26.3.13

Orang Muda Berhidung Merah Jambu

Ketika hari itu benar-benar datang, tak satu pun yang ia lakukan kecuali terus-menerus duduk dan melemparkan senyum termanisnya. Itu hari jumat di ujung tahun. Jumat yang cerah di mana pada saat itu hal terpantas yang semestinya terjadi adalah turun hujan dari langit Desember. Hari itu hujan tak turun, ada awan cerah di sekitar matanya.

Dia telah membayangkan semuanya sejak semula: “Tentu saja,” pikirnya, “aku akan mendapatkan ini. Dari sini semuanya akan berdatangan. Mula-mula barangkali permintaan menjadi pembicara di sekolah-sekolah.  Lalu meningkat ke seminar-seminar dalam ruangan dingin di hotel-hotel mewah. Itu semua tentu setelah melewati serangkaian wawancara melelahkan permintaan dari majalah-majalah remaja, televisi berskala nasional dan radio-radio. Di koran-koran edisi hari minggu, seolah-olah setiap halaman melulu bercerita tentangku. Memuat fotoku dan mengutip karya-karyaku yang dulu cuma termangu di folder-folder tak tertata.”

Di hari itu, ia terus-menerus memikirkan itu semua. Jam dua siang, ibunya hampir mati jemu ketika harus keseratus kalinya mengingatkan ia agar segera menyentuh makan siangnya dan berhenti senyum-senyum sendiri. 

Sejak pagi-pagi sekali ia telah terbangun meski malam sebelumnya ia terlambat tidur. Di pagi yang buta itu ia hanya duduk di meja kamarnya, menghadap jendela yang sengaja tak pernah ia tutup. Rokok dari bungkus kedua nyaris lumat. Dua cangkir kopi tandas dan mengering seperti sawah pamannya di akhir bulan Maret. Ia menunggu pengumuman itu datang seperti dulu orang-orang menanti-nantikan mesiah.

Semuanya bermula di tiga minggu sebelum pagi itu, ketika tanpa sengaja ia mendapatkan sebuah pengumuman tentang beasiswa kepenulisan yang dikirim kawan jauhnya. Dalam surat itu, kawan jauhnya itu hanya menulis, “Hei, apa kabarmu? Di Ibukota ada acara ini. Kalau kau masih setia dengan mimpi gilamu itu, kenapa kau tak turut serta? Semoga sukses”. Selebihnya, terlampir sebuah pengumuman yang dikeluarkan oleh sebuah lembaga pendidikan kepenulisan yang bekerja sama dengan sebuah penerbit buku.

Pengumuman itu mengundang siapa pun yang ingin mendapatkan beasiswa menulis buku. Hasil karya peserta berpeluang diterbitkan, begitu katanya. Beasiswa itu untuk mereka yang berstatus orang muda, enam belas sampai dua puluh enam tahun. Pada saat itulah ia tiba-tiba menjadi begitu romantik dan bergumam pelan: “Ibu, dengan apa aku bisa membalas cintamu, kau begitu tepat waktu melahirkanku.” Mei yang akan datang ia baru genap dua puluh tiga tahun!

Di minggu pertama setelah ia membaca pengumuman itu hidupnya berubah. Pada saat itu seolah-olah ia dilahirkan hanya untuk menulis, tidak untuk yang lain. Sepanjang hari ia hanya berhadapan dengan komputer di kamarnya. Di sekelilingnya, buku-buku, jurnal-jurnal, dan majalah-majalah berserakan, seperti hendak menyerangnya dari segala penjuru. Ia tiba-tiba melupakan kuliah-kuliahnya dan janji-janjinya.

Sebuah gagasan yang menurutnya sangat menarik ia tulis. Bukan hanya menarik, pikirnya, ini penting dan menantang. Kenyataannya, ia cuma menulis selembar sinopsis bakal bukunya dan sebuah outline rapuh rencana bukunya. Mereka yang berteriak revolusi di jalanan, akan menemui kehancurannya kelak. Namun aku, begitu tulisnya di buku hariannya, suaraku “takkan padam ditelan angin. akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”*

Maka seperti itulah ia bermimpi menjadi seorang penulis besar. Tak satu pun yang ia bicarakan kepada teman-temannya kecuali sepak bola dan rencana bukunya. Di minggu kedua ia mengirim formulir dan segala persyaratan kepada panitia beasiswa. Di minggu ketiga, hingga tiba pagi buta itu, yang ia lakukan hanya mengkhayalkan diri menjadi penulis besar. Hingga kemudian Jumat yang ditunggu-tunggu itu tiba dengan begitu gemilang. Ia diterima sebagai salah seorang yang mendapatkan beasiswa sekolah menulis buku. Sejak saat itu, sampai tiga bulan ke depan, ia akan belajar dan dibimbing hingga menyelesaikan sebuah buku yang, jika beruntung, akan diterbitkan.

***
Di akhir Maret, sembilan bulan sebelum Desember yang mendebarkan itu, sebenarnya ada sebuah peristiwa yang juga sama mendebarkannya. Jauh sebelum matahari sore terbenam, di jam sebelas siang, saat kereta dari timur tiba-tiba melintasi jalan raya sementara pintu lintasan tak tertutup sedikit pun, dan seorang anak berlari begitu kencangnya menyeberangi rel kereta tersebut demi sebuah layangan tanpa tuan yang terbang begitu bebasnya merambati angin, dan seorang ibu nyaris putus asa berteriak sambil berlari-lari mencegah bocah tersebut, namun gagal karena bagaimanapun kereta lebih cepat dari larian terkencang si bocah yang kemudian mati terlindas roda-roda besi kereta api, ia menyatakan cintanya di kursi pojok kantin kampus abadinya kepada seorang wanita berbaju putih dan bercelana panjang krem yang begitu menaruh perhatian pada es krim cokelat di tangannya. “Tak ada alasan kau tak mempercayaiku, aku mencintaimu melebihi siapa pun yang pernah kau kenal dalam hidupmu!”

Wanita itu hanya tertawa kecil tanpa mengalihkan matanya dari es krim cokelat. Tanpa menghentikan tawa ejekannya itu, ia berkata, “Ya, barangkali aku tak punya alasan untuk tidak mempercayainya. Tapi tentunya aku punya alasan untuk tidak mendengar kata-katamu barusan.”

Ia mengambil rokok kreteknya, membakarnya, menghisapnya dalam-dalam lalu menghembuskannya serupa cerobong asap pabrik. “Ya, tapi kau telah mendengarnya. Dan itu berarti kau harus mempercayainya!”

“Siapa bilang aku mendengarnya?” ujar si wanita.

“Kau tak dengar kata-kataku tadi?” Ia semakin tak bisa menyembunyikan kegelisahannya.

“Tidak. Sudah, aku harus kuliah.” Wanita itu membuang bungkus es krim cokelatnya, membersihkan mulutnya dan pergi ke luar kantin.

Wanita itu bernama Mentari, teman sekolahnya sejak SMP dulu. Di tahun kedua SMP, ia duduk tepat di belakang kursi Mentari. Biasa saja, tak ada yang istimewa. Bahkan ia sempat membuatkan semacam surat pernyataan cinta pesanan temannya untuk Mentari. Ia membuatkannya tanpa beban, tanpa rasa cemburu, tanpa khayalan sedikit pun bahwa surat itu seharusnya beralamat pengirim namanya, bukan temannya. Di sekolah itu, ia merasa beruntung. Tak banyak teman lelaki Mentari yang memiliki kedekatan istimewa. Dan ia memilikinya, meski tidak memacarinya. Bahkan barangkali ia masih tak mengerti apa itu rasa suka. Di masa-masa itu, ia menikmati pertemanannya dengan Mentari: diberi contekan ulangan Bahasa Inggris, Matematika, menghirup harum parfum, kue-kue kecil, permen, dan pembicaraan yang panjang soal musik-musik dan film-film. Ia begitu akrab dengan Mentari, hingga ketika bulu matanya terjatuh, Mentari akan menjulurkan jari demi mengambil bulu matanya.

Hebatnya, mereka tidak berpacaran. Tidak seperti teman-teman sebayanya yang ramai-ramai merayakan gairah perasaan anak sekolah dengan berpacaran. Perasaannya kepada Mentari, juga perasaan Mentari kepadanya, membeku di titik ‘teman dekat’. Semuanya justru berubah ketika masa libur panjang tiba. Itu masa-masa menjelang kenaikan kelas menuju kelas tiga. Di rumahnya, selepas ia menyelesaikan sebuah buku tentang sejarah asia tenggara, di saat ibunya sibuk di dapur dan kakak perempuannya bernyanyi-nyanyi begitu kerasnya di kamar mandi, dan televisi seolah berbicara sendiri di ruang tengah, ia merasakan kehilangan yang teramat. Ia merasa bahwa seperti ada yang tak lengkap dalam hidupnya di masa-masa libur itu. Ia mencarinya, tapi tak juga menemukannya. Ia merasa bahwa semestinya tak seperti itulah hari-harinya berjalan. Sampai kemudian kepalanya mengingat Mentari. Seketika itu pula bibirnya melepaskan senyum kecil. Ia tahu, ia sangat tahu, ia kehilangan Mentari. “Semestinya”, katanya dalam hati, “aku bersama Mentari siang ini. Bersenda gurau atau mencontek kertas  ujiannya.” Masa-masa libur telah memisahkan dirinya dengan Mentari.

Ia menjadi begitu sangat yakin telah jatuh cinta kepada Mentari. Ia memutar ulang semua yang biasa terjadi di antara dirinya dan Mentari di bangku sekolah. Di suatu hari, misalnya, Mentari pernah berkata bahwa adik-adiknya ingin sekali berkenalan dengan dirinya. Ketika ia bertanya mengapa bisa, Mentari menjawab, “Aku kerap menceritakanmu ke adik-adikku.” Atau ketika di suatu siang saat jam pelajaran olah raga di lapangan sekolah. Mentari diganggu oleh banyak teman-teman lelakinya. Setengah berteriak Mentari memanggil-manggil namanya meminta perlindungan, membuat teman-temannya terheran-heran.

Ia segera mengambil buku hariannya. Ia menulis kalimat ini dengan pasti, “Percayalah, Mentari pun pasti telah jatuh cinta kepadaku!”

Ia terbiasa menulis buku harian. Seingatnya, ia memulainya ketika seorang guru bahasanya bercerita soal manfaat menulis buku harian. Gurunya pada saat itu bercerita tentang seorang mahasiswa Universitas Indonesia yang rajin menulis buku harian sejak SMP hingga saat ia meninggal dunia. Guru bahasanya bercerita dengan begitu semangat soal mahasiswa itu, tentang bagaimana mahasiswa itu jatuh cinta, berpikir soal Tuhan, sampai melawan presiden. Ia mengenal sosok mahasiswa itu. Ia telah membaca catatan harian yang diceritakan gurunya itu beberapa bulan sebelum gurunya bercerita di depan kelasnya. Ia mendapatkan buku itu dari rak buku kakaknya. Dan sejak hari libur yang suntuk itu, buku hariannya selalu banyak bercerita soal Mentari dan dirinya.

Bagaimanapun, masa-masa pacarannya dengan Mentari tak pernah lebih dari  khayalannya saja. Ia sama sekali tak memiliki keberanian untuk menyatakan cinta kepada Mentari.  Ia terlalu takut ditolak meski hatinya yakin bahwa Mentari akan dengan senang hati menerima cintanya. Kebingungan yang dibuat-buatnya sendiri.

Sampai kemudian masa-masa SMP usai dan mereka berdua harus melanjutkan ke SMA. Mereka diterima di dua SMA yang berbeda. Di pesta perpisahan sekolah, ia hanya duduk sendiri di sudut ruang pesta: Mentari tak datang ke acara perpisahan.

Dengan kesunyiaan yang tak terbendung, ia menghabiskan tiga tahun masa SMA-nya. Di saat itu tak satu pun wanita yang menjadi teman dekatnya, tak satu pun wanita yang berhasil membuatnya jatuh hati. Di masa-masa itu, malam-malamnya cuma menghadirkan bayangan Mentari.

Itu berlanjut sampai ia mulai kuliah. Kejutannya: Mentari satu kampus dengannya. Mereka tanpa sengaja bertemu di sebuah studio foto. Saat itu, sebagai mahasiswa baru mereka wajib membawa beberapa lembar pas foto. Ia tak punya foto hitam putih sebagaimana diminta. Ia ke studio foto di dekat rumahnya. Pada saat keluar dari studio foto itulah ia melihat Mentari berdiri. Tangan kanannya memegang gulungan kertas, tangan kirinya menjinjing tas plastik. Ia menatapnya sedemikian rupa. Terkejut dengan pertemuan mendadak itu, ia tak berhasil mengendalikan dirinya. Hanya berdiri mematung sehingga ia sama sekali tak mendengar pelayan kasir studio foto memanggil dirinya. Mentari melihatnya. Dan dengan ketenangan pantai Jakarta, Mentari menyapanya, “Hai!”

Saat itulah ia merasa bahwa Tuhan memang pada dasarnya Mahabaik dan Maha Penyayang. Ia mengulurkan tangannya sementara matanya tak sedikit pun ia lepaskan dari wajah Mentari. “Kau kuliah di mana?” Mentari bertanya. “Universitas Terbaik,” ia menjawab pelan. “Kau?” Ia balik bertanya. “Hahaha, sama. Fakultas Sastra,” Mentari menjawab ringan. “Hebat sekali, Mentari, kita satu kampus. Aku Fakultas Sastra. Sastra Indonesia,” ia melepaskan jabatan tangannya. Di malam itu, di depan kasir studio foto, senyumnya yang paling cerah terbit. Beberapa jam kemudian, ia tak keluar dari kamarnya. Tak peduli ibunya memanggilnya untuk makan malam. Ia menulis di buku hariannya sepanjang delapan halaman.         Sampai kemudian di awal semesternya yang kedua ia menemui Mentari dan mengajaknya untuk makan siang bersama di kantin kampus. Mentari menolak makan siang namun bersedia menemaninya makan siang dengan syarat sebungkus es krim cokelat. Ia memenuhinya dan lalu menyatakan cintanya yang telah ia pendam begitu rapi selama lima tahun. Seketika itu juga dunia hancur, Mentari menolaknya. Bahkan mengaku tidak mendengar pernyataan cintanya.       

Tapi, bagaimanapun ia bukan lelaki yang mudah menyerah. Di dorong oleh penderitaan selama lima tahun yang hanya bisa dipahami dirinya sendiri, setelah kejadian mengharukan di kantin siang itu, ia berkali-kali menyatakan cintanya kepada Mentari. Ia bangkit-bangkitkan kenangan mereka berdua di masa-masa sekolah. Ia mengaku masih mengingat apa merek parfum yang biasa Mentari gunakan saat sekolah dulu, tentang kebiasaan Mentari memberi contekan ketika ulangan Matematika, apa merek sepatu Mentari dulu, siapa penyanyi kesukaan Mentari, acara televisi favorit Mentari, dan bahkan ia mengaku masih mengingat bagaimana cara Mentari menulis huruf ‘k’.

Mentari menerima cintanya di masa-masa ujian tengah semester tiga. Sejak itu mereka berjanji untuk terus saling setia. Mereka berjanji akan meluangkan waktu lebih banyak lagi untuk terus dapat bersama-sama. Berbagi hari-hari.

***

Sampai sayembara beasiswa menulis buku itu menghancurkan semuanya.

Ia benar-benar melupakan semuanya, kecuali beasiswa menulis buku tersebut. Ia melupakan Mentari dan bahkan belakangan menganggap Mentari telah menghambatnya dalam merintis karier kepenulisannya. “Mengertilah, Mentari,” katanya suatu ketika, saat Mentari meminta diantar ke klinik kampus lantaran sakit gigi yang tak kunjung sembuh, “Aku sedang menulis sebuah buku. Ini langkah pertamaku sebagai penulis sungguhan. Aku tak ada waktu untuk selalu bersamamu, aku harus selalu menulis!”

Mentari hanya diam tak mengerti dan lalu pergi sendiri.

Itu adalah masa-masa ketika dia mengikuti beasiswa sekolah menulis buku itu. Ia telah benar-benar merasa dirinya adalah Sysiphus. Namun, kali ini bukan untuk medorong batu, melainkan untuk menulis. “Beginilah aku,” katanya suatu ketika kepada temannya, “Terlahir dengan kutukan untuk terus menulis.”  Kenyataannya ia memang terus menulis. Di mana-mana, bahkan itu ketika duduk di toilet. Tak semuanya menjadi tulisan memang. Ada suatu hari di mana ia tampak sibuk mengikat kertas-kertas tulisannya yang bertumpuk itu dan lalu menjualnya begitu saja kepada tukang loak yang melintas di depan rumahnya. Hasilnya, ia tukar dengan dua bungkus rokok. Di pikirannya: siapa  bilang tak bisa hidup dari menulis?

Ia terus-menerus menulis. Melupakan semuanya. Di hari Senin ia mandi dengan begitu cepatnya, dan Ibunya tahu belaka bahwa itu adalah mandinya yang pertama kali dalam lima hari sebelumnya.

Di hari Senin itu, di siang hari, selepas ia mandi, ia menerima telepon dari Mentari. Mentari memutuskan hubungan cintanya. Ia menanggapinya sesederhana bunga lili, “Baiklah jika memang itu maumu. Kau memang tak akan pernah bisa mengerti jiwa seorang penulis.” Telepon ditutup setelah sebelumnya terdengar Mentari menangis di seberang. Ia masuk ke kamarnya, menyalakan komputer dan kembali menulis.

***

Di akhir Maret yang gerah, ia telah berhasil merampungkan buku pertamanya. Dan hidungnya, pada saat ia selesai menjilid buku itu, dengan sekejap berubah menjadi sebiji jambu air masak, merona. 

Seolah itu adalah mahakarya terbaik yang pernah dihasilkan manusia sepanjang sejarah, ia mencium buku karyanya itu. O Anakku, bisiknya pada buku itu.

***
Ia mengirimnya kepada panitia sekolah menulis itu sesuai jadwal, tentu saja. Ia membungkusnya begitu rapi, sampul merah muda. Tumpukan kertas-kertas yang telah ia jilid itu ia masukkan ke dalam tasnya dan ia menjaganya melebihi para pengawal presiden menjaga presiden. Seolah-olah tasnya berisi bom, ia melindunginya, mendekapnya di dadanya, menghindari guncangan jalanan yang menurutnya bisa saja merusak bukunya itu.

Di kantor panitia sekolah menulis itu, ia dapati beberapa kenalannya yang barangkali telah berlaku sama dengannya di minggu-minggu aneh sebelum hari itu. Orang-orang muda dengan hidung-hidung jambu air masak.

Dua hari lagi, begitu kata salah seorang panitia, akan diumumkan buku siapa yang akan diterbitkan. Itu artinya satu april, hari yang telah dijanjikan. 

***

Ketika matahari sedang tepat berada di atas kepala, di halaman kantor panitia sekolah menulis telah berkumpul sekira 200 orang muda. Hidung mereka berujung merah. Merona. Dan mungkin kepanasan. Itulah hari pengumuman sebagaimana yang telah dijanjikan.

Ia berjalan dengan asap rokok yang tak pernah berhenti terhembus dari lubang mulutnya. “Hari ini,” katanya pelan, “dunia kedatangan penulis muda berbakat!”

Kenyataan yang terjadi adalah apa yang tak pernah terpikirkan olehnya, bahkan juga tak pernah terbayangkan oleh imajinasi-imajinasi liarnya sekalipun. Dua ratus orang muda yang berkumpul di hari itu mendapatkan pintu kantor yang terkunci rapat. Di sebuah jendela kaca samping pintu masuk, ada tertempel poster besar. Berisi pengumuman yang menyerupai horor:

“Selamat untuk Anda, masa pendidikan Anda telah selesai. Tak ada naskah yang akan diterbitkan karena ini adalah keisengan kami yang menakjubkan: april mop! Tersenyumlah, Anda semua begitu berbakat. Seperti kami yang begitu berbakat telah menyibukkan Anda dalam tiga bulan ini. Berbahagialah, Anda begitu mengagumkan!”


Tak ada yang bicara pada saat itu, pun ia. Ia tahu belaka, ini memang benar-benar april mop. Analisanya sederhana saja: seorang lelaki bercita-cita menjadi guru dan mendirikan sekolah dengan iklan menarik demi menarik murid-murid. Dan ia telah berhasil dengan iklannya tersebut.

Ia pulang. Di kepalanya ia ingat kejadian berpuluh-puluh tahun lampau saat seorang laki-laki pribumi mengelabui para pejabat kolonial di tanggal satu april. Juga tiba-tiba ia mengingat Mentari.

“Ya,” katanya dalam hati. “Ini april mop!”


Catatan:

*) Kutipan dari Pramoedya Ananta Toer.

1 comment:

Anonymous said...

lama banget ga baca tulisan sepanjang ini di blog ini.

menyenangkan :]