Aku akan memburumu seperti kutukan
-Widji Thukul
Aku catat hari ini, tanggal tujuh bulan sembilan.
Aku catat hari ini, tanggal tujuh bulan sembilan tujuh tahun lalu. Kalian bunuh seorang ayah. Kalian bunuh seorang suami. Belum lagi usianya empat puluh. Belum lagi pesawat yang ditumpanginya menyentuh daratan. Aku catat hari ini, tanggal tujuh bulan sembilan tujuh tahun lalu. Kalian bunuh lelaki kurus ini. Yang berjibaku setiap pagi, berangkat dari rumah kontrakan di Bekasi, mengendarai Astrea Grand keluaran tahun sembilan puluhan, menempuh kilometer demi kilometer untuk sekadar berbicara apa adanya. Aku catat hari ini, tujuh tahun lalu kalian bunuh lelaki ini.
Aku catat hari ini, tanggal tujuh bulan sembilan. Saat matahari begitu terang-benderang. Membakar setiap amarah yang tumpah di muka aspal, mengeringkan setiap peluh yang jatuh di dahi setiap orang di pagar istana. Aku catat nama kalian, para pembunuh.
Gerombolan bandit dengan nyali seujung kuku. Yang gemar menghitung kekayaan di balik jubah-jubah kekuasaan. Yang menjual nyawa dan meminum darah. Aku catat nama kalian.
Aku catat daftar panjang dosa-dosa kalian. Pembunuhan, penghilangan paksa, penyiksaan, pengusiran demi pengusiran. Tak akan boleh dilupakan mimik wajah kalian saat lidah kalian terjulur keluar dengan liur yang menetes di atas hamparan uang. Tak akan bisa dilupakan dengus napas serakah kalian saat menjual tanah-tanah terjanjikan. Barisan-barisan ini, mereka yang telah kalian rampas orang-orang terkasihnya, mereka yang telah kalian bunuh ayah-ayahnya, paman-pamannya, suami-suaminya, istri-istrinya, adik-adiknya, kakak-kakaknya, tak sekalipun akan melupakan kalian. Sampai akhir zaman nanti. Sampai kalian terhina dengan daftar dosa di kening-kening kalian.
Aku catat hari ini, tanggal tujuh bulan sembilan. Nama-nama kalian, dosa-dosa kalian. Aku catat hari ini. Aku sampaikan ke masa yang akan datang. Dan aku pastikan nanti, anak-cucu kalian akan merasa terhina karena telah memiliki orang tua-orang tua seperti kalian. Akan merasa jijik dengan riwayat-riwayat hitam asal-usul darahnya.
7.9.11
14.7.11
Dear God
Dalam dua hari ini: Seorang teman kehilangan ibu.
Teman satu lagi memperingati 100 hari kepergian ayahnya.
Teman satu lagi memperingati 100 hari kepergian ayahnya.
Dan sore tadi, berdiri di sisi jenazah seorang kerabat.
Hi, Jane!
3.6.11
lacuna
ada yang teringat darinya saat tiga belas bintang
tiba-tiba jatuh di langit utara
tiga belas perintah ibunya telah ia lupakan ternyata
semacam hitungan yang menyisakan kegetiran sesaat
setelah itu tak ada lagi yang lain
kecuali hatinya yang meraba tertatih memilih jalan
sementara setiap mulut jalan seperti hendak
menghisapnya lumat-lumat
"ibu" suara seraknya
"lamah 'azavtani"
Yang pertama kali teringat di kepalanya adalah wajah ibunya. Wajah serupa purnama ke seratus dua puluhnya. Ia masih begitu kecil ketika tanah lapang mulai ramai kawan sebaya. Melempar entah apa dan bersorak entah mengapa. Berlari kecil dari rumahnya dan terhenti di ujung bayang pohon kelapa. Ibunya di pucuk pohon kelapa. Bulan serupa ibunya - ibunya serupa bulan. Purnama.
“Ibu,” suaranya lirih, “Mengapa kau di langit?”
Itu malam padang bulan desa. Kain-kain telah menahan ayahnya di rumah. Besok, anakku, kain-kain ini mesti dikirim ke kota. Ia lalu pergi ke lapang. Malam padang bulan. Ada ramai kawan sebaya dan ibunya di langit.
Ia tak mudah melupakan harum ibunya. Selepas memandikan dirinya, ibunya senantiasa akan menyusuinya. Melati. Mawar. Kenanga. Atau apa, ia tak mengerti. Tapi ia suka dan menikmati.
Dulu ayahnya tak menjual kain, tapi belati. Senjata-senjata tajam ragam nama ragam bentuk. Yang panjang dan yang pendek. Satu dua ada ukiran. Ibunya sering menyebutnya belati. Jangan di situ, ini kalimat ibunya yang tak terlupakan olehnya, bisa terluka kau nanti.
Dan ia memang pernah terluka. Pukul tiga sore di beranda rumah merah. Belati-belati itu sentosa di pojok dekat kursi kayu. Menunggu pembeli membawa pergi. Ia berjalan dan mengambil salah satu yang paling panjang dan berukiran. Jemarinya nyaris putus ketika ia merapatkan tangannya di mata pedang. Seolah itu mata yang indah, ia mengusapnya.
Lantai bertambah merah. Ubin ternoda. Ia mendengar ayahnya kesal memarahi ibunya yang pergi meninggalkannya sendiri demi sebotol susu. Ibunya sakit dan pergi ke langit. Ayahnya kemudian berdagang kain.
Kain tak akan melukaimu, kata ayahnya. Ia tahu itu. Tapi, ayah, kain tak pernah membuat ibu kembali lagi dari langit.
Ia selalu membayangkan itu. Suatu malam kamarnya akan semerbak. Mungkin melati atau mawar atau kenanga atau entahlah. Dan dari jendela ibunya turun dari langit. Seperti pelangi yang menjadi jembatan bagi peri-peri, kain-kain akan sambung-menyambung menjadi jembatan bagi ibunya. Berjalan-jalan di bawah bintang di atas jembatan kain. Dari langit masuk ke jendela kamar.
Ia akan bilang, ibu, tanganku sudah sembuh. Menetaplah, tak akan ayah marah lagi.
22.4.11
Satu Tahun Lima Bulan Sebelas Hari
Selama itu saya tidak pernah menulis di blog ini lagi. Oh, barangkali bukan hanya di blog ini saja. Tapi juga di tempat lain.
Tak ada alasan yang tepat untuk semua itu. Kecuali kemalasan, tentu saja.
Dan semalam saat bulan penuh dan angin menderu-deru melesak masuk ke dalam kamar melalui jendela kecil, ada terbit pikiran di kepala: aku mau menulis lagi. Namun Tuhan tahu ini, semua orang tahu ini: pikiran-pikiran kecil sering hinggap di kepala untuk selamanya hanya ada di dalam kepala. Rencana ini itu, hasrat ini itu, hanya akan berakhir sebagai rencana belaka.
Tapi barangkali tak mengapa. Langkah-langkah pada akhirnya mungkin akan terambil begitu saja. Tak seperti matahari, kadang kita tak tahu ke mana harus berjalan.
Tak ada alasan yang tepat untuk semua itu. Kecuali kemalasan, tentu saja.
Dan semalam saat bulan penuh dan angin menderu-deru melesak masuk ke dalam kamar melalui jendela kecil, ada terbit pikiran di kepala: aku mau menulis lagi. Namun Tuhan tahu ini, semua orang tahu ini: pikiran-pikiran kecil sering hinggap di kepala untuk selamanya hanya ada di dalam kepala. Rencana ini itu, hasrat ini itu, hanya akan berakhir sebagai rencana belaka.
Tapi barangkali tak mengapa. Langkah-langkah pada akhirnya mungkin akan terambil begitu saja. Tak seperti matahari, kadang kita tak tahu ke mana harus berjalan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
