Mengapa saya (sebaiknya) tidak makan di McDonald’s
Pernah suatu masa, terutama saat-saat sekolah dulu, saya dan beberapa teman dekat sering kali menghabiskan waktu di tempat nongkrong paling nyaman se-“dunia”, paling “gaul”, dan paling “gengsi”, McDonald’s. Dan jika kami sudah berada di dalamnya, jangan ditanya berapa lama kami bisa bertahan duduk di sana, berjam-jam! Kami menghabiskan waktu yang lewat begitu saja, biasanya kami menjahili orang-orang yang kebetulan merayakan ulang tahun di tempat itu, atau menggoda anak-anak kecil yang asyik bermain di sana. Kadang kami juga sering mendapat kenalan wanita-wanita, biasanya anak sekolahan juga, di tempat itu. Tempat itu benar-benar mengasyikkan meski sesungguhnya jika kamu duduk di dalamnya, dan terutama di dekat jendela kacanya, kamu bisa menatap landscape manis realita kehidupan: anak-anak jalanan dengan tatapan kosong, juga ibu-ibu pengemis yang begitu setia duduk menggendong bayi-bayi mereka, mengharap belas kasih mereka yang menghabiskan waktu di McDonald’s.
Sampai suatu hari saya membaca sebuah tulisan tentang McD (begitu biasa orang-orang menyebutnya) yang mengatakan bahwa Ronald McDonald’s tak selucu dan tak seramah yang kita sangka. Hal ini kemudian membawa saya kepada suatu pilihan untuk (sebisa mungkin) tidak lagi makan dan nongkrong di warung milik korporasi internasional tersebut. Sebuah pilihan dasar yang kamu juga punya (seperti kata Arundhati Roy, penulis dan aktivis India, untuk merubuhkan sistem kapitalisme global dan korporat-korporatnya yang merugikan, kamu hanya perlu menggunakan hak pilih kamu yang paling dasar, yaitu memilih untuk tidak membeli lagi produk-produk korporasi internasional!).
Yang pertama kali mengejutkan saya adalah proses produksi yang mereka lakukan. Itu adalah horor yang menakutkan. Dalam proses produksi itu McD benar-benar telah melakukan eksploitasi tanpa batas terhadap Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia. Oke, saya paparkan apa yang pernah dikatakan salah seorang eks-pekerja McD tentang bagaimana McD mendapatkan ayam-ayamnya.
Menurutnya, kondisi peternakan McD sangat buruk, bahkan itu lebih mirip tempat penyiksaan ketimbang tempat peternakan. Ayam-ayam diletakkan di kandang yang sama sekali tidak layak disebut kandang. Sempit dan tak punya akses cahaya matahari. Tempat yang seperti itu menyebabkan ayam-ayam tersebut tidak dapat bergerak, bahkan untuk sekadar berdiri. Banyak di antara ayam-ayam tersebut yang patah tulang atau terluka, bahkan tidak sedikit juga yang mati. Sudah sejak kecil ayam-ayam itu disuntik obat anti-biotik dan obat-obatan yang akan membuat mereka cepat tumbuh besar. 44 persen ayam-ayam tersebut mengalami gangguan kesehatan akibat obat-obatan tersebut dan pengaruh kandangnya. Ayam-ayam yang mengalami hal ini akan dipisahkan dari ayam-ayam lainnya untuk dibantai secara kejam dengan gas beracun. Ayam-ayam yang terpilih, yang tidak cacat dan telah berumur 6-7 minggu kemudian dikirim ke tempat penjagalan. Sebaiknya jangan pernah membayangkan ayam-ayam tersebut “dibunuh” dengan baik-baik. Di tempat jagal, ayam-ayam itu digantung terbalik dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Kemudian ayam-ayam tersebut dicelupkan ke dalam air yang dialiri listrik. Banyak di antara ayam-ayam tersebut yang tidak mati namun begitu menderita akibat sengatan listrik. Barulah setelah itu ayam-ayam tersebut dipotong. Tapi itu bukan pemotongan yang sempurna, melainkan sembarang saja. Satu persen dari ayam-ayam tersebut masih tetap hidup setelah dipotong untuk kemudian dimasukkan ke dalam tangki daging. Ayam-ayam yang masih hidup tersebut memang akan mati, tapi itu adalah kematian yang perlahan dan sungguh menyiksa!
Mungkin sebagian manusia akan berkomentar, “lalu kenapa, itu cuma ayam?!” Memang itu cuma ayam, tapi apakah ayam tidak memiliki rasa sakit seperti manusia? Apakah ayam tidak akan pernah merasa tersiksa karena penderitaannya seperti manusia? Ayam-ayam itu telah menderita untuk kita, dan apakah McD peduli dengan hal ini? Tentu saja tidak, korporasi mempunya sifat dasar untuk tidak peduli kepada apapun kecuali kepada keuntungan! Jadi, ayam-ayam itu telah menderita demi keuntungan yang direguk oleh korporat internasional!
Pada tanggal 31 Maret 1998, digelar pengadilan untuk kasus tuntutan NUS (National United Student – organisasi pelajar di Inggris) kepada McD. Tuntutan NUS yaitu, McDonald's adalah praktek anti perserikatan pekerja, pengeksploitasian pekerja, yang berhubungan dengan pengrusakan lingkungan, kekejaman pada hewan dan pempromosian produksi-produksi makanan yang tidak sehat. Dan di akhir persidangan, majelis hakim memenangkan tuntutan NUS dan menyatakan bahwa McD bersalah dengan fakta-fakta berikut: (1) McD mengeksploitasi anak-anak dalam iklan-iklannya. (2) McD bersalah atas kekejamannya terhadap hewan-hewan. (3) Perusahaan tersebut anti-perserikatan pekerja dan membayar pekerjanya di bawah standar. (4) McD bersalah atas penghancuran hutan hujan di negara-negara dunia ketiga. (5) Penyia-nyiaan, polusi, dan sampah dari sisa-sisa produk McD yang tidak bisa didaur ulang. (London Greenpeace pressrelease, 14th April 1998)
Sampai sini, saya memutuskan untuk tidak lagi melangkahkan kaki ke McD!
Dan siapakah yang tahu bagaimana McD memperlakukan sisa lebih stok makanan mereka setiap harinya? McD memasukkan burger-burger, daging-daging, nasi dan stok makanan lainnya ke dalam karung dan kemudian menyiramnya dengan air agar makanan-makanan tersebut tidak berbentuk lagi hingga tak dapat dimakan dan kemudian baru dibuang ke tempat sampah! Sementara, kita tahu ini, semua orang tahu ini, tuhan tahu ini, di jalanan-jalanan, dan bahkan di sisi jendela kaca McD, gelandangan dan pengemis menahan lapar di perut dan matanya setiap hari! McD memilih memusnahkan kelebihan stok makanannya ketimbang membagi-bagikan stok lebih makanannya itu kepada mereka!
Inilah mitos yang perlu kita kembangkan tentang McD:
- Penyebab kanker (McCancer): merusak kesehatan karena setiap yang dijual di McD adalah bahan awetan dan bukan makanan segar.
- Pembunuh (McMurder): pembantai hewan-hewan hanya untuk menambah keuntungan.
- Perusak (McDestructor): menghabiskan hutan-hutan di negara-negara dunia ketiga untuk kepentingan peternakannya demi (lagi-lagi) menambah keuntungannya tanpa memedulikan hak rakyat, hak adat, pada tanah untuk melanjutkan hidup.
- Penyia-nyiaan bahan (McWaste): membuat produk yang tidak bisa di daur ulang.
- Rakus (McGreedy): mengeksploitasi tenaga kerjanya dengan waktu yang represif dan upah yang rendah.
Kesemuanya itu demi menambah keuntungan!
Ini semua berarti bahwa kunjungan kamu ke McD adalah pernyataan dukungan terhadap sistem yang telah merusak planet bumi ini, yang telah menghancurkan kehidupan para petani dan kaum adat di dunia ketiga, yang telah memperbudak manusia lewat jam kerja yang panjang dan upah yang minimum, yang telah membuat nilai rupiah jatuh sedemikian rupa di hadapan dollar dan menyebabkan lumpuhnya perekonomian negara ini.
Kamu bisa memilih seperti yang dianjurkan Arundhati Roy, memilih tidak membeli produk-produk korporasi yang kejam!
Dan, tentu saja, di era konsumerisme seperti saat ini (yang bahkan untuk berlebaran, natal, imlek, dan ritual-ritual keagamaan lainnya, kita merasa harus berbelanja!), McD bukan satu-satunya produk yang mesti kita tolak! Cari, buat daftar, dan STOP MEMBELINYA!
(dengan hutang budi yang banyak pada Submissive Riot – Non Profit Anarcho Newsletter)
28.2.04
25.2.04
Manifesto
Karena makanan adalah hak semua orang bukan hak istimewa segelintir orang saja!
Karena ada cukup makanan untuk semua orang dimana-mana!
Karena kekurangan bahan makanan pokok adalah bohong!
Karena disaat kita lapar atau kedinginan kita punya hak untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dengan cara meminta, mengamen, atau menempati bangunan-bangunan kosong!
Karena kapitalisme menjadikan makanan sebagai sumber keuntungan, bukan sebagai sumber nutrisi!
Karena makanan tumbuh pada tanaman!
Karena kita butuh lingkungan bukan kendali!
Karena kita butuh rumah bukan penjara!
Karena kita butuh makanan bukan bom!
Di berbagai penjuru dunia saat ini telah terbangun puluhan kelompok-kelompok yang aktivitasnya adalah membagi-bagikan makanan vegetarian gratis untuk orang-orang miskin dan siapapun yang tidak mampu membeli makanan. Kelompok-kelompok ini selain mengkampanyekan sikap anti-kemiskinan mereka, secara lebih jauhnya bertujuan untuk menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang non-kekerasan. Dan walaupun memang banyak kelompok-kelompok yang melakukan aktivitas tersebut dalam berbagai nama, namun ada satu organisasi akar-rumput yang sangat konsisten melakukan aktivitas tersebut dan organisasi ini telah berkembang secara internasional, Food Not Bombs (FNB).
Bermula dari San Fransisco, FNB dengan aktifitasnya begitu cepat menyebar, dari Amerika Utara, Eropa, bahkan hingga ke negara-negara Asia seperti Malaysia dan Indonesia (seperti yang terjadi belakangan ini di beberapa kota). Kebanyakan dari kita benar-benar percaya bahwa FNB dan strukturnya beserta seluruh tujuannya sangat berkaitan erat dengan orientasi anarkis. Masalah ideologis ini sendiri pada akhirnya menjadi elemen formal dari politik FNB dan sebuah statement akan visi yang diadopsi secara terbuka oleh seluruh grup dan menempatkan aksi-aksi harian ke dalam konteks politik yang lebih radikal. Statement visi ini meliputi segalanya, dari dedikasi grup terhadap perjuangan anti-seksis, hingga pembangunan kebun komunitas dan pembuatan kompos sebagai sebuah aksi yang langsung menuju sebuah tatanan masyarakat yang seimbang dengan lingkungannya.
Diharapkan tulisan ini akan membuka diskusi tentang masa depan politis dari FNB dan gerakan-gerakan sejenis sebagai sebuah gerakan transnasional yang bekerja keras melawan dominasi global dari korporasi dan kemiskinan dunia. Tulisan ini juga diharapkan dapat membantu yang lainnya dalam gerakan sosial untuk mengerti aksi-aksi seperti diatas dan sisi politisnya. Adalah politik radikal yang telah membuat kita, mengisi aktifitas kita dengan sesuatu yang berarti, yang memberi energi dan vitalitas kepada usaha-usaha harian. Disaat kita melihat bagaimana aktifitas harian berkaitan dengan gerakan yang lebih besar demi keadilan sosial dan ekonomi, hal tersebut membantu memberikan inspirasi dan motivasi yang kita butuhkan untuk terus mengumpulkan dan membagi-bagikan makanan atau juga bergumul dengan kompos atau sekedar bangun tidur lebih awal, membuat kopi dan sepotong roti yang kita miliki untuk kemudian dibagikan kepada mereka yang melakukan pemogokan. Perubahan sosial yang radikal dibangun dari hari ke hari dengan menyadari bahwa diri kita adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri, akan dapat membantu kita untuk melewati hari-hari dengan aktifitas yang lebih berguna.
Jadi apalagi yang perlu untuk dibahas?
Adalah sesuatu yang penting bagi sebuah grup dan gerakan untuk mempunyai pengertian yang luas tentang dimana posisi kita dan apa visi terbaiknya tentang sebuah dunia idaman. Membagi-bagikan makanan dengan gratis memiliki beberapa definisi prinsipil yang sangat jelas dan konteks politis yang lebih luas serta memberi tempat bagi prinsip-prinsip tersebut sebuah makna dan arti yang lebih dalam.
Anarkis membayangkan dunia bebas dimana tindakan diambil atas keputusan bersama, dunia yang tanpa kekerasan. Konsep-konsep itu sendiri cenderung ambigu dan sangat terbuka untuk diinterpretasikan dengan lebih luas. Saat kita menyadari bahwa dengan menempatkan prinsip-prinsip kita secara fleksibel dan inklusif, sangatlah baik, tetapi disaat yang sama sangatlah penting juga untuk menjaga agar ide-ide kita tidak termoderasi dan terkooptasi. FNB sendiri memiliki tiga prinsip, yang selain dua prinsip diatas (keputusan bersama dan dunia tanpa kekerasan) mereka menambahkan satu point lagi, yaitu vegetarianisme. Dan dengan bersikap seperti diatas tadi, mereka meletakkan prinsip-prinsip mereka ke dalam aksi, dan hal itulah yang memberi ide-ide mereka sebuah arti dan nilai yang mendalam. FNB mengkombinasikan ide-ide tersebut dengan prinsip desentralisasi, penguatan kolektif dan individual, feminisme dan strategi pengorganisiran anti hirarkis. Dengan ini kita juga harus mulai meniadakan konsep-konsep yang mendefinisikan aktifitas pembagian makanan gratis sebagai tindakan 'amal'. Pola pikir 'amal' telah gagal menemukan inti penyebab kelaparan dan kemiskinan, serta cenderung membantu mendanai sebuah krisis tanpa pernah berusaha menyerang struktur institusional yang menghasilkan ketidakadilan tersebut. Kita seharusnya lebih memfokuskan pada penentangan terhadap struktur kekuasaan yang patriarkis, didominasi kulit putih plus 'budaya barat'nya dan berbagai bentuk dominasi lainnya -baik dalam masyarakat kita, dalam organisasi kita dan dalam kesadaran kita sendiri. Ide-ide dan keyakinan seperti itulah yang harus diekspresikan dalam berbagai pertemuan, dituliskan dalam literatur-literatur dan disuntikkan ke dalam cara kita mengorganisir kelompok kita sendiri, serta dalam membangun solidaritas dengan grup, organisasi ataupun perjuangan lain. Ini semua adalah tentang diri kita, tentang pandangan politis kita yang memiliki visi akan sebuah dunia yang lebih baik, sebuah dunia yang berusaha kita bangun saat ini. Dan inilah alasan mengapa pembahasan masalah seperti ini menjadi sangat penting.
Untuk Anarkisme
Fokus pertama soal anarkisme biasanya berkutat disekitar kesalahpahaman atas pengertian anarkisme yang diartikan tidak lebih dari chaos dan perusakan. Prof. Howard Zinn, seorang pendukung FNB mendeskripsikan anarkisme dalam bukunya yang berjudul "Declaration Of Independent" sebagai berikut: "Anarkis, seperti yang saya amati dan pelajari, tidaklah percaya pada anarki seperti yang biasa dideskripsikan oleh banyak orang dan media -kekacauan, disorganisasi, chaos, kebingungan dan setiap orang bertindak semaunya. Sebagai kontrasnya, mereka percaya bahwa tatanan masyarakat dapat dan seharusnya terorganisir dalam berbagai bentuknya dimana orang-orang akan bekerja sama saat bermain dan bekerja, untuk membangun sebuah tatanan masyarakat yang lebih baik. Tapi anarkis juga menekankan bahwa setiap organisasi harus menghindari hirarki dan perintah dari atas; harus demokratis, keputusan bersama, meraih keputusan tersebut melalui diskusi yang konstan dan berbagi argumen."
Dia juga menambahkan, "Apa yang membuat saya tertarik dengan anarkisme adalah juga bahwa penolakannya bersifat total terhadap segala bentuk otoritas-otoritas negara, gereja dan dalam dunia kerja. Anarkis percaya bahwa jika kita bisa membangun sebuah tatanan masyarakat egaliter tanpa kemiskinan dan kemakmuran yang jauh terpisah, kita tak akan membutuhkan polisi, penjara, tentara, ataupun perang, karena penyebab utama semua masalah tersebut sudah lenyap."
Howard Zinn menulis beberapa pendahuluan dalam beberapa buku FNB dan secara konsisten terus menentang serangan polisi dan tindakan brutal dari pemerintah kota terhadap para anggota FNB di San Fransisco. Dalam beberapa artikel di koran-koran tentang kebrutalan pemerintah kota terhadap FNB, Zinn selalu tercantum di harian tersebut. Statement yang dia bacakan antara lain berkata, "FNB memprotes sebuah sistem yang gagal untuk memberi orang-orang kebutuhan dasarnya."
Anarkisme adalah sebuah gerakan demi sebuah dunia dimana kekerasan rasis, seksis, homofobik, kapitalisme dan sejenisnya dilenyapkan dari kehidupan kita sehari-hari. Anarkisme adalah sebuah keyakinan akan terbentuknya sebuah dunia dimana perang dan kemiskinan tak akan ada lagi. Anarkisme adalah filosofi dan gerakan yang bertujuan membangun sebuah struktur ko-operasi, egaliter dan struktur sosial yang mempromosikan mutual-aid, kontrol demokrasi radikal atas keputusan politik dan ekonomi, serta berwawasan lingkungan. Jadi bagaimana hal-hal seperti diatas dapat diterapkan secara langsung melalui aksi-aksi FNB?
Anarkisme dan Konsensus (Pengambilan Keputusan Bersama)
Konsensus adalah sebuah bentuk pengambilan keputusan yang berdasarkan pada prinsip-prinsip anarkis. Konsensus adalah sebuah bentuk pengambilan keputusan yang dalam prosesnya bertujuan untuk membagi kekuatan diantara orang-orang agar semua dapat berpartisipasi dalam memperkuat dan mengimplementasikan keputusan kolektif. Konsensus juga bertujuan untuk membangun sebuah organisasi non-hirarkis yang mengkounter rasisme, seksisme, homofobia dan berbagai bentuk penindasan serta dominasi yang hanya menguntungkan sebagian orang saja dan memposisikan orang lain tanpa memiliki kekuatan dan suara. Karena kita bertujuan membangun sebuah organisasi - dan juga komunitas dan tatanan masyarakat - yang saling berbagi kekuatan dan memapankan kesetaraan, kita harus terus melawan hirarki. Anarkisme dan konsensus berjalan beriringan seperti layaknya sop hangat dan roti yang baru.
Anarkisme dan Vegetarianisme
Organisasi-organisasi yang membagi-bagikan makanan gratis seperti FNB hanya menyediakan makanan vegetarian sebagai aksi politis melawan industri daging beserta variannya, serta mempromosikan pendekatan lingkungan, distribusi makanan serta sumber bahan pangan ke seluruh dunia dengan merata, mempromosikan hidup lebih sehat, serta mendukung pembebasan hewan.
Komitmen kelompok-kelompok seperti FNB terhadap isu-isu seperti itu telah membangun koalisi yang kuat dengan organisasi lingkungan seperti Earth First! dan berbagai macam lainnya dan juga dengan organisasi-organisasi pembebasan hewan seperti ALF (Animal Liberation Front). Anarkisme menentang eksploitasi dan dominasi dunia yang merupakan karakteristik dari ekspansi kapitalisme. Anarkisme bertujuan tidak hanya merubah hubungan antar sesama manusia, tetapi juga hubungan antara manusia dengan bumi dan lingkungannya.
Anarkisme dan Sikap Tanpa Kekerasan
Banyak orang mulai memperdebatkan apakah anarkisme dan sikap tanpa kekerasan saling berkaitan. Sebagian anarkis berpendapat bahwa anarkisme dan sikap tanpa kekerasan tidak dapat dipisahkan. Untuk membahas masalah diatas mari kita lihat kembali pada sejarah tentang terjadinya negara. Christopher Day dari Love and Rage Revolutionary Anarchist Federation menulis, "Negara - yang kita artikan dengan keberadaan polisi, tentara, penjara, pengadilan, berbagai birokrasi pemerintah baik legislatif dan eksekutif - adalah alat pengontrol dan penekan dari yang berkuasa. Negara mempertahankan kekerasan yang legal dan terorganisir." Lebih lanjut Day menyatakan, "Negara telah selalu menjadi instrumen perang. Adalah sesuatu yang tak mungkin untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat tanpa peperangan dalam sebuah tatanan masyarakat yang masih didominasi oleh negara."
Dalam buku FNB yang berjudul 'Feeding The Hungry and Building Community' dijelaskan, "Nama FNB menyatakan prinsip kami yang paling fundamental; tatanan masyarakat harus mempromosikan kehidupan bukan kematian. Tatanan masyarakat sudah mentolerir bahkan mempromosikan kekerasan dan dominasi. Kekuatan penguasa adalah hasil dari ancaman dan penggunaan kekerasan."
Negara dan bentuk representasi dari kapitalisme, dominasi dan patriarki, mengkonsentrasikan kekuatan kepada beberapa orang saja yang secara sistematis mengesampingkan kekuatan mayoritas umat manusia. Kekerasan yang eksis dalam kehidupan sehari-hari merupakan hasil dari pengingkaran kekuatan atas hidup seseorang. Kekerasan terjadi dengan banyak cara, setiap hari, sebagai hasil dari ketidakaadilan sistem. Baik itu hadir melalui sistem sewa, makanan dengan pestisida dan label harga yang menyembunyikan penindasan terhadap para buruhnya, sistem pajak, bekerja pada seseorang yang sudah kaya, malnutrisi, sweeping polisi terhadap gelandangan, pemaksaan sterilisasi pada perempuan di negara Dunia Ketiga, pengasingan sosial terhadap orang miskin dan masih banyak problem lainnya.
Jadi apa hubungan antara anarkisme dan sikap tanpa kekerasan? Kita harus menelaah kembali sejarah yang panjang dari gerakan dan perlawanan anarkis yang pernah eksis dan kita akan menemukan fakta bahwa anarkisme dan perjuangan demi sebuah dunia yang tanpa kekerasan mempunyai sejarah yang panjang.
Dalam penelitian yang ditulis tahun 1932 dengan judul 'Native (Born) American Anarchism' yang mendiskusikan tentang pengaruh Henry David Thoreau yang dikembangkan melalui pembangkangan sipil, Eunice Schuster menyebut Thoreau sebagai "bukan hanya anarkis dalam pemikirannya, tapi juga dalam aksinya". Aksi pembangkangan sipil yang dilakukan Thoreau selama perang Amerika melawan Meksiko telah mempengaruhi banyak teori-teori dan praktek tanpa kekerasan.
Leo Tolstoy juga mengambil inspirasi dari Thoreau dan mengembangkan ide-idenya sendiri dalam sikap yang tanpa kekerasan. Robert L. Holmes dalam bukunya yang berjudul 'Non-Violence In Theory and Practice' menuliskan, "Tolstoy menggabungkan pemahaman agama Kristen kepada apa yang dia lihat sebagai kesimpulan logis: pengingkaran ini bukan hanya berasal dari perang yang merupakan kekerasan terorganisir, tetapi juga dari pemerintah yang merupakan kekerasan institusional, dan hal inilah yang menimbulkan perang."
Dalam kata pengantar dari buku berjudul 'Government Is Violence: Essays on Anarchism and Pacifism' karangan Leo Tolstoy tertulis, "Tolstoy menyarankan cara pencapaian anarki dengan sesuatu yang sekarang dikenal sebagai pembangkangan sipil dan aksi langsung tanpa kekerasan... Tolstoy mengadvokasikan perlawanan moral yang tanpa kompromi terhadap penguasa."
Gandhi menulis tentang Tolstoy dalam autobiografinya, "40 tahun yang lalu, ketika saya melewati masa krisis skeptis dan keraguan yang hebat, saya membaca buku Tolstoy yang berjudul 'The Kingdom Of God Is Within You' dan sangat terkesan. Saat itu saya masih percaya dengan kekerasan. Buku itu menyembuhkan sikap skeptis saya dan membuat saya menjadi seorang yang yakin akan ahimsa (tanpa kekerasan)... dia adalah tokoh anti kekerasan yang hebat yang lahir di abad ini."
Ide-ide anarkis juga terinspirasi oleh ide-ide Gandhi tentang bentuk tatanan masyarakat yang diidam-idamkan. Dalam buku berjudul 'Gandhi Today', Mark Shepard menjelaskan: "India dapat menjadi kuat dan sehat hanya dengan merevitalisasi desa-desa dimana empat dari lima orang tinggal, seperti yang dituntut oleh Gandhi. Dia memimpikan sebuah tatanan masyarakat yang terdiri dari desa-desa yang kuat, dimana setiap desa memiliki otonomi politik dan ekonomi sendiri. Dalam kenyataannya Gandhi adalah tokoh terbesar dari desentralisasi di abad ini - menempatkan kekuatan politik dan ekonomi pada level lokal."
Setelah Gandhi dibunuh, orang yang dikenal sebagai pewaris spiritual Gandhi, Vinoba Bhave memimpin beberapa kampanye besar untuk mengklaim kembali tanah bagi kaum miskin. Tahun 1951 Bhave dan banyak buruh dari Sarva Seva Sangh, memulai gerakan Bhoodon (Hadiah Tanah). Banyak yang menganggap bahwa Bhave adalah orang suci dalam tradisi Hindu, dan saat dia memulai perjalanan keliling negara untuk menuntut beberapa akre tanah dari para tuan tanah, dia menerima hadiah berupa tanah yang kemudian diberikan pada kaum miskin. Satu sepertiga juta akre yang diklaim oleh kaum miskin (lebih dari sekedar manajemen program Land-Reform yang diusulkan oleh pemerintah India). Bhave juga terlibat dalam proyek-proyek dan kampanye lainnya yang mempunyai prinsip revolusi tanpa kekerasan. Bhave adalah seorang anarkis.
Amerika mempunyai sejarah panjang tentang anarkisme tanpa kekerasan. Salah satu kelompok pertama yang tertulis dalam sejarah adalah New England Non-Resistance Society. Mereka menegaskan bahwa pemerintah, hukuman mati, perang dan ketidakadilan sangat bertentangan dengan ajaran Kristen. Kelompok tersebut, termasuk didalamnya William Llyod Garrison, terlibat dalam gerakan abolisionis yang berjuang untuk mengakhiri perbudakan di Amerika.
Saat Amerika memasuki Perang Dunia I, anarkis berada di garis depan gerakan anti perang. Tahun 1016, Emma Goldman, Alexander Berkman dan yang lainnya mengorganisir 'No Conscription League'. Dengan kelompok tersebut mereka mengorganisir demostrasi, protes dan march. Mereka mempublikasikan sebuah manifesto yang didalamnya tertulis: "No Conscription League dibentuk dengan tujuan mendorong para anti wajib militer untuk menolak berpartisipasi dalam membunuh sesama mereka." Berkman dan Goldman ditangkap karena dianggap melanggar hukum. Tahun 1918 pemerintah mengeluarkan undang-undang bernama 'Espionage Act' yang membuat literatur anti-perang menjadi ilegal, dan undang-undang ini digunakan untuk melawan sebuah kelompok yang terdiri dari lima orang anarkis termasuk Mollie Steimer. Kelompok tersebut mendistribusikan koran dengan cara menyelipkan koran-koran tersebut ke kotak pos di setiap rumah pada malam hari, dan menulis beberapa leaflet yang isinya menentang UU tersebut. Salah satu dari terdakwa, Jacob Schwartez, tidak pernah diajukan ke pengadilan. Dia disiksa polisi selama interogasi dan meninggal saat dibawa ke rumah sakit. Sisa dari kelompok tersebut dianggap bersalah dan dideportasi ke Russia pada tahun 1921 atas aktivitas anti-perang mereka.
Selain mereka, masih ada yang menentang perang, antara lain Dorothy Day. Dia bersama dengan Peter Maurin, mempelopori gerakan buruh Katolik. Nancy Robert dalam anthologinya 'American Radical' menulis tentang gerakan tersebut, "Mereka mempunyai rencana yang berdasarkan tiga point yang sesuai dengan nilai-nilai Kristen untuk melakukan aksi-aksi sosial yang radikal. Maurin memimpikan sebuah komunitarian, gerakan anarkis yang menawarkan diskusi, forum-forum dan ceramah, rumah sakit di setiap kota yang memberi makan dan tempat tinggal bagi kaum miskin dan gelandangan, dan peternakan komunal yang akan menghancurkan tatanan masyarakat industri dan membentuk unit-unti organik dimana semua orang hidup dan belajar dalam sebuah komunitas."
Pada akhirnya, sekitar 200 rumah yang dijadikan rumah sakit dibuka di banyak negara khususnya di Amerika Serikat. Ide yang mendasari berdirinya rumah-rumah tersebut diterangkan oleh Walter Brueggman sebagai berikut, "perasaan kasihan mengangkat sebuah bentuk kritik yang radikal dimana mereka yang miskin dan kelaparan harus diperhatikan dengan serius, kondisi dimana mereka seharusnya tidak dianggap normal dan alami, tetapi dianggap sebagai kondisi yang tidak manusiawi yang tidak dapat diterima." Rumah-rumah tersebut dalam struktur masyarakat yang berorientasi profit bukan hanya merupakan sebuah bentuk perlawanan tetapi juga merupakan sebuah alternatif. Pada 1 Mei 1933, gerakan buruh Katolik tersebut menerbitkan koran yang dijual dengan sangat murah. Koran tersebut menjelaskan kaitan antara perdamaian dan keadilan sosial, serta meliput banyak aksi-aksi pembangkangan sipil yang dilakukan oleh gerakan buruh Katolik dan berbagai kelompok buruh radikal lainnya melawan militerisme. Dalam bukunya yang berjudul 'The Spirit of The Sixtiest: The Making of Post-War Radicalism', James Farrell menulis, "Pasifisme, personalisme dan anarkisme dari gerakan buruh Katolik menempati halaman pertama koran mereka. Dan koran tersebut mempromosikan sebuah revolusi dengan ide-idenya." Farrel menulis bahwa dalam beberapa tahun, sirkulasi koran tersebut mencapai oplah 100.000 eksemplar dan tahun 1938 oplah mereka mencapai 190.000 eksemplar. Selama Perang Dunia II gerakan buruh Katolik tersebut dilarang karena sikap pasifis mereka dan beberapa aktifisnya dipukuli di jalanan saat mendistribusikan korannya.
Selama lebih dari 50 tahun, Dorothy Day berkomitmen penuh terhadap perdamaian, keadilan sosial dan revolusi tanpa kekerasan. Pada tahun 1983, uskup Katolik Amerika melihat adanya indikasi pergeseran sejarah dalam pelajaran tentang perang dan perdamaian saat tertulis bahwa pasifisme tidak dapat diterima baik secara moral ataupun politik bagi umat Katolik. Dulu Day bersama dengan Martin Luther King Jr. dikenal sebagai 'saksi tanpa kekerasan' yang memiliki 'pengaruh kuat dalam kehidupan gereja di Amerika Serikat'.
Dorothy Day yang selalu dijuluki 'Head Anarch' oleh editor koran gerakan buruh Katolik, dijuluki juga sebagai 'First Lady of American Catholism' dan beberapa malah memberi petisi kepada Vatikan agar mendeklarasikan dia sebagai seorang Santa. Anarkisme menurut Day adalah, "Ditingkatkannya tanggung jawab seseorang kepada orang lain, dari individu kepada komunitas, dan disaat yang sama mengurangi ketergantungan terhadap sentralisme negara."
Salah satu dari gerakan yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Amerika Serikat adalah gerakan Civil Rights. Satu dari grup-grup kunci gerakan tersebut adalah Student Non-Violent Coordinating Committee (SNCC). Kelompok tersebut lahir dari gerakan 'aksi duduk' yang pernah sempat populer di daerah selatan pada tahun 1060 dalam aksi protes menentang sistem Apartheid dari 'Jim Crow Laws'. Saat SNCC tidak pernah secara formal mendeklarasikan diri mereka sebagai sebuah grup anarkis, struktur organisasi mereka bermodelkan anti-otoritarian, desentralisasikan dan demokrasi serta mereka menggunakan aksi langsung dalam perjuangan mereka bagi masyarakat egaliter. SNCC memainkan sebuah peran penting dalam aksi "Freedom Rides", sebuah kampanye 1964 "Freedom Summer", yang merupakan sebuah formasi dari partai politik 'Mississippi Freedom Democratic Party' yang menentang rasisme dalam tubuh partai demokratik. Mereka telah meninggalkan sebuah ide dari aktivisme dan pengorganisiran radikal yang penting bagi siapapun yang berjuang demi perubahan sosial saat ini. Pola gerak mereka seperti pembangunan komunitas merupakan taktik aksi langsung tanpa kekerasan yang banyak digunakan oleh kelompok-kelompok seperti FNB.
Ella Baker adalah salah seorang yang menolong membentuk SNCC. Dia adalah seorang organisator selama bertahun-tahun dalam partai komunis NAACP dan membantu membangun 'Southern Christian Leadership Conference' dimana Martin Luther King Jr. terpilih sebagai presidennya. Baker yakin akan dibutuhkannya aksi-aksi langsung dan demokrasi partisipatoris dalam membentuk sebuah perubahan sosial. Dia juga yakin bahwa sebuah grup yang sukses harus menerapkan pola kepemimpinan yang datang dari grup itu sendiri, bukannya kepemimpinan yang datang dari seorang pemimpin: orang yang kuat tidak membutuhkan pemimpin yang kuat. Dalam bukunya yang berjudul: "Women In The Civil Rights Movement": Trailblazers dan Torchbearers, Carol Mueller menampilkan sebuah chapter tentang Ella Baker dan pengembangan demokrasi partisipatoris. Mueller mengidentifikasikan ide-ide Baker tentang demokrasi partisipatoris sebagai berikut: 1. Seruan bagi orang-orang yang bergerak di level grass root dalam masyarakat dimana mereka memiliki kontrol atas diri mereka sendiri. 2. Meminimalisir hirarki dan profesionalisme yang selalu menjadi dasar bagi masalah kepemimpinan. 3. Sebuah seruan akan perlunya aksi langsung sebagai sebuah jawaban atas ketakutan dan alienasi yang eksis dalam masyarakat. Eksperimentasi dari demokrasi partisipatoris dalam SNCC dipengaruhi oleh gerakan sosial yang sangat luas. Mueller juga menulis: "Demokrasi partisipatoris dan pengambilan keputusan secara konsensus dilakukan dari proyek pendaftaran pemilih bagi SNCC di Mississippi dan Georgia hingga proyek SDS (Student for a Democratic Society) yang berkembang di daerah kumuh kota-kota daerah utara pada pertengahan tahun 60-an, hingga kelompok kepedulian pembebasan perempuan di akhir tahun 60 dan awal 70-an, hingga group-group afinity yang tergabung dalam gerakan anti-nuklir di akhir 70-an dan awal 80-an".
Anarkisme dan sebuah dunia tanpa kekerasan bukan hanya saling berkaitan tapi juga tidak dapat dipisahkan. Saat bagian ini didiskusikan dengan melihat berbagai contoh dari sejarah yang harus di klaim kembali dan di ingat bahwa contoh-contoh tersebut telah menawarkan kita inspirasi dalam perjuangan demi sebuah tatanan dunia baru saat ini. Tidak seharusnya kita mengesampingkan berbagai gerakan yang diwarnai dengan kekerasan dalam sejarah anarkisme, tapi selama ini taktik pasifis tertutupi oleh contoh-contoh aksi revolusioner yang penuh kekerasan. Lebih jauhnya lagi aksi-aksi dengan kekerasan harus dilihat dan diletakkan dalam konteks situasi dan waktu sehingga kita dapat mengerti kaitan gerakan tersebut dengan perlawanan terhadap institusi sistem yang penuh kekerasan. Kita tidak akan pernah menemukan perdamaian selama kekuatan tiap orang dipisahkan dari hidup mereka.
Tetapi anarkisme sangat tidak populer dan selalu di salah artikan. Ya. Hal tersebut memang tidak populer dan selalu di salah artikan, tetapi dengan tetap diam dan tidak mau menyatakan keyakinan akan politik yang kita miliki tidak akan menghasilkan apa-apa selain hanya memperkuat struktur sistem saat ini. Saat orang-orang menentang perbudakan, saat orang-orang menuntut persamaan bagi perempuan dan kulit berwarna, saat orang-orang mengorganisir diri mereka menentang perang, saat orang-orang berjuang untuk upah dan kondisi kerja yang lebih baik, saat orang-orang mulai berdiri mempertahankan hak-hak mereka yang ditindas, diserang, dipenjarakan, dan bahkan dibunuh, saat itulah kekuatan itu kembali pada diri kita.
Dalam bukunya yang berjudul "Anarchism and Black Revolution", Lorenzo Ervin menulis: "Sebagai sebuah bentuk praktek, anarkis-komunis percaya bahwa kita harus membangun tatanan masyarakat baru saat ini juga disamping terus berusaha untuk menghancurkan kapitalisme. Kita harus terus berusaha menciptakan organisasi-organisasi mutual aid anti-otoritarian untuk makanan, pakaian, perumahan, pengumpulan dana bagi proyek komunitas, dan sebagainya diantara lingkungan bertetangga kita tanpa perlu berafiliasi dengan pemerintah atau korporasi bisnis, dan tidak menjalankannya dengan tujuan meraih profit, melainkan demi kebutuhan sosial. Beberapa organisasi telah terbangun saat ini dan memberikan kepada anggota-anggotanya pengalaman praktek manajemen diri yang akan mengurangi ketergantungan orang-orang pada sistem. Pendeknya kita dapat mulai membangun infrastruktur bagi masyarakat komunal, sehingga orang-orang dapat melihat apa yang mereka perjuangkan dan untuk apa, bukan hanya sekedar ide di kepala seseorang. Dan itulah jalan menuju kebebasan".
Kita dapat membuat ide-ide ko-operasi, mutual-aid, solidaritas, egalitarianisme dan tatanan masyarakat tanpa kekerasan menjadi popular, tapi hanya melalui aksi yang kita lakukan dan politik yang kita terapkan yaitu politik dalam kehidupan sehari-hari. Politik yang dekat dengan realita dalam kehidupan yang dijalani oleh masyarakat kita, karena semakin jauh politik kita dengan yang kita hadapi sehari-hari maka semakin tidak dapat di mengerti dan tidak berhubungannya politik tersebut dengan hidup kita.
Salah satu cara menerapkan politik radikal dalam tatanan masyarakat di mana masih terdapat banyak sekali kemiskinan dan kelaparan, adalah dengan menyediakan makanan gratis.
Info mengenai gerakan Food Not Bombs-Internasional bisa diakses di http://www.foodnotbombs.net
Sementara jaringan komunikasi dan informasi gerakan Food Not Bombs lokal bisa diikuti dengan bergabung dalam mailing-list Food Not Bombs-Indonesia di http://groups.yahoo.com/group/fnbind
diambil paksa dari http://sayap-imaji.blogspot.com
Karena makanan adalah hak semua orang bukan hak istimewa segelintir orang saja!
Karena ada cukup makanan untuk semua orang dimana-mana!
Karena kekurangan bahan makanan pokok adalah bohong!
Karena disaat kita lapar atau kedinginan kita punya hak untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dengan cara meminta, mengamen, atau menempati bangunan-bangunan kosong!
Karena kapitalisme menjadikan makanan sebagai sumber keuntungan, bukan sebagai sumber nutrisi!
Karena makanan tumbuh pada tanaman!
Karena kita butuh lingkungan bukan kendali!
Karena kita butuh rumah bukan penjara!
Karena kita butuh makanan bukan bom!
Di berbagai penjuru dunia saat ini telah terbangun puluhan kelompok-kelompok yang aktivitasnya adalah membagi-bagikan makanan vegetarian gratis untuk orang-orang miskin dan siapapun yang tidak mampu membeli makanan. Kelompok-kelompok ini selain mengkampanyekan sikap anti-kemiskinan mereka, secara lebih jauhnya bertujuan untuk menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang non-kekerasan. Dan walaupun memang banyak kelompok-kelompok yang melakukan aktivitas tersebut dalam berbagai nama, namun ada satu organisasi akar-rumput yang sangat konsisten melakukan aktivitas tersebut dan organisasi ini telah berkembang secara internasional, Food Not Bombs (FNB).
Bermula dari San Fransisco, FNB dengan aktifitasnya begitu cepat menyebar, dari Amerika Utara, Eropa, bahkan hingga ke negara-negara Asia seperti Malaysia dan Indonesia (seperti yang terjadi belakangan ini di beberapa kota). Kebanyakan dari kita benar-benar percaya bahwa FNB dan strukturnya beserta seluruh tujuannya sangat berkaitan erat dengan orientasi anarkis. Masalah ideologis ini sendiri pada akhirnya menjadi elemen formal dari politik FNB dan sebuah statement akan visi yang diadopsi secara terbuka oleh seluruh grup dan menempatkan aksi-aksi harian ke dalam konteks politik yang lebih radikal. Statement visi ini meliputi segalanya, dari dedikasi grup terhadap perjuangan anti-seksis, hingga pembangunan kebun komunitas dan pembuatan kompos sebagai sebuah aksi yang langsung menuju sebuah tatanan masyarakat yang seimbang dengan lingkungannya.
Diharapkan tulisan ini akan membuka diskusi tentang masa depan politis dari FNB dan gerakan-gerakan sejenis sebagai sebuah gerakan transnasional yang bekerja keras melawan dominasi global dari korporasi dan kemiskinan dunia. Tulisan ini juga diharapkan dapat membantu yang lainnya dalam gerakan sosial untuk mengerti aksi-aksi seperti diatas dan sisi politisnya. Adalah politik radikal yang telah membuat kita, mengisi aktifitas kita dengan sesuatu yang berarti, yang memberi energi dan vitalitas kepada usaha-usaha harian. Disaat kita melihat bagaimana aktifitas harian berkaitan dengan gerakan yang lebih besar demi keadilan sosial dan ekonomi, hal tersebut membantu memberikan inspirasi dan motivasi yang kita butuhkan untuk terus mengumpulkan dan membagi-bagikan makanan atau juga bergumul dengan kompos atau sekedar bangun tidur lebih awal, membuat kopi dan sepotong roti yang kita miliki untuk kemudian dibagikan kepada mereka yang melakukan pemogokan. Perubahan sosial yang radikal dibangun dari hari ke hari dengan menyadari bahwa diri kita adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri, akan dapat membantu kita untuk melewati hari-hari dengan aktifitas yang lebih berguna.
Jadi apalagi yang perlu untuk dibahas?
Adalah sesuatu yang penting bagi sebuah grup dan gerakan untuk mempunyai pengertian yang luas tentang dimana posisi kita dan apa visi terbaiknya tentang sebuah dunia idaman. Membagi-bagikan makanan dengan gratis memiliki beberapa definisi prinsipil yang sangat jelas dan konteks politis yang lebih luas serta memberi tempat bagi prinsip-prinsip tersebut sebuah makna dan arti yang lebih dalam.
Anarkis membayangkan dunia bebas dimana tindakan diambil atas keputusan bersama, dunia yang tanpa kekerasan. Konsep-konsep itu sendiri cenderung ambigu dan sangat terbuka untuk diinterpretasikan dengan lebih luas. Saat kita menyadari bahwa dengan menempatkan prinsip-prinsip kita secara fleksibel dan inklusif, sangatlah baik, tetapi disaat yang sama sangatlah penting juga untuk menjaga agar ide-ide kita tidak termoderasi dan terkooptasi. FNB sendiri memiliki tiga prinsip, yang selain dua prinsip diatas (keputusan bersama dan dunia tanpa kekerasan) mereka menambahkan satu point lagi, yaitu vegetarianisme. Dan dengan bersikap seperti diatas tadi, mereka meletakkan prinsip-prinsip mereka ke dalam aksi, dan hal itulah yang memberi ide-ide mereka sebuah arti dan nilai yang mendalam. FNB mengkombinasikan ide-ide tersebut dengan prinsip desentralisasi, penguatan kolektif dan individual, feminisme dan strategi pengorganisiran anti hirarkis. Dengan ini kita juga harus mulai meniadakan konsep-konsep yang mendefinisikan aktifitas pembagian makanan gratis sebagai tindakan 'amal'. Pola pikir 'amal' telah gagal menemukan inti penyebab kelaparan dan kemiskinan, serta cenderung membantu mendanai sebuah krisis tanpa pernah berusaha menyerang struktur institusional yang menghasilkan ketidakadilan tersebut. Kita seharusnya lebih memfokuskan pada penentangan terhadap struktur kekuasaan yang patriarkis, didominasi kulit putih plus 'budaya barat'nya dan berbagai bentuk dominasi lainnya -baik dalam masyarakat kita, dalam organisasi kita dan dalam kesadaran kita sendiri. Ide-ide dan keyakinan seperti itulah yang harus diekspresikan dalam berbagai pertemuan, dituliskan dalam literatur-literatur dan disuntikkan ke dalam cara kita mengorganisir kelompok kita sendiri, serta dalam membangun solidaritas dengan grup, organisasi ataupun perjuangan lain. Ini semua adalah tentang diri kita, tentang pandangan politis kita yang memiliki visi akan sebuah dunia yang lebih baik, sebuah dunia yang berusaha kita bangun saat ini. Dan inilah alasan mengapa pembahasan masalah seperti ini menjadi sangat penting.
Untuk Anarkisme
Fokus pertama soal anarkisme biasanya berkutat disekitar kesalahpahaman atas pengertian anarkisme yang diartikan tidak lebih dari chaos dan perusakan. Prof. Howard Zinn, seorang pendukung FNB mendeskripsikan anarkisme dalam bukunya yang berjudul "Declaration Of Independent" sebagai berikut: "Anarkis, seperti yang saya amati dan pelajari, tidaklah percaya pada anarki seperti yang biasa dideskripsikan oleh banyak orang dan media -kekacauan, disorganisasi, chaos, kebingungan dan setiap orang bertindak semaunya. Sebagai kontrasnya, mereka percaya bahwa tatanan masyarakat dapat dan seharusnya terorganisir dalam berbagai bentuknya dimana orang-orang akan bekerja sama saat bermain dan bekerja, untuk membangun sebuah tatanan masyarakat yang lebih baik. Tapi anarkis juga menekankan bahwa setiap organisasi harus menghindari hirarki dan perintah dari atas; harus demokratis, keputusan bersama, meraih keputusan tersebut melalui diskusi yang konstan dan berbagi argumen."
Dia juga menambahkan, "Apa yang membuat saya tertarik dengan anarkisme adalah juga bahwa penolakannya bersifat total terhadap segala bentuk otoritas-otoritas negara, gereja dan dalam dunia kerja. Anarkis percaya bahwa jika kita bisa membangun sebuah tatanan masyarakat egaliter tanpa kemiskinan dan kemakmuran yang jauh terpisah, kita tak akan membutuhkan polisi, penjara, tentara, ataupun perang, karena penyebab utama semua masalah tersebut sudah lenyap."
Howard Zinn menulis beberapa pendahuluan dalam beberapa buku FNB dan secara konsisten terus menentang serangan polisi dan tindakan brutal dari pemerintah kota terhadap para anggota FNB di San Fransisco. Dalam beberapa artikel di koran-koran tentang kebrutalan pemerintah kota terhadap FNB, Zinn selalu tercantum di harian tersebut. Statement yang dia bacakan antara lain berkata, "FNB memprotes sebuah sistem yang gagal untuk memberi orang-orang kebutuhan dasarnya."
Anarkisme adalah sebuah gerakan demi sebuah dunia dimana kekerasan rasis, seksis, homofobik, kapitalisme dan sejenisnya dilenyapkan dari kehidupan kita sehari-hari. Anarkisme adalah sebuah keyakinan akan terbentuknya sebuah dunia dimana perang dan kemiskinan tak akan ada lagi. Anarkisme adalah filosofi dan gerakan yang bertujuan membangun sebuah struktur ko-operasi, egaliter dan struktur sosial yang mempromosikan mutual-aid, kontrol demokrasi radikal atas keputusan politik dan ekonomi, serta berwawasan lingkungan. Jadi bagaimana hal-hal seperti diatas dapat diterapkan secara langsung melalui aksi-aksi FNB?
Anarkisme dan Konsensus (Pengambilan Keputusan Bersama)
Konsensus adalah sebuah bentuk pengambilan keputusan yang berdasarkan pada prinsip-prinsip anarkis. Konsensus adalah sebuah bentuk pengambilan keputusan yang dalam prosesnya bertujuan untuk membagi kekuatan diantara orang-orang agar semua dapat berpartisipasi dalam memperkuat dan mengimplementasikan keputusan kolektif. Konsensus juga bertujuan untuk membangun sebuah organisasi non-hirarkis yang mengkounter rasisme, seksisme, homofobia dan berbagai bentuk penindasan serta dominasi yang hanya menguntungkan sebagian orang saja dan memposisikan orang lain tanpa memiliki kekuatan dan suara. Karena kita bertujuan membangun sebuah organisasi - dan juga komunitas dan tatanan masyarakat - yang saling berbagi kekuatan dan memapankan kesetaraan, kita harus terus melawan hirarki. Anarkisme dan konsensus berjalan beriringan seperti layaknya sop hangat dan roti yang baru.
Anarkisme dan Vegetarianisme
Organisasi-organisasi yang membagi-bagikan makanan gratis seperti FNB hanya menyediakan makanan vegetarian sebagai aksi politis melawan industri daging beserta variannya, serta mempromosikan pendekatan lingkungan, distribusi makanan serta sumber bahan pangan ke seluruh dunia dengan merata, mempromosikan hidup lebih sehat, serta mendukung pembebasan hewan.
Komitmen kelompok-kelompok seperti FNB terhadap isu-isu seperti itu telah membangun koalisi yang kuat dengan organisasi lingkungan seperti Earth First! dan berbagai macam lainnya dan juga dengan organisasi-organisasi pembebasan hewan seperti ALF (Animal Liberation Front). Anarkisme menentang eksploitasi dan dominasi dunia yang merupakan karakteristik dari ekspansi kapitalisme. Anarkisme bertujuan tidak hanya merubah hubungan antar sesama manusia, tetapi juga hubungan antara manusia dengan bumi dan lingkungannya.
Anarkisme dan Sikap Tanpa Kekerasan
Banyak orang mulai memperdebatkan apakah anarkisme dan sikap tanpa kekerasan saling berkaitan. Sebagian anarkis berpendapat bahwa anarkisme dan sikap tanpa kekerasan tidak dapat dipisahkan. Untuk membahas masalah diatas mari kita lihat kembali pada sejarah tentang terjadinya negara. Christopher Day dari Love and Rage Revolutionary Anarchist Federation menulis, "Negara - yang kita artikan dengan keberadaan polisi, tentara, penjara, pengadilan, berbagai birokrasi pemerintah baik legislatif dan eksekutif - adalah alat pengontrol dan penekan dari yang berkuasa. Negara mempertahankan kekerasan yang legal dan terorganisir." Lebih lanjut Day menyatakan, "Negara telah selalu menjadi instrumen perang. Adalah sesuatu yang tak mungkin untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat tanpa peperangan dalam sebuah tatanan masyarakat yang masih didominasi oleh negara."
Dalam buku FNB yang berjudul 'Feeding The Hungry and Building Community' dijelaskan, "Nama FNB menyatakan prinsip kami yang paling fundamental; tatanan masyarakat harus mempromosikan kehidupan bukan kematian. Tatanan masyarakat sudah mentolerir bahkan mempromosikan kekerasan dan dominasi. Kekuatan penguasa adalah hasil dari ancaman dan penggunaan kekerasan."
Negara dan bentuk representasi dari kapitalisme, dominasi dan patriarki, mengkonsentrasikan kekuatan kepada beberapa orang saja yang secara sistematis mengesampingkan kekuatan mayoritas umat manusia. Kekerasan yang eksis dalam kehidupan sehari-hari merupakan hasil dari pengingkaran kekuatan atas hidup seseorang. Kekerasan terjadi dengan banyak cara, setiap hari, sebagai hasil dari ketidakaadilan sistem. Baik itu hadir melalui sistem sewa, makanan dengan pestisida dan label harga yang menyembunyikan penindasan terhadap para buruhnya, sistem pajak, bekerja pada seseorang yang sudah kaya, malnutrisi, sweeping polisi terhadap gelandangan, pemaksaan sterilisasi pada perempuan di negara Dunia Ketiga, pengasingan sosial terhadap orang miskin dan masih banyak problem lainnya.
Jadi apa hubungan antara anarkisme dan sikap tanpa kekerasan? Kita harus menelaah kembali sejarah yang panjang dari gerakan dan perlawanan anarkis yang pernah eksis dan kita akan menemukan fakta bahwa anarkisme dan perjuangan demi sebuah dunia yang tanpa kekerasan mempunyai sejarah yang panjang.
Dalam penelitian yang ditulis tahun 1932 dengan judul 'Native (Born) American Anarchism' yang mendiskusikan tentang pengaruh Henry David Thoreau yang dikembangkan melalui pembangkangan sipil, Eunice Schuster menyebut Thoreau sebagai "bukan hanya anarkis dalam pemikirannya, tapi juga dalam aksinya". Aksi pembangkangan sipil yang dilakukan Thoreau selama perang Amerika melawan Meksiko telah mempengaruhi banyak teori-teori dan praktek tanpa kekerasan.
Leo Tolstoy juga mengambil inspirasi dari Thoreau dan mengembangkan ide-idenya sendiri dalam sikap yang tanpa kekerasan. Robert L. Holmes dalam bukunya yang berjudul 'Non-Violence In Theory and Practice' menuliskan, "Tolstoy menggabungkan pemahaman agama Kristen kepada apa yang dia lihat sebagai kesimpulan logis: pengingkaran ini bukan hanya berasal dari perang yang merupakan kekerasan terorganisir, tetapi juga dari pemerintah yang merupakan kekerasan institusional, dan hal inilah yang menimbulkan perang."
Dalam kata pengantar dari buku berjudul 'Government Is Violence: Essays on Anarchism and Pacifism' karangan Leo Tolstoy tertulis, "Tolstoy menyarankan cara pencapaian anarki dengan sesuatu yang sekarang dikenal sebagai pembangkangan sipil dan aksi langsung tanpa kekerasan... Tolstoy mengadvokasikan perlawanan moral yang tanpa kompromi terhadap penguasa."
Gandhi menulis tentang Tolstoy dalam autobiografinya, "40 tahun yang lalu, ketika saya melewati masa krisis skeptis dan keraguan yang hebat, saya membaca buku Tolstoy yang berjudul 'The Kingdom Of God Is Within You' dan sangat terkesan. Saat itu saya masih percaya dengan kekerasan. Buku itu menyembuhkan sikap skeptis saya dan membuat saya menjadi seorang yang yakin akan ahimsa (tanpa kekerasan)... dia adalah tokoh anti kekerasan yang hebat yang lahir di abad ini."
Ide-ide anarkis juga terinspirasi oleh ide-ide Gandhi tentang bentuk tatanan masyarakat yang diidam-idamkan. Dalam buku berjudul 'Gandhi Today', Mark Shepard menjelaskan: "India dapat menjadi kuat dan sehat hanya dengan merevitalisasi desa-desa dimana empat dari lima orang tinggal, seperti yang dituntut oleh Gandhi. Dia memimpikan sebuah tatanan masyarakat yang terdiri dari desa-desa yang kuat, dimana setiap desa memiliki otonomi politik dan ekonomi sendiri. Dalam kenyataannya Gandhi adalah tokoh terbesar dari desentralisasi di abad ini - menempatkan kekuatan politik dan ekonomi pada level lokal."
Setelah Gandhi dibunuh, orang yang dikenal sebagai pewaris spiritual Gandhi, Vinoba Bhave memimpin beberapa kampanye besar untuk mengklaim kembali tanah bagi kaum miskin. Tahun 1951 Bhave dan banyak buruh dari Sarva Seva Sangh, memulai gerakan Bhoodon (Hadiah Tanah). Banyak yang menganggap bahwa Bhave adalah orang suci dalam tradisi Hindu, dan saat dia memulai perjalanan keliling negara untuk menuntut beberapa akre tanah dari para tuan tanah, dia menerima hadiah berupa tanah yang kemudian diberikan pada kaum miskin. Satu sepertiga juta akre yang diklaim oleh kaum miskin (lebih dari sekedar manajemen program Land-Reform yang diusulkan oleh pemerintah India). Bhave juga terlibat dalam proyek-proyek dan kampanye lainnya yang mempunyai prinsip revolusi tanpa kekerasan. Bhave adalah seorang anarkis.
Amerika mempunyai sejarah panjang tentang anarkisme tanpa kekerasan. Salah satu kelompok pertama yang tertulis dalam sejarah adalah New England Non-Resistance Society. Mereka menegaskan bahwa pemerintah, hukuman mati, perang dan ketidakadilan sangat bertentangan dengan ajaran Kristen. Kelompok tersebut, termasuk didalamnya William Llyod Garrison, terlibat dalam gerakan abolisionis yang berjuang untuk mengakhiri perbudakan di Amerika.
Saat Amerika memasuki Perang Dunia I, anarkis berada di garis depan gerakan anti perang. Tahun 1016, Emma Goldman, Alexander Berkman dan yang lainnya mengorganisir 'No Conscription League'. Dengan kelompok tersebut mereka mengorganisir demostrasi, protes dan march. Mereka mempublikasikan sebuah manifesto yang didalamnya tertulis: "No Conscription League dibentuk dengan tujuan mendorong para anti wajib militer untuk menolak berpartisipasi dalam membunuh sesama mereka." Berkman dan Goldman ditangkap karena dianggap melanggar hukum. Tahun 1918 pemerintah mengeluarkan undang-undang bernama 'Espionage Act' yang membuat literatur anti-perang menjadi ilegal, dan undang-undang ini digunakan untuk melawan sebuah kelompok yang terdiri dari lima orang anarkis termasuk Mollie Steimer. Kelompok tersebut mendistribusikan koran dengan cara menyelipkan koran-koran tersebut ke kotak pos di setiap rumah pada malam hari, dan menulis beberapa leaflet yang isinya menentang UU tersebut. Salah satu dari terdakwa, Jacob Schwartez, tidak pernah diajukan ke pengadilan. Dia disiksa polisi selama interogasi dan meninggal saat dibawa ke rumah sakit. Sisa dari kelompok tersebut dianggap bersalah dan dideportasi ke Russia pada tahun 1921 atas aktivitas anti-perang mereka.
Selain mereka, masih ada yang menentang perang, antara lain Dorothy Day. Dia bersama dengan Peter Maurin, mempelopori gerakan buruh Katolik. Nancy Robert dalam anthologinya 'American Radical' menulis tentang gerakan tersebut, "Mereka mempunyai rencana yang berdasarkan tiga point yang sesuai dengan nilai-nilai Kristen untuk melakukan aksi-aksi sosial yang radikal. Maurin memimpikan sebuah komunitarian, gerakan anarkis yang menawarkan diskusi, forum-forum dan ceramah, rumah sakit di setiap kota yang memberi makan dan tempat tinggal bagi kaum miskin dan gelandangan, dan peternakan komunal yang akan menghancurkan tatanan masyarakat industri dan membentuk unit-unti organik dimana semua orang hidup dan belajar dalam sebuah komunitas."
Pada akhirnya, sekitar 200 rumah yang dijadikan rumah sakit dibuka di banyak negara khususnya di Amerika Serikat. Ide yang mendasari berdirinya rumah-rumah tersebut diterangkan oleh Walter Brueggman sebagai berikut, "perasaan kasihan mengangkat sebuah bentuk kritik yang radikal dimana mereka yang miskin dan kelaparan harus diperhatikan dengan serius, kondisi dimana mereka seharusnya tidak dianggap normal dan alami, tetapi dianggap sebagai kondisi yang tidak manusiawi yang tidak dapat diterima." Rumah-rumah tersebut dalam struktur masyarakat yang berorientasi profit bukan hanya merupakan sebuah bentuk perlawanan tetapi juga merupakan sebuah alternatif. Pada 1 Mei 1933, gerakan buruh Katolik tersebut menerbitkan koran yang dijual dengan sangat murah. Koran tersebut menjelaskan kaitan antara perdamaian dan keadilan sosial, serta meliput banyak aksi-aksi pembangkangan sipil yang dilakukan oleh gerakan buruh Katolik dan berbagai kelompok buruh radikal lainnya melawan militerisme. Dalam bukunya yang berjudul 'The Spirit of The Sixtiest: The Making of Post-War Radicalism', James Farrell menulis, "Pasifisme, personalisme dan anarkisme dari gerakan buruh Katolik menempati halaman pertama koran mereka. Dan koran tersebut mempromosikan sebuah revolusi dengan ide-idenya." Farrel menulis bahwa dalam beberapa tahun, sirkulasi koran tersebut mencapai oplah 100.000 eksemplar dan tahun 1938 oplah mereka mencapai 190.000 eksemplar. Selama Perang Dunia II gerakan buruh Katolik tersebut dilarang karena sikap pasifis mereka dan beberapa aktifisnya dipukuli di jalanan saat mendistribusikan korannya.
Selama lebih dari 50 tahun, Dorothy Day berkomitmen penuh terhadap perdamaian, keadilan sosial dan revolusi tanpa kekerasan. Pada tahun 1983, uskup Katolik Amerika melihat adanya indikasi pergeseran sejarah dalam pelajaran tentang perang dan perdamaian saat tertulis bahwa pasifisme tidak dapat diterima baik secara moral ataupun politik bagi umat Katolik. Dulu Day bersama dengan Martin Luther King Jr. dikenal sebagai 'saksi tanpa kekerasan' yang memiliki 'pengaruh kuat dalam kehidupan gereja di Amerika Serikat'.
Dorothy Day yang selalu dijuluki 'Head Anarch' oleh editor koran gerakan buruh Katolik, dijuluki juga sebagai 'First Lady of American Catholism' dan beberapa malah memberi petisi kepada Vatikan agar mendeklarasikan dia sebagai seorang Santa. Anarkisme menurut Day adalah, "Ditingkatkannya tanggung jawab seseorang kepada orang lain, dari individu kepada komunitas, dan disaat yang sama mengurangi ketergantungan terhadap sentralisme negara."
Salah satu dari gerakan yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Amerika Serikat adalah gerakan Civil Rights. Satu dari grup-grup kunci gerakan tersebut adalah Student Non-Violent Coordinating Committee (SNCC). Kelompok tersebut lahir dari gerakan 'aksi duduk' yang pernah sempat populer di daerah selatan pada tahun 1060 dalam aksi protes menentang sistem Apartheid dari 'Jim Crow Laws'. Saat SNCC tidak pernah secara formal mendeklarasikan diri mereka sebagai sebuah grup anarkis, struktur organisasi mereka bermodelkan anti-otoritarian, desentralisasikan dan demokrasi serta mereka menggunakan aksi langsung dalam perjuangan mereka bagi masyarakat egaliter. SNCC memainkan sebuah peran penting dalam aksi "Freedom Rides", sebuah kampanye 1964 "Freedom Summer", yang merupakan sebuah formasi dari partai politik 'Mississippi Freedom Democratic Party' yang menentang rasisme dalam tubuh partai demokratik. Mereka telah meninggalkan sebuah ide dari aktivisme dan pengorganisiran radikal yang penting bagi siapapun yang berjuang demi perubahan sosial saat ini. Pola gerak mereka seperti pembangunan komunitas merupakan taktik aksi langsung tanpa kekerasan yang banyak digunakan oleh kelompok-kelompok seperti FNB.
Ella Baker adalah salah seorang yang menolong membentuk SNCC. Dia adalah seorang organisator selama bertahun-tahun dalam partai komunis NAACP dan membantu membangun 'Southern Christian Leadership Conference' dimana Martin Luther King Jr. terpilih sebagai presidennya. Baker yakin akan dibutuhkannya aksi-aksi langsung dan demokrasi partisipatoris dalam membentuk sebuah perubahan sosial. Dia juga yakin bahwa sebuah grup yang sukses harus menerapkan pola kepemimpinan yang datang dari grup itu sendiri, bukannya kepemimpinan yang datang dari seorang pemimpin: orang yang kuat tidak membutuhkan pemimpin yang kuat. Dalam bukunya yang berjudul: "Women In The Civil Rights Movement": Trailblazers dan Torchbearers, Carol Mueller menampilkan sebuah chapter tentang Ella Baker dan pengembangan demokrasi partisipatoris. Mueller mengidentifikasikan ide-ide Baker tentang demokrasi partisipatoris sebagai berikut: 1. Seruan bagi orang-orang yang bergerak di level grass root dalam masyarakat dimana mereka memiliki kontrol atas diri mereka sendiri. 2. Meminimalisir hirarki dan profesionalisme yang selalu menjadi dasar bagi masalah kepemimpinan. 3. Sebuah seruan akan perlunya aksi langsung sebagai sebuah jawaban atas ketakutan dan alienasi yang eksis dalam masyarakat. Eksperimentasi dari demokrasi partisipatoris dalam SNCC dipengaruhi oleh gerakan sosial yang sangat luas. Mueller juga menulis: "Demokrasi partisipatoris dan pengambilan keputusan secara konsensus dilakukan dari proyek pendaftaran pemilih bagi SNCC di Mississippi dan Georgia hingga proyek SDS (Student for a Democratic Society) yang berkembang di daerah kumuh kota-kota daerah utara pada pertengahan tahun 60-an, hingga kelompok kepedulian pembebasan perempuan di akhir tahun 60 dan awal 70-an, hingga group-group afinity yang tergabung dalam gerakan anti-nuklir di akhir 70-an dan awal 80-an".
Anarkisme dan sebuah dunia tanpa kekerasan bukan hanya saling berkaitan tapi juga tidak dapat dipisahkan. Saat bagian ini didiskusikan dengan melihat berbagai contoh dari sejarah yang harus di klaim kembali dan di ingat bahwa contoh-contoh tersebut telah menawarkan kita inspirasi dalam perjuangan demi sebuah tatanan dunia baru saat ini. Tidak seharusnya kita mengesampingkan berbagai gerakan yang diwarnai dengan kekerasan dalam sejarah anarkisme, tapi selama ini taktik pasifis tertutupi oleh contoh-contoh aksi revolusioner yang penuh kekerasan. Lebih jauhnya lagi aksi-aksi dengan kekerasan harus dilihat dan diletakkan dalam konteks situasi dan waktu sehingga kita dapat mengerti kaitan gerakan tersebut dengan perlawanan terhadap institusi sistem yang penuh kekerasan. Kita tidak akan pernah menemukan perdamaian selama kekuatan tiap orang dipisahkan dari hidup mereka.
Tetapi anarkisme sangat tidak populer dan selalu di salah artikan. Ya. Hal tersebut memang tidak populer dan selalu di salah artikan, tetapi dengan tetap diam dan tidak mau menyatakan keyakinan akan politik yang kita miliki tidak akan menghasilkan apa-apa selain hanya memperkuat struktur sistem saat ini. Saat orang-orang menentang perbudakan, saat orang-orang menuntut persamaan bagi perempuan dan kulit berwarna, saat orang-orang mengorganisir diri mereka menentang perang, saat orang-orang berjuang untuk upah dan kondisi kerja yang lebih baik, saat orang-orang mulai berdiri mempertahankan hak-hak mereka yang ditindas, diserang, dipenjarakan, dan bahkan dibunuh, saat itulah kekuatan itu kembali pada diri kita.
Dalam bukunya yang berjudul "Anarchism and Black Revolution", Lorenzo Ervin menulis: "Sebagai sebuah bentuk praktek, anarkis-komunis percaya bahwa kita harus membangun tatanan masyarakat baru saat ini juga disamping terus berusaha untuk menghancurkan kapitalisme. Kita harus terus berusaha menciptakan organisasi-organisasi mutual aid anti-otoritarian untuk makanan, pakaian, perumahan, pengumpulan dana bagi proyek komunitas, dan sebagainya diantara lingkungan bertetangga kita tanpa perlu berafiliasi dengan pemerintah atau korporasi bisnis, dan tidak menjalankannya dengan tujuan meraih profit, melainkan demi kebutuhan sosial. Beberapa organisasi telah terbangun saat ini dan memberikan kepada anggota-anggotanya pengalaman praktek manajemen diri yang akan mengurangi ketergantungan orang-orang pada sistem. Pendeknya kita dapat mulai membangun infrastruktur bagi masyarakat komunal, sehingga orang-orang dapat melihat apa yang mereka perjuangkan dan untuk apa, bukan hanya sekedar ide di kepala seseorang. Dan itulah jalan menuju kebebasan".
Kita dapat membuat ide-ide ko-operasi, mutual-aid, solidaritas, egalitarianisme dan tatanan masyarakat tanpa kekerasan menjadi popular, tapi hanya melalui aksi yang kita lakukan dan politik yang kita terapkan yaitu politik dalam kehidupan sehari-hari. Politik yang dekat dengan realita dalam kehidupan yang dijalani oleh masyarakat kita, karena semakin jauh politik kita dengan yang kita hadapi sehari-hari maka semakin tidak dapat di mengerti dan tidak berhubungannya politik tersebut dengan hidup kita.
Salah satu cara menerapkan politik radikal dalam tatanan masyarakat di mana masih terdapat banyak sekali kemiskinan dan kelaparan, adalah dengan menyediakan makanan gratis.
Info mengenai gerakan Food Not Bombs-Internasional bisa diakses di http://www.foodnotbombs.net
Sementara jaringan komunikasi dan informasi gerakan Food Not Bombs lokal bisa diikuti dengan bergabung dalam mailing-list Food Not Bombs-Indonesia di http://groups.yahoo.com/group/fnbind
diambil paksa dari http://sayap-imaji.blogspot.com
14.2.04
Ular-ular dalam Rumah
Musim hujan tahun ini terasa lain di sini. Tak seperti tahun lalu, tahun ini hujan seperti mengusik ular-ular di dunianya di bawah sana. Jauh, jauh di bawah sana, tempat seribu ular bersemayam, beranak-pinak, menyusun kerajaannya. Tapi hujan seperti membanjiri mereka dengan air, menyebabkan mereka, kini, menyerbu rumah ini. Tiap sudut rumah ini kini dikuasai ular, di atas kasur, di jalan menuju kamar mandi, di depan pintu masuk, di ruang tengah, di halaman rumah, di kebun samping, di langit-langit, dan itu…bahkan di atas meja makan.
Aku tak tahu apakah ular begitu takut dengan genangan air. Hujan rasanya biasa saja, tak lebih hebat dari tahun lalu. Dimulai bulan kesembilan dan—biasanya—selesai bulan ketiga tahun berikutnya. Tapi entahlah, ular-ular itu seperti terusik benar. Adakah air hujan kali ini berasa lain? Lebih dingin barangkali, atau lebih panas, sehingga membuat kulit-kulit ular itu melepuh dan mengelupas? Atau terasa asam, membuat lidah ular-ular itu kecut dan membikin mual perutnya?
Yang jelas ular-ular itu kini membuatku beranak-pinak meninggalkan rumahku sendiri untuk sekian waktu. Mengungsi ke rumah tetangga. Iya, rumah tetangga, sesuatu yang membuatku gusar, karena kenapa hanya rumahku di kampung ini yang diserbu ular. Ular seribu macam. Ular seibu warna. Ular yang menggelikan sekaligus mengerikan. Hal yang kemudian membuat sebagaian penduduk iba kepadaku, dan sebagian lainnya marah dan menuduhku macam-macam. Yang menyakitkan ialah mereka yang menuduh kami sekeluarga sebagai pemuja iblis dan lalu berkhianat kepadanya sehingga iblis itu mengirimkan ular-ular itu ke rumah kami sebagai suatu hukuman. Mereka—yang marah kepadaku—menyesaliku karena takut ular-ular itu akan berkelana juga ke rumah-rumah mereka, masuk ke dalamnya, atau memakan ternak-ternaknya. Anak-anakku lantas dijauhi oleh teman-temannya, istriku menjadi bahan gunjingan tetangga, dan aku, aku selalu menjadi sasaran kemarahan para tetanggaku yang marah itu.
Tapi Sukidi, kawan baikku, rumahnya tempat kumengungsi sekarang, kupikir ialah satu-satunya manusia di kampung ini. Ular tak masuk ke rumahnya, padahal jarak rumahku ke rumahnya hanya dibatasi sebidang kebun singkong yang kini dikuasai ular-ular. Kebunku dan kebunnya hanya dibatasi pagar bambu, pagar bambu jarang-jarang.
Kenapa? Kenapa pikirku, kenapa dengan rumahku, kenapa ular-ular itu hanya memilih rumahku, bukan Rusdi si penjudi itu, atau Subhan yang suka main perempuan itu. Kenapa?
Ini hari keenam sejak rumahku dikuasai ular-ular itu. Hampir seminggu. Dan aku hampir putus asa dengan usahaku untuk menyingkirkan ular-ular itu. Aku dan Sukidi, juga tetangga-tetangga lain yang peduli, menyingkirkan ular-ular itu. Satu hal yang kupegang teguh, aku tak akan membunuh salah satu di antara ular-ular itu. Biar mereka membunuhnya, aku tak mau. Bagiku, pembunuhan tetap pembunuhan, sekalipun ular-ular itu sudah sedemikian merepotkanku. Ini barangkali yang membuat beberapa tetangga merasa heran dan akhirnya berhenti membantuku untuk menyingkirkan ular-ular itu. Selama ini, bagiku cukup dengan menangkap ular-ular itu, memasukannya ke dalam karung, dan kemudian dilepaskan di tengah hutan sana. Tapi tidak bagi mereka, ular-ular itu harus mati, harus dibunuh, agar tak kembali lagi, “lagian, mereka sudah mulai meresahkan seisi kampung”, kata Subhan.
Dan begitulah. Sampai kemudian beberapa minggu setelah itu, ular-ular itu masih tetap menguasai rumahku. Jumlahnya memang berkurang, setidaknya tidak sebanyak ketika minggu pertama, tapi—ini yang kusesali—mereka masih saja menguasai tempat-tempat yang bagiku strategis. Bagaimana aku bisa menempati rumah itu, kalau jalan menuju kamar mandi masih dipenuhi ular-ular, atau di kamar tidurku dan istriku, atau juga di dekat bak mandi, ular-ular itu masih di sana, seakan bertahta.
Tentunya usahaku bukan hanya menyingkirkan ular-ular itu, beberapa orang pintar pun sudah aku hubungi, mereka hanya melihat rumahku, tapi semua orang pintar yang kuhubungi selalu berkata itu ular biasa, bukan santet, bukan ular kiriman, usir saja, atau dibunuh saja.
Heran, bagiku ini sangat mengherankan. Bagaimana mungkin ular-ular itu adalah sejenis ular biasa, mengapa hanya di rumahku, padahal rumah Sukidi yang jaraknya tak lebih dari limabelas meter dari rumahku aman-aman saja, bahkan kebunnya, yang berbatasan langsung dengan kebunku, tidak disinggahi ular-ular itu.
Perlahan aku yakin, ular-ular itu adalah ular-ular kiriman, atau ular-ular santet, atau ular-ular yang dikirimkan iblis kepadaku sebagai hukuman. Tapi apa salahku? Pekerjaanku sebagai seorang pegawai rendahan di kantor pemerintahan tentunya bukan suatu yang pantas untuk dimusuhi, sehingga aku harus disantet, diteluh, dikirimi ular-ular. Lalu sejak kapan aku menjadi pemuja iblis? Tidak, tidak pernah, orangtuaku adalah guru ngaji di kampung kelahiranku. Atau istriku? Ah tidak, tidak mungkin, seorang wanita baik-baik dari keluarga yang baik-baik pula, juga cukup berada. Dialah yang selama ini selalu menasihatiku agar bersabar dalam menjalani hidup sebagai pegawai rendahan, “toh, kita masih punya kebun untuk kita makan hasilnya”, katanya setiapku mengeluh. Anak-anakku? Segera kusingkirkan pikiran ini, anakku yang terbesar baru berumur delapan tahun.
***
Musim hujan tahun ini memang terasa lain, padahal hujan datang seperti biasanya, mulai di bulan kesembilan dan selesai—biasanya—di bulan ketiga tahun berikutnya. Tapi entahlah, sejak kematian kepala operasional di kantorku, dan kemudian diganti oleh seorang muda dari pusat, musim hujan kali ini seperti menyisakan banyak hal di kantor ini. Mulai dari pemutasian-pemutasian yang terlihat tak wajar, lalu proyek-proyek yang datang tak seperti biasa, juga datangnya orang-orang baru yang kemudian langsung menempati posisi-posisi straregis di kantorku. Semuanya berkesan aneh.
Adakah hujan kali ini berasa lain? Lebih dingin barangkali?
Jatinangor, April 2002
Musim hujan tahun ini terasa lain di sini. Tak seperti tahun lalu, tahun ini hujan seperti mengusik ular-ular di dunianya di bawah sana. Jauh, jauh di bawah sana, tempat seribu ular bersemayam, beranak-pinak, menyusun kerajaannya. Tapi hujan seperti membanjiri mereka dengan air, menyebabkan mereka, kini, menyerbu rumah ini. Tiap sudut rumah ini kini dikuasai ular, di atas kasur, di jalan menuju kamar mandi, di depan pintu masuk, di ruang tengah, di halaman rumah, di kebun samping, di langit-langit, dan itu…bahkan di atas meja makan.
Aku tak tahu apakah ular begitu takut dengan genangan air. Hujan rasanya biasa saja, tak lebih hebat dari tahun lalu. Dimulai bulan kesembilan dan—biasanya—selesai bulan ketiga tahun berikutnya. Tapi entahlah, ular-ular itu seperti terusik benar. Adakah air hujan kali ini berasa lain? Lebih dingin barangkali, atau lebih panas, sehingga membuat kulit-kulit ular itu melepuh dan mengelupas? Atau terasa asam, membuat lidah ular-ular itu kecut dan membikin mual perutnya?
Yang jelas ular-ular itu kini membuatku beranak-pinak meninggalkan rumahku sendiri untuk sekian waktu. Mengungsi ke rumah tetangga. Iya, rumah tetangga, sesuatu yang membuatku gusar, karena kenapa hanya rumahku di kampung ini yang diserbu ular. Ular seribu macam. Ular seibu warna. Ular yang menggelikan sekaligus mengerikan. Hal yang kemudian membuat sebagaian penduduk iba kepadaku, dan sebagian lainnya marah dan menuduhku macam-macam. Yang menyakitkan ialah mereka yang menuduh kami sekeluarga sebagai pemuja iblis dan lalu berkhianat kepadanya sehingga iblis itu mengirimkan ular-ular itu ke rumah kami sebagai suatu hukuman. Mereka—yang marah kepadaku—menyesaliku karena takut ular-ular itu akan berkelana juga ke rumah-rumah mereka, masuk ke dalamnya, atau memakan ternak-ternaknya. Anak-anakku lantas dijauhi oleh teman-temannya, istriku menjadi bahan gunjingan tetangga, dan aku, aku selalu menjadi sasaran kemarahan para tetanggaku yang marah itu.
Tapi Sukidi, kawan baikku, rumahnya tempat kumengungsi sekarang, kupikir ialah satu-satunya manusia di kampung ini. Ular tak masuk ke rumahnya, padahal jarak rumahku ke rumahnya hanya dibatasi sebidang kebun singkong yang kini dikuasai ular-ular. Kebunku dan kebunnya hanya dibatasi pagar bambu, pagar bambu jarang-jarang.
Kenapa? Kenapa pikirku, kenapa dengan rumahku, kenapa ular-ular itu hanya memilih rumahku, bukan Rusdi si penjudi itu, atau Subhan yang suka main perempuan itu. Kenapa?
Ini hari keenam sejak rumahku dikuasai ular-ular itu. Hampir seminggu. Dan aku hampir putus asa dengan usahaku untuk menyingkirkan ular-ular itu. Aku dan Sukidi, juga tetangga-tetangga lain yang peduli, menyingkirkan ular-ular itu. Satu hal yang kupegang teguh, aku tak akan membunuh salah satu di antara ular-ular itu. Biar mereka membunuhnya, aku tak mau. Bagiku, pembunuhan tetap pembunuhan, sekalipun ular-ular itu sudah sedemikian merepotkanku. Ini barangkali yang membuat beberapa tetangga merasa heran dan akhirnya berhenti membantuku untuk menyingkirkan ular-ular itu. Selama ini, bagiku cukup dengan menangkap ular-ular itu, memasukannya ke dalam karung, dan kemudian dilepaskan di tengah hutan sana. Tapi tidak bagi mereka, ular-ular itu harus mati, harus dibunuh, agar tak kembali lagi, “lagian, mereka sudah mulai meresahkan seisi kampung”, kata Subhan.
Dan begitulah. Sampai kemudian beberapa minggu setelah itu, ular-ular itu masih tetap menguasai rumahku. Jumlahnya memang berkurang, setidaknya tidak sebanyak ketika minggu pertama, tapi—ini yang kusesali—mereka masih saja menguasai tempat-tempat yang bagiku strategis. Bagaimana aku bisa menempati rumah itu, kalau jalan menuju kamar mandi masih dipenuhi ular-ular, atau di kamar tidurku dan istriku, atau juga di dekat bak mandi, ular-ular itu masih di sana, seakan bertahta.
Tentunya usahaku bukan hanya menyingkirkan ular-ular itu, beberapa orang pintar pun sudah aku hubungi, mereka hanya melihat rumahku, tapi semua orang pintar yang kuhubungi selalu berkata itu ular biasa, bukan santet, bukan ular kiriman, usir saja, atau dibunuh saja.
Heran, bagiku ini sangat mengherankan. Bagaimana mungkin ular-ular itu adalah sejenis ular biasa, mengapa hanya di rumahku, padahal rumah Sukidi yang jaraknya tak lebih dari limabelas meter dari rumahku aman-aman saja, bahkan kebunnya, yang berbatasan langsung dengan kebunku, tidak disinggahi ular-ular itu.
Perlahan aku yakin, ular-ular itu adalah ular-ular kiriman, atau ular-ular santet, atau ular-ular yang dikirimkan iblis kepadaku sebagai hukuman. Tapi apa salahku? Pekerjaanku sebagai seorang pegawai rendahan di kantor pemerintahan tentunya bukan suatu yang pantas untuk dimusuhi, sehingga aku harus disantet, diteluh, dikirimi ular-ular. Lalu sejak kapan aku menjadi pemuja iblis? Tidak, tidak pernah, orangtuaku adalah guru ngaji di kampung kelahiranku. Atau istriku? Ah tidak, tidak mungkin, seorang wanita baik-baik dari keluarga yang baik-baik pula, juga cukup berada. Dialah yang selama ini selalu menasihatiku agar bersabar dalam menjalani hidup sebagai pegawai rendahan, “toh, kita masih punya kebun untuk kita makan hasilnya”, katanya setiapku mengeluh. Anak-anakku? Segera kusingkirkan pikiran ini, anakku yang terbesar baru berumur delapan tahun.
***
Musim hujan tahun ini memang terasa lain, padahal hujan datang seperti biasanya, mulai di bulan kesembilan dan selesai—biasanya—di bulan ketiga tahun berikutnya. Tapi entahlah, sejak kematian kepala operasional di kantorku, dan kemudian diganti oleh seorang muda dari pusat, musim hujan kali ini seperti menyisakan banyak hal di kantor ini. Mulai dari pemutasian-pemutasian yang terlihat tak wajar, lalu proyek-proyek yang datang tak seperti biasa, juga datangnya orang-orang baru yang kemudian langsung menempati posisi-posisi straregis di kantorku. Semuanya berkesan aneh.
Adakah hujan kali ini berasa lain? Lebih dingin barangkali?
Jatinangor, April 2002
Subscribe to:
Posts (Atom)