29.7.07

Jadi, Apa yang Sedang Kita Lakukan?

“You know, happiness is in the doing, right, not in the... getting what you want.”
(Jesse Wallace, tokoh film Before Sunset)

Film itu saya tonton berkali-kali, Before Sunrise dan Before Sunset. Dua film yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Dibuat dengan biaya rendah oleh sutradara terkenal Richard Linklater, Before Sunrise mengambil tempat di Wina, Austria. Dan sembilan tahun kemudian, Before Sunset dibuat di Paris sebagai sekuel Before Sunrise. Dua film itu dibintangi oleh Ethan Hawke (bermain sebagai Jesse Wallace) dan Julie Delpy (sebagai Celine). “Seperti kembali bersatunya sebuah band,” kata Ethan Hawke mengomentari soal pembuatan sekuel itu kepada Los Angeles Times. Dalam Before Sunset, tidak hanya sebagai bintang, Ethan Hawke dan Julie Delpy juga turut ambil bagian menjadi penulis skenario.

Banyak yang bisa saya petik dari dialog-dialog menarik dalam dua film itu. Film itu memang menampilkan kekuatannya dalam dialog-dialog sepanjang adegan. Nyaris tanpa putus dari awal hingga akhir. Tapi, ketika malam tadi saya menonton sekali lagi Before Sunset, betapa saya terkesima dengan kalimat yang dilontarkan Jesse Wallace yang saya kutipkan di atas. Dan, walhasil, setelah nonton film itu, saya berpikir-pikir panjang dan lama. “Rasa-rasanya memang benar,” ujar saya dalam hati, “Kebahagiaan bukan karena apa yang kita dapatkan, tapi karena apa yang kita lakukan....”

Siang tadi, misalnya. Siang tadi saya mendapati anak kecil tetangga saya sedang membuat layang-layang sendiri. Sekolahnya baru menginjak kelas dua SD, seragam olahraga sekolahnya belum dia lepaskan. Saya duduk di dekatnya dan memperhatikan. “Lidinya terlalu besar, pasti akan susah terbang,” kata saya berkomentar. Tak membalas ucapan saya, dia malah semakin serius mengerjakan layang-layangnya sendiri. Dia masuk ke dalam rumah dan lalu keluar lagi dengan membawa lem kertas. Selembar halaman koran yang berisi iklan kredit motor dia gunting sesuai ukuran rangka layangan yang telah berhasil ia buat. Dengan lem kertas, dia merekatkan guntingan koran tersebut ke benang di rangka layangan. Tak lama kemudian bibirnya melempar senyum puas, seraya tertawa kecil dia bilang, “Jadi!”

Sekarang tinggal menerbangkan.

Tapi layangan itu tidak pernah terbang. Tidak pernah bisa. Dicoba berkali-kali tetap tak bisa. Dia lalu menggunting benang dari layangan tersebut, dan mengambil layangan lamanya yang dia dapatkan dari membeli. Dia sambungkan benang, dan layangan lamanya terbang. Layangan yang dia buat sendiri, dia biarkan tergeletak di samping kakinya.

Dan sama sekali saya tak menemukan guratan kekecewaan di wajah anak kecil tetangga saya tersebut. Tawanya tetap lepas ketika yang terbang ternyata adalah layang-layang yang didapatkan karena membeli, bukan hasil buatannya sendiri. Mendadak saya menjadi semakin mengerti akan kalimat milik Jesse Walace yang saya kutip di atas, yang membahagiakan adalah karena dia telah mencoba melakukan membuat layang-layang sendiri. Dia telah berpikir untuk membuat sebuah layangan, merancangnya dalam kepala, mencari lidi, kertas koran, dan benang lalu berusaha mewujudukan apa yang ada di dalam pikirannya. Mungkin dia tidak mendapatkan layang-layang baru, tapi dia telah melakukannya. Jika sudah begitu, tentulah dia pantas untuk tidak kecewa dan tetap bahagia. Tak peduli yang dimainkan adalah layang-layang lama.

***

Seandainya kita tahu apa yang kita lakukan. Bukankah banyak di antara kita yang tak benar-benar tahu apa yang sesungguhnya tengah kita lakukan? Kita berbuat begini berbuat begitu sering tanpa kita tahu untuk apa atau mengapa? Yang lebih parah lagi, betapa sering kita melakukan sesuatu karena... orang lain melakukannya!

Banyak hal. Seakan-akan kita tak tahu apa yang sesungguhnya benar-benar ingin kita lakukan untuk diri kita sendiri, sebagai diri kita sendiri. Terkadang kita melakukannya hanya karena orang lain telah melakukannya, atau karena orang lain ingin kita melakukannya, situasi ingin kita melakukannya. Kita tak lagi tahu diri kita sendiri, apa keinginan kita dan siapa sesungguhnya kita. Jika sudah seperti itu, seberapa banyak kebahagiaan bisa kita raih?

Seorang teman saya yang sejak kecil ingin belajar menari balet tidak pernah bisa melakukannya keinginannya itu karena orangtuanya tak mengizinkan. Seorang teman lagi yang pandai memintal, malah dihardik orangtuanya dengan kalimat, “Kamu disekolahkan bukan untuk jadi penjahit!” Seorang teman lagi menjadi pengikut tren habis-habisan karena, kata dia, “Ya, namanya juga anak muda!” Lalu ada pula yang setengah mati diet karena merasa bahwa yang ideal adalah yang seperti bintang iklan. Ada yang bolak-balik ke salon meniru artis ini atau artis itu.

Semuanya menjadi serba seragam, kita kehilangan keunikan kita. Seolah-olah ada begitu banyak komando yang datang dari luar diri kita untuk kita turuti. Tak lagi bebas mengekspresikan diri kita hanya sebagai diri kita sendiri, kita seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Tak lebih dari sekadar ‘pengikut’. Lucunya, terkadang kita bisa merasa bahagia.

Ah, seandainya kita tahu apa yang sedang kita lakukan....

(printed version at Seputar Indonesia, 29 Juni 2007)
Kematian Seorang Kesepian



Setengah abad lebih kematiannya menjadi misteri, dan bulan ini seorang Belanda mengemukakannya ke publik. Link artikel:

Misteri Kematian Tan Malaka Terungkap

Menguak Misteri Kematian Tan Malaka


Dan saya menemukan puisi ini. Dari si penulis Negara Kelima, Esito.

Dark Romance

Untuk Tan Malaka

Seperti kisah yang lama
Ada kenangan dari yang hilang
Setambat duka dari yang tidak disuka
Dan dirimu pun seperti bayang
Terhalang bintang-bintang
Yang menaungi sejarah

Ada apa Tan

Dengan hilangnya kau
Persis di tengah-tengah revolusi republik
Matikah kau Tan membawa petualangan tak terlupakan
Tidak ada yang tahu Tan
Semenjak tiga serangkai, sukarno hatta dan syahrir
Yakinkan engkau dan iwa kusuma sumantri kelak sebagai ban serep
Jika tiga mereka mati

Tetapi seperti kisah orang tersembunyi
Ada segelintir orang kagumi engkau punya diri
Jadikan madilog kitab suci
Tidak lupa juga puja pahlawan import
Che guevera namanya Tan

Tetapi aku mau bertanya pada mu Tan
Pada retorika romantisme yang sepi

Adakah kau dalam pelarian
Penuh sukacita fasilitas tiada tara
Seperti laku kini mereka yang memujamu
Dengan madilog dan kaos che guevera
Keluar masuk hiburan malam

Adakah dalam ingatanmu
Dalam pelarian kau bercinta dengan segenap wanita
Seperti laku mereka yang memujamu
Dengan madilog dan kaos che guevera
Berpelukan mesra dengan wanita segala usia

Dan tan bisakah kau reka ulang
Dalam pelarian jhony walker jadi teman sepimu
Seperti laku mereka yang memujamu
Dengan madilog dan kaos che guevera
Tak sadarkan diri demi menenangkan diri

Hey..Tan

Yang kampung engkau jaraknya tidak lebih dari 33 kilo dari kampungku
Adakah semua itu kau laku
Di indochina
Siam
Singapura
Atau bahkan dalam penyamaranmu di jaman jepang?

Aku tidak tahu Tan
Tetapi dari engkau yang ku paham dari kisahmu
Engkau tidak begitu
Ada religiusme individu dalam sosialisme kolektif
Begitu yang kutahu

Ada apa dengan mereka yang mengagungkan madilog mu tan
Berpikir mereka di hutan amerika selatan
Hingga kenakan kaus che guevera
Tapi tak sekalipun merasakan di tengah medan aksi

Ada apa Tan?

3 Desember 2004

(link: ibu, aku ingin mengubah bintang)



27.7.07

Siapa yang Kangen?

"Hidup Kangen Band!"
(kata kawan saya suatu sore)

Iseng, saya coba search pendapat para blogger tentang Kangen Band. Ini di antaranya:

Fenomena Kangen Band

Kangen Band, Band Terbaik di Indonesia!


Kangen Band

Fenomena Kangen Band

Keberuntungan Tanpa Kualitas dari Kangen Band

Kangen Band dan Bakekok Lainnya

Kangen Band

Kangen Band

Fenomena Langka dan Aneh yang Membuat Saia Tidak Kangen!

25.7.07

Dari Akhir Minggu


"Tidakkah kau tahu kuselalu mencari waktu tuk bertemu denganmu
Lihatlah kedua mataku bersinar resah dan jiwaku telah lelah"
(Di Relung Kamarku, Katon Bagaskara)

Sabtu siang yang membosankan dikejutkan dengan pesan pendek dari seorang teman lama, Andri. Mengabarkan bahwa ada undangan untukku: seorang teman menikah. Well, di tahun ini, satu orang lagi kawan menikah. Aku menjanjikan kehadiranku. Momen-momen seperti ini biasanya akan menjadi wahana interaksi kembali dengan kawan-kawan lama. Karena acaranya di Bandung, aku meminta Andri untuk mau menjemputku di Jatinangor sebelum ke tempat acara. Dia menolak, menurutnya Mila, mantan pacarnya, akan datang ke kostnya. Ya, tentu saja itu berarti merepotkan. Aku katakan tak apa, bertemu di tempat acara saja.

Namun, tiba-tiba di sore hari situasi berubah. Mila mengurungkan niatnya untuk datang ke Bandung. Untuk alasan yang entah, dia memilih tetap di Jakarta dan akan kembali akhir bulan nanti. Andri mengabariku perihal ini. Aku katakan, "Malam ini, aku ke tempatmu. Menginap di sana dan berangkat dari sana."

Hari Minggu ternyata tak seperti dugaanku. Beberapa orang teman tak bisa datang karena ada saja agenda-agenda personal yang tak bisa ditinggalkan. Ini menyebalkan, mengingat intensitas pertemuan kami yang semakin berkurang saja. Terlebih ketika Rumah Biru, tempat kami biasa berkumpul, habis masa kontrak. Dasuki harus menjaga bayi perempuannya yang baru lahir. Dahrun harus segera kembali ke Cimahi, tempatnya mengajar. Samsul di Jakarta dan tak bisa ke Bandung. Dan yang paling menyebalkan adalah Epul tak bisa karena harus bekerja di kantornya. Hari Minggu dan harus bekerja!

Jadi, hanya aku dan Andri yang datang. Berdua kami naik motor ke tempat acara. Menyampaikan salam teman-teman yang tak bisa hadir, mengucapkan selamat dan pulang. Kawanku yang menikah, berbahagia sekali. Roman mukanya tak bisa menutupi itu. Sementara, keesokan harinya, seorang kawanku yang lain di kota yang lain lugas bilang padaku, "Aku tak tahu apa gunanya menikah."

Sepulang dari tempat resepsi, aku dan Andri memutuskan untuk datang ke kantor tempat Epul bekerja. Sedang sibuk. Baru lima menit duduk di lobby, tiga cangkir kopi datang. Sesekali Epul datang untuk duduk minum kopi bersama. Berkali-kali dia kembali masuk ke dalam ruang kantornya menyelesaikan urusan ini itu. Bukan hanya Epul di hari Minggu itu yang bekerja. Dua orang perempuan juga kulihat sedang bekerja. Memeriksa dokumen-dokumen dan sibuk di depan layar monitor komputer. Pasti ini hari Minggu yang tak cerah untuk keluarga mereka, untuk anak dan istri Epul di rumah.

Menjelang sore, pekerjaan tampaknya selesai. Epul duduk bersama kami menikmati kopi. Dia bertanya, "Mila gak datang?" Andri hanya tersenyum. Aku yang sedari tadi diusili lantaran kisah rumit masa laluku bersama seorang teman, menyentil, "Jangan-jangan Mila dan Samsul pacaran di Jakarta?"

Semua tertawa. Dan Epul menyambung, "Masuk akal! Kemarin Samsul bilang ke aku kalau dia sudah punya pacar, 'baru, tapi tidak baru'." Pasti bukan orang baru. Hanya baru pacaran saja, maksudnya. Dan salah satu kemungkinannya memang mengarah ke sosok Mila. Dulu kami menghabiskan waktu bersama-sama di Panorama E 12. "Gak Menyangka, Samsul ternyata ikut-ikutan." Kami tertawa.

"Gak mungkin," kata Andri. "Gue mah beda sama loe," mukanya mengarah ke saya. Tertawa lagi.

Tiba-tiba hari Minggu itu jadi menyenangkan. Epul mengajak aku dan Andri ke rumahnya. Kami menyanggupi. Sampai rumah Epul, istrinya membuka pintu dan langsung mengembangkan senyum. Anaknya yang masih dua tahun bersembunyi di balik kaki ibunya. "Kalian harus makan malam di sini," kata istrinya. Belum ada sepuluh menit sejak kami datang, makanan sudah tersedia di depan kami. Nasi dan lauk-pauknya. Di rumah hangat itu, kami makan berramai-ramai. Selepas makan, kopi muncul dari dapur. Epul sekeluarga bersama aku dan Andri menghabiskan waktu ngobrol-ngobrol.

Olok-olok soal 'Mila-Samsul' terus berlangsung di beranda rumah itu. "Ada kabar buruk, De," kata Epul pada Ade, istrinya. "Samsul pacaran sama Mila!" Ade tertawa-tawa. "Untung aja kita nikah," sambung Ade seraya tertawa. Andri jelas misuh-misuh. Dia mengeluarkan ponselnya, dengan speaker phone dia menelepon Mila. Telepon diangkat, suara Mila di Jakarta. "Mila, kamu bener pacaran sama Samsul?" Tanya Andri. Alih-alih menjawab, Mila malah tertawa-tawa. "Hahaha. Mila tuh maunya sama Imam, nungguin Imam dari dulu. Ada Imam gak di sana?" Jawab Mila sambil tertawa. "Ada nih," Jawab Andri. Lalu Mila berbicara padaku, "Mam, kapan atuh pendekatan ke Mila? Mila nungguin kamu terus nih." Aku tertawa saja, "Imam gak bisa, Mil," jawabku singkat. Yang tak disangka adalah Mila malah jadi mengolok-olokku, "Payahhh, masa gak bisa. Si itu aja bisa." Semua orang tertawa senang. Tentu saja, selain aku yang cuma bisa tertawa kecil. Di akhir pembicaraan, kami sepakat untuk merencanakan perjalanan bersama. Mungkin akan ke Ciwidey atau Pantai Batu Karas.

Pukul sepuluh malam Andri dan Epul berencana main ke kamar kostku yang baru. Tak satupun dari mereka yang tahu. Epul meminta izin ke istrinya dan pamit ke anaknya, "Mungkin pulang malam sekali." Bertiga kami ke Jatinangor, lima belas menit perjalanan. Dan terasa, malam itu menjadi malam yang panjang. Saling tertawa tak henti. Memutar kembali masa lalu: Bermain domino dengan winamp playlist Ari Lasso, Bintang dingin, dan Djarum Super. Sebuah kegiatan yang kami mulai bertahun-tahun lalu. Kalau bermain domino, ya harus memutar lagu-lagu Ari Lasso. Kalau ada yang kalah, ya memakai helm motor. Kalau memakai helm, ya tak bisa merokok Djarum Super. Dan Bintang dingin membuat semuanya menjadi ringan malam itu.

21.7.07

Pewaris Waktu

Pagi ini seorang kawan meminta rekomendasi blog yang bagus pada saya. Saya cuma ingat satu blog. Ini sekaligus mengingatkan saya akan keinginan saya untuk memberitahukan blog ini ke banyak orang. Ingin sekali. Sejak pertama kali membacanya saya langsung jatuh hati pada tulisan-tulisan di dalamnya. Mengingatkan saya pada hal-hal sederhana yang ada di sekitar saya, pada pikiran-pikiran kecil, pada kisah-kisah hidup yang manis atau yang tak manis. Setelah membacanya, saya selalu saja dibuat untuk mengambil jeda untuk satu dua hela napas. Menikmatinya seperti saya menikmati secangkir capuccino mahal di foodcourt Pasaraya (yang cuma sekali saya rasakan dengan momen yang luar biasa) atau secangkir kopi Aroma. Saya tak tahu siapa penulisnya. Percayalah, bukan karena dia tak terkenal. Tapi, karena saya kurang bisa bergaul.

Blog itu, www.pewariswaktu.wordpress.com