Ketika hari itu benar-benar datang, tak satu pun yang ia lakukan kecuali terus-menerus duduk dan melemparkan senyum termanisnya. Itu hari jumat di ujung tahun. Jumat yang cerah di mana pada saat itu hal terpantas yang semestinya terjadi adalah turun hujan dari langit Desember. Hari itu hujan tak turun, ada awan cerah di sekitar matanya.
Dia telah membayangkan semuanya sejak semula: “Tentu saja,” pikirnya, “aku akan mendapatkan ini. Dari sini semuanya akan berdatangan. Mula-mula barangkali permintaan menjadi pembicara di sekolah-sekolah. Lalu meningkat ke seminar-seminar dalam ruangan dingin di hotel-hotel mewah. Itu semua tentu setelah melewati serangkaian wawancara melelahkan permintaan dari majalah-majalah remaja, televisi berskala nasional dan radio-radio. Di koran-koran edisi hari minggu, seolah-olah setiap halaman melulu bercerita tentangku. Memuat fotoku dan mengutip karya-karyaku yang dulu cuma termangu di folder-folder tak tertata.”
Di hari itu, ia terus-menerus memikirkan itu semua. Jam dua siang, ibunya hampir mati jemu ketika harus keseratus kalinya mengingatkan ia agar segera menyentuh makan siangnya dan berhenti senyum-senyum sendiri.