Kapan Ada Buya Lagi?

"Dasar kepengaran saya adalah cinta."
(Buya Hamka)

Suatu hari rumah Buya Hamka kedatangan tamu. Kali ini tamunya sepasang muda-mudi. Si perempuan lantas mengenalkan diri sebagai putri dari Pramoedya Ananta Toer. Mengetahui itu, Buya ramah bertanya, "Oh, anak Pram. Apa kabar bapakmu sekarang?" Perempuan itu menjawab, "Sudah bebas, Buya." Lalu mengalir dari mulut Buya pujian untuk karya-karya Pramoedya seperti Keluarga Gerilya, Subuh, dan lain-lain. Lepas bincang soal Pramoedya, Buya bertanya maksud kedatangan sepasang tamunya itu. Dijelaskan: mereka hendak menikah, masalahnya, si calon mempelai pria, kekasih putri Pram, belum memeluk Islam dan hendak meminta Buya untuk meng-Islam-kannya. Dari sastrawan, Buya kembali tampil menjadi guru agama. Mengajarkan beberapa dasar agama Islam. Setelah itu dua anak muda itu pamit. "Sampaikan salam untuk ayahmu," kata Buya ramah. Anak Pram menangis. Buya juga nyaris menangis.

Cerita semacam itu bisa kita baca dari Pribadi dan Martabat, sebuah buku catatan Rusydi Hamka, putra Buya Hamka, yang terbit pertama kali pada 1981. Rusydi, yang menyaksikan pertemuan itu dari awal hingga akhir sedikit protes kepada ayahnya. "Lupakah ayah siapa Pramoedya itu?" tanya Rusydi. "Tidak," jawab Buya. "Betapapun dia membenci kita, kita tak berhak menghukumnya." Jagat sastra tanah air tentu tak pernah melupakan polemik besar-besaran di akhir era pemerintahan Orde Lama. Di mana kekisruhan politik merembes hampir di tiap lapangan kehidupan bangsa, termasuk kesusastraan. Lembaga Kebudayaan Rakyat lewat berbagai media yang dimilikinya, menjadikan Buya Hamka bulan-bulanan dengan mengatakan novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck sebagai hasil plagiasi. Ramai-ramai orang menyorot Buya Hamka. Caci maki tak henti berbulan-bulan lamanya.

***

Namanya Abdul Malik. Lahir pada 17 Februari 1908 di Minangkabau. Ayahnya tokoh agama, Syeikh Abdulkarim Amrullah. Di tahun 1918, Syeikh Abdulkarim mendirikan pondok pesantren, Sumatera Thawalib. Pada masa-masa itu, perdebatan-perdebatan agama antara kaum tua dan kaum muda sedang marak. Syeikh Abdulkarim termasuk salah seorang tokoh kaum muda yang menonjol. Dalam suasana perdebatan-perdebatan seperti inilah Abdul Malik dibesarkan.

Sebagaimana kebiasaan yang terjadi, Abdul Malik merantau dari tanah kelahirannya. Awalnya ke Yogyakarta, di mana ia banyak belajar pada tokoh-tokoh pergerakan Islam semacam H.O.S. Tjokroaminoto, Kibagus Hadikusumo, dan lain-lain. Usianya pada saat itu baru 16 tahun. Lepas dari Yogyakarta, dia kembali ke Sumatera menjadi aktivis Muhammadiyah, mengiringi A.R. Sutan Mansur, tokoh Muhammadiyah yang juga kakak iparnya. Lalu Abdul Malik menetap di Medan. Dari Medan inilah, pada tahun 1925, berusia 19 tahun, ia bertolak ke Mekah, menunaikan ibadah haji dan bekerja pada sebuah percetakan di sana. Sepulang haji, ia kembali ke Medan dan menjadi guru agama di sebuah perkebunan. Lepas dari itu, sampai akhir hayatnya, seolah hidupnya diserahkan sepenuhnya pada perkembangan Islam di tanah air.

Di Medan, selain tetap konsern pada kegiatan keagamaan, HAMKA (akronim dari namanya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah) menggeluti dunia kesusastraan. Pada dekade 30-an sampai 40-an, Medan dapat dikatakan sebagai salah satu kota yang menonjol dalam bidang literasi selain Jakarta. Penulis-penulis berkomunitas dan terbitan-terbitan marak. Sebagian penerbit menerbitkan buku-buku agama, sebagian lain menerbitkan roman-roman. A Teeuw, pengamat Sastra Indonesia, menempatkan Hamka sebagai seorang pengarang terkemuka di antara pengarang-pengarang Medan lainnya.

Buya Hamka memang penulis produktif. Sejak usia 17 tahun dia telah menerbitkan bukunya, Khatibul Ummat, sebuah buku agama tiga jilid yang beredar di Padang Panjang. Roman awal yang ditulis berjudul Si Sabariyah, berbahasa Minangkabau dan menggunakan aksara Arab Melayu. Roman ini sempat mengalami tiga kali naik cetak, yang mana kemudian honornya ia gunakan untuk biaya pernikahannya dengan Siti Raham pada tahun 1929. Selanjutnya, seperti tak henti tangannya menggerakan pena atau mengetik di mesin tulis (dan memang inilah kebiasannya: mengetuk-ngetukan jari-jarinya di meja seolah sedang mengetik) melahirkan karya-karyanya, baik dalam bidang agama atau dalam bidang kesusastraan seperti Di Bawah Lindungan Kabah, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Terusir, termasuk karya terjemahan Margaretta Gauthier, dan lain-lainnya. Yang paling fenomenal, tentu saja Tafsir Al Azhar. Selasai menulis lengkap tafisri tersebut, Buya Hamka berkata bahwa kini tugasnya selesai, matipun rela. Sepanjang hidupnya, tercatat 115 lebih buku berhasil ia tulis.

Sebagai seorang jurnalis, bisa dibilang majalah Panji Masyarakat tentu tak akan pernah bisa lepas dari nama Buya Hamka sendiri. Dia mendirikan dan mengasuh majalah itu. Hingga kemudian kekisruhan politik era Orde Lama menyebabkan majalah tersebut dibredel (bersamaan dengan pembredelan beberapa majalah lainnya) dan Buya Hamka ditahan.

Namun agaknya Buya memang sosok yang patut dijadikan contoh. Ditahan nyaris tiga tahun raganya dan diperlakukan tak terhormat dalam rangkaian pemeriksaan mengenai tuduhan yang mengada-ada tentang upaya kudeta dan pembunuhan Soekarno, tak membuat dirinya merasa harus membenci Soekarno. Mendengar Soekarno sakit dan wafat, air matanya tumpah. Lebih dari itu, ia mengimami Sholat Jenazah Soekarno. Tak peduli banyak orang yang mengkritik dan menyayangkan sikap Buya Hamka tersebut. Mengenai Pramoedya, pada tahun 1969 di Taman Ismail Marzuki, Buya Hamka menyatakan ketidaksetujuannya pada pelarangan karya-karya Pram. "Janganlah buku itu dilarang. Tetapi tandingi dengan tulisan," ujar Buya.

Sikap-sikap seperti inilah yang mungkin membuat kita agaknya merasa perlu merindukan sosok seperti Buya Hamka. Agamawan ramah yang menampilkan agama yang ramah. Agamawan yang tak hanya pandai di atas mimbar, tapi juga bisa menghanyutkan lewat rangkaian aksara indah.

printed version: Pikiran Rakyat

tadarus

ada yang sampai pada malam yang sepi dan dingin yang lamat yang besertanya bulan basah darah yang menetes mengalir menjelma Asma-Mu di lelangit kamarku yang pintunya berulang kali mengeluarkan suara ketukan yang serupa kicau burung yang menebar maut

aroma kematian yang datang menghampiri diriku yang berkali-kali menghindar dengan penolakan-penolakan halus yang kurang ajar seperti pernah kutolak sebelas perintah yang diurutkan ibu-ibu kita yang seperti lupa pernah melahirkan kita yang kini sendiri di dingin yang lamat dan malam yang sepi

mencariMu
mencari Rupa-Mu
mencari Kalimat-Kalimat-Mu
mencari Suara-Mu
mencari Hati-Mu
mencari diriku di Diri-Mu

Agraris?

"Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudera..."


Nenek moyang kami seorang pelaut. Seperti mereka kami hidup dari mencari ikan, menambang garam, perdagangan, pajak kapal pelabuhan, dan penangkaran mutiara.

Kami tidak mengenal pemimpin: Raja maupun bentuk pemerintahan yang lain hanya ada di orang daratan. Di negeri kami yang penuh pulau dan dihuni oleh banyak bajak laut, tiap orang harus mengurus dirinya sendiri. Kerjasama adalah sementara, hanya laut yang bisa dipercaya.

Berbeda dengan mereka yang hidup di daratan. Mereka - kaum masyarakat tingkat dua yang bodoh itu - cuma tahu bagaimana bertani dan menyenangkan tuan tanah. Bodoh karena terlalu lama dijajah.

Kami tahu saat untuk menetap, meletakkan sauh, dan menikmati persinggahan. Tetapi laut adalah hidup itu sendiri; ia adalah ibu. Ketika ia memanggil bergegas kami memasang layar, menentukan arah bintang, dan mulai berpetualang.

Jangan samakan kami dengan mereka yang sibuk bertani dan akan mati dimakan kerakusan pasar, kami tidak tahu apa itu arti bebas dan merdeka. Kami adalah camar yang berterbangan mengikuti aliran udara panas. Kami adalah pemandangan laut tak berbatas. Kami adalah angin amis yang bertiup mengibarkan rambut.

taken from themirath

16 Agustus

Ya, saya juga jadi korban "film" ini. Sebuah serangan mendadak dengan amunisi tokoh bangsa. Kecewa? Takjub?

lihat komentar yang lainnya di shoutbox situs 16 Agustus.

Aleksandr Solzhenitsy


"Selama 15 tahun aku teronggok tersembunyi di bawah -- di kamp
kerja paksa, di pengasingan, di bawah tanah -- tak pernah
menampilkan diriku sendiri. Sekarang, aku bisa berenang ke
permukaan...."

Aleksandr Solzhenitsy
(11 Des 1918-3 Agust 2008)

Sepakbola

"Rangga memecahkan jendela belakang bus yang membawa para Viking, pendukung Persib Bandung. Ia menantang siapapun yang ada di dalam bus untuk turun berduel dengannya. Tatapannya kasar, sampai hanya dalam sepersekian detik ia melihat seorang mojang cantik yang terlihat panik di dalam bus yang kacau, chaos serta para Viking yang berserabutan keluar mencari senjata apapun yang bisa dibawa...."

Demikian Andi Bachtiar Yusuf menceritakan filmnya yang kini dalam proses awal produksi. Andi Bachtiar Yusuf pengamat sepakbola. Suatu hari dia bilang, "ape2 aje juga ada hubungannya ama sepakbola."

Setelah berbulan-bulan terpesona dengan sihir Franklin Foer, saya menunggu film ini dengan perasaan tak sabar.

Quote of the Day

"Aku tidak sependapat denganmu, tapi aku bela mati-matian hakmu untuk bebas berbicara mengeluarkan pendapat." (voltaire)

Archives