Saya Inginkan Seorang Istri
Saya termasuk dalam golongan yang dikenal banyak orang sebagai Istri. Saya seorang istri. Dan, bukan sambil lalu, saya juga seorang ibu.
Beberapa waktu lalu seorang kawan pria yang baru saja bercerai muncul. Ia memiliki seorang anak yang, tentu saja, dari mantan istrinya. Ia terlihat begitu antusias mencari seorang istri baru. Ketika memikirkan dia saat saya menyetrika pakaian, saya begitu saja terpikir untuk menginginkan hal yang sama dengannya: saya ingin seorang istri. Mengapa saya menginginkan seorang istri?
Saya begitu ingin kembali lagi ke kampus, yang mana dengan begitu saya dapat mandiri secara ekonomi, mampu untuk membantu diri saya sendiri, dan jika memang dibutuhkan, mampu membantu orang-orang yang menjadi tanggungan saya. Saya inginkan seorang istri yang akan bekerja dan mengirimkan saya ke universitas. Dan sementara saya sedang kuliah, saya ingin istri saya itu memerhatikan anak-anak. Saya inginkan seorang istri yang selalu bisa membuat janji ke dokter atau dokter gigi untuk anak-anak saya. Dan lalu menepatinya. Saya inginkan seorang istri yang akan memastikan anak-anak saya hanya memakan makanan yang pantas dan bersih. Saya inginkan seorang istri yang akan mencuci pakaian anak-anak saya dan akan segera memperbaikinya jika pakaian-pakaian itu ternyata rusak. Saya inginkan seorang istri yang bisa menjadi pengasuh yang baik untuk anak-anak saya, yang akan merencanakan dengan matang pendidikan mereka, yang bisa memastikan bahwa mereka memiliki kehidupan sosial yang baik dengan kawan sebayanya, membawa mereka ke taman-taman, ke kebun binatang, dan lain sebagainya. Saya inginkan seorang istri yang akan merawat anak-anak saya jika mereka jatuh sakit, seorang istri yang selalu ada di sekitar mereka jika mereka membutuhkan perawatan khusus, karena, tentu saja, saya tak bisa meninggalkan kelas di kampus saya. Istri saya itu harus bisa mencuri waktu saat ia bekerja tanpa harus kehilangan pekerjaannya. Itu mungkin akan berarti kehilangan sedikit pendapatan, tapi saya pikir saya bisa mentolerir itu. Tiada gunanya mengatakan istri saya akan mengatur dan membayar perawatan anak saya sementara istri saya bekerja.
Saya inginkan seorang istri yang akan menjaga kebutuhan fisik saya. saya inginkan seorang istri yang menjaga rumah saya tetap bersih. Seorang istri yang selalu siap di belakang saya. Saya inginkan seorang istri yang menjaga pakaian-pakaian saya tetap bersih, tersetrika rapi, tidak rusak, dan terletak pada tempatnya. Istri yang selalu memastikan bahwa semua barang-barang personal saya diletakkan pada tempatnya yang benar sehingga saya bisa menemukannya dengan cepat ketika saya membutuhkan barang-barang itu. Saya inginkan seorang istri yang memasakkan saya makanan, ya, istri saya haruslah seorang koki yang handal. Saya inginkan seorang istri yang pandai merencanakan menu, kemudian pandai berbelanja bahan-bahannya, menyiapkannya, dan lalu menyajikannya dengan begitu menyenangkan, dan setelah itu semua, ia akan membersihkannya sementara saya akan belajar. Saya inginkan seorang istri yang akan merawat saya ketika saya sakit dan ikut merasakan rasa sakit yang saya derita yang menyebabkan saya tak bisa pergi ke kampus. Saya inginkan seorang istri yang akan pergi jauh ketika keluarga saya akan mengambil liburan sehingga seseorang yang lain akan memerhatikan saya dan anak saya ketika saya butuh istirahat dan suasana baru.
Saya inginkan seorang istri yang tidak akan menyusahkan saya dengan ocehan-ocehan protesnya soal kewajiban-kewajiban seorang istri. Yang saya inginkan, seorang istri yang akan mendengarkan saya ketika saya merasa butuh untuk menjelaskan kesulitan-kesulitan yang saya temui dalam kuliah-kuliah saya. Dan saya inginkan seorang istri yang akan mengetikkan tugas-tugas kuliah saya.
Saya inginkan seorang istri yang akan memerhatikan detail-detail kehidupan sosial saya. Ketika saya dan istri saya diundang keluar oleh kawan-kawan saya, saya ingin istri saya itu akan mengatur perawatan anak saya. Ketika saya bertemu kawan-kawan kampus saya yang saya suka dan ingin sekali hiburan, saya ingin istri saya memastikan rumah saya tetap terjaga kebersihannya. Ia akan menyiapkan makanan spesial dan lalu melayani saya dan kawan saya serta tidak akan menyela ketika saya sedang berbicara tentang hal-hal yang menarik bagi saya dan kawan saya. saya ingin seorang istri yang akan memastikan anak saya sudah diberi makan dan siap untuk tidur sehingga anak saya itu tidak akan mengganggu saya dan kawan saya.
Dan saya inginkan seorang istri yang tahu bahwa sesekali saya butuh untuk berjalan-jalan sendirian saja di malam hari.
Saya inginkan seorang istri yang peka terhadap kebutuhan seksual saya. Seorang istri yang penuh gairah dan lebih bernafsu ketimbang saya justru ketika saya menginginkannya. Seorang istri yang memastikan bahwa saya merasa terpuaskan. Dan, tentu saja, saya inginkan seorang istri yang tidak butuh perhatian seksual ketika saya sedang tidak mood untuk hal-hal semacam itu. Saya menginginkan seorang istri yang mengerti betul permasalahan-permasalahan pengendalian angka kelahiran karena saya tidak menginginkan banyak anak. Saya inginkan seorang istri yang setia secara seksual sehingga kehidupan intelektual saya tidak akan terganggu oleh perasaan cemburu. Dan saya inginkan seorang istri yang mengerti bahwa kebutuhan seksual saya tidak hanya cenderung pada monogami. Setelah itu semua, saya harus mampu menjalin hubungan dengan orang lain sebanyak mungkin.
Jika dalam suatu kesempatan lain saya menjumpai seseorang yang lebih cocok ketimbang istri saya yang sekarang, saya ingin kebebasan untuk menjadikan orang lain itu sebagai istri saya. Hal yang alamiah, saya mengharapkan hidup baru yang fresh. Istri saya akan memelihara anak saya dan bertanggung jawab untuk mereka sehingga saya bebas.
Ketika saya telah menyelesaikan kuliah dan mempunyai pekerjaan, saya ingin istri saya keluar dari pekerjaannya dan tetap tinggal di rumah agar dapat menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang istri secara utuh.
Tuhanku, siapakah yang tidak menginginkan seorang istri?
Judy Syfers
(Artikel ini ditulis oleh Judy Syfers pada dekade 70-an. Pertama kali dimuat oleh majalah ‘Ms.’, sebuah majalah yang diterbitkan di New York oleh Ms. Foundation for Education and Communication Inc. Segmen majalah ini adalah perempuan muda. Majalah ini menjalankan kampanye-kampanye soal kesetaraan gender. Artikel ini terbit pertama kali di majalah Ms. pada tahun 1972. Tujuh tahun kemudian, artikel ini diterbitkan sebagai A Feminist Classic from the Early ‘70s. Saya menerjemahkannya di bulan April 2006. Catatannya, artikel ini diterjemahkan bukan dalam rangka memperingati Hari Kartini yang bagi saya lebih baik ditiadakan).
19.4.06
Kehilangan
Senja telah jauh, udara dingin mencuri masuk dari sela-sela jendela tak berkaca, pintu tak rapat. Dua orang teman memilih pergi demi pertandingan sepakbola. Saya sendiri. Dan tiba-tiba kamar ini mengingatkan saya pada sekian rentetan kehilangan.
Entah apa sebab, kehilangan terasa akrab di hidup saya. Benda-benda, nama-nama, waktu-waktu, kesempatan-kesempatan. Pernah ada, lalu raib.
Saya tiba-tiba teringat gitar kesayangan saya. Gitar hadiah ayah saya saat saya sekolah dulu. Keinginan bermain gitar begitu menggebu dalam diri saya, membuat saya membeli sebuah gitar rusak milik kawan saya dengan harga lima ribu rupiah. Tabungnya telah kacau, lepas dan mengakibatkan gitar itu tak pernah bisa mengeluarkan suara sebagaimana gitar harusnya bersuara. Saya lalu membeli lem kayu, dempul, dan amplas. Dalam beberapa hari, gitar rusak itu berubah menjadi gitar dengan penuh dempulan. Bisa bersuara, tapi tak terlalu bagus. Saya belajar memainkan gitar. Sampai suatu hari, tak lama setelah masa gitar dempulan itu, ayah saya mengajak saya pergi ke toko buku dan menyuruh saya memilih sebuah gitar baru. Itu sore yang indah dan sulit untuk saya lupakan. Sore itu saya punya gitar baru, YAMAHA C-310. Dawainya berbahan nylon, lembut disentuh oleh jari. Suaranya, catnya, begitu nyaman didengar dan dilihat. Malamnya saya belajar menyetem gitar sendiri, dan bisa. Sejak malam itu, hingga malam-malam berikutnya, saya punya teman pengantar tidur: gitar. Beberapa lagu saya pelajari. Lambat laun, saya mulai menciptakan lagu, membuat liriknya, mengkhayalkan aransemennya, dan memberi tahu kawan-kawan saya. Jika sempat, saya dan kawan-kawan saya memainkannya dalam studio band sewaan.
Sebelum berangkat sekolah, setelah pulang sekolah, sebelum tidur, setelah bangun tidur, saat tak bisa tidur, saya kerap memetik gitar saya. Saya begitu disiplin dengan gitar itu: saya akan membersihkannya dengan lap bersih secara berkala dan saya tak akan menyentuh gitar saya itu setelah saya memegang makanan dan belum membersihkan tangan saya.
Hingga kemudian saya harus pergi ke luar kota demi bangku universitas. Gitar itu saya bawa dan tetap menjadi teman tidur saya yang setia. Di suatu hari minggu yang ramai, beberapa kawan yang menggelar aksi simpatik di tengah pasar, membawa gitar saya sebagai properti aksi. Mereka bernyanyi-nyanyi dan berorasi seraya membagi-bagikan selebaran. Itulah untuk pertama kalinya gitar saya punya luka di badannya. Luka kecil, tapi cukup membuat saya bersedih.
Lalu pernah juga saya dan kawan-kawan saya memutuskan untuk menghabiskan malam tahun baru dengan ber-camping. Kami naik ke dataran tinggi Bandung Selatan. Camping tanpa tenda. Udara dingin dan gerimis turun. Gitar itu sedikit basah dan bersuara parau. Sepulangnya, saya sibuk merawat gitar saya, menjemurnya di bawah matahari pagi, memasukkan kapur barus agar jamur tak tumbuh. Gitar itu kembali bugar.
Dan yang tak terlupakan adalah saat hujan turun begitu lebatnya dan saya tertidur di suatu siang. Kamar kost saya bocor tanpa saya ketahui. Sialnya, tetesan bocor itu jatuh tepat ke dalam lubang gitar saya. Bukan tetesan kecil, tapi tetesan deras. Gitar saya berubah menjadi wadah penampung air bocor. Saya sedih dan kesal.
Namun begitu, kenyataannya gitar itu masihlah gitar yang mampu mengeluarkan suara bagus. Seorang kawan pernah bertanya heran mengapa gitar saya masih saja bersuara bagus padahal usianya telah sepuluh tahun.
Sampai beberapa waktu lalu, di sebuah pagi yang tanpa firasat, seorang tetangga saya bercerita bahwa semalam ada pencuri yang masuk ke tempat tinggal saya dan kawan-kawan saya. Pencuri itu membuang barang curiannya berupa tas saat terlihat oleh tetangga saya itu dan lalu berlari. Tas itu milik kawan saya. Isinya utuh, buku-buku. Mungkin pencuri itu tak terlalu suka membaca. Saya cuma berkata, untunglah tak ada yang hilang. Beranjak siang, seorang teman saya yang baru datang hendak meminjam gitar saya. Pada saat itulah saya baru tersadar, gitar saya digondol pencuri malam tadi.
Saya kesal, tapi cuma bisa tertawa. Saya sedih, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Saya marah, tapi malah bertanya buat apa?
Itu salah satu kehilangan yang menyakitkan. Dua (atau tiga) pasang sepatu saya, entah berapa pasang sandal, sekian buku, belasan kaset, pakaian, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya, pernah hilang dari hidup saya. Tapi kehilangan satu saja gitar, sudah cukup membuat sedih.
Di sore hari, di malam hari, terkadang saya merindukan gitar saya itu.
Dan dua malam lalu, sebuah sms tiba-tiba masuk terlambat ke ponsel saya. Dari kawan baik saya. Isinya:
'temen2 bisa tlg beliin pulsa skrg ga ke nmrku ntar d ganti. mohon bgt yg 20 aja. arip bru kena musibah, kehilangan motor. doain ya mdh2 an bisa ketemu lagi.'
(23:38 arip pum).
Demi apapun, ada apa ini?! Minggu ini seorang kawan saya telah kehilangan kekasihnya, dan kini seorang kawan lagi kehilangan motornya!
Senja telah jauh, udara dingin mencuri masuk dari sela-sela jendela tak berkaca, pintu tak rapat. Dua orang teman memilih pergi demi pertandingan sepakbola. Saya sendiri. Dan tiba-tiba kamar ini mengingatkan saya pada sekian rentetan kehilangan.
Entah apa sebab, kehilangan terasa akrab di hidup saya. Benda-benda, nama-nama, waktu-waktu, kesempatan-kesempatan. Pernah ada, lalu raib.
Saya tiba-tiba teringat gitar kesayangan saya. Gitar hadiah ayah saya saat saya sekolah dulu. Keinginan bermain gitar begitu menggebu dalam diri saya, membuat saya membeli sebuah gitar rusak milik kawan saya dengan harga lima ribu rupiah. Tabungnya telah kacau, lepas dan mengakibatkan gitar itu tak pernah bisa mengeluarkan suara sebagaimana gitar harusnya bersuara. Saya lalu membeli lem kayu, dempul, dan amplas. Dalam beberapa hari, gitar rusak itu berubah menjadi gitar dengan penuh dempulan. Bisa bersuara, tapi tak terlalu bagus. Saya belajar memainkan gitar. Sampai suatu hari, tak lama setelah masa gitar dempulan itu, ayah saya mengajak saya pergi ke toko buku dan menyuruh saya memilih sebuah gitar baru. Itu sore yang indah dan sulit untuk saya lupakan. Sore itu saya punya gitar baru, YAMAHA C-310. Dawainya berbahan nylon, lembut disentuh oleh jari. Suaranya, catnya, begitu nyaman didengar dan dilihat. Malamnya saya belajar menyetem gitar sendiri, dan bisa. Sejak malam itu, hingga malam-malam berikutnya, saya punya teman pengantar tidur: gitar. Beberapa lagu saya pelajari. Lambat laun, saya mulai menciptakan lagu, membuat liriknya, mengkhayalkan aransemennya, dan memberi tahu kawan-kawan saya. Jika sempat, saya dan kawan-kawan saya memainkannya dalam studio band sewaan.
Sebelum berangkat sekolah, setelah pulang sekolah, sebelum tidur, setelah bangun tidur, saat tak bisa tidur, saya kerap memetik gitar saya. Saya begitu disiplin dengan gitar itu: saya akan membersihkannya dengan lap bersih secara berkala dan saya tak akan menyentuh gitar saya itu setelah saya memegang makanan dan belum membersihkan tangan saya.
Hingga kemudian saya harus pergi ke luar kota demi bangku universitas. Gitar itu saya bawa dan tetap menjadi teman tidur saya yang setia. Di suatu hari minggu yang ramai, beberapa kawan yang menggelar aksi simpatik di tengah pasar, membawa gitar saya sebagai properti aksi. Mereka bernyanyi-nyanyi dan berorasi seraya membagi-bagikan selebaran. Itulah untuk pertama kalinya gitar saya punya luka di badannya. Luka kecil, tapi cukup membuat saya bersedih.
Lalu pernah juga saya dan kawan-kawan saya memutuskan untuk menghabiskan malam tahun baru dengan ber-camping. Kami naik ke dataran tinggi Bandung Selatan. Camping tanpa tenda. Udara dingin dan gerimis turun. Gitar itu sedikit basah dan bersuara parau. Sepulangnya, saya sibuk merawat gitar saya, menjemurnya di bawah matahari pagi, memasukkan kapur barus agar jamur tak tumbuh. Gitar itu kembali bugar.
Dan yang tak terlupakan adalah saat hujan turun begitu lebatnya dan saya tertidur di suatu siang. Kamar kost saya bocor tanpa saya ketahui. Sialnya, tetesan bocor itu jatuh tepat ke dalam lubang gitar saya. Bukan tetesan kecil, tapi tetesan deras. Gitar saya berubah menjadi wadah penampung air bocor. Saya sedih dan kesal.
Namun begitu, kenyataannya gitar itu masihlah gitar yang mampu mengeluarkan suara bagus. Seorang kawan pernah bertanya heran mengapa gitar saya masih saja bersuara bagus padahal usianya telah sepuluh tahun.
Sampai beberapa waktu lalu, di sebuah pagi yang tanpa firasat, seorang tetangga saya bercerita bahwa semalam ada pencuri yang masuk ke tempat tinggal saya dan kawan-kawan saya. Pencuri itu membuang barang curiannya berupa tas saat terlihat oleh tetangga saya itu dan lalu berlari. Tas itu milik kawan saya. Isinya utuh, buku-buku. Mungkin pencuri itu tak terlalu suka membaca. Saya cuma berkata, untunglah tak ada yang hilang. Beranjak siang, seorang teman saya yang baru datang hendak meminjam gitar saya. Pada saat itulah saya baru tersadar, gitar saya digondol pencuri malam tadi.
Saya kesal, tapi cuma bisa tertawa. Saya sedih, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Saya marah, tapi malah bertanya buat apa?
Itu salah satu kehilangan yang menyakitkan. Dua (atau tiga) pasang sepatu saya, entah berapa pasang sandal, sekian buku, belasan kaset, pakaian, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya, pernah hilang dari hidup saya. Tapi kehilangan satu saja gitar, sudah cukup membuat sedih.
Di sore hari, di malam hari, terkadang saya merindukan gitar saya itu.
Dan dua malam lalu, sebuah sms tiba-tiba masuk terlambat ke ponsel saya. Dari kawan baik saya. Isinya:
'temen2 bisa tlg beliin pulsa skrg ga ke nmrku ntar d ganti. mohon bgt yg 20 aja. arip bru kena musibah, kehilangan motor. doain ya mdh2 an bisa ketemu lagi.'
(23:38 arip pum).
Demi apapun, ada apa ini?! Minggu ini seorang kawan saya telah kehilangan kekasihnya, dan kini seorang kawan lagi kehilangan motornya!
15.4.06
Surat dari Agung
Imam sahabatku,
Dikau selalu kudoakan untuk bisa: bisa menjadi pasangan hidup Rescinta, bisa menjadi mahasiswa yang lolos juga akhirnya untuk dikerubuti toga (wisuda), bisa menjadi enterpreneur yang handal, bisa menjadi penulis yang flamboyan, bisa menjadi backpacker yang mampu menelusuri dunia dan menaklukkan Amerika Latin. Doa terbesarku adalah kamu bisa menjadi seorang bapak yang luar biasa bagi si kecilmu.
Imam tolong bangunkan aku pukul 11.00. Hidupku di tanganmu, teman. Saat ini KGB, CIA mengejar-ngejar diriku. Katanya, aku punya kesalahan besar yaitu susah tidur meski telah kututup rapat-rapat mata. Tetap saja pikiranku menembus langit-langit toko ini dan bermain ke mana dia inginkan.
Agung
(Agung temanku, semoga benar Tuhan baik hati dan menganugerahkan kita malam-malam nyenyak. Kita sudah terlalu berdosa pada raga ini: kapan terakhir kita lelapkan ia jam sepuluh malam?)
Imam sahabatku,
Dikau selalu kudoakan untuk bisa: bisa menjadi pasangan hidup Rescinta, bisa menjadi mahasiswa yang lolos juga akhirnya untuk dikerubuti toga (wisuda), bisa menjadi enterpreneur yang handal, bisa menjadi penulis yang flamboyan, bisa menjadi backpacker yang mampu menelusuri dunia dan menaklukkan Amerika Latin. Doa terbesarku adalah kamu bisa menjadi seorang bapak yang luar biasa bagi si kecilmu.
Imam tolong bangunkan aku pukul 11.00. Hidupku di tanganmu, teman. Saat ini KGB, CIA mengejar-ngejar diriku. Katanya, aku punya kesalahan besar yaitu susah tidur meski telah kututup rapat-rapat mata. Tetap saja pikiranku menembus langit-langit toko ini dan bermain ke mana dia inginkan.
Agung
(Agung temanku, semoga benar Tuhan baik hati dan menganugerahkan kita malam-malam nyenyak. Kita sudah terlalu berdosa pada raga ini: kapan terakhir kita lelapkan ia jam sepuluh malam?)
11.4.06
8.4.06
Roda Hidup
Di tengah keasyikan menonton sendirian sebuah film panjang italia, The Best of Youth, sebuah pesan pendek datang ke ponsel saya. Dari kawan lama. Kemarin dia berulang tahun, 24 tahun. Tiga tahun lalu ia menyelesaikan pendidikannya di IPB. Dan sejak tiga tahun lalu pula statusnya berubah tanpa pernah berganti: pengangguran.
Sore itu dia menanyakan kabar saya, sedang apa, kapan ke Bekasi. Dia bilang: gw baru pulang gawe, nih!
Anjrittt...! Itu kata pertama saya. Rasa-rasanya pengen banget berteriak di depan dia menyatakan rasa senang saya yang luar biasa. Dia diterima di sebuah perusahaan besar, PT JAPFA. Tenaga kontrak. Gimana gak senang: tiga tahun nganggur, diputusin pacar setelah tiga tahun pacaran (dan mau kawin lagi!), berjuang sendirian melewati krisis orientasi hidup setiap pagi-siang-sore-malam, dan tetap harus jadi anak sulung dengan adik-adik yang punya status ''jelas'' (PNS, mahasiswa, pelajar), dan kini dia... bekerja! Hari itu dua ucapan selamat buat dia: selamat ulang tahun dan selamat untuk sebuah pekerjaan.
Tapi mendadak saya punya perasaan aneh. Dia bekerja, di PT JAPFA, sebuah perusahaan besar yang pernah mem-PHK 1200 karyawannya lantaran flu burung. Dia bekerja, saat revisi undang-undang ketenagakerjaan begitu merisaukan. Dia bekerja. Bekerja. Bekerja.
Apakah benar begitu banyak orang yang memang tak bisa lagi hidup dengan kebebasan memilih? Sistem ekonomi ini, apakah benar-benar telah memaksa begitu banyak di antara kita sehingga kita tak lagi diizinkan punya mimpi indah untuk hidup kita sendiri? Karena satu-satunya obat untuk kawan baik saya itu, rasa-rasanya, ya mengambil pekerjaan kontrakan itu. Dan itu mengharuskan saya mengucapkan 'selamat' untuk dia.
Saya tiba-tiba tak tahu, apakah saya harus senang ataukah ngeri sendiri melihat kenyataan itu. Senja itu saya tak lagi mengerti apa surga apa neraka.
Di tengah keasyikan menonton sendirian sebuah film panjang italia, The Best of Youth, sebuah pesan pendek datang ke ponsel saya. Dari kawan lama. Kemarin dia berulang tahun, 24 tahun. Tiga tahun lalu ia menyelesaikan pendidikannya di IPB. Dan sejak tiga tahun lalu pula statusnya berubah tanpa pernah berganti: pengangguran.
Sore itu dia menanyakan kabar saya, sedang apa, kapan ke Bekasi. Dia bilang: gw baru pulang gawe, nih!
Anjrittt...! Itu kata pertama saya. Rasa-rasanya pengen banget berteriak di depan dia menyatakan rasa senang saya yang luar biasa. Dia diterima di sebuah perusahaan besar, PT JAPFA. Tenaga kontrak. Gimana gak senang: tiga tahun nganggur, diputusin pacar setelah tiga tahun pacaran (dan mau kawin lagi!), berjuang sendirian melewati krisis orientasi hidup setiap pagi-siang-sore-malam, dan tetap harus jadi anak sulung dengan adik-adik yang punya status ''jelas'' (PNS, mahasiswa, pelajar), dan kini dia... bekerja! Hari itu dua ucapan selamat buat dia: selamat ulang tahun dan selamat untuk sebuah pekerjaan.
Tapi mendadak saya punya perasaan aneh. Dia bekerja, di PT JAPFA, sebuah perusahaan besar yang pernah mem-PHK 1200 karyawannya lantaran flu burung. Dia bekerja, saat revisi undang-undang ketenagakerjaan begitu merisaukan. Dia bekerja. Bekerja. Bekerja.
Apakah benar begitu banyak orang yang memang tak bisa lagi hidup dengan kebebasan memilih? Sistem ekonomi ini, apakah benar-benar telah memaksa begitu banyak di antara kita sehingga kita tak lagi diizinkan punya mimpi indah untuk hidup kita sendiri? Karena satu-satunya obat untuk kawan baik saya itu, rasa-rasanya, ya mengambil pekerjaan kontrakan itu. Dan itu mengharuskan saya mengucapkan 'selamat' untuk dia.
Saya tiba-tiba tak tahu, apakah saya harus senang ataukah ngeri sendiri melihat kenyataan itu. Senja itu saya tak lagi mengerti apa surga apa neraka.
3.4.06
13 Saran Buat Para Aktivis Gerakan
Catatan: Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung perasaan para aktivis yang telah banyak bekerja keras; mencurahkan waktu dan tenaganya demi permasalahan sosial dan sekitarnya. Ini adalah kritik atas hal-hal yang menghalangi kita untuk membangun gerakan aktual. Banyak orang yang merasa bersalah dengan hal-hal yang disebutkan dibawah ini, termasuk saya sendiri. Jadi, tolong jangan tersinggung ya! (Yang mana masalah singgung-singgungan ini akan membawa kita pada pokok permasalahan yang pertama...)
I
Sisipkan sedikit sense of humor, jangan kelewat serius lah.
Semua orang sudah tahu, dunia tidak akan berubah dalam semalam. Terserah seberapa keras kalian berusaha. Tertawalah sesekali, buat guyonan soal betapa kacaunya situasi yang ada. Jangan lupa untuk menyisihkan sedikit waktu untuk menertawakan diri sendiri dan kemajuan yang telah kalian perjuangkan selama ini. Tentunya kalian juga sudah sering kumpul dalam satu ruangan dan membicarakan tema-tema yang serius dengan menggunakan diplomasi buatan yang ditempa di dalam forum. Kita tidak musti mengerutkan dahi selama 24 jam sehari, bukan? Tertawa barang sejenak tentu tidak ada salahnya, betul tidak? Sedikit menyindir diri sendiri bisa membuat arah perjuangan tetap dalam perspektif yang benar dan mungkin bisa membuat kalian merasa lebih baik atas apa yang telah kalian selesaikan. Membuat guyonan soal diri sendiri dan kawan-kawan yang lain bisa jadi sarana kritik/otokritik dalam suasana yang lebih santai. Bahkan Emma Goldman pun pernah berkata: ''If I cant dance, I dont want your revolution.'' Ah, kalau itu sih kita semua sudah tahu...
II
Kritik itu perlu dan penting bagi perjuangan.
Menganalisa apa yang salah dan mana yang benar dalam aksi atau kampanye yang kalian lakukan bisa membantu kalian untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dengarkan masukan dari luar kelompok kalian, khususnya dari mereka yang berseberangan dengan kalian, yang mana bisa kalian antisipasi terlebih dulu seandainya saja itu dimaksudkan untuk menghalangi perjuangan kalian. Banyak aktifis dan revolusioner besar yang mengkritik keras dirinya sendiri untuk menyadari apakah yang mereka lakukan selama ini benar ataukah salah.
Untungnya, tidak seperti Che Guevara atau Buenaventura Durruti, kita tidak usah melakukan itu dibawah hujanan peluru (setidaknya belum lah).
III
Memperlakukan semuanya sebagai perorangan.
Saya sering kesal ketika para Marxis dan anarkis itu menyebut ''massa'' atau ketika para aktivis anti-korporasi mengejek teman-teman sebayanya sebagai ''anak nongkrong MTV''. Dengan men-dehumanisasi manusia ke dalam kategori-kategori yang kelewat menggeneralisir itu membuat kita lupa kalau kita sedang berhadapan dengan sosok yang miliki nama yang punya alasan atas apa yang mereka lakukan itu; entah itu karena turunan keluarga, pengaruh media atau propaganda negara, atau kebetulan terlahir dalam budaya yang memang sudah seperti itu. Tokh, tidak ada seorang pun yang bisa memilih Ia akan terlahir sebagai apa. Dengan mendekati semua orang sebagai perorangan, kalian akan bisa mengingat kembali bahwa pernah ada suatu masa dimana kalian juga tidak memiliki keyakinan seperti sekarang dan mungkin juga pernah merasa terasing ketika ada aktivis lain yang berusaha menyebarkan pesannya kepada kalian pada waktu itu. Jadi, faktor terpenting dalam mendekati ''massa'' itu (dalam terminologi yang kalian pakai itu ya) bisa jadi bukan apa yang HARUS kalian sampaikan tapi apa yang SEBENARNYA. Ingat, mereka juga manusia, mereka punya nama, mereka juga punya alasan... Berhentilah untuk selalu berusaha menjadi penggembala!
IV
Dengarkan apa yang orang lain katakan dan ketahuilah siapa yang kalian tuju.
Terkadang tanggapan orang atas apa yang telah kaian lakukan bisa jadi panduan paling baik untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang. Ketika kalian tahu dengan siapa kalian berbicara, kalian bisa mengemas pesan kalian sesuai dengan siapa mereka sebenarnya.
Dengan mengetahui siapa yang kalian ajak bicara, kalian bisa mengemas pesan yang kalian angkat sedemikian rupa sehingga tidak hanya sekedar faktor-faktor abstrak yang mereka sendiri tidak bisa mengaitkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya: Ketika kalian bicara soal penghapusan diskriminasi rasial para pendatang kepada orang-orang ''pribumi'' (maaf, saya terpaksa nih pake istilah ini), maka kalian bisa membahas bagaimana studi-studi antropologis membuktikan bahwa suku asli di Indonesia tidaklah ada dan dengan pengandaian seolah mereka berada dalam posisi yang menjadi objek perlakuan sewenang-wenang itu. Atau ketika kalian bicara soal dampak buruk penyeragaman yang dilakukan oleh MTV kepada anak-anak gaul yang sering nongkrong di Parkir Timur Senayan, kalian bisa membuktikan betapa menyenangkannya untuk menjadi unik dan tidak tergeneralisir jargon-jargon marketing semacam ''gue banget'' itu.
Tapi, maaf-maaf saja, ketika kalian berusaha meyakinkan para tukang becak bahwa dengan menjatuhkan seorang atau lebih tokoh puncak dalam hirarki politik tertentu dan menggantikannya dengan yang lain akan membuat segalanya menjadi lebih baik... saya tidak melihat adanya relevansi gontok-gontokan antara para elit politik dengan perbaikan kehidupan ekonomi mereka.
Dan, oh iya, jangan memakai bahasa aneh yang mengawang-awang nun jauh di atas sana. Kalau kalian tetap ngotot untuk membuat generalisasi seperti yang selama ini kalian lakukan dan terus berusaha mendekonstruksikan hegemoni kelas-kelas istimewa yang diuntungkan sistem sosial-ekonomi, ya jangan berharap banyak deh! Kalau kalian mengenal siapa yang kalian ajak bicara maka kalian bisa bicara dalam tingkatan yang sama dan menggunakan bahasa yang mereka pahami pula. Ingat, kalian tidak sedang berbicara dengan Michael Foucault atau Yasraf Amir Piliang! Lagipula, bahasa-bahasa akademis semacam itu hanya bisa dipahami oleh mereka yang cukup beruntung bisa lahir di tengah keluarga yang mampu memberikan fasilitas pendidikan kepada anaknya sampai ke bangku universitas. Bahkan saya pun tidak pernah berharap tulisan ini dan situs saya itu dibaca oleh buruh-buruh pabrik. Apa sih untungnya mempromosikan perubahan sosial kalau kalian menyampaikannya dengan gaya yang elitis?
V
Berisik, jangan teriak melulu dong!
Oke, kalian memang marah tapi kalau kalian terus-terusan berteriak ke semua orang dan bukannya berbicara, mereka tidak akan dengar. Kamu pikir mereka akan mau mendengarkan dengan seksama kalau kalian hanya berorasi dari atas Metromini sewaan dengan megaphone layaknya seorang rockstar... hahaha, dalam mimpi mungkin bisa. Jadi, sebelum turun buat demo, cobalah untuk jalan-jalan barang sebentaran dan cobalah berbincang-bincang dengan beberapa orang di jalan. Kalian akan lihat bagaimana respon mereka kalau kalian berbicara baik-baik, respon yang akan kalian dapat tidak hanya sekedar sorakan ''setuju,'' makian ''uh, bikin macet jalan aja,'' atau kepala yang menengok ke arah yang berlawanan dengan posisi kalian sebagai tanda tidak peduli. Ada saatnya untuk marah, dan ada pula saatnya untuk berbicara baik-baik. Jadi, pikir dulu sebelum teriak.
VI
Hanya mengangkat satu masalah malah bisa jadi masalah itu sendiri.
Sementara kalian punya beberapa masalah yang dianggap paling sreg di hati, tidak seharusnya kalian menutup mata atas kemungkinan adanya hubungan saling keterkaitan antara isu-isu itu atau dengan isu-isu yang lain dan jangan berhenti untuk terus mencari adanya akar-akar historis yang sama diantara isu-isu itu. Kadang memperjuangkan satu masalah saja bisa merusak perjuangan itu sendiri, misalnya perjuangan para feminis garis keras yang malah ingin membuat patriarki versi perempuan (untuk ini saya sering menjuluki mereka Feminazi) atau kiprah para anti-rasis yang malah tidak lebih baik dari pada kaum rasis itu sendiri (misalnya gerakan Black Planet yang malah jadi black people racists).
VII
Julukan keren sebagai aktivis tidak menutup kenyataan kalau kalian tetap berengsek.
Tidak bisa bohong, kenyataan membuktikan banyak aktivis progresif-revolusioner yang kelakuannya tidak lebih baik dari lumpen atau preman. Banyak kasus seperti ini, misalnya saja di kampus saya dimana seorang aktivis yang lumayan dianggap radikal ketika berada didepan barisan sambil memegang megaphone ternyata dalam kesehariannya tidak lebih dari seorang bangsat yang kerjanya hanya petantang-petenteng disana-sini hanya karena di jaket almamaternya banyak tertempel emblem gerakan dan Che Guevara dan memakai kaos bertuliskan ''revolusi'' atau kasus di tahun 98 dimana beberapa orang mahasiwa memaksa para supir angkot untuk membeli koran keluaran mereka yang isinya belum tentu dipahami semua orang dengan mudah. Belum lagi masalah pelecehan seksual terhadap karyawati yang pulang kantor ketika kalian sedang demo di jalan-jalan ibukota. Untuk mengatasinya, setidaknya kalian bisa introspeksi diri dan membicarakan masalah ini secara terbuka dengan pemikiran yang dewasa termasuk dengan pihak-pihak yang bersangkutan.
VIII
Dunia tidak bisa diselamatkan melalui e-mail.
Walaupun yang kalian lawan memang sistem bukan produknya, tidak peduli bagaimana efisiennya perjuangan kalian setelah adanya teknologi, tetap saja tidak ada yang bisa menggantikan kekuatan dan keintiman yang dihasilkan oleh hubungan dan komunikasi antar manusia. Walaupun internet telah banyak meningkatkan intensitas komunikasi kalian dan membantu jaringan pergerakan-pergerakan global (seperti update email dari Zapatista dalam aksi-aksinya), kalian tidak bisa melupakan kenyataan bahwa penggunaan internet telah banyak memberi kontribusi bagi korporasi-korporasi besar di Amerika dan adanya fakta kuantitatif yang membuktikan bahwa lebih dari 98% penggunaan internet digunakan untuk mempercepat perputaran arus uang dalam kegiatan investasi spekulatif yang dilakukan oleh segelintir orang-orang kaya di penjuru dunia. Kalian tidak bisa selamanya menggantungkan diri kepada teknologi, berikanlah perjuangan kalian sedikit sentuhan pribadi.
IX
Buang jauh ''isme-isme'' itu ke dalam toilet.
''Wah, keren. Kamu seorang ...-is (isi titik-titik itu dengan tipikal label ideologi aktivisme).'' Bagi sebagian besar orang yang tidak menganut ideologi-ideologi tersebut (kalian mungkin akan memberi penanda menghina seperti ''massa yang terilusi''), label-label itu penuh stereotipikal media korporasi dan propaganda negara yang mereduksi aspek-aspek positif yang dibawa label-label ini. Misalnya, ketika kawan saya -seorang vokalis band hardcore dari Kanada yang juga seorang aktifis ARA (Anti Racist Action)- berkata kepada seorang redneck kulit putih pengelola sebuah peternakan ''Aku seorang multikulturalis!'', Ia menjawab sambil mengayunkan garpu rumputnya ''Oh, jadi kamu benci orang kulit putih ya?!'' Supaya tidak mendapat praduga yang malah menyulitkan ruang geraknya akan jadi lebih baik seandainya saja Ia berkata ''Aku percaya ras adalah sebuah konstruksi historis; dimana memandangnya hanya sebatas fisik atau biologis tidaklah masuk akal bagiku, tapi kita telah dimanipulasi untuk mempercayai apa adanya dan memperlakukannya seperti itu (hmm... maaf, saya agak ribet untuk ngasih bahasa yang lebih down-to-earth lagi).'' Dan bisa saja itu akan memancing diskusi lebih lanjut.
Jadi, sebelum mulai mengumumkan diri kalian sebagai sayap kiri ''-isme,'' ''-is,'' atau ''-ian'' (contoh: Marxisme, Marxis, Marxian), pertimbangkan dulu apa yang mereka pikirkan soal label yang akan kalian pakai. Jangan terlalu norak untuk kepingin cepat-cepat orgasme hanya karena menyandang gelar ''anarkis'' atau ''komunis'' sebelum kamu benar-benar bisa menjelaskan: apa yang orang-orang sering dengar soal label-label itu dari media? Kalian tentu masih ingat kan bagaimana wajah media di Indonesia selama 32 tahun dibawah rezim OrBa itu (sampai sekarang juga masih sih)?
Biarkan tindakan yang mendefinisikan siapa kalian, bukan ''isme-isme'' itu.
X
''Fasisme gaya hidup'' sucks!
Kenapa sih kalau menjadi seorang aktivis sepertinya harus berpenampilan kucel dan old-school? Dalam sebuah kegiatan rekruitmen, pernah ada seorang aktivis yang seenaknya saja mencoret sebuah nama hanya karena penampilannya yang trendi dianggap kontra-revolusioner dan menyimpang dari garis perjuangan. Mencari keburukan dalam gaya hidup seseorang nampaknya sudah jadi hal yang sangat biasa di kalangan orang-orang progresif ini. Memang sih, menilai kulitnya saja jauh lebih mudah ketimbang harus menelaah lebih dalam pola konsumsi dan akar pemasalahannya. Kalian harus ingat bahwa hanya dengan mengidentifikasi beberapa aspek gaya hidup masyarakat ''barat'' (sialan, saya terpaksa lagi pakai istilah ini disaat saya sendiri sudah tidak percaya adanya pemilahan budaya timur-barat hanya sebatas hemisfer saja), kalian telah lupa bahwa kesalahan terletak pada keseluruhan sistemnya bukan hanya pada mereka yang merasa nyaman untuk mengenakannya. Kekuatan kita lebih dari sekedar sejauh mana kacamata dapat memandang dan jumlah halaman dalam scrapbook kita. Sebagai langkah awal menuju perubahan kita harus bisa menganalisa akar atas permasalahan kita semua, bukan mengasingkan mereka yang berbeda hanya karena masalah gaya hidup. Kenapa juga kalian masih saja mengulangi pola yang sama yang selalu dilakukan oleh gerakan-gerakan relijius-fasis dan korporasi-korporasi multinasional itu? Biarkan mereka menentukan sendiri apa yang mereka bisa atau tidak bisa boikot dan kalian keluarlah dari jebakan moralitas kotak sabun itu.
XI
Kalau kalian tidak beristirahat, kalian akan menjadi robot revolusi, zombie perubahan!
Dalam diri setiap aktivis pasti ada fase dimana kelelahan datang, rasa bosan menyerang, lalu biasanya dia akan butuh waktu barang sejenak untuk diri sendiri. Hey, itu wajar bukan? Dalam masa-masa ini siapapun akan lebih banyak meluangkan waktu untuk memberi gairahnya sebuah ruang penyegaran temporer, melakukan hal-hal yang benar-benar menarik minatnya, bukan hanya sekedar demi peran historis kaum revolusioner muda atau apalah. Sialnya, dengan kejamnya beberapa orang biasanya akan menyebutnya sebagai ''demoral'' atau ''pengkhianat revolusi.'' Hahaha, perjuangan adalah hal yang sangat berat, revolusi bisa jadi baru akan terjadi dalam waktu yang tidak pendek ke depannya. Tuntutan-tuntutan bunuh diri kelas seperti ''mencurahkan jiwa dan raga sepenuhnya demi perubahan'' hanya akan melahirkan milisi-milisi tanpa hasrat. Bahkan dalam beberapa kasus, seorang aktivis bisa sampai memutuskan hubungan dengan orang-orang yang dicintainya. Kita tidak menginginkan itu, bukan? Bahkan seorang Assata Shakur pun pernah berkata bahwa yang terpenting adalah tumbuh secara personal, menjaga hubungan baik dan menyisihkan waktu untuk kegiatan-kegiatan yang bisa menorehkan sebilah senyum di pipi. Revolusi tidak butuh robot, perubahan tidak butuh zombie... semua itu butuh MANUSIA untuk melakukannya.
XII
Jangan bersikap sektarian!
Ada kejadian bodoh yang sering sekali saya lihat di lapangan maupun dalam perdebatan di dalam mailing-list. Bagaikan dua kelompok anak kecil di mana yang satu berperan sebagai Mighty Morphin Power Ranger dan yang satu lagi sebagai Goggle V bermain perang-perangan, banyak dijumpai para aktivis yang saling gontok-gontokan hanya karena mereka berada di bawah bendera organisasi yang berbeda (oh tidak, kebanggaan buta ini lagi yang jadi masalahnya). Sama seperti kelompok anak-anak kecil tadi yang membuat simulasi atas kehebatan jagoannya di layar kaca padahal tujuan mereka hanya ingin bermain, para aktivis ini saling bermusuhan hanya karena perbedaan buku yang dibaca atau rebut-rebutan ''massa'' padahal tujuan mereka sama yaitu membuat perubahan. Kalau perubahan yang mereka inginkan dapat dengan mudah didefinisikan sebagai ''mengganti orang-orang dalam pemerintahan dengan orang lain,'' maka jelas sudah motif mereka: mereka sudah ngebet ingin jadi birokrat baru. Heheheh!
Selama ini sudah banyak kita lihat sendiri adanya perpecahan-perpecahan semacam ini. Sebabnya berkisar mulai dari adanya ketidakcocokan pribadi, sampai perdebatan soal ideologi dan strategi. Tidak heran, banyak para aktivis yang keluar dari gerakannya dan berakhir dengan mendirikan sebuah gerakan baru. Kalau kita mengatasnamakan multitude gerakan seperti yang ada di buku Empire-nya Hardt/Negri sih itu malah bagus, tapi kalau sampai gerakan baru itu malah menambah daftar musuh baru sih jadi lucu. Pergerakan malah jadi retak dan terfragmen ke dalam banyak klik-klik kecil yang saling mencibir kalau bertemu di lapangan sampai-sampai kita lupa akan kesamaan yang kita miliki dan hanya mempermasalahkan kebencian kita satu sama lain.
Untuk hal ini di antara kita, bisakah kita menyepakati beberapa hal yang penting? Apakah setidaknya kita punya musuh bersama? Bisakah kita melupakan perbedaan-perbedaan kita dan bekerjasama menuju sebuah konsensus sehingga kita tidak usah lagi main tikam dari belakang? Bagi kalian yang masih baru dalam gerakan, tetaplah berkonsentrasi dalam permasalahan yang ada dan jangan ikut larut dalam masalah-masalah seperti ini. Bagi kalian yang ''orang lama,'' perjuangan demi perubahan dimana pun juga tidak butuh warisan kebencian seperti itu (dulu saya pikir hanya anak-anak STM saja yang suka mewariskan kebenciannya terhadap sekolah lain kepada adik kelasnya. Ternyata...).
XIII
Mendefinisikan ulang aktivisme.
Menjadi aktivis adalah posisi kultural yang ada dalam masyarakat kita. Sudahlah, kita semua tahu stereotip-nya: tidak bisa bergaya, selalu merasa benar soal isu ini atau itu, kerjaannya teriak-teriak atau nyanyi-nyanyi di jalanan, mengacung-acungkan plakat tuntutan, di seret-seret polisi, mengacungkan tangan sambil pegang megaphone, dan lain sebagainya. Tapi mengambil bagian dalam kultur aktivisme ini kita mengalienasikan banyak orang yang seharusnya berada di posisi yang sama dengan kita berdiri. Tapi berapa banyak orang yang tergerak hatinya ketika melihat pemberitaan kalian di media-media? Seberapa banyak kita mempengaruhi nilai-nilai stereotip ini?
Tapi lihat apa yang terjadi. Banyak, dan lebih banyak lagi orang yang turut berjuang demi perubahan sosial hanyalah orang ''biasa.'' Ada banyak aksi-aksi tanpa bentuk yang tidak akan pernah kita dengar: mereka yang membentuk kelompok diskusi, mereka yang mendefinisikan dirinya sendiri dan di mana posisi mereka dalam masyarakat, mereka yang memilih untuk memboikot beberapa produk dan tidak mengikuti tren, mereka yang tidak mempercayai uang dan melakukan aksi transaksi tanpa uang alias mencuri, mereka yang menempati bangunan kosong yang disia-siakan pemiliknya sebagai jawaban atas permasalahan tempat tinggal dan gentrifikasi, mereka yang muak dengan perintah bosnya dan memanfaatkan fasilitas di kantornya untuk memenuhi kebutuhan komunitasnya, mereka ada di mana saja dan tetap berjuang kapan pun mereka bisa.
Mereka hanyalah orang-orang biasa yang merespon stimulus dasar di mana hidupnya telah tercuri oleh sistem dan mereka tidak bisa duduk diam dan menerima begitu saja. Mereka juga aktivis, walaupun tidak mendapat privilese atas penanda itu. Revolusi juga akan datang dari tangan mereka. Mereka yang selalu menyebut dirinya ''aktivis'' harus keluar dari jebakan pengkotak-kotakan yang mengkungkung dan mendengarkan apa yang benar-benar dikatakan oleh orang-orang, bukan hanya sekedar membaca habis semua buku yang ada di dalam perpustakaan ''radikal.'' Semua ''isme-isme'' yang sering kalian klaim sebagai identitas itu hanyalah nama yang diberikan oleh para teoris ideologi kalian atas kecenderungan yang sudah biasa ada dalam diri setiap manusia. Semua istilah itu hanya akan tetap menjadi kata-kata sampai tindakan kita memberi arti yang sebenarnya dan kita mendefinisikannya bagi diri kita sendiri seperti apa bentuk perjuangan kita. Sampai saat itu, aktivisme akan tetap mengalienasi manusia yang juga berusaha menggapainya.
(Tulisan ini saya temukan bertahun-tahun lalu di blog sayap-imaji. Blog itu telah hilang kini. Agak menyesal juga, karena begitu banyak tulisan-tulisan di blog itu yang menginspirasi diri saya dalam menjalani hidup sehari-hari).
Catatan: Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung perasaan para aktivis yang telah banyak bekerja keras; mencurahkan waktu dan tenaganya demi permasalahan sosial dan sekitarnya. Ini adalah kritik atas hal-hal yang menghalangi kita untuk membangun gerakan aktual. Banyak orang yang merasa bersalah dengan hal-hal yang disebutkan dibawah ini, termasuk saya sendiri. Jadi, tolong jangan tersinggung ya! (Yang mana masalah singgung-singgungan ini akan membawa kita pada pokok permasalahan yang pertama...)
I
Sisipkan sedikit sense of humor, jangan kelewat serius lah.
Semua orang sudah tahu, dunia tidak akan berubah dalam semalam. Terserah seberapa keras kalian berusaha. Tertawalah sesekali, buat guyonan soal betapa kacaunya situasi yang ada. Jangan lupa untuk menyisihkan sedikit waktu untuk menertawakan diri sendiri dan kemajuan yang telah kalian perjuangkan selama ini. Tentunya kalian juga sudah sering kumpul dalam satu ruangan dan membicarakan tema-tema yang serius dengan menggunakan diplomasi buatan yang ditempa di dalam forum. Kita tidak musti mengerutkan dahi selama 24 jam sehari, bukan? Tertawa barang sejenak tentu tidak ada salahnya, betul tidak? Sedikit menyindir diri sendiri bisa membuat arah perjuangan tetap dalam perspektif yang benar dan mungkin bisa membuat kalian merasa lebih baik atas apa yang telah kalian selesaikan. Membuat guyonan soal diri sendiri dan kawan-kawan yang lain bisa jadi sarana kritik/otokritik dalam suasana yang lebih santai. Bahkan Emma Goldman pun pernah berkata: ''If I cant dance, I dont want your revolution.'' Ah, kalau itu sih kita semua sudah tahu...
II
Kritik itu perlu dan penting bagi perjuangan.
Menganalisa apa yang salah dan mana yang benar dalam aksi atau kampanye yang kalian lakukan bisa membantu kalian untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dengarkan masukan dari luar kelompok kalian, khususnya dari mereka yang berseberangan dengan kalian, yang mana bisa kalian antisipasi terlebih dulu seandainya saja itu dimaksudkan untuk menghalangi perjuangan kalian. Banyak aktifis dan revolusioner besar yang mengkritik keras dirinya sendiri untuk menyadari apakah yang mereka lakukan selama ini benar ataukah salah.
Untungnya, tidak seperti Che Guevara atau Buenaventura Durruti, kita tidak usah melakukan itu dibawah hujanan peluru (setidaknya belum lah).
III
Memperlakukan semuanya sebagai perorangan.
Saya sering kesal ketika para Marxis dan anarkis itu menyebut ''massa'' atau ketika para aktivis anti-korporasi mengejek teman-teman sebayanya sebagai ''anak nongkrong MTV''. Dengan men-dehumanisasi manusia ke dalam kategori-kategori yang kelewat menggeneralisir itu membuat kita lupa kalau kita sedang berhadapan dengan sosok yang miliki nama yang punya alasan atas apa yang mereka lakukan itu; entah itu karena turunan keluarga, pengaruh media atau propaganda negara, atau kebetulan terlahir dalam budaya yang memang sudah seperti itu. Tokh, tidak ada seorang pun yang bisa memilih Ia akan terlahir sebagai apa. Dengan mendekati semua orang sebagai perorangan, kalian akan bisa mengingat kembali bahwa pernah ada suatu masa dimana kalian juga tidak memiliki keyakinan seperti sekarang dan mungkin juga pernah merasa terasing ketika ada aktivis lain yang berusaha menyebarkan pesannya kepada kalian pada waktu itu. Jadi, faktor terpenting dalam mendekati ''massa'' itu (dalam terminologi yang kalian pakai itu ya) bisa jadi bukan apa yang HARUS kalian sampaikan tapi apa yang SEBENARNYA. Ingat, mereka juga manusia, mereka punya nama, mereka juga punya alasan... Berhentilah untuk selalu berusaha menjadi penggembala!
IV
Dengarkan apa yang orang lain katakan dan ketahuilah siapa yang kalian tuju.
Terkadang tanggapan orang atas apa yang telah kaian lakukan bisa jadi panduan paling baik untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang. Ketika kalian tahu dengan siapa kalian berbicara, kalian bisa mengemas pesan kalian sesuai dengan siapa mereka sebenarnya.
Dengan mengetahui siapa yang kalian ajak bicara, kalian bisa mengemas pesan yang kalian angkat sedemikian rupa sehingga tidak hanya sekedar faktor-faktor abstrak yang mereka sendiri tidak bisa mengaitkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya: Ketika kalian bicara soal penghapusan diskriminasi rasial para pendatang kepada orang-orang ''pribumi'' (maaf, saya terpaksa nih pake istilah ini), maka kalian bisa membahas bagaimana studi-studi antropologis membuktikan bahwa suku asli di Indonesia tidaklah ada dan dengan pengandaian seolah mereka berada dalam posisi yang menjadi objek perlakuan sewenang-wenang itu. Atau ketika kalian bicara soal dampak buruk penyeragaman yang dilakukan oleh MTV kepada anak-anak gaul yang sering nongkrong di Parkir Timur Senayan, kalian bisa membuktikan betapa menyenangkannya untuk menjadi unik dan tidak tergeneralisir jargon-jargon marketing semacam ''gue banget'' itu.
Tapi, maaf-maaf saja, ketika kalian berusaha meyakinkan para tukang becak bahwa dengan menjatuhkan seorang atau lebih tokoh puncak dalam hirarki politik tertentu dan menggantikannya dengan yang lain akan membuat segalanya menjadi lebih baik... saya tidak melihat adanya relevansi gontok-gontokan antara para elit politik dengan perbaikan kehidupan ekonomi mereka.
Dan, oh iya, jangan memakai bahasa aneh yang mengawang-awang nun jauh di atas sana. Kalau kalian tetap ngotot untuk membuat generalisasi seperti yang selama ini kalian lakukan dan terus berusaha mendekonstruksikan hegemoni kelas-kelas istimewa yang diuntungkan sistem sosial-ekonomi, ya jangan berharap banyak deh! Kalau kalian mengenal siapa yang kalian ajak bicara maka kalian bisa bicara dalam tingkatan yang sama dan menggunakan bahasa yang mereka pahami pula. Ingat, kalian tidak sedang berbicara dengan Michael Foucault atau Yasraf Amir Piliang! Lagipula, bahasa-bahasa akademis semacam itu hanya bisa dipahami oleh mereka yang cukup beruntung bisa lahir di tengah keluarga yang mampu memberikan fasilitas pendidikan kepada anaknya sampai ke bangku universitas. Bahkan saya pun tidak pernah berharap tulisan ini dan situs saya itu dibaca oleh buruh-buruh pabrik. Apa sih untungnya mempromosikan perubahan sosial kalau kalian menyampaikannya dengan gaya yang elitis?
V
Berisik, jangan teriak melulu dong!
Oke, kalian memang marah tapi kalau kalian terus-terusan berteriak ke semua orang dan bukannya berbicara, mereka tidak akan dengar. Kamu pikir mereka akan mau mendengarkan dengan seksama kalau kalian hanya berorasi dari atas Metromini sewaan dengan megaphone layaknya seorang rockstar... hahaha, dalam mimpi mungkin bisa. Jadi, sebelum turun buat demo, cobalah untuk jalan-jalan barang sebentaran dan cobalah berbincang-bincang dengan beberapa orang di jalan. Kalian akan lihat bagaimana respon mereka kalau kalian berbicara baik-baik, respon yang akan kalian dapat tidak hanya sekedar sorakan ''setuju,'' makian ''uh, bikin macet jalan aja,'' atau kepala yang menengok ke arah yang berlawanan dengan posisi kalian sebagai tanda tidak peduli. Ada saatnya untuk marah, dan ada pula saatnya untuk berbicara baik-baik. Jadi, pikir dulu sebelum teriak.
VI
Hanya mengangkat satu masalah malah bisa jadi masalah itu sendiri.
Sementara kalian punya beberapa masalah yang dianggap paling sreg di hati, tidak seharusnya kalian menutup mata atas kemungkinan adanya hubungan saling keterkaitan antara isu-isu itu atau dengan isu-isu yang lain dan jangan berhenti untuk terus mencari adanya akar-akar historis yang sama diantara isu-isu itu. Kadang memperjuangkan satu masalah saja bisa merusak perjuangan itu sendiri, misalnya perjuangan para feminis garis keras yang malah ingin membuat patriarki versi perempuan (untuk ini saya sering menjuluki mereka Feminazi) atau kiprah para anti-rasis yang malah tidak lebih baik dari pada kaum rasis itu sendiri (misalnya gerakan Black Planet yang malah jadi black people racists).
VII
Julukan keren sebagai aktivis tidak menutup kenyataan kalau kalian tetap berengsek.
Tidak bisa bohong, kenyataan membuktikan banyak aktivis progresif-revolusioner yang kelakuannya tidak lebih baik dari lumpen atau preman. Banyak kasus seperti ini, misalnya saja di kampus saya dimana seorang aktivis yang lumayan dianggap radikal ketika berada didepan barisan sambil memegang megaphone ternyata dalam kesehariannya tidak lebih dari seorang bangsat yang kerjanya hanya petantang-petenteng disana-sini hanya karena di jaket almamaternya banyak tertempel emblem gerakan dan Che Guevara dan memakai kaos bertuliskan ''revolusi'' atau kasus di tahun 98 dimana beberapa orang mahasiwa memaksa para supir angkot untuk membeli koran keluaran mereka yang isinya belum tentu dipahami semua orang dengan mudah. Belum lagi masalah pelecehan seksual terhadap karyawati yang pulang kantor ketika kalian sedang demo di jalan-jalan ibukota. Untuk mengatasinya, setidaknya kalian bisa introspeksi diri dan membicarakan masalah ini secara terbuka dengan pemikiran yang dewasa termasuk dengan pihak-pihak yang bersangkutan.
VIII
Dunia tidak bisa diselamatkan melalui e-mail.
Walaupun yang kalian lawan memang sistem bukan produknya, tidak peduli bagaimana efisiennya perjuangan kalian setelah adanya teknologi, tetap saja tidak ada yang bisa menggantikan kekuatan dan keintiman yang dihasilkan oleh hubungan dan komunikasi antar manusia. Walaupun internet telah banyak meningkatkan intensitas komunikasi kalian dan membantu jaringan pergerakan-pergerakan global (seperti update email dari Zapatista dalam aksi-aksinya), kalian tidak bisa melupakan kenyataan bahwa penggunaan internet telah banyak memberi kontribusi bagi korporasi-korporasi besar di Amerika dan adanya fakta kuantitatif yang membuktikan bahwa lebih dari 98% penggunaan internet digunakan untuk mempercepat perputaran arus uang dalam kegiatan investasi spekulatif yang dilakukan oleh segelintir orang-orang kaya di penjuru dunia. Kalian tidak bisa selamanya menggantungkan diri kepada teknologi, berikanlah perjuangan kalian sedikit sentuhan pribadi.
IX
Buang jauh ''isme-isme'' itu ke dalam toilet.
''Wah, keren. Kamu seorang ...-is (isi titik-titik itu dengan tipikal label ideologi aktivisme).'' Bagi sebagian besar orang yang tidak menganut ideologi-ideologi tersebut (kalian mungkin akan memberi penanda menghina seperti ''massa yang terilusi''), label-label itu penuh stereotipikal media korporasi dan propaganda negara yang mereduksi aspek-aspek positif yang dibawa label-label ini. Misalnya, ketika kawan saya -seorang vokalis band hardcore dari Kanada yang juga seorang aktifis ARA (Anti Racist Action)- berkata kepada seorang redneck kulit putih pengelola sebuah peternakan ''Aku seorang multikulturalis!'', Ia menjawab sambil mengayunkan garpu rumputnya ''Oh, jadi kamu benci orang kulit putih ya?!'' Supaya tidak mendapat praduga yang malah menyulitkan ruang geraknya akan jadi lebih baik seandainya saja Ia berkata ''Aku percaya ras adalah sebuah konstruksi historis; dimana memandangnya hanya sebatas fisik atau biologis tidaklah masuk akal bagiku, tapi kita telah dimanipulasi untuk mempercayai apa adanya dan memperlakukannya seperti itu (hmm... maaf, saya agak ribet untuk ngasih bahasa yang lebih down-to-earth lagi).'' Dan bisa saja itu akan memancing diskusi lebih lanjut.
Jadi, sebelum mulai mengumumkan diri kalian sebagai sayap kiri ''-isme,'' ''-is,'' atau ''-ian'' (contoh: Marxisme, Marxis, Marxian), pertimbangkan dulu apa yang mereka pikirkan soal label yang akan kalian pakai. Jangan terlalu norak untuk kepingin cepat-cepat orgasme hanya karena menyandang gelar ''anarkis'' atau ''komunis'' sebelum kamu benar-benar bisa menjelaskan: apa yang orang-orang sering dengar soal label-label itu dari media? Kalian tentu masih ingat kan bagaimana wajah media di Indonesia selama 32 tahun dibawah rezim OrBa itu (sampai sekarang juga masih sih)?
Biarkan tindakan yang mendefinisikan siapa kalian, bukan ''isme-isme'' itu.
X
''Fasisme gaya hidup'' sucks!
Kenapa sih kalau menjadi seorang aktivis sepertinya harus berpenampilan kucel dan old-school? Dalam sebuah kegiatan rekruitmen, pernah ada seorang aktivis yang seenaknya saja mencoret sebuah nama hanya karena penampilannya yang trendi dianggap kontra-revolusioner dan menyimpang dari garis perjuangan. Mencari keburukan dalam gaya hidup seseorang nampaknya sudah jadi hal yang sangat biasa di kalangan orang-orang progresif ini. Memang sih, menilai kulitnya saja jauh lebih mudah ketimbang harus menelaah lebih dalam pola konsumsi dan akar pemasalahannya. Kalian harus ingat bahwa hanya dengan mengidentifikasi beberapa aspek gaya hidup masyarakat ''barat'' (sialan, saya terpaksa lagi pakai istilah ini disaat saya sendiri sudah tidak percaya adanya pemilahan budaya timur-barat hanya sebatas hemisfer saja), kalian telah lupa bahwa kesalahan terletak pada keseluruhan sistemnya bukan hanya pada mereka yang merasa nyaman untuk mengenakannya. Kekuatan kita lebih dari sekedar sejauh mana kacamata dapat memandang dan jumlah halaman dalam scrapbook kita. Sebagai langkah awal menuju perubahan kita harus bisa menganalisa akar atas permasalahan kita semua, bukan mengasingkan mereka yang berbeda hanya karena masalah gaya hidup. Kenapa juga kalian masih saja mengulangi pola yang sama yang selalu dilakukan oleh gerakan-gerakan relijius-fasis dan korporasi-korporasi multinasional itu? Biarkan mereka menentukan sendiri apa yang mereka bisa atau tidak bisa boikot dan kalian keluarlah dari jebakan moralitas kotak sabun itu.
XI
Kalau kalian tidak beristirahat, kalian akan menjadi robot revolusi, zombie perubahan!
Dalam diri setiap aktivis pasti ada fase dimana kelelahan datang, rasa bosan menyerang, lalu biasanya dia akan butuh waktu barang sejenak untuk diri sendiri. Hey, itu wajar bukan? Dalam masa-masa ini siapapun akan lebih banyak meluangkan waktu untuk memberi gairahnya sebuah ruang penyegaran temporer, melakukan hal-hal yang benar-benar menarik minatnya, bukan hanya sekedar demi peran historis kaum revolusioner muda atau apalah. Sialnya, dengan kejamnya beberapa orang biasanya akan menyebutnya sebagai ''demoral'' atau ''pengkhianat revolusi.'' Hahaha, perjuangan adalah hal yang sangat berat, revolusi bisa jadi baru akan terjadi dalam waktu yang tidak pendek ke depannya. Tuntutan-tuntutan bunuh diri kelas seperti ''mencurahkan jiwa dan raga sepenuhnya demi perubahan'' hanya akan melahirkan milisi-milisi tanpa hasrat. Bahkan dalam beberapa kasus, seorang aktivis bisa sampai memutuskan hubungan dengan orang-orang yang dicintainya. Kita tidak menginginkan itu, bukan? Bahkan seorang Assata Shakur pun pernah berkata bahwa yang terpenting adalah tumbuh secara personal, menjaga hubungan baik dan menyisihkan waktu untuk kegiatan-kegiatan yang bisa menorehkan sebilah senyum di pipi. Revolusi tidak butuh robot, perubahan tidak butuh zombie... semua itu butuh MANUSIA untuk melakukannya.
XII
Jangan bersikap sektarian!
Ada kejadian bodoh yang sering sekali saya lihat di lapangan maupun dalam perdebatan di dalam mailing-list. Bagaikan dua kelompok anak kecil di mana yang satu berperan sebagai Mighty Morphin Power Ranger dan yang satu lagi sebagai Goggle V bermain perang-perangan, banyak dijumpai para aktivis yang saling gontok-gontokan hanya karena mereka berada di bawah bendera organisasi yang berbeda (oh tidak, kebanggaan buta ini lagi yang jadi masalahnya). Sama seperti kelompok anak-anak kecil tadi yang membuat simulasi atas kehebatan jagoannya di layar kaca padahal tujuan mereka hanya ingin bermain, para aktivis ini saling bermusuhan hanya karena perbedaan buku yang dibaca atau rebut-rebutan ''massa'' padahal tujuan mereka sama yaitu membuat perubahan. Kalau perubahan yang mereka inginkan dapat dengan mudah didefinisikan sebagai ''mengganti orang-orang dalam pemerintahan dengan orang lain,'' maka jelas sudah motif mereka: mereka sudah ngebet ingin jadi birokrat baru. Heheheh!
Selama ini sudah banyak kita lihat sendiri adanya perpecahan-perpecahan semacam ini. Sebabnya berkisar mulai dari adanya ketidakcocokan pribadi, sampai perdebatan soal ideologi dan strategi. Tidak heran, banyak para aktivis yang keluar dari gerakannya dan berakhir dengan mendirikan sebuah gerakan baru. Kalau kita mengatasnamakan multitude gerakan seperti yang ada di buku Empire-nya Hardt/Negri sih itu malah bagus, tapi kalau sampai gerakan baru itu malah menambah daftar musuh baru sih jadi lucu. Pergerakan malah jadi retak dan terfragmen ke dalam banyak klik-klik kecil yang saling mencibir kalau bertemu di lapangan sampai-sampai kita lupa akan kesamaan yang kita miliki dan hanya mempermasalahkan kebencian kita satu sama lain.
Untuk hal ini di antara kita, bisakah kita menyepakati beberapa hal yang penting? Apakah setidaknya kita punya musuh bersama? Bisakah kita melupakan perbedaan-perbedaan kita dan bekerjasama menuju sebuah konsensus sehingga kita tidak usah lagi main tikam dari belakang? Bagi kalian yang masih baru dalam gerakan, tetaplah berkonsentrasi dalam permasalahan yang ada dan jangan ikut larut dalam masalah-masalah seperti ini. Bagi kalian yang ''orang lama,'' perjuangan demi perubahan dimana pun juga tidak butuh warisan kebencian seperti itu (dulu saya pikir hanya anak-anak STM saja yang suka mewariskan kebenciannya terhadap sekolah lain kepada adik kelasnya. Ternyata...).
XIII
Mendefinisikan ulang aktivisme.
Menjadi aktivis adalah posisi kultural yang ada dalam masyarakat kita. Sudahlah, kita semua tahu stereotip-nya: tidak bisa bergaya, selalu merasa benar soal isu ini atau itu, kerjaannya teriak-teriak atau nyanyi-nyanyi di jalanan, mengacung-acungkan plakat tuntutan, di seret-seret polisi, mengacungkan tangan sambil pegang megaphone, dan lain sebagainya. Tapi mengambil bagian dalam kultur aktivisme ini kita mengalienasikan banyak orang yang seharusnya berada di posisi yang sama dengan kita berdiri. Tapi berapa banyak orang yang tergerak hatinya ketika melihat pemberitaan kalian di media-media? Seberapa banyak kita mempengaruhi nilai-nilai stereotip ini?
Tapi lihat apa yang terjadi. Banyak, dan lebih banyak lagi orang yang turut berjuang demi perubahan sosial hanyalah orang ''biasa.'' Ada banyak aksi-aksi tanpa bentuk yang tidak akan pernah kita dengar: mereka yang membentuk kelompok diskusi, mereka yang mendefinisikan dirinya sendiri dan di mana posisi mereka dalam masyarakat, mereka yang memilih untuk memboikot beberapa produk dan tidak mengikuti tren, mereka yang tidak mempercayai uang dan melakukan aksi transaksi tanpa uang alias mencuri, mereka yang menempati bangunan kosong yang disia-siakan pemiliknya sebagai jawaban atas permasalahan tempat tinggal dan gentrifikasi, mereka yang muak dengan perintah bosnya dan memanfaatkan fasilitas di kantornya untuk memenuhi kebutuhan komunitasnya, mereka ada di mana saja dan tetap berjuang kapan pun mereka bisa.
Mereka hanyalah orang-orang biasa yang merespon stimulus dasar di mana hidupnya telah tercuri oleh sistem dan mereka tidak bisa duduk diam dan menerima begitu saja. Mereka juga aktivis, walaupun tidak mendapat privilese atas penanda itu. Revolusi juga akan datang dari tangan mereka. Mereka yang selalu menyebut dirinya ''aktivis'' harus keluar dari jebakan pengkotak-kotakan yang mengkungkung dan mendengarkan apa yang benar-benar dikatakan oleh orang-orang, bukan hanya sekedar membaca habis semua buku yang ada di dalam perpustakaan ''radikal.'' Semua ''isme-isme'' yang sering kalian klaim sebagai identitas itu hanyalah nama yang diberikan oleh para teoris ideologi kalian atas kecenderungan yang sudah biasa ada dalam diri setiap manusia. Semua istilah itu hanya akan tetap menjadi kata-kata sampai tindakan kita memberi arti yang sebenarnya dan kita mendefinisikannya bagi diri kita sendiri seperti apa bentuk perjuangan kita. Sampai saat itu, aktivisme akan tetap mengalienasi manusia yang juga berusaha menggapainya.
(Tulisan ini saya temukan bertahun-tahun lalu di blog sayap-imaji. Blog itu telah hilang kini. Agak menyesal juga, karena begitu banyak tulisan-tulisan di blog itu yang menginspirasi diri saya dalam menjalani hidup sehari-hari).
Subscribe to:
Posts (Atom)
