26.5.06

Pada Suatu Sore

Semuanya menjadi begitu mudah. Lebih mudah. Udara lapang, jalanan lengang, orang lalu-lalang. Anak-anak tersisir rapi selepas mandi yang serupa tamasya. Serangga. Daun kering. Cangkir kopi. Debu di atas meja. Sore ini semuanya terasa berbeda.

Di barat langit mulai memerah. Sebuah provokasi untuk hati jadi lebih ramah. Ah. Ini berbeda. Begitu mudah dan lumrah. Begitu ramah dan merah. Seperti bayi. Seperti pipi. Seperti bunga lili.

Membuat satu-satu kenangan muncul.

Di sore hari waktu kecil dulu.

Kau baru saja terluka. Ada darah mengalir keluar dari tubuhmu. Kau menangis kecil tak henti. Memegangi baju ibumu yang sibuk mengobati lukamu. Kakakmu hanya diam menunggu seraya mengisyaratkan rasa khawatir. Kau merasa ia juga ingin menangis. Lalu ibumu membawamu ke beranda, menyuruhmu duduk dengan tenang dan nyaman. Ibumu kembali masuk menuju dapur dan kembali dengan membawa sepiring nasi hangat dan semangkuk sup panas. Tangismu telah terhenti. Ibumu menyuapimu. Satu sendok. Dua sendok. Dari matanya kau melihat kasih. Dari dadanya kau mendengar cinta. Kau membaik dan merasa hangat. Ibumu melepasmu bermain lagi. Ia katakan berhati-hatilah. Dan kau melihat kakakmu menjagamu di tanah lapang.

Di sore hari di sekolah dasar.

Kau jemu upacara sabtu sore. Kau ingin pergi namun tak bisa. Teman-temanmu pun begitu. Kau bosan. Kau letih. Kau ingin terus bermain dan bermain. Sampai doa telah selesai dipanjatkan dan upacara kemudian dibubarkan, kau berlari. Kencang. Mengambil tas sekolahmu dan sepedamu. Kau bermain-main lagi dengan teman-temanmu. Kau membawa kelereng. Satu plastik kecil dalam genggaman, satu plastik besar tersembunyi dalam tas. Kau memasang taruhan kelereng. Kau menang, kau tertawa senang. Kau kalah, kau tertawa riang. Kau bersenang-senang dengan teman-temanmu. Sampai gelap benar-benar datang dan kau harus pulang.

Di sore hari di sekolah menengah pertama.

Kau menghindari teman-temanmu sendiri. Teman-temanmu yang mulai terbiasa memasukkan narkotika ke tubuh mereka. Tapi kau tetap berteman baik dengan mereka. Bersenda gurau bersama, menggoda wanita bersama, berolah raga bersama. Kau menghindari mereka hanya ketika kau tahu mereka akan pergi menuju dunia yang mereka ciptakan bersama narkotika. Teman-temanmu tak memusuhimu. Sebagaimana kau mengerti mereka, mereka mengerti dirimu. Dan kau tahu, di suatu sore kau akan kehilangan mereka. Satu-satu. Drop-out. Over dosis. Keluar dari rumah. Tak sekolah lagi. Ke luar kota. Entah ada di mana. Kau menyesalinya.

Di sore hari di sekolah menengah umum.

Kau terkejut. Kaca jendela kelasmu pecah. Lalu sebuah bola jatuh di tengah meja yang sedang kau pakai bermain domino bersama teman-temanmu. Segalanya menjadi begitu kisruh. Kartu-kartu tak lagi rapi tersusun. Pecahan kaca berserakan. Tak ada yang terluka, tapi cukup membuat seisi kelas panik. Sore itu guru seperti biasa tak datang. Lalu kelas tertawa. Tak ada yang saling menyalahkan, hanya tertawa. Tertawa-tawa. Guru kelas tetangga kemudian datang, bertanya ada apa dan mengapa bisa terjadi. Sampai kemudian terdengar bel tanda usai jam sekolah. Save by the bell!

Kau bermain. Terus bermain. Bersenang-senang dengan teman-temanmu. Saat berangkat sekolah, saat belajar di kelas, saat pulang sekolah. Dan semuanya muncul sore ini. Berkelebatan.

Kau merasa seperti melihat kunang-kunang. Kunang-kunang terbang saat malam melayang di langit mengawang. Merah kuning hijau biru ungu. Lalu kau ingat bunga-bunga.

Kau mengingat kekasihmu.

Kekasihmu. Si pipi bunga lili. Si mawar kenanga melati. Di tempat jauh. Di luar kota. Kau mengingatnya dan ingin menyentuhnya. Kau mereka wajahnya yang tersenyum, siswa teladan sekolah dasarmu dulu, si gadis pengoleksi perangko. Kau tahu betapa dungu hanya diam menunggu. Tapi kau tak kuasa untuk mengemas pakaian dan buku-buku untuk gegas ke barat. Menghirup udara jalanan di kotanya, melihat pohon-pohon rambutan, tersenyum menyeberang jalan, membuka pagar depan tempat tinggalnya, menyapa kawan-kawannya, mengetuk pintu kamarnya, menatap matanya dan melempar senyum tak henti.

Kau ingin tertawa karena kau mengingat saat di mana kau tertawa dengannya. Kau ingin tersenyum karena kau tak bisa melupakan saat di mana kau tersenyum dengannya. Kau ingin menangis karena kau sadar mengapa malam begitu lekas.

Kau merasakan cinta.

Bukan yang pertama, tapi kau tahu bedanya. Kau ingin menyentuhnya, kekasih bunga lilimu itu. Melepas sebuah kalimat, sebuah tatap mata, sebuah impresi dari dalam hati. Kau ingin mengalirkannya seperti dulu kau melihat empat air terjun. Begitu pasti, begitu rendah hati. Air yang jatuh menyentuh daun-daun kecil dari tumbuhan-tumbuhan kecil tanpa hasrat mencabutnya dari tanah tempatnya tertanam. Hanya menyentuhnya dan membasahinya. Bahasa-bahasa alam yang kau kagumi. Kau ingin menghembuskannya seperti dulu kau merasakan semilir di suatu pesisir. Angin-angin tak berwarna namun bermakna. Angin-angin tak bernama namun penuh irama. Angin-angin yang tak kau ketahui asalnya namun kau rasakan kehadirannya.

Sebuah sore yang cerah. Kau melamun. Melamun lagi. Sendiri dengan gelas kopi. Tergenang. Terkenang.

Hingga kau tersadar bahwa segala sesuatu selalu ada akhirnya. Selayak penyanyi solo selepas lagu terakhir, kau tersenyum ringkas, kau katakan, ''seandainya hidup hanya ada sore.''

23.5.06

Karena Semuanya Memang Bisa Terjadi

Tiba-tiba saja kamu tak mengerti apa-apa lagi.

Kamu mengira kamu telah mengetahui segalanya. Kamu merunut-runut semua yang ada di kepalamu, seribu macam persimpangan rumit yang telah kamu lewati. Kamu begitu yakin, begitu yakin dan pasti dan percaya diri. Kamu memilih. Dan ternyata kamu salah. Salah memilih dan salah merunut. Kamu kecewa.

Kamu mengira kamu telah tepat berada di jalan ini. Kamu melangkah dengan begitu riangnya. Begitu ringan dan begitu lapang. Kamu melompat-lompat kecil. Dari bibirmu, senandung siul terdengar lepas. Sampai sebuah batu menghalangi langkahmu. Kamu terjatuh. Terluka. Ingin menangis namun tak tahu apakah pantas. Kamu salah memilih jalan. Kamu tahu itu, kamu salah mengambil langkah.

Kamu mengira kamu telah melakukan sesuatu yang benar. Kamu begitu bersungguh-sungguh. Kamu mengorbankan hal-hal remeh di sekitarmu. Kamu katakan, 'inilah hidup, selalu seperti masa kecil dulu, bermain-main bersuka cita bersenda-gurau, selalu bikin lupa waktu lupa diri.' Sampai kemudian kamu tersesat. Tak punya lagi teman bermain yang satu-persatu telah tumbuh dan melesat: menjadi bintang, menjadi hijau daun, menjadi embun pagi, menjadi matahari, menjadi segala. Sedang kamu merasa sepi di tanah lapang itu. Kamu menyesal untuk sesuatu yang tak pasti. Kamu merasa telah melakukan kesalahan tak perlu.

Kamu mengira kamu telah berhasil mengerjakan sesuatu dengan sempurna. Kamu merasa puas dan berbangga hati. Di tepi jalan, kamu memperlihatkan pekerjaanmu itu. Kepalamu menantang udara. Tanganmu terkepal. Matamu berbinar. Kamu percaya bahwa kamu telah menemukan diri kamu sendiri. Hingga pada suatu sore di ujung jalan, kamu mendapati diri kamu bukan apa-apa. Seseorang, tak terlihat, tak masuk hitungan, tak menantang udara, membawa pekerjaannya dengan rendah hati. Dan kamu tahu belaka, seseorang itu bekerja dengan hasil yang hanya pantas diletakkan di langit sementara hasil kerjamu cuma pantas diletakkan di kamarmu sendiri.


Kamu mencari. Dan terus mencari.

Kamu merasa tak memiliki apa-apa kecuali kekalahan demi kekalahan. Kamu menghimpun kekuatan, menyusuri setiap lanskap, menggumam-gumam bahwa kamu hanya pantas untuk sebuah kemenangan dan bukan kekalahan. Kamu merasa semuanya adalah lawan tandingmu. Kamu mencurigai mereka. Kamu berkata, 'kau. atau aku. itu saja!' Dan yang kamu temui ternyata adalah melulu mereka yang selalu saja ada di saat kamu membutuhkan mereka. Yang selalu saja kamu jumpai adalah mereka yang mengulurkan tangannya saat kamu terjatuh dulu. Adalah mereka yang menunggumu saat kamu tertinggal di belakang. Adalah mereka yang selalu saja tak pernah letih mendengarkan kamu, tak pernah bosan memperhatikan hasil kerjamu dan memberi pujian kebanggaan, tak pernah jemu menyemangatimu saat kamu rapuh. Mereka yang ada dan selalu ada.

Kamu membuat peta perjalanan penaklukan. Kamu mengumpulkan bekal-bekal perjalanan terjauh. Kamu berkata, 'selamat tinggal. lihatlah, aku menaklukkan dunia!' Dan lalu kamu pergi. Meninggalkan semuanya. Semuanya. Kamu meninggalkan rumahmu, meninggalkan jalinan-jalinan kasih: yang melahirkanmu, yang mengasuhmu, yang menjadi teman bermainmu, yang menjadi teman sekolahmu, teman mimpimu, temanmu saat melompati pagar sekolah, temanmu saat mencuri mangga, temanmu saat menangis, saat tertawa, saat memiliki segala, saat tak memiliki segala. Kamu melupakan dan meninggalkan mereka. Sampai suatu sore kamu pulang, begitu letih, begitu mencemaskan. Tak satupun yang kamu temui. Tak satupun yang kamu taklukkan. Kamu marah dan bersedih dan terluka dan berputus asa. Tapi mereka, yang telah kamu tinggalkan dan lupakan, beramai-ramai menjengukmu. Memelukmu dan menangis untukmu. Merawatmu dan berkata, 'tenanglah. kami menjagamu. kami menjagamu. kami menjagamu.'


Selalu seperti itu. Kamu benar-benar menjadi tak mengerti apa-apa lagi. Semuanya terjadi dan memang bisa terjadi. Cuma itu yang kamu pahami. Kamu selalu kembali menangis. Kamu selalu kembali menyesal. Kamu selalu kembali merutuk-rutuk. Tapi kamu selalu kembali salah. Salah merunut-runut, salah mengambil langkah, salah memilih jalan, salah membaca peta, salah membawa bekal, salah, salah, salah.

Sampai di suatu malam, kamu teringat sesuatu. Dan kamu merasa inilah akar segala yang kamu alami. Kamu teringat sesuatu, dan kamu menyesalinya dengan sangat. Mengapa ingatan ini datang terlambat? Kamu teringat sesuatu, sesuatu yang tak pernah kamu pikirkan. Sesuatu yang tampak remeh dan sepele.

Kamu teringat sesuatu: selama ini kamu melupakan sebuah puisi!

Hujan, Jalak, dan Daun Jambu
Sapardi Djoko Damono

Hujan turun semalaman. Paginya
jalak berkicau dan daun jambu bersemi;
mereka tidak mengenal gurindam
dan peribahasa, tapi menghayati
adat kita yang purba,
tahu kapan harus berbuat sesuatu
agar kita, manusia, merasa bahagia. Mereka
tidak pernah bisa menguraikan
hakikat kata-kata mutiara, tapi tahu
kapan harus berbuat sesuatu, agar kita
merasa tidak sepenuhnya sia-sia.

(1992)

14.5.06

11.5.06

Bukan Jalanan, Tuan Jusuf
-- Surat Terbuka untuk Jusuf Kalla

''Seratus orang tanpa pendidikan adalah awal sebuah pemberontakan. Satu orang dengan pendidikan adalah awal sebuah gerakan!'' Chico Mendez (1944-1988)

SENANG sekali membaca berita tentang bagaimana Anda, Tuan Jusuf, menerima beberapa perwakilan mahasiswa pada 2 Mei 2006 lalu di istana Anda (Media Indonesia, 03/05). Tak banyak pejabat di negara ini yang melakukan hal semacam itu. Membukakan pintu dan lalu mengajak para demonstran berdialog. Dan Anda melakukannya dengan baik sekali. Demokratisasi mungkin memang perlu dimulai dari hal-hal kecil semacam membukakan pintu bagi para demonstran.

Para mahasiswa itu sebelumnya berunjuk rasa di jalanan depan istana Anda. Hari itu 2 Mei 2006. Seratus tujuh belas tahun sebelumnya Ki Hajar Dewantara lahir. Mungkin tak banyak di antara kita yang mengetahui bahwa Ki Hajar Dewantara adalah penerjemah lirik lagu Internationale (sebuah mars kaum Marxis internasional). Di Jakarta, beberapa hari sebelum ini, lagu itu kembali dikumandangkan sebagai pengantar jenazah Pak Pram. Kita, saya dan Anda Tuan Jusuf, tentu lebih mengenal Ki Hajar sebagai Bapak Pendidikan. Sesuatu yang barangkali tak ia sukai. Pernahkah Tuan Jusuf membaca surat Ki Hajar Dewantara kepada Gubernur Jenderal de Jonge, 26 Oktober 1932? Ki Hajar Dewantara menulis, ''Gambar saya misalnya, tak boleh dipajang di mana pun. Pertama, batin saya tak menghendaki penghormatan atas gambar saya. Darinya akan timbul dampak yang tidak baik. Kalau kalian mendewa-dewakan saya, habislah Taman Siswa sesudah saya mati.''

Bahkan, tahukah Tuan, Ki Hajar Dewantara pernah berwasiat agar keluarganya jangan sampai menulis biografi dirinya. ''Tak akan jujur. Sepenuhnya subjektif,'' katanya.

Betapa kita mengenalnya sebagai seorang pintar nan rendah hati. Ah, Tuan Jusuf, berapa banyak lagi orang yang seperti Ki Hajar Dewantara di negara ini?

**

TAPI saya sedikit terganggu, Tuan Jusuf. Jawaban Anda kepada perwakilan mahasiswa yang menuntut agar pemerintah segera melaksanakan amanat Undang-Undang Dasar, yakni menyediakan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN, terlalu membuat resah. Anda mungkin orang baik, Tuan. Tapi, pasti bukan bagi 69% dari 203.456.005 penduduk Indonesia, angka statistik bagi mereka yang belum menyelesaikan pendidikan dasar sembilan tahun (Media Indonesia, 03/05).

Tuan Jusuf berkata bahwa pendidikan itu penting. Namun, ''Kesehatan juga penting, jalan yang rusak juga penting diperbaiki'' (Media Indonesia, 03/05). Dan Tuan Jusuf memilih untuk mendahulukan kesehatan dan perbaikan jalan. Tuan bahkan sampai bertanya, ''Apakah kita rela anggaran kesehatan langsung dikurangi atau anggaran jalan langsung dikurangi?''

Menteri Pendidikan Nasional kita, Bambang Sudibyo, lebih membuat resah. Beliau bilang realisasi anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN diharapkan bisa terpenuhi pada 2009 nanti. 2009, Tuan Jusuf, itu tiga tahun lagi! Bayangkanlah, apa yang bisa kita peroleh tiga tahun ke depan ketika kita memberi pendidikan dasar bagi mereka 69% penduduk negeri ini sekarang?

**

TUAN Jusuf, sudahkah Tuan menyaksikan Burning Season? Itu sebuah film bagus yang mengangkat cerita Chico Mendez, seorang pejuang lingkungan Brasil yang begitu keras kepala. Sejak kecil ia hidup di hutan hujan Amazon, besar dan mencari nafkah sebagai penyadap karet. Chico Mendez, bersama penduduk yang terbiasa mencari nafkah di hutan hujan Amazon melawan pembuatan jalan yang hendak menembus hutan Amazon (dan ia mati karena perjuangannya ini).

Chico Mendez, sebagaimana juga banyak orang lainnya, di Brasil atau di Indonesia, tahu belaka: acapkali perbaikan dan pembuatan jalanan dilakukan guna kepentingan modal.

Pembuatan jalanan memang baik. Transformasi dan transportasi lebih memungkinkan. Tapi terkadang kita memang melihat ini: pembuatan jalan tak lebih dari sekadar pembentukan infrastruktur demi, sekali lagi, kepentingan akumulasi modal.

Bukankah begitu, Tuan? Jalanan yang bagus tentu akan membuat barang-barang hasil produksi di pabrik-pabrik --yang buruh-buruhnya bekerja dengan ancaman revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan-- akan lebih cepat terdistribusikan. Jalanan yang mulus dan menjangkau penjuru pedalaman akan lebih membuat ''modern'' mereka yang selama ini tak tersentuh riuh modal. Dengan adanya jalanan, mungkin mereka tak perlu lagi selamanya mengenakan pakaian khas mereka yang unik itu. Tapi mereka bisa mencoba tekstil-tekstil Cina yang berkualitas bagus dan berharga murah.

Dengan begitu, Tuan mungkin bisa mengatakan bahwa perekonomian Indonesia mengindikasikan kemajuan yang menggembirakan. Produksi meningkat, distribusi meluas, dan konsumsi melonjak.

Tapi Tuan, apa artinya itu jika 69% penduduk kita tak selesai pendidikan wajib sembilan tahun? Apa artinya itu jika guru mesti memilah waktu antara memeriksa hasil ujian siswa dan mengasapi dapurnya? Apa artinya itu jika, sebut saja peristiwa setahun lalu, begitu banyak siswa sekolah menengah kita tak lulus ujian nasional?

Lagi pula, tentu Tuan Jusuf masih ingat ucapan Tuan Jusuf setahun lalu ketika menanggapi tingginya angka ketidaklulusan peserta UAN. Tuan katakan, ''Sejak dulu kualitas pendidikan kita rendah.'' (Pontianak Post, 2 Juli 2005).

Lalu apa artinya jalanan yang hendak Tuan perbaiki itu jika kualitas pendidikan bangsa ini terus rendah?

Tuan Jusuf, lihatlah Kuba. Di saat kita masih bermasalah dengan pendidikan wajib sembilan tahun, pada tahun 2000 Kuba telah mencanangkan gerakan ''University for All''. Mereka hendak mencapai, ''a nation becomes a university''.

Apakah mereka mengurangi anggaran kesehatan? Coba tengok, angka kematian dini di Kuba hanya 5,8 kematian untuk 1000 kelahiran dalam satu tahun. Angka yang rendah bahkan jika dibandingkan dengan yang terjadi di Amerika Serikat. Jumlah dokter per kapita mereka juga jauh lebih banyak jika dibandingkan negara manapun. Sebuah indikasi yang menggambarkan bahwa mereka juga tidak melupakan sektor kesehatan (Coen Husain Pontoh, 2006)

Saya takut, Tuan Jusuf, bahwa ketidaksiapan pemerintah untuk memenuhi tuntutan konstitusional anggaran pendidikan 20% dari APBN bukan lantaran hal-hal semacam perbaikan kesejahteraan umum atau pembangunan infrastuktur-infrastruktur perekonomian bangsa ini. Tapi karena kita selama ini ternyata telah salah meletakkan posisi pendidikan.

Kita telah terbiasa untuk tak perlu resah saat mengetahui ada sekira12% penduduk kita yang buta huruf. Kita telah terbiasa untuk tak terlalu khawatir dengan fakta bahwa 45% gedung sekolah di Indonesia rusak (Republika, 25 April 2006).

Kita merasa lebih mementingkan terbentangnya jalanan ketimbang memugar gedung-gedung sekolah, memerhatikan kesejahteraan guru, menekan biaya pendidikan, meningkatkan standar kelulusan sekaligus angka siswa yang lulus, membuat lebih banyak lagi rakyat Indonesia membaca, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.

Ya, kita mungkin memang terbiasa seperti itu. Seperti Tuan Jusuf katakan di Pondok Pesantren Darussalam Gontor, bulan April lalu, nilai pendidikan tak tergantung pada fasilitas. Tuan bilang, ''Yang pasti kecerdasan tak bisa dibeli. Kepandaian tak bisa dibayar, yang bisa dibeli hanya fasilitasnya. Namun selama tak ada niat dari guru-gurunya dan pengelolanya tak ada hasilnya.''

Semoga Tuan Jusuf sehat selalu.

10.5.06

Garis Batas

Maka inilah garis batas yang aku tebalkan antara aku dengan kalian. Antara kebingungan buta dan kepura-puraan tolol. Garis batas yang cuma kuciptakan untuk kemunafikan-kemunafikan borjuasi yang berfilsafat dan berekonomi-politik di seputar altar korporasi.

Dan kalian akan lihat nanti segantang racun air tawar di tepi batas kalian dan aku. Sampai nanti tak akan berkurang satupun komposisinya, telah kubuang jauh di ujung jurang berbotol-botol penawarnya.

Garis batas yang meretas lima belas cadas dan melintas tanpa jalan pintas.

Dari sini aku melenyapkan sejarah!