19.9.15

Merah


"Sebel banget gue setiap liat loe dengan jaket merah loe itu," kata dia begitu saya sampai.

Saya membuka jaket merah yang dia maksud. Syal yang melingkar di leher juga saya lepas. Keduanya saya letakkan di atas tas yang saya taruh di samping kursi tempat saya duduk.

Kawan yang lain tak kuasa menahan tawa. "Entah sudah berapa banyak orang yang selalu ngomongin soal jaket merah ini," kata dia.

Saya hanya bisa ikut-ikutan tertawa.

Jaket merah itu saya beli lima atau enam tahun lalu, saya agak lupa kapan persisnya. Saya beli di Pontianak, Kalimantan Barat. Di deretan para penjual pakaian lelong, sebutan khas untuk pakaian bekas yang diimpor dari negara tetangga, saya temukan jaket berwarna merah itu. Saya tidak terlalu ambil pusing, apakah jaket itu bekas kepunyaan Nurul Izzah Anwar ataukah bekas kepunyaan Ipin-Upin.

Saat itu warna merahnya masih benar-benar merah. Lima atau enam tahun berlalu, warnanya sudah berubah menjadi merah jambu dan bahkan di sana-sini lebih banyak corak-corak putih. Waktu memang terkadang mujarab memudarkan warna-warna.

Dia tentu bukan orang pertama yang bicara soal jaket merah itu. Saat bermotor dan terjebak dalam kemacetan, seorang kawan tiba-tiba ada di samping. "Jaket loe masih ini-ini aja. Ampun...." kata dia. Teman yang lain, yang dengannya saya kerap minum kopi dan saling berbagi cerita, cukup sering geleng-geleng begitu saya tiba di warung kopi. "Masih saja itu jaket."

Jika dipikir-pikir, frekuensi saya untuk membeli pakaian baru, entah itu kaos, kemeja, sepatu, sandal, atau jaket, sangat bisa dibilang minim. Pakaian yang saya pakai ya itu-itu saja. Batik yang saya pakai untuk berkunjung ke tempat klien, juga itu-itu saja.  Apa sebabnya? Ya banyak. Beruntung tidak harus setiap hari saya masuk ke kantor atau ke tempat klien.

Tapi malam tadi, selepas seorang kawan mengatakan sebal sekali setiap kali melihat saya masih saja menggunakan jaket merah, ia mengeluarkan sebuah bungkusan.

"Ini, semoga muat. Ukurannya sih besar. Ayo coba dulu, pasti muat."

Saya terkejut. Sebuah jaket baru untuk saya. Saya kenakan dan, segala puji bagi setiap bintang yang bersinar terang pada malam itu, jaket tersebut pas di badan.

"Nah, besok-besok, silakan pakai jaket itu," kata teman saya.

Saya hanya mengucapkan terima kasih. Di atas langit saya lihat bulan tersenyum begitu manis.

"Cheers!"

No comments: