ada yang sampai pada malam yang sepi dan dingin yang lamat yang besertanya bulan basah darah yang menetes mengalir menjelma Asma-Mu di lelangit kamarku yang pintunya berulang kali mengeluarkan suara ketukan yang serupa kicau burung yang menebar maut
aroma kematian yang datang menghampiri diriku yang berkali-kali menghindar dengan penolakan-penolakan halus yang kurang ajar seperti pernah kutolak sebelas perintah yang diurutkan ibu-ibu kita yang seperti lupa pernah melahirkan kita yang kini sendiri di dingin yang lamat dan malam yang sepi
mencariMu
mencari Rupa-Mu
mencari Kalimat-Kalimat-Mu
mencari Suara-Mu
mencari Hati-Mu
mencari diriku di Diri-Mu
24.9.08
19.9.08
Agraris?
"Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudera..."
Nenek moyang kami seorang pelaut. Seperti mereka kami hidup dari mencari ikan, menambang garam, perdagangan, pajak kapal pelabuhan, dan penangkaran mutiara.
Kami tidak mengenal pemimpin: Raja maupun bentuk pemerintahan yang lain hanya ada di orang daratan. Di negeri kami yang penuh pulau dan dihuni oleh banyak bajak laut, tiap orang harus mengurus dirinya sendiri. Kerjasama adalah sementara, hanya laut yang bisa dipercaya.
Berbeda dengan mereka yang hidup di daratan. Mereka - kaum masyarakat tingkat dua yang bodoh itu - cuma tahu bagaimana bertani dan menyenangkan tuan tanah. Bodoh karena terlalu lama dijajah.
Kami tahu saat untuk menetap, meletakkan sauh, dan menikmati persinggahan. Tetapi laut adalah hidup itu sendiri; ia adalah ibu. Ketika ia memanggil bergegas kami memasang layar, menentukan arah bintang, dan mulai berpetualang.
Jangan samakan kami dengan mereka yang sibuk bertani dan akan mati dimakan kerakusan pasar, kami tidak tahu apa itu arti bebas dan merdeka. Kami adalah camar yang berterbangan mengikuti aliran udara panas. Kami adalah pemandangan laut tak berbatas. Kami adalah angin amis yang bertiup mengibarkan rambut.
taken from themirath
Gemar mengarung luas samudera..."
Nenek moyang kami seorang pelaut. Seperti mereka kami hidup dari mencari ikan, menambang garam, perdagangan, pajak kapal pelabuhan, dan penangkaran mutiara.
Kami tidak mengenal pemimpin: Raja maupun bentuk pemerintahan yang lain hanya ada di orang daratan. Di negeri kami yang penuh pulau dan dihuni oleh banyak bajak laut, tiap orang harus mengurus dirinya sendiri. Kerjasama adalah sementara, hanya laut yang bisa dipercaya.
Berbeda dengan mereka yang hidup di daratan. Mereka - kaum masyarakat tingkat dua yang bodoh itu - cuma tahu bagaimana bertani dan menyenangkan tuan tanah. Bodoh karena terlalu lama dijajah.
Kami tahu saat untuk menetap, meletakkan sauh, dan menikmati persinggahan. Tetapi laut adalah hidup itu sendiri; ia adalah ibu. Ketika ia memanggil bergegas kami memasang layar, menentukan arah bintang, dan mulai berpetualang.
Jangan samakan kami dengan mereka yang sibuk bertani dan akan mati dimakan kerakusan pasar, kami tidak tahu apa itu arti bebas dan merdeka. Kami adalah camar yang berterbangan mengikuti aliran udara panas. Kami adalah pemandangan laut tak berbatas. Kami adalah angin amis yang bertiup mengibarkan rambut.
taken from themirath
Subscribe to:
Posts (Atom)