Intinya, 230 juta penduduk Indonesia akan disulap jadi sekumpulan pasar belaka. Kumpulan konsumen saja. Bukan kumpulan orang-orang produktif yang terlatih mengembangkan nilai tambah dan gemar berproduksi. Bangsa konsumen, bukan bangsa produsen. Ini akibat serangkaian kebijakan yang kurang merangsang dan memberi insentif pada kegiatan-kegiatan produksi, dibandingkan konsumsi. Bunga bank dikerek terus untuk kosmetik politik agar wajah inflasi tak tinggi, tapi akibatnya para produsen tak berani mengambil kredit untuk usaha.
Di sisi lain, kredit konsumsi digenjot habis-habisan. Bayangkan saja, sekarang lebih mudah membeli motor atau mobil dengan cara kredit daripada kontan. Ini sudah di luar nalar kita. Mereka yang punya uang kontan, justru tak bisa membeli barang. Jadi kita dipaksa berutang dan membayar bunga untuk menghidupi perusahaan-perusahaan penyedia jasa keuangan.
Indonesia for Sale, hal. 80-81.
Dhandy Dwi Laksono menulis buku Indonesia for Sale. Buku ini pernah terbit pada 2009 dan diterbitkan oleh Pedati, penerbit di Surabaya yang saat ini sudah tutup. Menjelang kenaikan harga BBM, Dhandy membagi buku ini secara gratis. "Dengan ini, saya telah membebaskan semua copyright yang melekat pada buku ini," tulis Dhandy dalam emailnya di sebuah milis.
Sila download di sini.
No comments:
Post a Comment