28.9.15

Hujan, Bakso, dan Ciuman

Toh, hujan sama menakjubkannya,
di Paris atau di tiap sudut Surabaya.


- Puan Kelana, Silampukau

"Mam, kapan nih akan turun hujan? Sudah kirim surat ke BMKG, mencoba menanyakannya?" Pesan seorang kawan baik masuk ke ponsel tepat seusai saya makan siang.

Saya hanya tertawa. Mengirimkan surat ke BMKG, kata saya, adalah pekerjaan yang hanya mungkin dilakukan mereka yang begitu kesepian. Dan saya tak ingin mengulanginya.

Tapi hujan memang seperti enggan datang. Anggapan lazim yang terpelihara sejak masa kecil, bahwa jika nama-nama bulan berakhir -ber, itu artinya kita memasuki musim hujan, sama sekali tak terbukti beberapa tahun belakangan ini. Tak peduli September, Oktober, November atau Desember, hujan bisa sama sekali tak tumpah dari awan. Sebaliknya, pada bulan-bulan di mana semestinya matahari bersinar garang, justru hujan kerap datang. Perubahan pola cuaca? Saya tak terlalu tertarik mencari tahu.

Tapi hujan memang kadang menyenangkan. Setiap kali hujan datang dan keponakan saya yang baru berusia satu tahun menatap ke luar rumah, saya selalu mencoba menerka apa yang ada di benaknya. Pada usianya itu, barangkali belum banyak hujan yang pernah ia saksikan. Melihat air tumpah begitu banyak dari langit, membasahi semua yang ada di bawah, apa rasanya? Takjub? Ataukah menakutkan?

Sebagai pengendara motor saya pun kadang menikmati hujan. Jika kebetulan membawa jas hujan dan hujan tak turun terlampau deras, saya akan menembus hujan. Merasakan setiap air yang jatuh menerpa muka. Kenikmatan ini akan berlipat ganda jika hujan begitu deras sementara malam mulai larut yang memaksa kita harus tetap pulang. Sederas apa pun, saya akan tetap memacu motor di bawah guyuran hujan. Pada masa-masa seperti itu pemandangan di sekitar jalan akan menjadi begitu berbeda. Pendar-pendar lampu akan menjadi sangat cantik, berkelebat di balik tetes-tetes air, berganti-ganti warna. Kala berhenti, pandangan akan menjadi tak terlalu terang. Kabut putih seperti menyeliputi pandangan mata, untuk kemudian kembali terang saat kembali memacu motor.

Tak ada penjelasan yang masuk akal mengapa saya menikmati memacu motor di bawah hujan kecuali bahwa itu merupakan sisa-sisa kesenangan purba di masa kecil dulu. Bermain-main di bawah guyuran hujan sepuas-puasnya.

"Hujan-hujan, lebih senang naik motor?" Tanya seorang teman saya keheranan.

"Iya," kata saya menjawab singkat.

"Hmm. Well, saya barusan bilang ke teman saya, mereka yang mengatakan 'hujan-hujan itu enaknya makan bakso', pasti belum pernah merasakan berciuman saat turun hujan. Bagiamana bisa ini ada yang jauh lebih menyedihkan, lebih enak naik motor?" Dia tertawa lebar.

Saya menelan ludah. Mematikan rokok yang sebenarnya masih belum sepenuhnya habis.  

No comments: