![]() |
| Image: pixabay.com |
Kamar menjadi satu-satunya dunia kecil saya sejak dua bulan terakhir. Keluar kamar (dan rumah) demi urusan pekerjaan, tak terlalu sering saya lakukan. Demikian pula duduk melingkar dengan sejumlah kawan baik. Syukur-syukur bisa sebulan sekali.
"Kamu ini orang yang tahan gak ke mana-mana. Berdiam di kamar sampai dua minggu," kata teman saya suatu saat dengan nada heran.
Saya diam saja. Baru tahu kalau tidak ke mana-mana sampai dua minggu merupakan hal janggal.
Maka ketika hari ini saya harus meninggalkan kamar demi meeting urusan kantor, saya susun agenda penting yang akan saya lakukan sebelum pulang: pergi ke pasar.
Pasar selalu tempat yang menyenangkan. Segala macam aroma masuk berdesakan ke lubang hidung. Jika bertandang pada malam hari, bohlam-bohlam yang bergelantungan di atas setiap lapak pedagang memberi kesan meriah. Terang dan segar.
Saya memarkir motor. Saya ingin membeli buah.
Satu lapak saya datangi. Semangka, jambu, mangga, buah naga (sejak kecil saya selalu menyangka naga itu serupa hewan, ternyata nama buah), melon, alpukat, pisang, salak, anggur, dan seterusnya.
"Ini berapa?" Saya menunjuk melon.
Harga disepakati. Melon madu berukuran tak terlalu besar sekaligus tak terlalu kecil. Memiliki bobot 2,5 kg.
"Ini bagus kan?" Saya tak terlalu piawai membedakan mana buah yang bagus dan tidak.
"Mau dicoba dulu?" Si penjual menantang.
"Gak usah. Ya sudah, bungkus."
Selepas dari deretan buah, giliran blok tukang sayur. Cabe merah, labu, bayam, kangkung, segar-segar. Baru datang entah dari mana.
Saya ingin timun. Sampai saat ini saya masih tidak mengerti apakah timun itu sejenis buah-buahan atau termasuk sayur-sayuran. Tapi saya tak terlalu peduli. Yang saya pedulikan adalah bayangan saya soal air parutan timun. Dingin. Segar. Menu yang nyaris rutin selama orang tua saya masih ada.
"Dua kilo, Bang!"
Si tukang sigap mengambil plastik. Memilih timun sementara saya mengawasi. Jika ada yang --menurut saya-- kurang oke, saya minta ganti.
Heran juga saya. Butuh waktu berapa lama untuk timun tumbuh dan siap dijual? Mengapa harga per kilo tak terlalu mahal?
Saya kembali ke parkiran dan segera pulang.
Sepanjang jalan saya berpikir-pikir: mengapa ideologi-ideologi besar, agama-agama besar, tak suka menyuruh para penganutnya untuk rajin makan buah? Tidakkah buah baik untuk kesehatan?

No comments:
Post a Comment