Toh, hujan sama menakjubkannya,
di Paris atau di tiap sudut Surabaya.
- Puan Kelana, Silampukau
"Mam, kapan nih akan turun hujan? Sudah kirim surat ke BMKG, mencoba menanyakannya?" Pesan seorang kawan baik masuk ke ponsel tepat seusai saya makan siang.
Saya hanya tertawa. Mengirimkan surat ke BMKG, kata saya, adalah pekerjaan yang hanya mungkin dilakukan mereka yang begitu kesepian. Dan saya tak ingin mengulanginya.
Tapi hujan memang seperti enggan datang. Anggapan lazim yang terpelihara sejak masa kecil, bahwa jika nama-nama bulan berakhir -ber, itu artinya kita memasuki musim hujan, sama sekali tak terbukti beberapa tahun belakangan ini. Tak peduli September, Oktober, November atau Desember, hujan bisa sama sekali tak tumpah dari awan. Sebaliknya, pada bulan-bulan di mana semestinya matahari bersinar garang, justru hujan kerap datang. Perubahan pola cuaca? Saya tak terlalu tertarik mencari tahu.
Tapi hujan memang kadang menyenangkan. Setiap kali hujan datang dan keponakan saya yang baru berusia satu tahun menatap ke luar rumah, saya selalu mencoba menerka apa yang ada di benaknya. Pada usianya itu, barangkali belum banyak hujan yang pernah ia saksikan. Melihat air tumpah begitu banyak dari langit, membasahi semua yang ada di bawah, apa rasanya? Takjub? Ataukah menakutkan?
Sebagai pengendara motor saya pun kadang menikmati hujan. Jika kebetulan membawa jas hujan dan hujan tak turun terlampau deras, saya akan menembus hujan. Merasakan setiap air yang jatuh menerpa muka. Kenikmatan ini akan berlipat ganda jika hujan begitu deras sementara malam mulai larut yang memaksa kita harus tetap pulang. Sederas apa pun, saya akan tetap memacu motor di bawah guyuran hujan. Pada masa-masa seperti itu pemandangan di sekitar jalan akan menjadi begitu berbeda. Pendar-pendar lampu akan menjadi sangat cantik, berkelebat di balik tetes-tetes air, berganti-ganti warna. Kala berhenti, pandangan akan menjadi tak terlalu terang. Kabut putih seperti menyeliputi pandangan mata, untuk kemudian kembali terang saat kembali memacu motor.
Tak ada penjelasan yang masuk akal mengapa saya menikmati memacu motor di bawah hujan kecuali bahwa itu merupakan sisa-sisa kesenangan purba di masa kecil dulu. Bermain-main di bawah guyuran hujan sepuas-puasnya.
"Hujan-hujan, lebih senang naik motor?" Tanya seorang teman saya keheranan.
"Iya," kata saya menjawab singkat.
"Hmm. Well, saya barusan bilang ke teman saya, mereka yang mengatakan 'hujan-hujan itu enaknya makan bakso', pasti belum pernah merasakan berciuman saat turun hujan. Bagiamana bisa ini ada yang jauh lebih menyedihkan, lebih enak naik motor?" Dia tertawa lebar.
Saya menelan ludah. Mematikan rokok yang sebenarnya masih belum sepenuhnya habis.
28.9.15
19.9.15
Merah
"Sebel banget gue setiap liat loe dengan jaket merah loe itu," kata dia begitu saya sampai.
Saya membuka jaket merah yang dia maksud. Syal yang melingkar di leher juga saya lepas. Keduanya saya letakkan di atas tas yang saya taruh di samping kursi tempat saya duduk.
Kawan yang lain tak kuasa menahan tawa. "Entah sudah berapa banyak orang yang selalu ngomongin soal jaket merah ini," kata dia.
Saya hanya bisa ikut-ikutan tertawa.
Jaket merah itu saya beli lima atau enam tahun lalu, saya agak lupa kapan persisnya. Saya beli di Pontianak, Kalimantan Barat. Di deretan para penjual pakaian lelong, sebutan khas untuk pakaian bekas yang diimpor dari negara tetangga, saya temukan jaket berwarna merah itu. Saya tidak terlalu ambil pusing, apakah jaket itu bekas kepunyaan Nurul Izzah Anwar ataukah bekas kepunyaan Ipin-Upin.
Saat itu warna merahnya masih benar-benar merah. Lima atau enam tahun berlalu, warnanya sudah berubah menjadi merah jambu dan bahkan di sana-sini lebih banyak corak-corak putih. Waktu memang terkadang mujarab memudarkan warna-warna.
Dia tentu bukan orang pertama yang bicara soal jaket merah itu. Saat bermotor dan terjebak dalam kemacetan, seorang kawan tiba-tiba ada di samping. "Jaket loe masih ini-ini aja. Ampun...." kata dia. Teman yang lain, yang dengannya saya kerap minum kopi dan saling berbagi cerita, cukup sering geleng-geleng begitu saya tiba di warung kopi. "Masih saja itu jaket."
Jika dipikir-pikir, frekuensi saya untuk membeli pakaian baru, entah itu kaos, kemeja, sepatu, sandal, atau jaket, sangat bisa dibilang minim. Pakaian yang saya pakai ya itu-itu saja. Batik yang saya pakai untuk berkunjung ke tempat klien, juga itu-itu saja. Apa sebabnya? Ya banyak. Beruntung tidak harus setiap hari saya masuk ke kantor atau ke tempat klien.
Tapi malam tadi, selepas seorang kawan mengatakan sebal sekali setiap kali melihat saya masih saja menggunakan jaket merah, ia mengeluarkan sebuah bungkusan.
"Ini, semoga muat. Ukurannya sih besar. Ayo coba dulu, pasti muat."
Saya terkejut. Sebuah jaket baru untuk saya. Saya kenakan dan, segala puji bagi setiap bintang yang bersinar terang pada malam itu, jaket tersebut pas di badan.
"Nah, besok-besok, silakan pakai jaket itu," kata teman saya.
Saya hanya mengucapkan terima kasih. Di atas langit saya lihat bulan tersenyum begitu manis.
"Cheers!"
17.9.15
Terlelap
![]() |
| Source: INFP FB |
#1
Adam tidur begitu lelapnya. Tatkala Adam sedang tidur, Tuhan mengeluarkan salah satu tulang rusuk Adam dan kemudian menciptakan Hawa dari tulang tersebut. Sedemikian nyenyaknya tidur Adam, tak ia rasakan tulang rusuknya hilang.
#2
Ibrahim terbangun dari tidurnya. Ia terkejut dengan mimpi yang mendatanginya kala tidur. Ia menyembelih anaknya. Mimpi yang datang semacam pertanda. Sejenak ia ragu, tidakkah mimpi itu merupakan pesan dari Tuhan ataukah godaan setan?
#3
Yusuf putra Yakub, menceritakan mimpi yang mendatanginya kala ia tertidur. Ia katakan, dalam mimpinya ia melihat matahari bulan bintang tunduk bersujud kepada Tuhan. Yakub ayahnya tertegun mendengar Yusuf. Menyadari bahwa kelak ialah yang akan menjadi pewaris penerus firman.
#4
Yesus bersama para muridnya berada di atas kapal. Ia memilih bantal dan kemudian berbaring tidur begitu nyenyak. Tanpa diduga, badai tiba. Perahu goyang, dan geladak dipenuhi air. Para murid membangunkan Yesus. Dengan ketenangan tak terperi, Yesus hanya berkata, "Diam dan tenanglah."
#5
Muhammad akan segera berangkat tidur pada awal malam. "Tuhanku, dengan nama-Mu aku mati, dan dengan nama-Mu pula aku hidup," ia lafalkan doa itu sebelum benar-benar terlelap. Tubuhnya akan dimiringkan ke kanan, bantal yang ia gunakan hanyalah tangan kanannya.
Belajarlah untuk tidur. Yang baik, yang lelap.
16.9.15
Terbang
"Passion kamu apa, Mam?" Pertanyaan boss saya memecah kebekuan di tengah-tengah kemacetan sepulang pertemuan di kantor klien.
"Maksudnya bagaimana, Mas?" Saya meraba arah pertanyaannya.
"Ya, passion... sesuatu yang kamu sukai. Yang jika kamu melakukannya, kamu bisa lupa waktu."
"Hmm...." saya sebenarnya sering merasa bingung bila berhadapan dengan pertanyaan yang lazim saya temui di formulir-formulir pencari kerja semacam ini.
"Kalau saya programming. Saya otodidak. Saya suka coding, mempelajari logika-logika script, bikin ini-itu. Kalau sudah menghadapi hal-hal kayak gitu, saya bisa lupa waktu, lupa makan," kata boss saya.
Saya tetap terdiam. Saya merasa minat saya pada suatu hal tak pernah berlangsung ajeg. Saya bisa meminati film, untuk kemudian beralih ke musik. Mempelajari bahasa pemprograman web, dan lantas beralih begitu saja ke desktop publishing. Kadang ada kalanya saya gemar mengumpulkan resep-resep masakan, kadang pula ada waktunya saya lebih memilih mengunjungi pameran dan toko buku. Tapi tak ada yang rasanya benar-benar menarik minat saya hingga pantas saya labeli sebagai passion saya.
Jalanan di Jakarta benar-benar semrawut. "Mas, jika boleh, saya ingin menetap di Bali. Bekerja dari sana. Memungkinkan?" Saya bertanya, mengambil momentum kemacetan dan mengatakan bahwa situasi kota seperti ini sangatlah tidak sehat.
Boss saya tertawa. "Belum, Mam. Belum."
Saya kembali diam. Langit mulai beranjak gelap dan lampu-lampu mobil mulai gemerlap. Gemerlap yang selalu gagal sanggup mengusir kemuraman.
"Saya tidak tahu apa passion saya. Tidak ada yang benar-benar saya minati secara serius," ujar saya setelah kami berhasil melewati kemacetan. "Tapi ada satu hal yang saya gemari sejak dulu, belasan tahun lalu, hingga hari ini. Kegemaran yang barangkali akan saya tinggalkan sementara waktu, untuk kemudian pasti akan saya geluti lagi: menjelajah sejarah agama-agama."
Boss saya tersenyum. "Pencarian?"
Mungkin saja, kata saya dalam hati. Tapi saya lebih suka menyebutnya 'kerinduan'.
Di kepala saya melintas kembali petikan The Infancy Gospel of Thomas yang dikutip teman saya.
"Terbanglah jauh-jauh, hiduplah, dan ingatlah aku."
"Maksudnya bagaimana, Mas?" Saya meraba arah pertanyaannya.
"Ya, passion... sesuatu yang kamu sukai. Yang jika kamu melakukannya, kamu bisa lupa waktu."
"Hmm...." saya sebenarnya sering merasa bingung bila berhadapan dengan pertanyaan yang lazim saya temui di formulir-formulir pencari kerja semacam ini.
"Kalau saya programming. Saya otodidak. Saya suka coding, mempelajari logika-logika script, bikin ini-itu. Kalau sudah menghadapi hal-hal kayak gitu, saya bisa lupa waktu, lupa makan," kata boss saya.
Saya tetap terdiam. Saya merasa minat saya pada suatu hal tak pernah berlangsung ajeg. Saya bisa meminati film, untuk kemudian beralih ke musik. Mempelajari bahasa pemprograman web, dan lantas beralih begitu saja ke desktop publishing. Kadang ada kalanya saya gemar mengumpulkan resep-resep masakan, kadang pula ada waktunya saya lebih memilih mengunjungi pameran dan toko buku. Tapi tak ada yang rasanya benar-benar menarik minat saya hingga pantas saya labeli sebagai passion saya.
Jalanan di Jakarta benar-benar semrawut. "Mas, jika boleh, saya ingin menetap di Bali. Bekerja dari sana. Memungkinkan?" Saya bertanya, mengambil momentum kemacetan dan mengatakan bahwa situasi kota seperti ini sangatlah tidak sehat.
Boss saya tertawa. "Belum, Mam. Belum."
Saya kembali diam. Langit mulai beranjak gelap dan lampu-lampu mobil mulai gemerlap. Gemerlap yang selalu gagal sanggup mengusir kemuraman.
"Saya tidak tahu apa passion saya. Tidak ada yang benar-benar saya minati secara serius," ujar saya setelah kami berhasil melewati kemacetan. "Tapi ada satu hal yang saya gemari sejak dulu, belasan tahun lalu, hingga hari ini. Kegemaran yang barangkali akan saya tinggalkan sementara waktu, untuk kemudian pasti akan saya geluti lagi: menjelajah sejarah agama-agama."
Boss saya tersenyum. "Pencarian?"
Mungkin saja, kata saya dalam hati. Tapi saya lebih suka menyebutnya 'kerinduan'.
Di kepala saya melintas kembali petikan The Infancy Gospel of Thomas yang dikutip teman saya.
"Terbanglah jauh-jauh, hiduplah, dan ingatlah aku."
15.9.15
Dua Detik
![]() |
| Source: tech.magazinemanager.com |
Bertahun-tahun lampau, saat ayah saya masih aktif bekerja, ada suara yang cukup familiar ketika dia pulang dan memasuki rumah. Suara itu suara koran yang ia letakkan di meja. Suara yang begitu khas. Kemudian, seperti biasa, kami --saya, mama, dan kakak-kakak saya maksudnya-- akan membaca koran tersebut berganti-gantian.
Malam tadi, selepas pukul 19, saat saya menuruni tangga menuju kamar mandi, suara itu kembali terdengar. Sangat nyata terdengar. Seketika itu saya merasa, atau berpikir, ayah saya baru pulang bekerja.
Dua detik lamanya saya memiliki perasaan, atau pikiran, tersebut. Sampai saya sadar ayah saya sebenarnya sudah tidak ada lebih dari tujuh tahun lalu. Dua detik yang melipat waktu tujuh tahun.
11.9.15
7.9.15
Demikianlah
Hidup selalu menuntut sebuah keputusan. Dengan kalimat klise itulah tulisan ini dibuka. Sebuah tulisan yang dibuat saat rasa sakit di kepala tak juga berhenti sejak beberapa hari ke belakang. Rasa sakit ini begitu terpola. Di sisi sebelah kiri, seperti ada yang menarik dengan keras. Dari rahang bagian bawah hingga tepat sedikit di atas telinga, seperti rajin berdenyut-denyut. Jika suatu waktu sedang butuh variasi, rasa sakit itu akan berpindah ke atas tengkuk bagian belakang. Menyisakan ngilu panjang. Kadang paracetamol sedikit membantu. Kadang tidur yang baik akan meringankan. Tapi segalanya lebih sering hanya untuk sementara.
Maka hari ini saya mencoba membuat keputusan. Rokok di asbak--asbak tanah liat berukiran nama saya, yang ia buat dan bawakan untuk saya meski belum sempurna--sisa setengah batang. Saya mungkin harus turun setelah ini. Pergi ke toko membeli rokok, alat cukur, atau apa saja. Saya tak terlalu hirau pada kesempurnaan. Saya menjalani apa yang ada dan yang bisa. Mentalitas orang-orang kalah.
Ada hal-hal yang tidak pernah betul-betul kita pahami mengapa bisa terjadi. Ada hal-hal yang bisa sebenarnya dapat mudah kita pahami mengapa harus terjadi. Tapi saya seperti berada di titik tak lagi merasa perlu untuk menyadari apakah diri saya paham ataukah tidak. Saya hanya merasa selalu menjadi penyebab dari ketidaknyamanannya, kesusahannya. Dan saya memutuskan diri untuk berusaha sekeras mungkin berhenti menjadi sumber malapetaka.
"Jangan ajari saya soal itu," kata saya hampir marah kepada seorang teman. Saya meneleponnya dua malam lalu dan memintanya menemani saya. Kami memacu kendaraan tanpa tahu harus ke mana. Saya tentu tidak pantas marah kepadanya. Dia sendiri memiliki persoalan yang juga tak kalah pelik. "Saya hanya tidak tahu harus berbuat apa. Saya menyakiti diri saya sendiri. Memukuli diri saya sendiri, bermain api, bermain jarum. Saya mencari rasa perih saya sendiri." Teman saya hanya diam. Tak mau pulang dan berkeras menemani sampai kamar.
Pada akhirnya saya membuat keputusan ini. Keputusan yang saya sendiri tak terlalu berselera untuk memahaminya. Keputusan yang saya sendiri tak pernah tahu seberapa mampu menjalaninya dan entah akan seperti apa kemudian menangani diri saya sendiri.
Saya hanya berharap kebaikan untuk semua.
Maka hari ini saya mencoba membuat keputusan. Rokok di asbak--asbak tanah liat berukiran nama saya, yang ia buat dan bawakan untuk saya meski belum sempurna--sisa setengah batang. Saya mungkin harus turun setelah ini. Pergi ke toko membeli rokok, alat cukur, atau apa saja. Saya tak terlalu hirau pada kesempurnaan. Saya menjalani apa yang ada dan yang bisa. Mentalitas orang-orang kalah.
Ada hal-hal yang tidak pernah betul-betul kita pahami mengapa bisa terjadi. Ada hal-hal yang bisa sebenarnya dapat mudah kita pahami mengapa harus terjadi. Tapi saya seperti berada di titik tak lagi merasa perlu untuk menyadari apakah diri saya paham ataukah tidak. Saya hanya merasa selalu menjadi penyebab dari ketidaknyamanannya, kesusahannya. Dan saya memutuskan diri untuk berusaha sekeras mungkin berhenti menjadi sumber malapetaka.
"Jangan ajari saya soal itu," kata saya hampir marah kepada seorang teman. Saya meneleponnya dua malam lalu dan memintanya menemani saya. Kami memacu kendaraan tanpa tahu harus ke mana. Saya tentu tidak pantas marah kepadanya. Dia sendiri memiliki persoalan yang juga tak kalah pelik. "Saya hanya tidak tahu harus berbuat apa. Saya menyakiti diri saya sendiri. Memukuli diri saya sendiri, bermain api, bermain jarum. Saya mencari rasa perih saya sendiri." Teman saya hanya diam. Tak mau pulang dan berkeras menemani sampai kamar.
Pada akhirnya saya membuat keputusan ini. Keputusan yang saya sendiri tak terlalu berselera untuk memahaminya. Keputusan yang saya sendiri tak pernah tahu seberapa mampu menjalaninya dan entah akan seperti apa kemudian menangani diri saya sendiri.
Saya hanya berharap kebaikan untuk semua.
Subscribe to:
Posts (Atom)


