. Tapi buat saya, yang paling penting dari buku itu adalah Bung Hatta mengajarkan kepada kita sikap santun, jujur, dan hemat. Karena itu, saya bernafsu memberikan buku ini kepada Putri sebagai hadiah perkawinan.

"Tapi Van, belum tentu Putri suka. Bagaimana kalau dia gak suka? Mubazir kan," kata Sinta, ragu.

Rumah mulai ramai. Keluarga mama dari Pontianak mulai berdatangan. Tante Erma datang bersama Fela dan Roy, dua anaknya. Om Buyung beserta Tante Rita, istrinya. Tak ketinggalan adik mama paling bungsu, Om Zul yang datang bersama anak lelakinya, Dio. "Tante Wati tak bisa ikut Van. Dia kirim salam," kata Om Zul ketika saya tanya kenapa istrinya tak ikut ke Jakarta. Saya maklum, Tante Wati mungkin masih repot mengurus anaknya yang baru lahir dua bulan lalu.

Senang rasanya melihat keluarga besar berkumpul. Ada saja cerita-cerita lucu di setiap pembicaraan. Maklumlah, sudah lebih dari lima tahun kami tak berjumpa. Apalagi, mereka datang untuk acara pernikahan saya. Rumah di Bekasi terlihat sesak. Semua ruangan terlihat penuh. Padahal, biasanya, hanya ada saya, bapak, dan mamah di rumah. Cuma bertiga. Sedangkan si Ulfi dan Iman di Yogya. Imam di Bandung. Mereka berjuang menyelesaikan kuliahnya.

Pernikahan tinggal 15 hari lagi. Saya seperti menghitung waktu secara mundur. 15..14..13..12..10..7..3..Ups, buku Bung Hatta belum juga terbeli. Ada juga keinginan bertanya kepada Putri, "apakah dia suka buku itu? Tapi, nanti tidak supraise lagi. Gak seru ah.
Sebaiknya saya tetap membeli buku itu. Peduli, Putri suka atau tidak. Bukankah buku ini bagus? Bukankah sikap Bung Hatta patut diteladani?

Gerimis turun di Bekasi sore ini. Langit begitu pekat. Sesekali kilat menyambar. Tapi, saya memaksakan diri keluar rumah. Saya ingin membelikan buku buat Putri. Ya, buku hadiah perkawinan, yang sudah lama saya idam-idamkan. Pokoknya, kali ini tak boleh tertunda. Waktu tinggal sedikit, 12 hari lagi. Ibunya Putri juga sudah berulang kali mengingatkan soal waktu. "Van, jangan sering-sering keluar rumah. Istirahat saja, biar nanti tidak sakit. Pernikahan sebentar lagi loh," katanya di ujung telepon semalam.

Saya terus berjalan. Berkejaran dengan gerimis di sore hari. Ini adalah keempat kali saya melompat, menghidari genangan air di jalan. Sejumlah orang yang tengah berteduh di teras rumah terus memperhatikan. Saya tidak peduli. Terus berjalan. Melewati gang sempit di perumahan dan tanah becek. Saya terus berlari. Berkejaran dengan gerimis.

Tepat pukul 17.12 WIB, tiba di pelataran Metropolitan Mal Bekasi, dengan baju setengah kuyup. Gerimis juga membasahi rambut. Kusam. Saya berhenti sejenak untuk menyeka baju dan peluh. Setelah yakin kering, saya melangkah pasti ke dalam mal. Dua cewek manis di dekat lobi tersenyum. Sambil berbisik, mata mereka tak lepas ke baju dan celana saya. Saya tahu, pakaian dan celana belum kering benar. Kuyup masih terlihat jelas.

Ah, peduli amat. Saya terus melangkah menuju tangga jalan. Toko Buku Gramedia berada di lantai tiga. Beberapa orang yang ada di tangga jalan berusaha menghindar, ketika saya ada di sampingnya. Mereka (mungkin) takut basah. Atau juga takut kotor, karena sendal saya sudah bercampur lumpur.

Satpam di depan Gramedia bingung melihat saya. Ia menyuruh saya membersihkan sendal di keset. Saya ikuti saja maunya. Toh, bukankah buku sudah di depan mata? Putri pasti senang membaca buku itu.

Perlahan, saya kelilingi rak-rak buku di toko itu. Dari rak buku yang bertulisan laris hingga ke rak buku politik.
"Kok, tidak ada".
Saya penasaran. Kembali mengelilingi rak-rak buku. Satu-persatu judul buku saya baca. Tetap saja tidak ada.
"Tidak mungkin. Dua bulan lalu masih ada".

Saya hampiri seorang pramuniaga. Saya ceritakan dengan jelas buku yang dicari. Dia mengerti, dan ikut mencari. Tapi tetap tidak ada. Uhh..
Dia mengajak saya menuju sebuah komputer. "Ini bisa membantu," katanya. Ide bagus. Saya ucapkan sekali lagi judul buku itu. Dengan lugas, ia ketik judul buku dan penerbitnya. Saya menunggu sambil berdebar. Tapi, kok, gak ada juga?

Dia kembali memasukkan kata Bung Hatta. Keluar beberapa judul buku; Bung Hatta Bapak Kedaulatan Rakyat, Memoir (autobiografi Hatta), Bung Hatta : Demokrasi Kita, Mendayung antara Dua Karang, Ekonomi Masa Depan; Alam Pikiran Yunani, dan Bung Hatta’s Words of Wisdom, dan Mengenang Bung Hatta. Tapi, buku Seri Dimata tetap tidak ada.

Seseorang karyawan Gramedia ikut membantu (entahlah, mungkin dia supervisor). "Oh, kalau buku itu sudah tidak ada lagi. Sudah ditarik minggu kemarin," katanya. Lemas rasanya mendengar penjelasan itu. Darah seperti berhenti mengalir.

Dengan langkah gontai, saya keluar dari toko itu. Pikiran terus menerawang. Baju di badan masih basah. Jejak sendal becek meninggalkan bekas kotor di lantai mal. Juga menyisakan sorot mata para pengunjung.

"Oh iya, kenapa tidak ke Hero. Kan di sana ada Gunung Agung." Pertokoan Hero berseberangan dengan Metropolitan Mal. Kedua bangunan ini hanya dibatasi jalan dan Kali Malang. Saya seperti menemukan semangat baru. Setengah berlari menuju lantai satu. Sial, gerimis belum juga berhenti. Saya nekat. Kembali berlari. Berkejaran dengan gerimis lagi.

Setelah mengubek-ubek toko, buku itu tetap tidak ada. Saya benar-benar lemas. Putus sudah harapan membelikan buku untuk Putri. Rasa capai membuat saya memilih duduk di depan pertokoan Hero. Gerimis mulai berhenti. Pelangi bersinar terang. Sebuah rokok saya nyalakan. Asapnya menembus udara sore. Dingin.

***

Jodoh, rezeki, dan maut memang sudah diatur sama yang Maha Kuasa. Di tengah lamunan di sore itu, tiba-tiba melintas seorang bapak bersama anak gadisnya. Mereka baru keluar dari toko. Yang tak terduga itu, sang bapak menenteng sejumlah bungkusan. Satu di antaranya adalah kantong buku Seri Dimata. Mata saya hampir keluar melihatnya. Tanpa banyak membuang waktu, saya kejar bapak itu. Mereka berdua kebingungan ketika saya hadang. Dia pikir, mungkin saya pemalak yang biasa meminta uang secara paksa.

"Pak, apa itu buku Bung Hatta?" tanya saya sambil menunjuk sebuah kantong plastik.
"Iya, kenapa?"
"Boleh saya membelinya"
"Ini tidak dijual"
"Saya memerlukannya, Pak. Penting"
"Maaf Dik, ini tidak dijual"

Saya tahu harga buku itu, Rp 150 ribu. Sebelum bapak itu pergi, saya langsung mengeluarkan uang dari dompet dan langsung menyerahkan kepadanya.

"Ini Pak, saya serius ingin membelinya"
"Dik, saya tak menjualnya. Saya juga perlu buku ini". Kesabarannya mulai hilang.

"Begini Pak, bagaimana kalau saya tambah menjadi Rp 170 ribu"
Bapak itu tak menghiraukan saya. Ia memilih menghindar, dan berusaha pergi dari hadapan saya.

"Pak...pak..."
Akhirnya, dengan muka memelas dan penuh harap, saya ceritakan alasan saya memiliki buku itu.
Sang bapak mendengarkan dengan seksama. Tapi, dia tetap enggan melepaskannya.
"Ya, sudah pak. Ini uang saya. Ambilah semuanya." Saya menyodorkan uang Rp 200 ribu. Satu lembar Rp 100 ribu dan dua lembar Rp 50 ribu. Saya benar-benar tak punya yang lagi. Habis.

Lama juga dia terdiam. Entah kasihan, atau karena harganya lebih mahal dari toko, buku itu dilepaskan juga. Ia mengambil uang Rp 200 ribu itu. Saya sudah tak peduli, yang penting bisa mendapatkan buku itu. Dengan langkah riang, saya melangkah pulang. Pelangi benar-benar bersinar terang.

Besok adalah hari pernikahan. Setiap malam saya selalu membaca buku itu di kamar. Selalu begitu, seperti tak pernah bosan. Di malam ini, saya pun masih membacanya. Bung Hatta begitu dekat di hati. "Putri pasti suka," batin saya.

***

"Saya terima nikahnya Jatnika Putri Bungsu dengan mas kaw...." Sayup-sayup terdengar isak tangis. Putri menangis. Haru. Prosesi pernikahan selalu meninggalkan kesan. Di ujung acara, setelah doa nikah ditambatkan, bapak mengambil mikrofon. Suaranya memecahkan keheningan masjid.

"Sebelumnya, saya mohon maaf. Anak saya, Ivan, ingin memberikan sebuah hadiah perkawinan buat istrinya. Saya harap, Putri mau menerimanya. Hayo Van." Bapak tersenyum. Saya juga. Matanya memandang ke arah saya. Semua yang hadir juga begitu.

Saya melirik ke arah mama. "Mana bukunya...?" Mama menggeleng. Bingung. Saya panik.
"Ma, mana bukunya?"
"Loh, bukannya kamu yang menyimpannya"
Ya, Allah...buku itu masih tersimpan di kamar. Di ujung tempat tidur. Tidak terbawa dan tak ada yang membawanya. Bung Hatta tertinggal sendiri di kamar sepi.
Dia lagi-lagi sendiri. Sunyi.

Bekasi, gerimis di sore Januari.
:: Ulfan :: 9:16 AM
seorang lelaki menjadi seorang ayah
apa yang lebih membahagiakan dari hal itu?

28.2.04

Mengapa saya (sebaiknya) tidak makan di McDonald’s

Pernah suatu masa, terutama saat-saat sekolah dulu, saya dan beberapa teman dekat sering kali menghabiskan waktu di tempat nongkrong paling nyaman se-“dunia”, paling “gaul”, dan paling “gengsi”, McDonald’s. Dan jika kami sudah berada di dalamnya, jangan ditanya berapa lama kami bisa bertahan duduk di sana, berjam-jam! Kami menghabiskan waktu yang lewat begitu saja, biasanya kami menjahili orang-orang yang kebetulan merayakan ulang tahun di tempat itu, atau menggoda anak-anak kecil yang asyik bermain di sana. Kadang kami juga sering mendapat kenalan wanita-wanita, biasanya anak sekolahan juga, di tempat itu. Tempat itu benar-benar mengasyikkan meski sesungguhnya jika kamu duduk di dalamnya, dan terutama di dekat jendela kacanya, kamu bisa menatap landscape manis realita kehidupan: anak-anak jalanan dengan tatapan kosong, juga ibu-ibu pengemis yang begitu setia duduk menggendong bayi-bayi mereka, mengharap belas kasih mereka yang menghabiskan waktu di McDonald’s.

Sampai suatu hari saya membaca sebuah tulisan tentang McD (begitu biasa orang-orang menyebutnya) yang mengatakan bahwa Ronald McDonald’s tak selucu dan tak seramah yang kita sangka. Hal ini kemudian membawa saya kepada suatu pilihan untuk (sebisa mungkin) tidak lagi makan dan nongkrong di warung milik korporasi internasional tersebut. Sebuah pilihan dasar yang kamu juga punya (seperti kata Arundhati Roy, penulis dan aktivis India, untuk merubuhkan sistem kapitalisme global dan korporat-korporatnya yang merugikan, kamu hanya perlu menggunakan hak pilih kamu yang paling dasar, yaitu memilih untuk tidak membeli lagi produk-produk korporasi internasional!).

Yang pertama kali mengejutkan saya adalah proses produksi yang mereka lakukan. Itu adalah horor yang menakutkan. Dalam proses produksi itu McD benar-benar telah melakukan eksploitasi tanpa batas terhadap Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia. Oke, saya paparkan apa yang pernah dikatakan salah seorang eks-pekerja McD tentang bagaimana McD mendapatkan ayam-ayamnya.

Menurutnya, kondisi peternakan McD sangat buruk, bahkan itu lebih mirip tempat penyiksaan ketimbang tempat peternakan. Ayam-ayam diletakkan di kandang yang sama sekali tidak layak disebut kandang. Sempit dan tak punya akses cahaya matahari. Tempat yang seperti itu menyebabkan ayam-ayam tersebut tidak dapat bergerak, bahkan untuk sekadar berdiri. Banyak di antara ayam-ayam tersebut yang patah tulang atau terluka, bahkan tidak sedikit juga yang mati. Sudah sejak kecil ayam-ayam itu disuntik obat anti-biotik dan obat-obatan yang akan membuat mereka cepat tumbuh besar. 44 persen ayam-ayam tersebut mengalami gangguan kesehatan akibat obat-obatan tersebut dan pengaruh kandangnya. Ayam-ayam yang mengalami hal ini akan dipisahkan dari ayam-ayam lainnya untuk dibantai secara kejam dengan gas beracun. Ayam-ayam yang terpilih, yang tidak cacat dan telah berumur 6-7 minggu kemudian dikirim ke tempat penjagalan. Sebaiknya jangan pernah membayangkan ayam-ayam tersebut “dibunuh” dengan baik-baik. Di tempat jagal, ayam-ayam itu digantung terbalik dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Kemudian ayam-ayam tersebut dicelupkan ke dalam air yang dialiri listrik. Banyak di antara ayam-ayam tersebut yang tidak mati namun begitu menderita akibat sengatan listrik. Barulah setelah itu ayam-ayam tersebut dipotong. Tapi itu bukan pemotongan yang sempurna, melainkan sembarang saja. Satu persen dari ayam-ayam tersebut masih tetap hidup setelah dipotong untuk kemudian dimasukkan ke dalam tangki daging. Ayam-ayam yang masih hidup tersebut memang akan mati, tapi itu adalah kematian yang perlahan dan sungguh menyiksa!

Mungkin sebagian manusia akan berkomentar, “lalu kenapa, itu cuma ayam?!” Memang itu cuma ayam, tapi apakah ayam tidak memiliki rasa sakit seperti manusia? Apakah ayam tidak akan pernah merasa tersiksa karena penderitaannya seperti manusia? Ayam-ayam itu telah menderita untuk kita, dan apakah McD peduli dengan hal ini? Tentu saja tidak, korporasi mempunya sifat dasar untuk tidak peduli kepada apapun kecuali kepada keuntungan! Jadi, ayam-ayam itu telah menderita demi keuntungan yang direguk oleh korporat internasional!

Pada tanggal 31 Maret 1998, digelar pengadilan untuk kasus tuntutan NUS (National United Student – organisasi pelajar di Inggris) kepada McD. Tuntutan NUS yaitu, McDonald's adalah praktek anti perserikatan pekerja, pengeksploitasian pekerja, yang berhubungan dengan pengrusakan lingkungan, kekejaman pada hewan dan pempromosian produksi-produksi makanan yang tidak sehat. Dan di akhir persidangan, majelis hakim memenangkan tuntutan NUS dan menyatakan bahwa McD bersalah dengan fakta-fakta berikut: (1) McD mengeksploitasi anak-anak dalam iklan-iklannya. (2) McD bersalah atas kekejamannya terhadap hewan-hewan. (3) Perusahaan tersebut anti-perserikatan pekerja dan membayar pekerjanya di bawah standar. (4) McD bersalah atas penghancuran hutan hujan di negara-negara dunia ketiga. (5) Penyia-nyiaan, polusi, dan sampah dari sisa-sisa produk McD yang tidak bisa didaur ulang. (London Greenpeace pressrelease, 14th April 1998)

Sampai sini, saya memutuskan untuk tidak lagi melangkahkan kaki ke McD!

Dan siapakah yang tahu bagaimana McD memperlakukan sisa lebih stok makanan mereka setiap harinya? McD memasukkan burger-burger, daging-daging, nasi dan stok makanan lainnya ke dalam karung dan kemudian menyiramnya dengan air agar makanan-makanan tersebut tidak berbentuk lagi hingga tak dapat dimakan dan kemudian baru dibuang ke tempat sampah! Sementara, kita tahu ini, semua orang tahu ini, tuhan tahu ini, di jalanan-jalanan, dan bahkan di sisi jendela kaca McD, gelandangan dan pengemis menahan lapar di perut dan matanya setiap hari! McD memilih memusnahkan kelebihan stok makanannya ketimbang membagi-bagikan stok lebih makanannya itu kepada mereka!

Inilah mitos yang perlu kita kembangkan tentang McD:

- Penyebab kanker (McCancer): merusak kesehatan karena setiap yang dijual di McD adalah bahan awetan dan bukan makanan segar.
- Pembunuh (McMurder): pembantai hewan-hewan hanya untuk menambah keuntungan.
- Perusak (McDestructor): menghabiskan hutan-hutan di negara-negara dunia ketiga untuk kepentingan peternakannya demi (lagi-lagi) menambah keuntungannya tanpa memedulikan hak rakyat, hak adat, pada tanah untuk melanjutkan hidup.
- Penyia-nyiaan bahan (McWaste): membuat produk yang tidak bisa di daur ulang.
- Rakus (McGreedy): mengeksploitasi tenaga kerjanya dengan waktu yang represif dan upah yang rendah.

Kesemuanya itu demi menambah keuntungan!

Ini semua berarti bahwa kunjungan kamu ke McD adalah pernyataan dukungan terhadap sistem yang telah merusak planet bumi ini, yang telah menghancurkan kehidupan para petani dan kaum adat di dunia ketiga, yang telah memperbudak manusia lewat jam kerja yang panjang dan upah yang minimum, yang telah membuat nilai rupiah jatuh sedemikian rupa di hadapan dollar dan menyebabkan lumpuhnya perekonomian negara ini.

Kamu bisa memilih seperti yang dianjurkan Arundhati Roy, memilih tidak membeli produk-produk korporasi yang kejam!

Dan, tentu saja, di era konsumerisme seperti saat ini (yang bahkan untuk berlebaran, natal, imlek, dan ritual-ritual keagamaan lainnya, kita merasa harus berbelanja!), McD bukan satu-satunya produk yang mesti kita tolak! Cari, buat daftar, dan STOP MEMBELINYA!

(dengan hutang budi yang banyak pada Submissive Riot – Non Profit Anarcho Newsletter)

25.2.04

Manifesto

Karena makanan adalah hak semua orang bukan hak istimewa segelintir orang saja!
Karena ada cukup makanan untuk semua orang dimana-mana!
Karena kekurangan bahan makanan pokok adalah bohong!
Karena disaat kita lapar atau kedinginan kita punya hak untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dengan cara meminta, mengamen, atau menempati bangunan-bangunan kosong!
Karena kapitalisme menjadikan makanan sebagai sumber keuntungan, bukan sebagai sumber nutrisi!
Karena makanan tumbuh pada tanaman!
Karena kita butuh lingkungan bukan kendali!
Karena kita butuh rumah bukan penjara!
Karena kita butuh makanan bukan bom!

Di berbagai penjuru dunia saat ini telah terbangun puluhan kelompok-kelompok yang aktivitasnya adalah membagi-bagikan makanan vegetarian gratis untuk orang-orang miskin dan siapapun yang tidak mampu membeli makanan. Kelompok-kelompok ini selain mengkampanyekan sikap anti-kemiskinan mereka, secara lebih jauhnya bertujuan untuk menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang non-kekerasan. Dan walaupun memang banyak kelompok-kelompok yang melakukan aktivitas tersebut dalam berbagai nama, namun ada satu organisasi akar-rumput yang sangat konsisten melakukan aktivitas tersebut dan organisasi ini telah berkembang secara internasional, Food Not Bombs (FNB).

Bermula dari San Fransisco, FNB dengan aktifitasnya begitu cepat menyebar, dari Amerika Utara, Eropa, bahkan hingga ke negara-negara Asia seperti Malaysia dan Indonesia (seperti yang terjadi belakangan ini di beberapa kota). Kebanyakan dari kita benar-benar percaya bahwa FNB dan strukturnya beserta seluruh tujuannya sangat berkaitan erat dengan orientasi anarkis. Masalah ideologis ini sendiri pada akhirnya menjadi elemen formal dari politik FNB dan sebuah statement akan visi yang diadopsi secara terbuka oleh seluruh grup dan menempatkan aksi-aksi harian ke dalam konteks politik yang lebih radikal. Statement visi ini meliputi segalanya, dari dedikasi grup terhadap perjuangan anti-seksis, hingga pembangunan kebun komunitas dan pembuatan kompos sebagai sebuah aksi yang langsung menuju sebuah tatanan masyarakat yang seimbang dengan lingkungannya.

Diharapkan tulisan ini akan membuka diskusi tentang masa depan politis dari FNB dan gerakan-gerakan sejenis sebagai sebuah gerakan transnasional yang bekerja keras melawan dominasi global dari korporasi dan kemiskinan dunia. Tulisan ini juga diharapkan dapat membantu yang lainnya dalam gerakan sosial untuk mengerti aksi-aksi seperti diatas dan sisi politisnya. Adalah politik radikal yang telah membuat kita, mengisi aktifitas kita dengan sesuatu yang berarti, yang memberi energi dan vitalitas kepada usaha-usaha harian. Disaat kita melihat bagaimana aktifitas harian berkaitan dengan gerakan yang lebih besar demi keadilan sosial dan ekonomi, hal tersebut membantu memberikan inspirasi dan motivasi yang kita butuhkan untuk terus mengumpulkan dan membagi-bagikan makanan atau juga bergumul dengan kompos atau sekedar bangun tidur lebih awal, membuat kopi dan sepotong roti yang kita miliki untuk kemudian dibagikan kepada mereka yang melakukan pemogokan. Perubahan sosial yang radikal dibangun dari hari ke hari dengan menyadari bahwa diri kita adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri, akan dapat membantu kita untuk melewati hari-hari dengan aktifitas yang lebih berguna.

Jadi apalagi yang perlu untuk dibahas?

Adalah sesuatu yang penting bagi sebuah grup dan gerakan untuk mempunyai pengertian yang luas tentang dimana posisi kita dan apa visi terbaiknya tentang sebuah dunia idaman. Membagi-bagikan makanan dengan gratis memiliki beberapa definisi prinsipil yang sangat jelas dan konteks politis yang lebih luas serta memberi tempat bagi prinsip-prinsip tersebut sebuah makna dan arti yang lebih dalam.

Anarkis membayangkan dunia bebas dimana tindakan diambil atas keputusan bersama, dunia yang tanpa kekerasan. Konsep-konsep itu sendiri cenderung ambigu dan sangat terbuka untuk diinterpretasikan dengan lebih luas. Saat kita menyadari bahwa dengan menempatkan prinsip-prinsip kita secara fleksibel dan inklusif, sangatlah baik, tetapi disaat yang sama sangatlah penting juga untuk menjaga agar ide-ide kita tidak termoderasi dan terkooptasi. FNB sendiri memiliki tiga prinsip, yang selain dua prinsip diatas (keputusan bersama dan dunia tanpa kekerasan) mereka menambahkan satu point lagi, yaitu vegetarianisme. Dan dengan bersikap seperti diatas tadi, mereka meletakkan prinsip-prinsip mereka ke dalam aksi, dan hal itulah yang memberi ide-ide mereka sebuah arti dan nilai yang mendalam. FNB mengkombinasikan ide-ide tersebut dengan prinsip desentralisasi, penguatan kolektif dan individual, feminisme dan strategi pengorganisiran anti hirarkis. Dengan ini kita juga harus mulai meniadakan konsep-konsep yang mendefinisikan aktifitas pembagian makanan gratis sebagai tindakan 'amal'. Pola pikir 'amal' telah gagal menemukan inti penyebab kelaparan dan kemiskinan, serta cenderung membantu mendanai sebuah krisis tanpa pernah berusaha menyerang struktur institusional yang menghasilkan ketidakadilan tersebut. Kita seharusnya lebih memfokuskan pada penentangan terhadap struktur kekuasaan yang patriarkis, didominasi kulit putih plus 'budaya barat'nya dan berbagai bentuk dominasi lainnya -baik dalam masyarakat kita, dalam organisasi kita dan dalam kesadaran kita sendiri. Ide-ide dan keyakinan seperti itulah yang harus diekspresikan dalam berbagai pertemuan, dituliskan dalam literatur-literatur dan disuntikkan ke dalam cara kita mengorganisir kelompok kita sendiri, serta dalam membangun solidaritas dengan grup, organisasi ataupun perjuangan lain. Ini semua adalah tentang diri kita, tentang pandangan politis kita yang memiliki visi akan sebuah dunia yang lebih baik, sebuah dunia yang berusaha kita bangun saat ini. Dan inilah alasan mengapa pembahasan masalah seperti ini menjadi sangat penting.

Untuk Anarkisme

Fokus pertama soal anarkisme biasanya berkutat disekitar kesalahpahaman atas pengertian anarkisme yang diartikan tidak lebih dari chaos dan perusakan. Prof. Howard Zinn, seorang pendukung FNB mendeskripsikan anarkisme dalam bukunya yang berjudul "Declaration Of Independent" sebagai berikut: "Anarkis, seperti yang saya amati dan pelajari, tidaklah percaya pada anarki seperti yang biasa dideskripsikan oleh banyak orang dan media -kekacauan, disorganisasi, chaos, kebingungan dan setiap orang bertindak semaunya. Sebagai kontrasnya, mereka percaya bahwa tatanan masyarakat dapat dan seharusnya terorganisir dalam berbagai bentuknya dimana orang-orang akan bekerja sama saat bermain dan bekerja, untuk membangun sebuah tatanan masyarakat yang lebih baik. Tapi anarkis juga menekankan bahwa setiap organisasi harus menghindari hirarki dan perintah dari atas; harus demokratis, keputusan bersama, meraih keputusan tersebut melalui diskusi yang konstan dan berbagi argumen."

Dia juga menambahkan, "Apa yang membuat saya tertarik dengan anarkisme adalah juga bahwa penolakannya bersifat total terhadap segala bentuk otoritas-otoritas negara, gereja dan dalam dunia kerja. Anarkis percaya bahwa jika kita bisa membangun sebuah tatanan masyarakat egaliter tanpa kemiskinan dan kemakmuran yang jauh terpisah, kita tak akan membutuhkan polisi, penjara, tentara, ataupun perang, karena penyebab utama semua masalah tersebut sudah lenyap."

Howard Zinn menulis beberapa pendahuluan dalam beberapa buku FNB dan secara konsisten terus menentang serangan polisi dan tindakan brutal dari pemerintah kota terhadap para anggota FNB di San Fransisco. Dalam beberapa artikel di koran-koran tentang kebrutalan pemerintah kota terhadap FNB, Zinn selalu tercantum di harian tersebut. Statement yang dia bacakan antara lain berkata, "FNB memprotes sebuah sistem yang gagal untuk memberi orang-orang kebutuhan dasarnya."

Anarkisme adalah sebuah gerakan demi sebuah dunia dimana kekerasan rasis, seksis, homofobik, kapitalisme dan sejenisnya dilenyapkan dari kehidupan kita sehari-hari. Anarkisme adalah sebuah keyakinan akan terbentuknya sebuah dunia dimana perang dan kemiskinan tak akan ada lagi. Anarkisme adalah filosofi dan gerakan yang bertujuan membangun sebuah struktur ko-operasi, egaliter dan struktur sosial yang mempromosikan mutual-aid, kontrol demokrasi radikal atas keputusan politik dan ekonomi, serta berwawasan lingkungan. Jadi bagaimana hal-hal seperti diatas dapat diterapkan secara langsung melalui aksi-aksi FNB?

Anarkisme dan Konsensus (Pengambilan Keputusan Bersama)

Konsensus adalah sebuah bentuk pengambilan keputusan yang berdasarkan pada prinsip-prinsip anarkis. Konsensus adalah sebuah bentuk pengambilan keputusan yang dalam prosesnya bertujuan untuk membagi kekuatan diantara orang-orang agar semua dapat berpartisipasi dalam memperkuat dan mengimplementasikan keputusan kolektif. Konsensus juga bertujuan untuk membangun sebuah organisasi non-hirarkis yang mengkounter rasisme, seksisme, homofobia dan berbagai bentuk penindasan serta dominasi yang hanya menguntungkan sebagian orang saja dan memposisikan orang lain tanpa memiliki kekuatan dan suara. Karena kita bertujuan membangun sebuah organisasi - dan juga komunitas dan tatanan masyarakat - yang saling berbagi kekuatan dan memapankan kesetaraan, kita harus terus melawan hirarki. Anarkisme dan konsensus berjalan beriringan seperti layaknya sop hangat dan roti yang baru.

Anarkisme dan Vegetarianisme

Organisasi-organisasi yang membagi-bagikan makanan gratis seperti FNB hanya menyediakan makanan vegetarian sebagai aksi politis melawan industri daging beserta variannya, serta mempromosikan pendekatan lingkungan, distribusi makanan serta sumber bahan pangan ke seluruh dunia dengan merata, mempromosikan hidup lebih sehat, serta mendukung pembebasan hewan.

Komitmen kelompok-kelompok seperti FNB terhadap isu-isu seperti itu telah membangun koalisi yang kuat dengan organisasi lingkungan seperti Earth First! dan berbagai macam lainnya dan juga dengan organisasi-organisasi pembebasan hewan seperti ALF (Animal Liberation Front). Anarkisme menentang eksploitasi dan dominasi dunia yang merupakan karakteristik dari ekspansi kapitalisme. Anarkisme bertujuan tidak hanya merubah hubungan antar sesama manusia, tetapi juga hubungan antara manusia dengan bumi dan lingkungannya.

Anarkisme dan Sikap Tanpa Kekerasan

Banyak orang mulai memperdebatkan apakah anarkisme dan sikap tanpa kekerasan saling berkaitan. Sebagian anarkis berpendapat bahwa anarkisme dan sikap tanpa kekerasan tidak dapat dipisahkan. Untuk membahas masalah diatas mari kita lihat kembali pada sejarah tentang terjadinya negara. Christopher Day dari Love and Rage Revolutionary Anarchist Federation menulis, "Negara - yang kita artikan dengan keberadaan polisi, tentara, penjara, pengadilan, berbagai birokrasi pemerintah baik legislatif dan eksekutif - adalah alat pengontrol dan penekan dari yang berkuasa. Negara mempertahankan kekerasan yang legal dan terorganisir." Lebih lanjut Day menyatakan, "Negara telah selalu menjadi instrumen perang. Adalah sesuatu yang tak mungkin untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat tanpa peperangan dalam sebuah tatanan masyarakat yang masih didominasi oleh negara."

Dalam buku FNB yang berjudul 'Feeding The Hungry and Building Community' dijelaskan, "Nama FNB menyatakan prinsip kami yang paling fundamental; tatanan masyarakat harus mempromosikan kehidupan bukan kematian. Tatanan masyarakat sudah mentolerir bahkan mempromosikan kekerasan dan dominasi. Kekuatan penguasa adalah hasil dari ancaman dan penggunaan kekerasan."

Negara dan bentuk representasi dari kapitalisme, dominasi dan patriarki, mengkonsentrasikan kekuatan kepada beberapa orang saja yang secara sistematis mengesampingkan kekuatan mayoritas umat manusia. Kekerasan yang eksis dalam kehidupan sehari-hari merupakan hasil dari pengingkaran kekuatan atas hidup seseorang. Kekerasan terjadi dengan banyak cara, setiap hari, sebagai hasil dari ketidakaadilan sistem. Baik itu hadir melalui sistem sewa, makanan dengan pestisida dan label harga yang menyembunyikan penindasan terhadap para buruhnya, sistem pajak, bekerja pada seseorang yang sudah kaya, malnutrisi, sweeping polisi terhadap gelandangan, pemaksaan sterilisasi pada perempuan di negara Dunia Ketiga, pengasingan sosial terhadap orang miskin dan masih banyak problem lainnya.

Jadi apa hubungan antara anarkisme dan sikap tanpa kekerasan? Kita harus menelaah kembali sejarah yang panjang dari gerakan dan perlawanan anarkis yang pernah eksis dan kita akan menemukan fakta bahwa anarkisme dan perjuangan demi sebuah dunia yang tanpa kekerasan mempunyai sejarah yang panjang.

Dalam penelitian yang ditulis tahun 1932 dengan judul 'Native (Born) American Anarchism' yang mendiskusikan tentang pengaruh Henry David Thoreau yang dikembangkan melalui pembangkangan sipil, Eunice Schuster menyebut Thoreau sebagai "bukan hanya anarkis dalam pemikirannya, tapi juga dalam aksinya". Aksi pembangkangan sipil yang dilakukan Thoreau selama perang Amerika melawan Meksiko telah mempengaruhi banyak teori-teori dan praktek tanpa kekerasan.

Leo Tolstoy juga mengambil inspirasi dari Thoreau dan mengembangkan ide-idenya sendiri dalam sikap yang tanpa kekerasan. Robert L. Holmes dalam bukunya yang berjudul 'Non-Violence In Theory and Practice' menuliskan, "Tolstoy menggabungkan pemahaman agama Kristen kepada apa yang dia lihat sebagai kesimpulan logis: pengingkaran ini bukan hanya berasal dari perang yang merupakan kekerasan terorganisir, tetapi juga dari pemerintah yang merupakan kekerasan institusional, dan hal inilah yang menimbulkan perang."
Dalam kata pengantar dari buku berjudul 'Government Is Violence: Essays on Anarchism and Pacifism' karangan Leo Tolstoy tertulis, "Tolstoy menyarankan cara pencapaian anarki dengan sesuatu yang sekarang dikenal sebagai pembangkangan sipil dan aksi langsung tanpa kekerasan... Tolstoy mengadvokasikan perlawanan moral yang tanpa kompromi terhadap penguasa."

Gandhi menulis tentang Tolstoy dalam autobiografinya, "40 tahun yang lalu, ketika saya melewati masa krisis skeptis dan keraguan yang hebat, saya membaca buku Tolstoy yang berjudul 'The Kingdom Of God Is Within You' dan sangat terkesan. Saat itu saya masih percaya dengan kekerasan. Buku itu menyembuhkan sikap skeptis saya dan membuat saya menjadi seorang yang yakin akan ahimsa (tanpa kekerasan)... dia adalah tokoh anti kekerasan yang hebat yang lahir di abad ini."

Ide-ide anarkis juga terinspirasi oleh ide-ide Gandhi tentang bentuk tatanan masyarakat yang diidam-idamkan. Dalam buku berjudul 'Gandhi Today', Mark Shepard menjelaskan: "India dapat menjadi kuat dan sehat hanya dengan merevitalisasi desa-desa dimana empat dari lima orang tinggal, seperti yang dituntut oleh Gandhi. Dia memimpikan sebuah tatanan masyarakat yang terdiri dari desa-desa yang kuat, dimana setiap desa memiliki otonomi politik dan ekonomi sendiri. Dalam kenyataannya Gandhi adalah tokoh terbesar dari desentralisasi di abad ini - menempatkan kekuatan politik dan ekonomi pada level lokal."

Setelah Gandhi dibunuh, orang yang dikenal sebagai pewaris spiritual Gandhi, Vinoba Bhave memimpin beberapa kampanye besar untuk mengklaim kembali tanah bagi kaum miskin. Tahun 1951 Bhave dan banyak buruh dari Sarva Seva Sangh, memulai gerakan Bhoodon (Hadiah Tanah). Banyak yang menganggap bahwa Bhave adalah orang suci dalam tradisi Hindu, dan saat dia memulai perjalanan keliling negara untuk menuntut beberapa akre tanah dari para tuan tanah, dia menerima hadiah berupa tanah yang kemudian diberikan pada kaum miskin. Satu sepertiga juta akre yang diklaim oleh kaum miskin (lebih dari sekedar manajemen program Land-Reform yang diusulkan oleh pemerintah India). Bhave juga terlibat dalam proyek-proyek dan kampanye lainnya yang mempunyai prinsip revolusi tanpa kekerasan. Bhave adalah seorang anarkis.

Amerika mempunyai sejarah panjang tentang anarkisme tanpa kekerasan. Salah satu kelompok pertama yang tertulis dalam sejarah adalah New England Non-Resistance Society. Mereka menegaskan bahwa pemerintah, hukuman mati, perang dan ketidakadilan sangat bertentangan dengan ajaran Kristen. Kelompok tersebut, termasuk didalamnya William Llyod Garrison, terlibat dalam gerakan abolisionis yang berjuang untuk mengakhiri perbudakan di Amerika.

Saat Amerika memasuki Perang Dunia I, anarkis berada di garis depan gerakan anti perang. Tahun 1016, Emma Goldman, Alexander Berkman dan yang lainnya mengorganisir 'No Conscription League'. Dengan kelompok tersebut mereka mengorganisir demostrasi, protes dan march. Mereka mempublikasikan sebuah manifesto yang didalamnya tertulis: "No Conscription League dibentuk dengan tujuan mendorong para anti wajib militer untuk menolak berpartisipasi dalam membunuh sesama mereka." Berkman dan Goldman ditangkap karena dianggap melanggar hukum. Tahun 1918 pemerintah mengeluarkan undang-undang bernama 'Espionage Act' yang membuat literatur anti-perang menjadi ilegal, dan undang-undang ini digunakan untuk melawan sebuah kelompok yang terdiri dari lima orang anarkis termasuk Mollie Steimer. Kelompok tersebut mendistribusikan koran dengan cara menyelipkan koran-koran tersebut ke kotak pos di setiap rumah pada malam hari, dan menulis beberapa leaflet yang isinya menentang UU tersebut. Salah satu dari terdakwa, Jacob Schwartez, tidak pernah diajukan ke pengadilan. Dia disiksa polisi selama interogasi dan meninggal saat dibawa ke rumah sakit. Sisa dari kelompok tersebut dianggap bersalah dan dideportasi ke Russia pada tahun 1921 atas aktivitas anti-perang mereka.

Selain mereka, masih ada yang menentang perang, antara lain Dorothy Day. Dia bersama dengan Peter Maurin, mempelopori gerakan buruh Katolik. Nancy Robert dalam anthologinya 'American Radical' menulis tentang gerakan tersebut, "Mereka mempunyai rencana yang berdasarkan tiga point yang sesuai dengan nilai-nilai Kristen untuk melakukan aksi-aksi sosial yang radikal. Maurin memimpikan sebuah komunitarian, gerakan anarkis yang menawarkan diskusi, forum-forum dan ceramah, rumah sakit di setiap kota yang memberi makan dan tempat tinggal bagi kaum miskin dan gelandangan, dan peternakan komunal yang akan menghancurkan tatanan masyarakat industri dan membentuk unit-unti organik dimana semua orang hidup dan belajar dalam sebuah komunitas."

Pada akhirnya, sekitar 200 rumah yang dijadikan rumah sakit dibuka di banyak negara khususnya di Amerika Serikat. Ide yang mendasari berdirinya rumah-rumah tersebut diterangkan oleh Walter Brueggman sebagai berikut, "perasaan kasihan mengangkat sebuah bentuk kritik yang radikal dimana mereka yang miskin dan kelaparan harus diperhatikan dengan serius, kondisi dimana mereka seharusnya tidak dianggap normal dan alami, tetapi dianggap sebagai kondisi yang tidak manusiawi yang tidak dapat diterima." Rumah-rumah tersebut dalam struktur masyarakat yang berorientasi profit bukan hanya merupakan sebuah bentuk perlawanan tetapi juga merupakan sebuah alternatif. Pada 1 Mei 1933, gerakan buruh Katolik tersebut menerbitkan koran yang dijual dengan sangat murah. Koran tersebut menjelaskan kaitan antara perdamaian dan keadilan sosial, serta meliput banyak aksi-aksi pembangkangan sipil yang dilakukan oleh gerakan buruh Katolik dan berbagai kelompok buruh radikal lainnya melawan militerisme. Dalam bukunya yang berjudul 'The Spirit of The Sixtiest: The Making of Post-War Radicalism', James Farrell menulis, "Pasifisme, personalisme dan anarkisme dari gerakan buruh Katolik menempati halaman pertama koran mereka. Dan koran tersebut mempromosikan sebuah revolusi dengan ide-idenya." Farrel menulis bahwa dalam beberapa tahun, sirkulasi koran tersebut mencapai oplah 100.000 eksemplar dan tahun 1938 oplah mereka mencapai 190.000 eksemplar. Selama Perang Dunia II gerakan buruh Katolik tersebut dilarang karena sikap pasifis mereka dan beberapa aktifisnya dipukuli di jalanan saat mendistribusikan korannya.

Selama lebih dari 50 tahun, Dorothy Day berkomitmen penuh terhadap perdamaian, keadilan sosial dan revolusi tanpa kekerasan. Pada tahun 1983, uskup Katolik Amerika melihat adanya indikasi pergeseran sejarah dalam pelajaran tentang perang dan perdamaian saat tertulis bahwa pasifisme tidak dapat diterima baik secara moral ataupun politik bagi umat Katolik. Dulu Day bersama dengan Martin Luther King Jr. dikenal sebagai 'saksi tanpa kekerasan' yang memiliki 'pengaruh kuat dalam kehidupan gereja di Amerika Serikat'.

Dorothy Day yang selalu dijuluki 'Head Anarch' oleh editor koran gerakan buruh Katolik, dijuluki juga sebagai 'First Lady of American Catholism' dan beberapa malah memberi petisi kepada Vatikan agar mendeklarasikan dia sebagai seorang Santa. Anarkisme menurut Day adalah, "Ditingkatkannya tanggung jawab seseorang kepada orang lain, dari individu kepada komunitas, dan disaat yang sama mengurangi ketergantungan terhadap sentralisme negara."

Salah satu dari gerakan yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Amerika Serikat adalah gerakan Civil Rights. Satu dari grup-grup kunci gerakan tersebut adalah Student Non-Violent Coordinating Committee (SNCC). Kelompok tersebut lahir dari gerakan 'aksi duduk' yang pernah sempat populer di daerah selatan pada tahun 1060 dalam aksi protes menentang sistem Apartheid dari 'Jim Crow Laws'. Saat SNCC tidak pernah secara formal mendeklarasikan diri mereka sebagai sebuah grup anarkis, struktur organisasi mereka bermodelkan anti-otoritarian, desentralisasikan dan demokrasi serta mereka menggunakan aksi langsung dalam perjuangan mereka bagi masyarakat egaliter. SNCC memainkan sebuah peran penting dalam aksi "Freedom Rides", sebuah kampanye 1964 "Freedom Summer", yang merupakan sebuah formasi dari partai politik 'Mississippi Freedom Democratic Party' yang menentang rasisme dalam tubuh partai demokratik. Mereka telah meninggalkan sebuah ide dari aktivisme dan pengorganisiran radikal yang penting bagi siapapun yang berjuang demi perubahan sosial saat ini. Pola gerak mereka seperti pembangunan komunitas merupakan taktik aksi langsung tanpa kekerasan yang banyak digunakan oleh kelompok-kelompok seperti FNB.

Ella Baker adalah salah seorang yang menolong membentuk SNCC. Dia adalah seorang organisator selama bertahun-tahun dalam partai komunis NAACP dan membantu membangun 'Southern Christian Leadership Conference' dimana Martin Luther King Jr. terpilih sebagai presidennya. Baker yakin akan dibutuhkannya aksi-aksi langsung dan demokrasi partisipatoris dalam membentuk sebuah perubahan sosial. Dia juga yakin bahwa sebuah grup yang sukses harus menerapkan pola kepemimpinan yang datang dari grup itu sendiri, bukannya kepemimpinan yang datang dari seorang pemimpin: orang yang kuat tidak membutuhkan pemimpin yang kuat. Dalam bukunya yang berjudul: "Women In The Civil Rights Movement": Trailblazers dan Torchbearers, Carol Mueller menampilkan sebuah chapter tentang Ella Baker dan pengembangan demokrasi partisipatoris. Mueller mengidentifikasikan ide-ide Baker tentang demokrasi partisipatoris sebagai berikut: 1. Seruan bagi orang-orang yang bergerak di level grass root dalam masyarakat dimana mereka memiliki kontrol atas diri mereka sendiri. 2. Meminimalisir hirarki dan profesionalisme yang selalu menjadi dasar bagi masalah kepemimpinan. 3. Sebuah seruan akan perlunya aksi langsung sebagai sebuah jawaban atas ketakutan dan alienasi yang eksis dalam masyarakat. Eksperimentasi dari demokrasi partisipatoris dalam SNCC dipengaruhi oleh gerakan sosial yang sangat luas. Mueller juga menulis: "Demokrasi partisipatoris dan pengambilan keputusan secara konsensus dilakukan dari proyek pendaftaran pemilih bagi SNCC di Mississippi dan Georgia hingga proyek SDS (Student for a Democratic Society) yang berkembang di daerah kumuh kota-kota daerah utara pada pertengahan tahun 60-an, hingga kelompok kepedulian pembebasan perempuan di akhir tahun 60 dan awal 70-an, hingga group-group afinity yang tergabung dalam gerakan anti-nuklir di akhir 70-an dan awal 80-an".

Anarkisme dan sebuah dunia tanpa kekerasan bukan hanya saling berkaitan tapi juga tidak dapat dipisahkan. Saat bagian ini didiskusikan dengan melihat berbagai contoh dari sejarah yang harus di klaim kembali dan di ingat bahwa contoh-contoh tersebut telah menawarkan kita inspirasi dalam perjuangan demi sebuah tatanan dunia baru saat ini. Tidak seharusnya kita mengesampingkan berbagai gerakan yang diwarnai dengan kekerasan dalam sejarah anarkisme, tapi selama ini taktik pasifis tertutupi oleh contoh-contoh aksi revolusioner yang penuh kekerasan. Lebih jauhnya lagi aksi-aksi dengan kekerasan harus dilihat dan diletakkan dalam konteks situasi dan waktu sehingga kita dapat mengerti kaitan gerakan tersebut dengan perlawanan terhadap institusi sistem yang penuh kekerasan. Kita tidak akan pernah menemukan perdamaian selama kekuatan tiap orang dipisahkan dari hidup mereka.

Tetapi anarkisme sangat tidak populer dan selalu di salah artikan. Ya. Hal tersebut memang tidak populer dan selalu di salah artikan, tetapi dengan tetap diam dan tidak mau menyatakan keyakinan akan politik yang kita miliki tidak akan menghasilkan apa-apa selain hanya memperkuat struktur sistem saat ini. Saat orang-orang menentang perbudakan, saat orang-orang menuntut persamaan bagi perempuan dan kulit berwarna, saat orang-orang mengorganisir diri mereka menentang perang, saat orang-orang berjuang untuk upah dan kondisi kerja yang lebih baik, saat orang-orang mulai berdiri mempertahankan hak-hak mereka yang ditindas, diserang, dipenjarakan, dan bahkan dibunuh, saat itulah kekuatan itu kembali pada diri kita.

Dalam bukunya yang berjudul "Anarchism and Black Revolution", Lorenzo Ervin menulis: "Sebagai sebuah bentuk praktek, anarkis-komunis percaya bahwa kita harus membangun tatanan masyarakat baru saat ini juga disamping terus berusaha untuk menghancurkan kapitalisme. Kita harus terus berusaha menciptakan organisasi-organisasi mutual aid anti-otoritarian untuk makanan, pakaian, perumahan, pengumpulan dana bagi proyek komunitas, dan sebagainya diantara lingkungan bertetangga kita tanpa perlu berafiliasi dengan pemerintah atau korporasi bisnis, dan tidak menjalankannya dengan tujuan meraih profit, melainkan demi kebutuhan sosial. Beberapa organisasi telah terbangun saat ini dan memberikan kepada anggota-anggotanya pengalaman praktek manajemen diri yang akan mengurangi ketergantungan orang-orang pada sistem. Pendeknya kita dapat mulai membangun infrastruktur bagi masyarakat komunal, sehingga orang-orang dapat melihat apa yang mereka perjuangkan dan untuk apa, bukan hanya sekedar ide di kepala seseorang. Dan itulah jalan menuju kebebasan".

Kita dapat membuat ide-ide ko-operasi, mutual-aid, solidaritas, egalitarianisme dan tatanan masyarakat tanpa kekerasan menjadi popular, tapi hanya melalui aksi yang kita lakukan dan politik yang kita terapkan yaitu politik dalam kehidupan sehari-hari. Politik yang dekat dengan realita dalam kehidupan yang dijalani oleh masyarakat kita, karena semakin jauh politik kita dengan yang kita hadapi sehari-hari maka semakin tidak dapat di mengerti dan tidak berhubungannya politik tersebut dengan hidup kita.

Salah satu cara menerapkan politik radikal dalam tatanan masyarakat di mana masih terdapat banyak sekali kemiskinan dan kelaparan, adalah dengan menyediakan makanan gratis.

Info mengenai gerakan Food Not Bombs-Internasional bisa diakses di http://www.foodnotbombs.net

Sementara jaringan komunikasi dan informasi gerakan Food Not Bombs lokal bisa diikuti dengan bergabung dalam mailing-list Food Not Bombs-Indonesia di http://groups.yahoo.com/group/fnbind

diambil paksa dari http://sayap-imaji.blogspot.com

14.2.04

Ular-ular dalam Rumah

Musim hujan tahun ini terasa lain di sini. Tak seperti tahun lalu, tahun ini hujan seperti mengusik ular-ular di dunianya di bawah sana. Jauh, jauh di bawah sana, tempat seribu ular bersemayam, beranak-pinak, menyusun kerajaannya. Tapi hujan seperti membanjiri mereka dengan air, menyebabkan mereka, kini, menyerbu rumah ini. Tiap sudut rumah ini kini dikuasai ular, di atas kasur, di jalan menuju kamar mandi, di depan pintu masuk, di ruang tengah, di halaman rumah, di kebun samping, di langit-langit, dan itu…bahkan di atas meja makan.
Aku tak tahu apakah ular begitu takut dengan genangan air. Hujan rasanya biasa saja, tak lebih hebat dari tahun lalu. Dimulai bulan kesembilan dan—biasanya—selesai bulan ketiga tahun berikutnya. Tapi entahlah, ular-ular itu seperti terusik benar. Adakah air hujan kali ini berasa lain? Lebih dingin barangkali, atau lebih panas, sehingga membuat kulit-kulit ular itu melepuh dan mengelupas? Atau terasa asam, membuat lidah ular-ular itu kecut dan membikin mual perutnya?
Yang jelas ular-ular itu kini membuatku beranak-pinak meninggalkan rumahku sendiri untuk sekian waktu. Mengungsi ke rumah tetangga. Iya, rumah tetangga, sesuatu yang membuatku gusar, karena kenapa hanya rumahku di kampung ini yang diserbu ular. Ular seribu macam. Ular seibu warna. Ular yang menggelikan sekaligus mengerikan. Hal yang kemudian membuat sebagaian penduduk iba kepadaku, dan sebagian lainnya marah dan menuduhku macam-macam. Yang menyakitkan ialah mereka yang menuduh kami sekeluarga sebagai pemuja iblis dan lalu berkhianat kepadanya sehingga iblis itu mengirimkan ular-ular itu ke rumah kami sebagai suatu hukuman. Mereka—yang marah kepadaku—menyesaliku karena takut ular-ular itu akan berkelana juga ke rumah-rumah mereka, masuk ke dalamnya, atau memakan ternak-ternaknya. Anak-anakku lantas dijauhi oleh teman-temannya, istriku menjadi bahan gunjingan tetangga, dan aku, aku selalu menjadi sasaran kemarahan para tetanggaku yang marah itu.
Tapi Sukidi, kawan baikku, rumahnya tempat kumengungsi sekarang, kupikir ialah satu-satunya manusia di kampung ini. Ular tak masuk ke rumahnya, padahal jarak rumahku ke rumahnya hanya dibatasi sebidang kebun singkong yang kini dikuasai ular-ular. Kebunku dan kebunnya hanya dibatasi pagar bambu, pagar bambu jarang-jarang.
Kenapa? Kenapa pikirku, kenapa dengan rumahku, kenapa ular-ular itu hanya memilih rumahku, bukan Rusdi si penjudi itu, atau Subhan yang suka main perempuan itu. Kenapa?
Ini hari keenam sejak rumahku dikuasai ular-ular itu. Hampir seminggu. Dan aku hampir putus asa dengan usahaku untuk menyingkirkan ular-ular itu. Aku dan Sukidi, juga tetangga-tetangga lain yang peduli, menyingkirkan ular-ular itu. Satu hal yang kupegang teguh, aku tak akan membunuh salah satu di antara ular-ular itu. Biar mereka membunuhnya, aku tak mau. Bagiku, pembunuhan tetap pembunuhan, sekalipun ular-ular itu sudah sedemikian merepotkanku. Ini barangkali yang membuat beberapa tetangga merasa heran dan akhirnya berhenti membantuku untuk menyingkirkan ular-ular itu. Selama ini, bagiku cukup dengan menangkap ular-ular itu, memasukannya ke dalam karung, dan kemudian dilepaskan di tengah hutan sana. Tapi tidak bagi mereka, ular-ular itu harus mati, harus dibunuh, agar tak kembali lagi, “lagian, mereka sudah mulai meresahkan seisi kampung”, kata Subhan.
Dan begitulah. Sampai kemudian beberapa minggu setelah itu, ular-ular itu masih tetap menguasai rumahku. Jumlahnya memang berkurang, setidaknya tidak sebanyak ketika minggu pertama, tapi—ini yang kusesali—mereka masih saja menguasai tempat-tempat yang bagiku strategis. Bagaimana aku bisa menempati rumah itu, kalau jalan menuju kamar mandi masih dipenuhi ular-ular, atau di kamar tidurku dan istriku, atau juga di dekat bak mandi, ular-ular itu masih di sana, seakan bertahta.
Tentunya usahaku bukan hanya menyingkirkan ular-ular itu, beberapa orang pintar pun sudah aku hubungi, mereka hanya melihat rumahku, tapi semua orang pintar yang kuhubungi selalu berkata itu ular biasa, bukan santet, bukan ular kiriman, usir saja, atau dibunuh saja.
Heran, bagiku ini sangat mengherankan. Bagaimana mungkin ular-ular itu adalah sejenis ular biasa, mengapa hanya di rumahku, padahal rumah Sukidi yang jaraknya tak lebih dari limabelas meter dari rumahku aman-aman saja, bahkan kebunnya, yang berbatasan langsung dengan kebunku, tidak disinggahi ular-ular itu.
Perlahan aku yakin, ular-ular itu adalah ular-ular kiriman, atau ular-ular santet, atau ular-ular yang dikirimkan iblis kepadaku sebagai hukuman. Tapi apa salahku? Pekerjaanku sebagai seorang pegawai rendahan di kantor pemerintahan tentunya bukan suatu yang pantas untuk dimusuhi, sehingga aku harus disantet, diteluh, dikirimi ular-ular. Lalu sejak kapan aku menjadi pemuja iblis? Tidak, tidak pernah, orangtuaku adalah guru ngaji di kampung kelahiranku. Atau istriku? Ah tidak, tidak mungkin, seorang wanita baik-baik dari keluarga yang baik-baik pula, juga cukup berada. Dialah yang selama ini selalu menasihatiku agar bersabar dalam menjalani hidup sebagai pegawai rendahan, “toh, kita masih punya kebun untuk kita makan hasilnya”, katanya setiapku mengeluh. Anak-anakku? Segera kusingkirkan pikiran ini, anakku yang terbesar baru berumur delapan tahun.
***
Musim hujan tahun ini memang terasa lain, padahal hujan datang seperti biasanya, mulai di bulan kesembilan dan selesai—biasanya—di bulan ketiga tahun berikutnya. Tapi entahlah, sejak kematian kepala operasional di kantorku, dan kemudian diganti oleh seorang muda dari pusat, musim hujan kali ini seperti menyisakan banyak hal di kantor ini. Mulai dari pemutasian-pemutasian yang terlihat tak wajar, lalu proyek-proyek yang datang tak seperti biasa, juga datangnya orang-orang baru yang kemudian langsung menempati posisi-posisi straregis di kantorku. Semuanya berkesan aneh.
Adakah hujan kali ini berasa lain? Lebih dingin barangkali?
Jatinangor, April 2002