18.11.16

Dari Akira Sampai Kiarostami: Film-film Penenang

I don't know what I've been doing with my life all these years. 
- Kanji Watanabe


Sekira sebulan lalu sebuah keisengan yang saya buat sendiri berhasil memberi saya ketenangan yang menyenangkan. Beberapa bulan lalu hidup saya memang mengalami sejumlah perubahan. Mulai dari waktu yang tiba-tiba lebih banyak harus saya lewati sendirian--yang dengan demikian membuat saya tidak banyak bicara kepada manusia lain--hingga beberapa kegiatan yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan namun kini mulai saya biasakan. Banyak. Mungkin juga besar. Ada kalanya ketika mengingat-ingat mengenai perubahan tersebut saya tersenyum sendiri.

Keisengan yang memberi ketenangan nan menyenangkan itu adalah Pekan Film Jepang. Itu bukanlah agenda yang dihelat oleh Pusat Kebudayaan Jepang di mana pun. Pekan Film Jepang adalah agenda yang saya susun sendiri dan digelar di kamar saya sendiri. Seluruh film yang dijadwalkan untuk diputar adalah film-film yang saya pilih sendiri. Penontonnya, ya saya sendiri.

Sebelumnya saya tak banyak menonton film Jepang (atau film mana pun). Saya sepenuhnya sadar bahwa saya bukanlah penggemar berat film. Sesekali saja saya menonton. Jika kebetulan film yang saya tonton (menurut saya) bagus, saya senang. Jika tidak bagus, ya biasanya malah saya tertidur sebelum film itu usai.

Pekan Film Jepang organized by me itu sepenuhnya gagal. Kenyataannya saya tidak benar-benar menonton film Jepang selama seminggu penuh (1 film 1 hari). Agenda tersebut molor hingga lebih dari satu pekan. Saya keranjingan menonton film-film Jepang.

Beberapa film Jepang yang kemarin saya tonton ialah (saya tidak akan memberikan review atau menceritakan sinopsis. Ada banyak sekali di internet tulisan-tulisan mengenai film-film ini):

Ikiru


Film besutan Akira Kurosawa ini dirilis pertama kali pada tahun 1952. Selama menyaksikan film ini, saya merasa apa yang terjadi di film ini mirip dengan kondisi di Indonesia. Saya memang bukan pegawai pemerintahan. Tetapi saya kerap mendengar cerita-cerita miring soal pegawai pemerintahan Indonesia, termasuk kemunafikan-kemunafikannya. Kanji Watanabe, tokoh utama film ini yang diperankan keren sekali oleh Takashi Shimura, berhasil menggoda saya untuk terus menyaksikan film-film Jepang di hari-hari berikutnya.

A Bride for Rip Van Winkle


Film panjang ini mungkin agak membosankan untuk ditonton. Tapi setelah menontonnya, film karya Shunji Iwai ini berhasil membuat saya melamun panjang dan mulai berpikir, "tidakkah Iwai tengah menyodorkan cermin besar untuk kita?"

Midnight Diner


Bukan, ini bukan sekadar film mengenai makanan. Nyaris 90 persen film hanya ber-setting di sebuah rumah makan berukuran kecil dengan meja letter u serupa warung bubur kacang ijo. Rumah makan itu hanya buka di malam hari dan tutup menjelang pagi. Demi apa pun, saya suka sekali film ini dan kisah-kisah yang ada di dalamnya. Kisah-kisah kekalahan orang-orang biasa, kisah-kisah kerumitan pecinta-pecinta yang malang. Saya suka!

The Boy and The Beast


Jepang adalah anime. Dengan pertimbangan tersebut, saya memilih tiga film anime: The Tale of Princess Kaguya (film ajib produksi Ghibli), Journey to Agartha, dan The Boy and The Beast. Yang saya suka, film-film ini mengingatkan saya pada realisme magis ala Gabriel Garcia Marquez. Segala hal yang sebenarnya bakal bikin pusing seandainya benar-benar terjadi di dunia nyata, diceritakan dengan gaya yang santai dan seolah-olah merupakan kenyataan sehari-hari.

Wood Job!


Menurut resensi, ini film komedi. Saya sendiri tidak terlalu paham di mana letak komedinya. Film ini seperti film-film biasa yang dibuat dengan konsep dan biaya yang seadanya. Tetapi entah mengapa, film ini sepertinya akan segera muncul sebagai ingatan begitu memasuki kawasan hutan. Selama lima hari lalu saya melakukan perjalanan untuk urusan pekerjaan. Selama lima hari itu hidup saya dekat dengan pohon. Berjalan kaki keluar-masuk hutan, menyusuri jalan sempit dan curam di tengah hutan atau perkebunan lebat. Film inilah yang kerap ada di kepala saya.

Like Someone in Love


Saya tidak akan berkata banyak untuk film ini. Abbas Kiarostami, sutradara film ini, memang bukan orang Jepang. Kiarostami orang Iran. Tetapi film ini, mulai dari pemain hingga setting-nya, berada di Jepang. Dan  demi apa pun, saya menyukai film ini. Lemparan batu Noriaki ke kaca jendela kamar seorang kakek tua, berhasil menemani saya, sangat menemani saya, dalam menghadapi problema yang menjadi teror laten di benak saya bertahun-tahun lamanya.

No comments: