Ahmad Arif menulis surat untuk anaknya di Harian Kompas, Rabu, 19 November 2025. Saya meminta Ibam juga untuk membacanya (setelah dia membaca berita upaya pencarian korban longsor di Pandanarum, Banjarnegara). Dia baru menyelesaikan 2-3 paragraf dan kemudian mengatakan akan melanjutkan besok. Sudah mengantuk. Atau saya duga dia sulit memahaminya. Jam dinding menunjukkan waktu pukul 22.30.
Saya menyimpan surat itu di sini agar dia mungkin dapat membacanya kelak. Kegelisahan yang sama, kekhawatiran yang sama. Tetapi energi hanya tinggal sisa-sisa. (kliping dapat dilihat di sini).
