16.9.15

Terbang

"Passion kamu apa, Mam?" Pertanyaan boss saya memecah kebekuan di tengah-tengah kemacetan sepulang pertemuan di kantor klien.

"Maksudnya bagaimana, Mas?" Saya meraba arah pertanyaannya.

"Ya, passion... sesuatu yang kamu sukai. Yang jika kamu melakukannya, kamu bisa lupa waktu."

"Hmm...." saya sebenarnya sering merasa bingung bila berhadapan dengan pertanyaan yang lazim saya temui di formulir-formulir pencari kerja semacam ini.

"Kalau saya programming. Saya otodidak. Saya suka coding, mempelajari logika-logika script, bikin ini-itu. Kalau sudah menghadapi hal-hal kayak gitu, saya bisa lupa waktu, lupa makan," kata boss saya.

Saya tetap terdiam. Saya merasa minat saya pada suatu hal tak pernah berlangsung ajeg. Saya bisa meminati film, untuk kemudian beralih ke musik. Mempelajari bahasa pemprograman web, dan lantas beralih begitu saja ke desktop publishing. Kadang ada kalanya saya gemar mengumpulkan resep-resep masakan, kadang pula ada waktunya saya lebih memilih mengunjungi pameran dan toko buku. Tapi tak ada yang rasanya benar-benar menarik minat saya hingga pantas saya labeli sebagai passion saya.

Jalanan di Jakarta benar-benar semrawut. "Mas, jika boleh, saya ingin menetap di Bali. Bekerja dari sana. Memungkinkan?" Saya bertanya, mengambil momentum kemacetan dan mengatakan bahwa situasi kota seperti ini sangatlah tidak sehat.

Boss saya tertawa. "Belum, Mam. Belum."

Saya kembali diam. Langit mulai beranjak gelap dan lampu-lampu mobil mulai gemerlap. Gemerlap yang selalu gagal sanggup mengusir kemuraman.

"Saya tidak tahu apa passion saya. Tidak ada yang benar-benar saya minati secara serius," ujar saya setelah kami berhasil melewati kemacetan. "Tapi ada satu hal yang saya gemari sejak dulu, belasan tahun lalu, hingga hari ini. Kegemaran yang barangkali akan saya tinggalkan sementara waktu, untuk kemudian pasti akan saya geluti lagi: menjelajah sejarah agama-agama."

Boss saya tersenyum. "Pencarian?"

Mungkin saja, kata saya dalam hati. Tapi saya lebih suka menyebutnya 'kerinduan'.

Di kepala saya melintas kembali petikan The Infancy Gospel of Thomas yang dikutip teman saya.

"Terbanglah jauh-jauh, hiduplah, dan ingatlah aku."

No comments: