Hidup selalu menuntut sebuah keputusan. Dengan kalimat klise itulah tulisan ini dibuka. Sebuah tulisan yang dibuat saat rasa sakit di kepala tak juga berhenti sejak beberapa hari ke belakang. Rasa sakit ini begitu terpola. Di sisi sebelah kiri, seperti ada yang menarik dengan keras. Dari rahang bagian bawah hingga tepat sedikit di atas telinga, seperti rajin berdenyut-denyut. Jika suatu waktu sedang butuh variasi, rasa sakit itu akan berpindah ke atas tengkuk bagian belakang. Menyisakan ngilu panjang. Kadang paracetamol sedikit membantu. Kadang tidur yang baik akan meringankan. Tapi segalanya lebih sering hanya untuk sementara.
Maka hari ini saya mencoba membuat keputusan. Rokok di asbak--asbak tanah liat berukiran nama saya, yang ia buat dan bawakan untuk saya meski belum sempurna--sisa setengah batang. Saya mungkin harus turun setelah ini. Pergi ke toko membeli rokok, alat cukur, atau apa saja. Saya tak terlalu hirau pada kesempurnaan. Saya menjalani apa yang ada dan yang bisa. Mentalitas orang-orang kalah.
Ada hal-hal yang tidak pernah betul-betul kita pahami mengapa bisa terjadi. Ada hal-hal yang bisa sebenarnya dapat mudah kita pahami mengapa harus terjadi. Tapi saya seperti berada di titik tak lagi merasa perlu untuk menyadari apakah diri saya paham ataukah tidak. Saya hanya merasa selalu menjadi penyebab dari ketidaknyamanannya, kesusahannya. Dan saya memutuskan diri untuk berusaha sekeras mungkin berhenti menjadi sumber malapetaka.
"Jangan ajari saya soal itu," kata saya hampir marah kepada seorang teman. Saya meneleponnya dua malam lalu dan memintanya menemani saya. Kami memacu kendaraan tanpa tahu harus ke mana. Saya tentu tidak pantas marah kepadanya. Dia sendiri memiliki persoalan yang juga tak kalah pelik. "Saya hanya tidak tahu harus berbuat apa. Saya menyakiti diri saya sendiri. Memukuli diri saya sendiri, bermain api, bermain jarum. Saya mencari rasa perih saya sendiri." Teman saya hanya diam. Tak mau pulang dan berkeras menemani sampai kamar.
Pada akhirnya saya membuat keputusan ini. Keputusan yang saya sendiri tak terlalu berselera untuk memahaminya. Keputusan yang saya sendiri tak pernah tahu seberapa mampu menjalaninya dan entah akan seperti apa kemudian menangani diri saya sendiri.
Saya hanya berharap kebaikan untuk semua.
No comments:
Post a Comment