Minesweeper
Setelah sekian lama menelantarkan begitu banyak rencana, nyaris menjadi orang yang tak peka dunia luar, nyaris autis dan memiliki dunia sendiri, menjadi orang tak acuh yang tak memandang lawan bicara, menjadi orang yang begitu sensitif jika ada sedikit saja gangguan, dan menjadi nyaris buram mata, semuanya tepat jika saya berada di depan layar monitor komputer....
rekor minesweeper saya mencapai puncak kegemilangannya:
beginner : 4 seconds
intermediate : 41 seconds
expert : 131 seconds
hah! kini saatnya melihat dunia lagi... :)
29.3.06
23.3.06
Satu Saja Batu...
Mengapa aku tak bisa lagi menatap matamu setelah kejadian sore itu? Sedemikian merasa bersalahkah aku? Padahal, terkadang aku bisa bercermin nyaris sempurna di lingkar matamu.
Disiplin. Kau katakan itu padaku, bukan hanya lewat pesan pendek, tapi sekaligus di depan kawan-kawan kita. Kau bahkan berkata gerakan paling disiplin sekalipun berpotensi dihancurkan. Maka, katamu, tak ada pilihan lain selain disiplin. Atau Lenin akan lahir kembali dan mendisiplinkan lewat partai elite.
Kau sendiri telah bilang, itu bukan sepenuhnya salahku. Itu salah kita. Tapi entah kutukan apa, aku lebih suka menanggung dosa ini sendirian.
Aku selalu berharap kita satu garis di dalam sebuah lingkaran sindikasi tanpa hirarki. Bukankah kita masih percaya kerjasama sukarela jauh lebih menjanjikan ketimbang sentralisme demokratik? Tidakkah kita yakini bahwa duduk setara di bawah jauh lebih bersahaja ketimbang ''kau di sana aku di sini - bersama kita menjadi partikel leninis''?
tidakkah kita sama-sama tak menginginkan revolusi yang akan membakar habis semua yang berwarna 'merah jambu' yang kita punya?
Dan kedatanganmu senja tadi, di mana kau begitu penuh tawa dengan membuat lelucon-lelucon segar. Berhasil membuatku tertawa hingga air mata nyaris tumpah. Kau masih tetap membawa kesegaran-kesegaran di lingkar-lingkar manis ini. Kau bahkan meminjamkanku buku berwarna merah untuk kubaca-baca.
Sekali saja, sekali saja dalam hidupku, aku ingin melempar sebuah batu di sampingmu.
Mengapa aku tak bisa lagi menatap matamu setelah kejadian sore itu? Sedemikian merasa bersalahkah aku? Padahal, terkadang aku bisa bercermin nyaris sempurna di lingkar matamu.
Disiplin. Kau katakan itu padaku, bukan hanya lewat pesan pendek, tapi sekaligus di depan kawan-kawan kita. Kau bahkan berkata gerakan paling disiplin sekalipun berpotensi dihancurkan. Maka, katamu, tak ada pilihan lain selain disiplin. Atau Lenin akan lahir kembali dan mendisiplinkan lewat partai elite.
Kau sendiri telah bilang, itu bukan sepenuhnya salahku. Itu salah kita. Tapi entah kutukan apa, aku lebih suka menanggung dosa ini sendirian.
Aku selalu berharap kita satu garis di dalam sebuah lingkaran sindikasi tanpa hirarki. Bukankah kita masih percaya kerjasama sukarela jauh lebih menjanjikan ketimbang sentralisme demokratik? Tidakkah kita yakini bahwa duduk setara di bawah jauh lebih bersahaja ketimbang ''kau di sana aku di sini - bersama kita menjadi partikel leninis''?
tidakkah kita sama-sama tak menginginkan revolusi yang akan membakar habis semua yang berwarna 'merah jambu' yang kita punya?
Dan kedatanganmu senja tadi, di mana kau begitu penuh tawa dengan membuat lelucon-lelucon segar. Berhasil membuatku tertawa hingga air mata nyaris tumpah. Kau masih tetap membawa kesegaran-kesegaran di lingkar-lingkar manis ini. Kau bahkan meminjamkanku buku berwarna merah untuk kubaca-baca.
Sekali saja, sekali saja dalam hidupku, aku ingin melempar sebuah batu di sampingmu.
14.3.06
Ke Duniamu
Jika memang mungkin, saya tak ingin menukar apapun lagi sekarang. Ini sudah cukup buat saya, teramat cukup. Kamu, kota ini, dan senyum-senyum kita.
Semuanya terlalu membuat menyenangkan. Kamu harusnya tahu, tak ada yang saya tunggu sejak dua minggu lalu selain hari-hari ini. Di halaman gedung tua, di bawah lukisan berumur seabad lebih, di kursi kereta, di kantin stasiun, bergelantungan di dalam busway, di trotoar-trotoar. Semuanya.
Dan kemarin. Saat saya menghabiskan senja di dalam bis kota yang cuma mampu merayap menuju tempatmu. Senja yang tak kalah indah dari senja yang pernah saya ceritakan kepadamu saat kamu menghabiskan malam di pantai utara Jakarta. Dan betapa ingin saya menceritakan lebih banyak lagi senja untuk kamu.
Atau malam tadi, saat saya menceritakan begitu banyak kegelisahan di beranda tempat tinggalmu. Terpatah-patah dan tak ada daya. Kamu malah memegang tangan saya, membawanya ke wajahmu dan memberikan senyum lagi untuk saya.
Kalau memang mungkin, Re, saya tak ingin waktu berjalan lagi. Cukup ini saja. Kamu, kota ini, dan senyum-senyum kita.
Jika memang mungkin, saya tak ingin menukar apapun lagi sekarang. Ini sudah cukup buat saya, teramat cukup. Kamu, kota ini, dan senyum-senyum kita.
Semuanya terlalu membuat menyenangkan. Kamu harusnya tahu, tak ada yang saya tunggu sejak dua minggu lalu selain hari-hari ini. Di halaman gedung tua, di bawah lukisan berumur seabad lebih, di kursi kereta, di kantin stasiun, bergelantungan di dalam busway, di trotoar-trotoar. Semuanya.
Dan kemarin. Saat saya menghabiskan senja di dalam bis kota yang cuma mampu merayap menuju tempatmu. Senja yang tak kalah indah dari senja yang pernah saya ceritakan kepadamu saat kamu menghabiskan malam di pantai utara Jakarta. Dan betapa ingin saya menceritakan lebih banyak lagi senja untuk kamu.
Atau malam tadi, saat saya menceritakan begitu banyak kegelisahan di beranda tempat tinggalmu. Terpatah-patah dan tak ada daya. Kamu malah memegang tangan saya, membawanya ke wajahmu dan memberikan senyum lagi untuk saya.
Kalau memang mungkin, Re, saya tak ingin waktu berjalan lagi. Cukup ini saja. Kamu, kota ini, dan senyum-senyum kita.
10.3.06
To: Pemerintah dan DPR Republik Indonesia
Kepada Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah suatu negara multi-etnis dan multi-kepercayaan yang memiliki lebih dari satu kepercayaan maupun nilai-nilai budaya yang tentu saja memiliki banyak perbedaan di sana sini dalam mempersepsikan suatu hal.
Suatu hal yg bermakna A pada satu sistem nilai, bisa jadi akan bermakna B di nilai2 yang lain, di mana A dan B berbeda satu dengan lainnya. Dan tidak ada satu pun yang berhak memaksakan nilai-nilai yang dia pegang utk berlaku secara absolut kepada orang-orang lain yang berasal dari sistem nilai yang berbeda.
Lebih daripada itu, dalam menetapkan suatu peraturan perundang-undangan, negara harus mampu membedakan mana "wilayah publik" yang boleh dan harus diatur oleh undang-undang, dan mana yang termasuk "wilayah pribadi (private)" yang tidak boleh dan tidak berhak untuk diatur oleh negara.
Sehubungan dengan maraknya pembahasan RUU Antipornografi dan pornoaksi (RUU APP) di parlemen saat ini, kami mendukung sepenuhnya pengaturan akan hal pornografi/pornoaksi ini, selama itu masih di dalam wilayah publik, dan sama sekali tidak mencampuri hak pribadi seseorang untuk mengekspresikan nilai-nilai yang dia pegang, selama pengekspresiannya itu dilakukan dengan cara yang tidak menganggu orang lain secara langsung.
Tapi, berhubung draft RUU APP ini terlihat sudah mulai memasuki wilayah pribadi warga negara, seperti misalnya memuat pengaturan bagaimana tata cara berpakaian seorang warga negara itu (seperti yang diatur secara tidak langsung di dalam pasal 25 RUU APP ini), maka kami dengan ini mengatakan :
KAMI MENOLAK DAN MEMINTA REVISI TOTAL TERHADAP RUU ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI YANG TELAH DENGAN LANCANG MEMASUKI WILAYAH PRIBADI DARI SEORANG WARGA NEGARA.
Kami mendukung pemberantasan pornografi dan pornoaksi di dalam wilayah publik, seperti misalnya pemberantasan tabloid-tabloid porno, siaran televisi yang mengumbar nafsu, dan sejenisnya.
Tapi TIDAK PENGATURAN MENGENAI APA DAN BAGAIMANA SEORANG WARGANEGARA ITU HARUS BERPAKAIAN, ATAU DALAM PROSES BERKREATIVITAS SENI SESEORANG, ATAU SEGALA JENIS AKTIVITAS YANG TERMASUK DALAM WILAYAH PRIBADI SESEORANG.
Hal seperti ini hanya akan melahirkan jutaan polisi moral / hakim moral yang merasa berhak menghakimi moralitas orang-orang lain, tapi tidak pernah sadar kalau mereka pun sama bobrok nya dengan yang mereka coba hakimi. Seperti kasus yang terjadi di Tangerang maupun Batam beberapa hari yang lalu. Hal-hal seperti ini tidak akan menghasilkan efek bagus apa pun buat moralitas bangsa ini secara keseluruhan.
Sekali lagi, dengan ini, kami nyatakan dengan tegas :
KAMI MENOLAK DAN MEMINTA DILAKUKANNYA REVISI TOTAL TERHADAP RUU ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI YANG TELAH DENGAN LANCANG MENCOBA MENGATUR WILAYAH PRIBADI (PRIVATE) DARI WARGA NEGARANYA.
Semoga suara kami yang kecil ini bisa memiliki sedikit arti di hadapan yang terhormat Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,
03 Maret 2006,
Sincerely,
(dan jika anda ingin ikut menandatangani petisi ini, anda bisa menandatanganinya di:
http://www.petitiononline.com/ruuapp/petition.html
Kepada Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah suatu negara multi-etnis dan multi-kepercayaan yang memiliki lebih dari satu kepercayaan maupun nilai-nilai budaya yang tentu saja memiliki banyak perbedaan di sana sini dalam mempersepsikan suatu hal.
Suatu hal yg bermakna A pada satu sistem nilai, bisa jadi akan bermakna B di nilai2 yang lain, di mana A dan B berbeda satu dengan lainnya. Dan tidak ada satu pun yang berhak memaksakan nilai-nilai yang dia pegang utk berlaku secara absolut kepada orang-orang lain yang berasal dari sistem nilai yang berbeda.
Lebih daripada itu, dalam menetapkan suatu peraturan perundang-undangan, negara harus mampu membedakan mana "wilayah publik" yang boleh dan harus diatur oleh undang-undang, dan mana yang termasuk "wilayah pribadi (private)" yang tidak boleh dan tidak berhak untuk diatur oleh negara.
Sehubungan dengan maraknya pembahasan RUU Antipornografi dan pornoaksi (RUU APP) di parlemen saat ini, kami mendukung sepenuhnya pengaturan akan hal pornografi/pornoaksi ini, selama itu masih di dalam wilayah publik, dan sama sekali tidak mencampuri hak pribadi seseorang untuk mengekspresikan nilai-nilai yang dia pegang, selama pengekspresiannya itu dilakukan dengan cara yang tidak menganggu orang lain secara langsung.
Tapi, berhubung draft RUU APP ini terlihat sudah mulai memasuki wilayah pribadi warga negara, seperti misalnya memuat pengaturan bagaimana tata cara berpakaian seorang warga negara itu (seperti yang diatur secara tidak langsung di dalam pasal 25 RUU APP ini), maka kami dengan ini mengatakan :
KAMI MENOLAK DAN MEMINTA REVISI TOTAL TERHADAP RUU ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI YANG TELAH DENGAN LANCANG MEMASUKI WILAYAH PRIBADI DARI SEORANG WARGA NEGARA.
Kami mendukung pemberantasan pornografi dan pornoaksi di dalam wilayah publik, seperti misalnya pemberantasan tabloid-tabloid porno, siaran televisi yang mengumbar nafsu, dan sejenisnya.
Tapi TIDAK PENGATURAN MENGENAI APA DAN BAGAIMANA SEORANG WARGANEGARA ITU HARUS BERPAKAIAN, ATAU DALAM PROSES BERKREATIVITAS SENI SESEORANG, ATAU SEGALA JENIS AKTIVITAS YANG TERMASUK DALAM WILAYAH PRIBADI SESEORANG.
Hal seperti ini hanya akan melahirkan jutaan polisi moral / hakim moral yang merasa berhak menghakimi moralitas orang-orang lain, tapi tidak pernah sadar kalau mereka pun sama bobrok nya dengan yang mereka coba hakimi. Seperti kasus yang terjadi di Tangerang maupun Batam beberapa hari yang lalu. Hal-hal seperti ini tidak akan menghasilkan efek bagus apa pun buat moralitas bangsa ini secara keseluruhan.
Sekali lagi, dengan ini, kami nyatakan dengan tegas :
KAMI MENOLAK DAN MEMINTA DILAKUKANNYA REVISI TOTAL TERHADAP RUU ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI YANG TELAH DENGAN LANCANG MENCOBA MENGATUR WILAYAH PRIBADI (PRIVATE) DARI WARGA NEGARANYA.
Semoga suara kami yang kecil ini bisa memiliki sedikit arti di hadapan yang terhormat Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,
03 Maret 2006,
Sincerely,
(dan jika anda ingin ikut menandatangani petisi ini, anda bisa menandatanganinya di:
http://www.petitiononline.com/ruuapp/petition.html
9.3.06
Ya, Saya Kontra Revolusioner!
Ya, saya adalah salah satu pecundang-pecundang kontrev yang mungkin hanya pantas dikasihani atau disadarkan. Saya tidak punya nyali untuk berjalan di atas setapak penuh kerikil tajam ini tanpa alas kaki. Untuk itu, maafkan saya dan juga kalimat-kalimat sloganistis kosong yang pernah saya lemparkan. Karena pada kenyataannya saya kadang jauh lebih buruk dari tabiat negara mana pun yang cuma pandai memproduksi slogan-slogan kosong seraya mereproduksi mitos-mitos tentang patriotisme, nasionalisme, persaudaraan, dan lain sebagainya itu. Saya tak imani betul kata-kata Soe Hok Gie, bahwa perjuangan pemuda bukanlah perjuangan sloganistis belaka. Atau juga syair Rendra yang berkata perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata!
Saya kontra revolusioner. Saya tidak pernah hidup di kampung-kampung buruh dan bergerak bersama mereka untuk mencoba memecahkan persoalan-persoalan yang membelit, yang karena sebab ini seorang kawan saya berkata seraya tertawa, "Pantas saja hidupmu nyaman!"
Saya bukan pemberontak sebagaimana mereka yang membesarkan saya bukanlah seorang pemberontak. Meskipun sesungguhnya saya tak terlalu yakin apakah memang ada hubungannya antara seorang anak yang jahat dengan orang tua yang jahat, seorang anak yang jago bermusik dengan orang tua yang piawai bermusik.
Saya, betapa celakanya, masih saja berkutat dengan kebingungan-kebingungan tolol atas pilihan-pilihan apakah sprite, fanta, freshtea, atau coca-cola yang saya minum.
Saya diam-diam masih berharap: hari ini saat teman ulang tahun, saya akan ditraktir di kedai fastfood jahat itu.
Hari ini, 8 Maret, di mana begitu banyak perempuan dan laki-laki revolusioner turun ke jalan memperingati Hari Perempuan, saya cuma mengirim pesan-pesan singkat lewat fasilitas yang disediakan motorola dan satelindo. Saya tak serevolusioner seorang kreatif iklan di Jakarta sana yang memang menolak memakai telepon genggam.
Lebih buruk lagi, hari ini saya merencakan untuk membuat t-shirt bintang pink yang akan ditulisi kalimat paling putus asa yang pernah saya dengar, ''Kaum Buruh Sedunia, Menyerahlah!'' Sebuah kalimat yang saya temukan di salah satu komik politik yang melawan globalisasi. Dan kami memerkosa Andre Gorz untuk kami jadikan tameng pertanggungjawaban kami atas t-shirt itu seraya bersembunyi di balik gagahnya 'sosialisme baru'.
Saya tidak semilitan pelajar-pelajar sekolah menengah yang begitu bersemangat membuat terbitan dengan headline sangar, ''musuh sejati kita adalah 'orang tua'!''
Saya masih percaya bahwa kadang masyarakat bisa jauh lebih tuhan ketimbang tuhan mana pun.
Saya tak punya energi untuk melawan semua yang menyerang saya dari berbagai penjuru ruang-waktu. Energi saya malah saya habiskan untuk hal-hal remeh semacam berdiskusi soal kebahagiaan, kegelisahan, atau asal-usul tuhan.
Saya tak pernah sungguh-sungguh menjadi 'aktivis gerakan' yang siap bergerak demi ideologi, organisasi, dan cita-cita.
Saya hanya bisa kagum dan mengangkat topi dari sini kepada para gerilyawan di chiapas, nepal, buru, aceh, dili, semanggi, seattle, genoa, venezuela, atau di manapun, di mana hidup cuma mengenal satu kata: lawan!
Ya, seperti itu, saya pecundang! Betapa hina dan dekadennya. Jadi, maafkan saya untuk keterbatasan saya. Selamat menjadi pemberontak!
Ya, saya adalah salah satu pecundang-pecundang kontrev yang mungkin hanya pantas dikasihani atau disadarkan. Saya tidak punya nyali untuk berjalan di atas setapak penuh kerikil tajam ini tanpa alas kaki. Untuk itu, maafkan saya dan juga kalimat-kalimat sloganistis kosong yang pernah saya lemparkan. Karena pada kenyataannya saya kadang jauh lebih buruk dari tabiat negara mana pun yang cuma pandai memproduksi slogan-slogan kosong seraya mereproduksi mitos-mitos tentang patriotisme, nasionalisme, persaudaraan, dan lain sebagainya itu. Saya tak imani betul kata-kata Soe Hok Gie, bahwa perjuangan pemuda bukanlah perjuangan sloganistis belaka. Atau juga syair Rendra yang berkata perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata!
Saya kontra revolusioner. Saya tidak pernah hidup di kampung-kampung buruh dan bergerak bersama mereka untuk mencoba memecahkan persoalan-persoalan yang membelit, yang karena sebab ini seorang kawan saya berkata seraya tertawa, "Pantas saja hidupmu nyaman!"
Saya bukan pemberontak sebagaimana mereka yang membesarkan saya bukanlah seorang pemberontak. Meskipun sesungguhnya saya tak terlalu yakin apakah memang ada hubungannya antara seorang anak yang jahat dengan orang tua yang jahat, seorang anak yang jago bermusik dengan orang tua yang piawai bermusik.
Saya, betapa celakanya, masih saja berkutat dengan kebingungan-kebingungan tolol atas pilihan-pilihan apakah sprite, fanta, freshtea, atau coca-cola yang saya minum.
Saya diam-diam masih berharap: hari ini saat teman ulang tahun, saya akan ditraktir di kedai fastfood jahat itu.
Hari ini, 8 Maret, di mana begitu banyak perempuan dan laki-laki revolusioner turun ke jalan memperingati Hari Perempuan, saya cuma mengirim pesan-pesan singkat lewat fasilitas yang disediakan motorola dan satelindo. Saya tak serevolusioner seorang kreatif iklan di Jakarta sana yang memang menolak memakai telepon genggam.
Lebih buruk lagi, hari ini saya merencakan untuk membuat t-shirt bintang pink yang akan ditulisi kalimat paling putus asa yang pernah saya dengar, ''Kaum Buruh Sedunia, Menyerahlah!'' Sebuah kalimat yang saya temukan di salah satu komik politik yang melawan globalisasi. Dan kami memerkosa Andre Gorz untuk kami jadikan tameng pertanggungjawaban kami atas t-shirt itu seraya bersembunyi di balik gagahnya 'sosialisme baru'.
Saya tidak semilitan pelajar-pelajar sekolah menengah yang begitu bersemangat membuat terbitan dengan headline sangar, ''musuh sejati kita adalah 'orang tua'!''
Saya masih percaya bahwa kadang masyarakat bisa jauh lebih tuhan ketimbang tuhan mana pun.
Saya tak punya energi untuk melawan semua yang menyerang saya dari berbagai penjuru ruang-waktu. Energi saya malah saya habiskan untuk hal-hal remeh semacam berdiskusi soal kebahagiaan, kegelisahan, atau asal-usul tuhan.
Saya tak pernah sungguh-sungguh menjadi 'aktivis gerakan' yang siap bergerak demi ideologi, organisasi, dan cita-cita.
Saya hanya bisa kagum dan mengangkat topi dari sini kepada para gerilyawan di chiapas, nepal, buru, aceh, dili, semanggi, seattle, genoa, venezuela, atau di manapun, di mana hidup cuma mengenal satu kata: lawan!
Ya, seperti itu, saya pecundang! Betapa hina dan dekadennya. Jadi, maafkan saya untuk keterbatasan saya. Selamat menjadi pemberontak!
8.3.06
Pertemuan-pertemuan Kecil
Sejak kemarin hingga satu jam terakhir, saya mengalami banyak pertemuan kecil. Pertemuan-pertemuan ini sedikit banyak membuat saya berpikir ulang tentang berbagai hal. Aneh juga, mungkin pertemuan-pertemuan itu biasa saja dan lumrah jika dialami. Apanya yang luar biasa kalau cuma sekadar bertemu kawan-kawan?
Paling mula barangkali pertemuan dengan Butre. Itu pertemuan menyenangkan di tengah-tengah kesuntukkan duduk berjam-jam di kelilingi buku-buku di taman-bunga. Dia datang tiba-tiba dari arah kampus berjalan kaki. Biasanya dia datang ke Jatinangor pada hari Kamis, bukan Senin. Dia sibuk skripsi belakangan ini. Mungkin akan sampai Agustus nanti. Berkali-kali dia bilang tak mau mengerjakan apapun selain skripsi hingga Agustus.
Bercelana jeans dan berjaket hitam. Sebenarnya saya gak sendiri di taman-bunga waktu itu, ada Dasuki dan Epul yang juga baru datang entah dari mana. Berempat, kami ngobrol-ngobrol perkara banyak hal. Lalu Dasuki pergi ke luar. Tak lama setelah itu, seorang perempuan datang. Dewi Fadhiah, dia bisa dibilang pengunjung tetap taman-bunga. Biasanya seperti ini, dia meminjam buku untuk beberapa hari lalu mengembalikannya seraya meminjam buku lain. "Pusing kalau gak baca," dulu dia bilang begitu. Hehe. Kebalikan dengan saya yang seringkali pusing kalau membaca.
Dewi memperlihatkan buku Pianist, sebuah buku yang dijadikan film oleh Roman Polanski dengan judul yang sama. Pianist ditulis oleh Wladyslaw Szpilman, seorang pianis yang turut jadi korban (meski tidak harus mati) akibat kekejaman fasis NAZI di Warsawa. Buku itu diberi kata pengantar oleh Andrzej Szpilman, anak Wladyslaw Szpilman yang menemukan buku yang ditulis ayahnya itu.
Namun, belakangan Dewi malah bicara soal lain. Dia bilang dia sedang asyik-asyiknya membaca trilogi Lord of the Rings. "Memangnya kamu belum nonton filmnya, yah?" Saya bertanya. "Sudah," kata dia, "Tapi baca bukunya juga seru banget. Asyik, ada silsilah keluarganya segala!" Lalu Butre nimbrung dan entah bagaimana tiba-tiba obrolan berubah menjadi... bacaan waktu kecil!
Ah, ini menyebalkan. Mereka berdua tertawa-tawa mengingat bacaan-bacaan masa kecil mereka, Little House, Alice in Wonderland, dlsb, dlsb, judul-judul dan penulis-penulis yang gak saya ngerti. Mereka berdua tertawa-tawa dan berteriak-teriak lantaran saling mengingat cerita-cerita lucu dari buku-buku itu. Beberapa orang di taman-bunga memerhatikan mereka dan ikut-ikutan tersenyum lucu.
Yang tambah aneh, mereka berdua iseng-isengnya coba-coba diskusiin buku-buku itu agak serius. Banding-bandingin dengan buku-buku sekarang, dan bahkan membandingkan dengan buku-buku karya Pram! Dewi, dan juga Butre, terlihat benar orang yang rajin membaca sejak kecil.
Lalu saya nyeletuk, bacaan waktu saya kecil dan masih berkesan buat saya hingga sekarang ada dua: komik mimin dan tom sawyer anak amerika.
Mimin itu komik yang dulu sempat beredar di Indonesia dalam rentang dekade 80-an. Sekarang komik itu rasa-rasanya gak pernah diterbitin lagi. Dibikin sama komikus Meksiko, Yolanda Vargas Dulche dan Sixto Valencia. Diterjemahkan dalam bahasa indonesia oleh Djokolelono. Di zaman Soekarno dulu komik ini dilarang beredar. Yeah, ini memang komik politik. Bercerita tentang anak kulit hitam. Dengan cara yang manis, komik ini nunjukkin gimana parahnya rasialisme yang ada di lingkungan. George Bush sendiri pernah mengecam komik ini. Dari dulu sampai sekarang saya berusaha dapetin komik ini lagi, dan gak kesampaian terus. Susah carinya, dan gilirannya ada harganya mahal untuk ukuran kantong saya.
Kalau Tom Sawyer Anak Amerika itu novel klasik karangan Mark Twain. Bisa dibilang itu adalah presequel dari Petualangan Hucklebery Finn, karangan Mark Twain juga. Jika Hucklebery Finn saya baca bukunya beberapa bulan lalu saja (sedang filmnya sudah agak lama saya tonton, kalau gak salah yang main Elijah Wood waktu kecil), Tom Sawyer Anak Amerika saya baca waktu kelas dua SMP. Duh, dulu senang banget sama buku ini. Sampai-sampai waktu pergi ke dokter gigi saya nenteng-nenteng buku itu dan tetap dibaca sambil nunggu giliran periksa gigi. Tom Sawyer Anak Amerika diterjemahkan oleh A. Moeis.
Nah, kali ini saya nyambung sama Dewi. Dia juga penikmat Mark Twain meskipun dia belum pernah baca Tom Sawyer Anak Amerika dan hanya baru membaca Hucklebery Finn. Pertemuan dengan Dewi dan Butre yang saat itu asyik sekali membicarakan bacaan-bacaan waktu kecil membuat saya agak menyesal mengapa saya tidak membaca buku-buku cerita dunia sejak saya kecil. Sepanjang ingatan saya, saya cuma keranjingan baca cerpen-cerpen dan komik yang ada di majalah BOBO. Dan belakangan, saat kakak perempuan saya memulai kebiasaan membeli majalah remaja saya sering nyolong baca cerpen-cerpen remaja (dan lucunya dulu pernah menulis cerpen untuk salah satu majalah remaja itu. Gak dimuat! Padahal niatnya baik, kalau dimuat honornya bakal buat kakak ;p). Sesekali, lantaran di rumah juga sering ada majalah sastra Horison, saya membaca cerpen-cerpen horison. Salah satu cerpen yang saya masih ingat sampai sekarang adalah cerpen karangan Hermawan Aksan, judulnya Kalimusodo. Saya baca waktu SMP. Wah, itu cerita pewayangan yang benar-benar asyik. Sehingga sebagai orang yang tidak dibesarkan akrab dengan dunia pewayangan, saya juga masih bisa menikmatinya.
Lalu tiba-tiba sore dan malam hari. Minum kopi lagi dan ngobrol-ngobrol lagi. Kali ini dengan lebih banyak orang. Selepas senja, seorang mahasiswa Universitas Widyatama Bandung menelepon dan meminta bertemu. Dia panitia dari acara pameran toko buku alternatif di Bandung. Dia, diantar kawannya yang mahasiswa Unpad, membawa seberkas proposal dan undangan untuk berpartisipasi.
Terus saja seperti itu hingga tadi, pertemuan-pertemuan kecil dengan orang-orang baru yang membawa hal-hal baru. Kadang saya menikmati jika saya berada di taman-bunga. Orang-orang baru datang silih berganti, membawa cerita-cerita dan kesan-kesan baru.
Hingga kemudian saya online saat menuliskan ini, saya bertemu dengan seorang kawan di Jakarta. Cewek ini wartawan di salah satu media milik MNC, yang kalau dalam kata-kata dia, "banyak uangnya hingga kadang suka seenaknya!" Dia satu kampus, bedanya dia sudah lulus. Lucunya di kampus dulu saya gak kenal dia (saya memang gak terkenal!), dan jadi kenal lantaran dulu di media tempat dia bekerja tulisan saya dimuat.
Iseng-iseng saya wawancarai dia sedikit-sedikit. Saya tanya sama dia, besok akan ikut aksi hari perempuan atau nggak? Awalnya dia agak ragu menjawabnya dan malah bilang sekarang lagi malas berpikir soal-soal lain selain dirinya sendiri. Dia lantas nanya, "Egois yah?" Terus saya bilang, "Ya gak seperti itu. Saya malah kadang agak gak respect sama model-model perlawanan pola kawanan begitu. Mungkin beberapa jadi aksi perlawanan yang asyik, tapi yang sering terjadi justru cuma jadi kawanan gak jelas." Saya lalu bilang perlawanan khan gak mesti harus dipolakan dalam bentuk kawanan. Kayak gitu itu rasa-rasanya cuma mentalitas kawanan. Saya bilang saya juga naruh respect sama perlawanan-perlawanan di wilayah pribadi. Personal is political or political is personal. Siapa yang jamin, setelah kita keluar dari kawanan perlawanan kita ternyata tetap menjadi individu yang masih suka mengidealkan jalan ke mal, nonton tv berjam-jam dan mengamini setiap khutbah-khutbahnya, atau nikmatin coca-cola dingin yang memang enak itu?
Hehe, dan dia bilang, "Tadi gw mau jawab itu. Tapi gw takut malah jadi menyinggung loe. Kirain loe aktivis...." Sontak aja saya ketawa. Hei, ada apa dengan kalian para aktivis? Suka tersinggung, yah?
Ya, itu pikiran saya yang muncul setelah pertemuan dengan kawan saya yang wartawan itu. Apa betul aktivis itu suka tersinggung?
Sejak kemarin hingga satu jam terakhir, saya mengalami banyak pertemuan kecil. Pertemuan-pertemuan ini sedikit banyak membuat saya berpikir ulang tentang berbagai hal. Aneh juga, mungkin pertemuan-pertemuan itu biasa saja dan lumrah jika dialami. Apanya yang luar biasa kalau cuma sekadar bertemu kawan-kawan?
Paling mula barangkali pertemuan dengan Butre. Itu pertemuan menyenangkan di tengah-tengah kesuntukkan duduk berjam-jam di kelilingi buku-buku di taman-bunga. Dia datang tiba-tiba dari arah kampus berjalan kaki. Biasanya dia datang ke Jatinangor pada hari Kamis, bukan Senin. Dia sibuk skripsi belakangan ini. Mungkin akan sampai Agustus nanti. Berkali-kali dia bilang tak mau mengerjakan apapun selain skripsi hingga Agustus.
Bercelana jeans dan berjaket hitam. Sebenarnya saya gak sendiri di taman-bunga waktu itu, ada Dasuki dan Epul yang juga baru datang entah dari mana. Berempat, kami ngobrol-ngobrol perkara banyak hal. Lalu Dasuki pergi ke luar. Tak lama setelah itu, seorang perempuan datang. Dewi Fadhiah, dia bisa dibilang pengunjung tetap taman-bunga. Biasanya seperti ini, dia meminjam buku untuk beberapa hari lalu mengembalikannya seraya meminjam buku lain. "Pusing kalau gak baca," dulu dia bilang begitu. Hehe. Kebalikan dengan saya yang seringkali pusing kalau membaca.
Dewi memperlihatkan buku Pianist, sebuah buku yang dijadikan film oleh Roman Polanski dengan judul yang sama. Pianist ditulis oleh Wladyslaw Szpilman, seorang pianis yang turut jadi korban (meski tidak harus mati) akibat kekejaman fasis NAZI di Warsawa. Buku itu diberi kata pengantar oleh Andrzej Szpilman, anak Wladyslaw Szpilman yang menemukan buku yang ditulis ayahnya itu.
Namun, belakangan Dewi malah bicara soal lain. Dia bilang dia sedang asyik-asyiknya membaca trilogi Lord of the Rings. "Memangnya kamu belum nonton filmnya, yah?" Saya bertanya. "Sudah," kata dia, "Tapi baca bukunya juga seru banget. Asyik, ada silsilah keluarganya segala!" Lalu Butre nimbrung dan entah bagaimana tiba-tiba obrolan berubah menjadi... bacaan waktu kecil!
Ah, ini menyebalkan. Mereka berdua tertawa-tawa mengingat bacaan-bacaan masa kecil mereka, Little House, Alice in Wonderland, dlsb, dlsb, judul-judul dan penulis-penulis yang gak saya ngerti. Mereka berdua tertawa-tawa dan berteriak-teriak lantaran saling mengingat cerita-cerita lucu dari buku-buku itu. Beberapa orang di taman-bunga memerhatikan mereka dan ikut-ikutan tersenyum lucu.
Yang tambah aneh, mereka berdua iseng-isengnya coba-coba diskusiin buku-buku itu agak serius. Banding-bandingin dengan buku-buku sekarang, dan bahkan membandingkan dengan buku-buku karya Pram! Dewi, dan juga Butre, terlihat benar orang yang rajin membaca sejak kecil.
Lalu saya nyeletuk, bacaan waktu saya kecil dan masih berkesan buat saya hingga sekarang ada dua: komik mimin dan tom sawyer anak amerika.
Mimin itu komik yang dulu sempat beredar di Indonesia dalam rentang dekade 80-an. Sekarang komik itu rasa-rasanya gak pernah diterbitin lagi. Dibikin sama komikus Meksiko, Yolanda Vargas Dulche dan Sixto Valencia. Diterjemahkan dalam bahasa indonesia oleh Djokolelono. Di zaman Soekarno dulu komik ini dilarang beredar. Yeah, ini memang komik politik. Bercerita tentang anak kulit hitam. Dengan cara yang manis, komik ini nunjukkin gimana parahnya rasialisme yang ada di lingkungan. George Bush sendiri pernah mengecam komik ini. Dari dulu sampai sekarang saya berusaha dapetin komik ini lagi, dan gak kesampaian terus. Susah carinya, dan gilirannya ada harganya mahal untuk ukuran kantong saya.
Kalau Tom Sawyer Anak Amerika itu novel klasik karangan Mark Twain. Bisa dibilang itu adalah presequel dari Petualangan Hucklebery Finn, karangan Mark Twain juga. Jika Hucklebery Finn saya baca bukunya beberapa bulan lalu saja (sedang filmnya sudah agak lama saya tonton, kalau gak salah yang main Elijah Wood waktu kecil), Tom Sawyer Anak Amerika saya baca waktu kelas dua SMP. Duh, dulu senang banget sama buku ini. Sampai-sampai waktu pergi ke dokter gigi saya nenteng-nenteng buku itu dan tetap dibaca sambil nunggu giliran periksa gigi. Tom Sawyer Anak Amerika diterjemahkan oleh A. Moeis.
Nah, kali ini saya nyambung sama Dewi. Dia juga penikmat Mark Twain meskipun dia belum pernah baca Tom Sawyer Anak Amerika dan hanya baru membaca Hucklebery Finn. Pertemuan dengan Dewi dan Butre yang saat itu asyik sekali membicarakan bacaan-bacaan waktu kecil membuat saya agak menyesal mengapa saya tidak membaca buku-buku cerita dunia sejak saya kecil. Sepanjang ingatan saya, saya cuma keranjingan baca cerpen-cerpen dan komik yang ada di majalah BOBO. Dan belakangan, saat kakak perempuan saya memulai kebiasaan membeli majalah remaja saya sering nyolong baca cerpen-cerpen remaja (dan lucunya dulu pernah menulis cerpen untuk salah satu majalah remaja itu. Gak dimuat! Padahal niatnya baik, kalau dimuat honornya bakal buat kakak ;p). Sesekali, lantaran di rumah juga sering ada majalah sastra Horison, saya membaca cerpen-cerpen horison. Salah satu cerpen yang saya masih ingat sampai sekarang adalah cerpen karangan Hermawan Aksan, judulnya Kalimusodo. Saya baca waktu SMP. Wah, itu cerita pewayangan yang benar-benar asyik. Sehingga sebagai orang yang tidak dibesarkan akrab dengan dunia pewayangan, saya juga masih bisa menikmatinya.
Lalu tiba-tiba sore dan malam hari. Minum kopi lagi dan ngobrol-ngobrol lagi. Kali ini dengan lebih banyak orang. Selepas senja, seorang mahasiswa Universitas Widyatama Bandung menelepon dan meminta bertemu. Dia panitia dari acara pameran toko buku alternatif di Bandung. Dia, diantar kawannya yang mahasiswa Unpad, membawa seberkas proposal dan undangan untuk berpartisipasi.
Terus saja seperti itu hingga tadi, pertemuan-pertemuan kecil dengan orang-orang baru yang membawa hal-hal baru. Kadang saya menikmati jika saya berada di taman-bunga. Orang-orang baru datang silih berganti, membawa cerita-cerita dan kesan-kesan baru.
Hingga kemudian saya online saat menuliskan ini, saya bertemu dengan seorang kawan di Jakarta. Cewek ini wartawan di salah satu media milik MNC, yang kalau dalam kata-kata dia, "banyak uangnya hingga kadang suka seenaknya!" Dia satu kampus, bedanya dia sudah lulus. Lucunya di kampus dulu saya gak kenal dia (saya memang gak terkenal!), dan jadi kenal lantaran dulu di media tempat dia bekerja tulisan saya dimuat.
Iseng-iseng saya wawancarai dia sedikit-sedikit. Saya tanya sama dia, besok akan ikut aksi hari perempuan atau nggak? Awalnya dia agak ragu menjawabnya dan malah bilang sekarang lagi malas berpikir soal-soal lain selain dirinya sendiri. Dia lantas nanya, "Egois yah?" Terus saya bilang, "Ya gak seperti itu. Saya malah kadang agak gak respect sama model-model perlawanan pola kawanan begitu. Mungkin beberapa jadi aksi perlawanan yang asyik, tapi yang sering terjadi justru cuma jadi kawanan gak jelas." Saya lalu bilang perlawanan khan gak mesti harus dipolakan dalam bentuk kawanan. Kayak gitu itu rasa-rasanya cuma mentalitas kawanan. Saya bilang saya juga naruh respect sama perlawanan-perlawanan di wilayah pribadi. Personal is political or political is personal. Siapa yang jamin, setelah kita keluar dari kawanan perlawanan kita ternyata tetap menjadi individu yang masih suka mengidealkan jalan ke mal, nonton tv berjam-jam dan mengamini setiap khutbah-khutbahnya, atau nikmatin coca-cola dingin yang memang enak itu?
Hehe, dan dia bilang, "Tadi gw mau jawab itu. Tapi gw takut malah jadi menyinggung loe. Kirain loe aktivis...." Sontak aja saya ketawa. Hei, ada apa dengan kalian para aktivis? Suka tersinggung, yah?
Ya, itu pikiran saya yang muncul setelah pertemuan dengan kawan saya yang wartawan itu. Apa betul aktivis itu suka tersinggung?
7.3.06
Berminat Jadi Presiden? Turunkan Berat Badan Anda!

Judul buku : Opera Sabun SBY
Penulis : Garin Nugroho
Penerbit : Nastiti, Jakarta
Tahun terbit : Oktober 2004
Tebal : viii+190 halaman
Televisi sejak kejadirannya pertama kali ternyata begitu mewarnai banyak sendi kehidupan. Hebatnya, bukan cuma hiburan dan informasi yang dihadirkan televisi ke tengah-tengah kehangatan ruang keluarga, tapi juga meriahnya dunia politik.
Di Amerika, di mana televisi berkembang dengan begitu pesatnya, televisi menjadi ''juru kampanye'' yang handal bagi para calon presiden Amerika. Tidak hanya baru-baru ini, saat Bush dan Kerry bersaing merebut hati para pemilih, tapi sejak dekade lima puluhan silam. ''Di Amerika,'' kata Neil Postman, seorang guru besar ilmu komunikasi, ''Tuhan menganakemaskan mereka yang memilik bakat dan kemampuan untuk menghibur, apakah mereka itu pengkhotbah, atlit, pengusaha, politisi, guru, maupun jurnalis. Di Amerika, justru para penghibur profesional yang paling tidak menghibur.''
Maka saksikanlah fenomena Eisenhower pada kampanye pemilu presiden Amerika Serikat di tahun 1952. Eisenhower dengan terampil menggunakan iklan televisi sebagai media kampanyenya. Sementara Truman di pemilu sebelumnya (1948), menghabiskan tiga bulan demi berjabat tangan dengan 500.000 pemilih. Berikutnya, Kennedy mengulangi cara efektif Eisenhower, menggunakan iklan sebagai media kampanye.
Richard Nixon, mantan Presiden AS yang pernah kalah dalam pemilu mengatakan bahwa ia merasa yakin dirinya kalah lantaran telah disabot oleh para juru rias. Ia lantas memberi saran pada Senator Edward Kennedy: turunkan berat badan barang 10 kilo agar dapat menjadi kandidat presiden yang layak!
Inilah saat di mana kosmetik telah menggantikan ideologi sebagai tawaran para politisi. Dan di Indonesia, menurut Garin Nugroho, sineas kenamaan, masa itu telah datang.
Sebagai seorang yang ahli dalam dunia pertelevisian, Garin Nugroho mengamati iklan-iklan yang digunakan oleh partai-partai politik dan kandidat-kandidat presiden dalam pemilu kemarin. Ia menulis puluhan artikel di berbagai media massa tentang pengamatannya itu. Dan kini, artikel-artikel itu dapat dinikmati dalam sebuah buku berjudul Opera Sabun SBY yang baru saja diterbitkan.
Mengapa opera sabun?
Istilah opera sabun timbul saat drama serial mengalami masa booming di dunia pertelevisian Amerika. Drama-drama itu banyak menyedot perusahaan-perusahaan yang memproduksi sabun untuk memasang iklan. Maka disebutlah drama-drama itu sebagai opera sabun.
Menurut Garin Nugroho, opera sabun adalah sebuah konstruksi seri yang sangat panjang. Struktur kisahnya dibentuk lewat sebuah bangunan pohon keluarga. Pohon keluarga ini mendeskripsikan relasi tokoh beserta karakternya sebagai suatu keluarga besar. Keluarga di sini bukan hanya mengandung pengertian hubungan darah, tapi juga keluarga-keluarga dalam bentuk lain, entah itu bisnis hingga politik (hal.14).
Opera sabun biasanya terdiri dari dua babak. Babak pertama adalah saat dimunculkan tokoh utama perempuan yang ''bersikap pasif, tertindas, melakukan perlawanan dengan jalan sangat bersahaja, sehingga terkesan cuma bertahan di jalan yang diyakininya'' (hal.24). Di babak kedua kemudian muncul tuntutan perubahan. Tokoh mulai menunjukkan sikapnya dan menuntut hak-haknya dengan tegas (meski tetap dengan jalan yang lurus).
Garin Nugroho pada bab pertama buku ini mencoba menganalisis realitas politik
Indonesia lewat struktur opera sabun. Baginya, politik Indonesia tak ubahnya seperti serial opera sabun.
Dalam Era Opera Sabun SBY (hal.35) Garin memaparkan analisisnya soal dua kandidat presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut Garin, Megawati adalah tipikal dari pencitraan karakter ibu dalam opera sabun. Ia pernah mengalami penindasan di awal karir politiknya. Namun, ia melawannya dengan penuh karakter keibuan: ''mengayomi dan memaafkan untuk menjaga konflik, dan memberi kebebasan serta ruang luas pada lingkungannya...'' (hal.36). Sementara itu SBY adalah wakil dari citra yang diimpikan, seorang tokoh yang diharapkan muncul untuk memecah kebekuan yang bisa memberi panduan, bersikap tegas, dan menjanjikan perubahan.
Manakah dari kedua tokoh tersebut yang berhasil merebut hati ''pemirsa''? Jawaban telah ada, SBY diinginkan ''pemirsa'' untuk terus melakoni opera sabun politik Indonesia. Dan Garin punya catatannya, ''SBY adalah sebuah fenomena tersendiri. Ia memiliki syarat-syarat kebintangan peran utama opera sabun. Yakni ganteng, suaranya bagus, bahasa tubuhnya mengayomi, memandu, dan komunikasinya santun. Jangan lupa, digemari penonton utama opera sabun, yakni ibu-ibu dan perempuan remaja'' (hal.18).
Inilah sisi lain dari opera sabun. Opera sabun biasanya dikelola dengan kemampuan untuk mengelola penonton dengan memahami masa jenuh penonton, tidak semata-mata mengelola apa yang ditonton. Sepadan dengan apa yang telah diterapkan pada AFI dan Indonesian Idol yang berhasil memecahkan kejenuhan pemirsa pada bintang-bintang lama dengan menghadirkan bintang-bintang baru yang nota bene adalah pilihan pemirsa itu sendiri.
SBY diuntungkan dalam posisi kejenuhan seperti ini. Masyarakat, menurut Garin, rupa-rupanya telah begitu jenuh dengan riuhnya politik Indonesia yang begitu ingar-bingar sejak era kebebasan terbuka di 1998 lalu. Para politisi begitu sering menjadi tamu di tengah-tengah kehangatan ruang keluarga Indonesia dalam enam tahun terakhir. SBY-Kalla mampu tampil sebagai pemecah kejenuhan itu. Keduanya jauh dari citra politisi, melainkan lebih sebagai pemimpin birokrat dan birokrat pedagang. Lihatlah lawan-lawan mereka: Megawati, Amien Rais, Akbar Tanjung, Hamzah Haz, semuanya adalah wakil dari citra politisi yang berkembang di masyarakat.
Hal inilah yang tampaknya dikelola dengan baik sekali oleh tim sukses SBY. Ditambah dengan strategi menampilkan SBY sebagai ikon di berbagai iklan kampanye.
Bagaimanapun, SBY adalah sosok yang begitu ''menjual'' dalam psikologi komunal bangsa Indonesia: ganteng, memiliki suara yang bagus (SBY memiliki kemampuan menyanyi yang baik, dan ini disukai masyarakat kita), tutur yang santun (ingat, SBY pernah mendapat penghargaan dalam Kongres Bahasa). Semuanya adalah perpaduan antara ketegasan militer dalam wajah sipil.
Membaca buku ini akan membawa kita pada jawaban mengapa politik Indonesia semakin sulit terpetakan dalam koridor politik aliran, entah itu ideologi maupun agama. Membaca buku ini memberi kita sebuah perspektif baru dalam menganalisis situasi politik. Bahwa zaman telah bergerak, kini politik Indonesia telah lebih mirip pertarungan para calon bintang meraih para penggemar ketimbang perdebatan para negarawan tentang ideologi. Buku ini seakan mengingatkan kita pada saran yang pernah diberikan Nixon untuk menurunkan berat badan jika hendak menjadi presiden. Politik telah berubah menjadi tontonan layaknya opera sabun.
Sayangnya, buku setebal 190 halaman ini terlalu banyak menyimpan kesalahan tik yang cukup mengganggu. Kesalahan-kesalahan itu terjadi berulang-ulang, bahkan hanya dalam sebuah halaman.
(beberapa hari ke belakang, saat saya mulai kembali meresahkan penguasa negara ini, saya teringat pada resensi yang pernah saya buat beberapa waktu lampau. resensi ini saya buat setelah saya menghadiri peluncuran buku ini di rektorat universitas padjadjaran. garin nugroho hadir saat itu. tapi saya begitu terkesan pada pemetaan yang dilakukan idi subandi ibrahim di diskusi itu. saya tak tahu, apakah kebijakan SBY untuk menaikkan harga BBM terkait dengan program penurunan berat badan).

Judul buku : Opera Sabun SBY
Penulis : Garin Nugroho
Penerbit : Nastiti, Jakarta
Tahun terbit : Oktober 2004
Tebal : viii+190 halaman
Televisi sejak kejadirannya pertama kali ternyata begitu mewarnai banyak sendi kehidupan. Hebatnya, bukan cuma hiburan dan informasi yang dihadirkan televisi ke tengah-tengah kehangatan ruang keluarga, tapi juga meriahnya dunia politik.
Di Amerika, di mana televisi berkembang dengan begitu pesatnya, televisi menjadi ''juru kampanye'' yang handal bagi para calon presiden Amerika. Tidak hanya baru-baru ini, saat Bush dan Kerry bersaing merebut hati para pemilih, tapi sejak dekade lima puluhan silam. ''Di Amerika,'' kata Neil Postman, seorang guru besar ilmu komunikasi, ''Tuhan menganakemaskan mereka yang memilik bakat dan kemampuan untuk menghibur, apakah mereka itu pengkhotbah, atlit, pengusaha, politisi, guru, maupun jurnalis. Di Amerika, justru para penghibur profesional yang paling tidak menghibur.''
Maka saksikanlah fenomena Eisenhower pada kampanye pemilu presiden Amerika Serikat di tahun 1952. Eisenhower dengan terampil menggunakan iklan televisi sebagai media kampanyenya. Sementara Truman di pemilu sebelumnya (1948), menghabiskan tiga bulan demi berjabat tangan dengan 500.000 pemilih. Berikutnya, Kennedy mengulangi cara efektif Eisenhower, menggunakan iklan sebagai media kampanye.
Richard Nixon, mantan Presiden AS yang pernah kalah dalam pemilu mengatakan bahwa ia merasa yakin dirinya kalah lantaran telah disabot oleh para juru rias. Ia lantas memberi saran pada Senator Edward Kennedy: turunkan berat badan barang 10 kilo agar dapat menjadi kandidat presiden yang layak!
Inilah saat di mana kosmetik telah menggantikan ideologi sebagai tawaran para politisi. Dan di Indonesia, menurut Garin Nugroho, sineas kenamaan, masa itu telah datang.
Sebagai seorang yang ahli dalam dunia pertelevisian, Garin Nugroho mengamati iklan-iklan yang digunakan oleh partai-partai politik dan kandidat-kandidat presiden dalam pemilu kemarin. Ia menulis puluhan artikel di berbagai media massa tentang pengamatannya itu. Dan kini, artikel-artikel itu dapat dinikmati dalam sebuah buku berjudul Opera Sabun SBY yang baru saja diterbitkan.
Mengapa opera sabun?
Istilah opera sabun timbul saat drama serial mengalami masa booming di dunia pertelevisian Amerika. Drama-drama itu banyak menyedot perusahaan-perusahaan yang memproduksi sabun untuk memasang iklan. Maka disebutlah drama-drama itu sebagai opera sabun.
Menurut Garin Nugroho, opera sabun adalah sebuah konstruksi seri yang sangat panjang. Struktur kisahnya dibentuk lewat sebuah bangunan pohon keluarga. Pohon keluarga ini mendeskripsikan relasi tokoh beserta karakternya sebagai suatu keluarga besar. Keluarga di sini bukan hanya mengandung pengertian hubungan darah, tapi juga keluarga-keluarga dalam bentuk lain, entah itu bisnis hingga politik (hal.14).
Opera sabun biasanya terdiri dari dua babak. Babak pertama adalah saat dimunculkan tokoh utama perempuan yang ''bersikap pasif, tertindas, melakukan perlawanan dengan jalan sangat bersahaja, sehingga terkesan cuma bertahan di jalan yang diyakininya'' (hal.24). Di babak kedua kemudian muncul tuntutan perubahan. Tokoh mulai menunjukkan sikapnya dan menuntut hak-haknya dengan tegas (meski tetap dengan jalan yang lurus).
Garin Nugroho pada bab pertama buku ini mencoba menganalisis realitas politik
Indonesia lewat struktur opera sabun. Baginya, politik Indonesia tak ubahnya seperti serial opera sabun.
Dalam Era Opera Sabun SBY (hal.35) Garin memaparkan analisisnya soal dua kandidat presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut Garin, Megawati adalah tipikal dari pencitraan karakter ibu dalam opera sabun. Ia pernah mengalami penindasan di awal karir politiknya. Namun, ia melawannya dengan penuh karakter keibuan: ''mengayomi dan memaafkan untuk menjaga konflik, dan memberi kebebasan serta ruang luas pada lingkungannya...'' (hal.36). Sementara itu SBY adalah wakil dari citra yang diimpikan, seorang tokoh yang diharapkan muncul untuk memecah kebekuan yang bisa memberi panduan, bersikap tegas, dan menjanjikan perubahan.
Manakah dari kedua tokoh tersebut yang berhasil merebut hati ''pemirsa''? Jawaban telah ada, SBY diinginkan ''pemirsa'' untuk terus melakoni opera sabun politik Indonesia. Dan Garin punya catatannya, ''SBY adalah sebuah fenomena tersendiri. Ia memiliki syarat-syarat kebintangan peran utama opera sabun. Yakni ganteng, suaranya bagus, bahasa tubuhnya mengayomi, memandu, dan komunikasinya santun. Jangan lupa, digemari penonton utama opera sabun, yakni ibu-ibu dan perempuan remaja'' (hal.18).
Inilah sisi lain dari opera sabun. Opera sabun biasanya dikelola dengan kemampuan untuk mengelola penonton dengan memahami masa jenuh penonton, tidak semata-mata mengelola apa yang ditonton. Sepadan dengan apa yang telah diterapkan pada AFI dan Indonesian Idol yang berhasil memecahkan kejenuhan pemirsa pada bintang-bintang lama dengan menghadirkan bintang-bintang baru yang nota bene adalah pilihan pemirsa itu sendiri.
SBY diuntungkan dalam posisi kejenuhan seperti ini. Masyarakat, menurut Garin, rupa-rupanya telah begitu jenuh dengan riuhnya politik Indonesia yang begitu ingar-bingar sejak era kebebasan terbuka di 1998 lalu. Para politisi begitu sering menjadi tamu di tengah-tengah kehangatan ruang keluarga Indonesia dalam enam tahun terakhir. SBY-Kalla mampu tampil sebagai pemecah kejenuhan itu. Keduanya jauh dari citra politisi, melainkan lebih sebagai pemimpin birokrat dan birokrat pedagang. Lihatlah lawan-lawan mereka: Megawati, Amien Rais, Akbar Tanjung, Hamzah Haz, semuanya adalah wakil dari citra politisi yang berkembang di masyarakat.
Hal inilah yang tampaknya dikelola dengan baik sekali oleh tim sukses SBY. Ditambah dengan strategi menampilkan SBY sebagai ikon di berbagai iklan kampanye.
Bagaimanapun, SBY adalah sosok yang begitu ''menjual'' dalam psikologi komunal bangsa Indonesia: ganteng, memiliki suara yang bagus (SBY memiliki kemampuan menyanyi yang baik, dan ini disukai masyarakat kita), tutur yang santun (ingat, SBY pernah mendapat penghargaan dalam Kongres Bahasa). Semuanya adalah perpaduan antara ketegasan militer dalam wajah sipil.
Membaca buku ini akan membawa kita pada jawaban mengapa politik Indonesia semakin sulit terpetakan dalam koridor politik aliran, entah itu ideologi maupun agama. Membaca buku ini memberi kita sebuah perspektif baru dalam menganalisis situasi politik. Bahwa zaman telah bergerak, kini politik Indonesia telah lebih mirip pertarungan para calon bintang meraih para penggemar ketimbang perdebatan para negarawan tentang ideologi. Buku ini seakan mengingatkan kita pada saran yang pernah diberikan Nixon untuk menurunkan berat badan jika hendak menjadi presiden. Politik telah berubah menjadi tontonan layaknya opera sabun.
Sayangnya, buku setebal 190 halaman ini terlalu banyak menyimpan kesalahan tik yang cukup mengganggu. Kesalahan-kesalahan itu terjadi berulang-ulang, bahkan hanya dalam sebuah halaman.
(beberapa hari ke belakang, saat saya mulai kembali meresahkan penguasa negara ini, saya teringat pada resensi yang pernah saya buat beberapa waktu lampau. resensi ini saya buat setelah saya menghadiri peluncuran buku ini di rektorat universitas padjadjaran. garin nugroho hadir saat itu. tapi saya begitu terkesan pada pemetaan yang dilakukan idi subandi ibrahim di diskusi itu. saya tak tahu, apakah kebijakan SBY untuk menaikkan harga BBM terkait dengan program penurunan berat badan).
Subscribe to:
Posts (Atom)