14.6.24

Ibam Lulus dari TK A

Pagi tadi bersama Vina mengambil rapor TK A Ibam. Sejak semalam pikiran bahwa anak itu sudah semakin membesar terus menggelayut. 

Semalam, saat lampu-lampu sudah dimatikan, tiba-tiba Ibam datang ke sisi tempat tidur. Dia mencium pipi saya tanpa berbicara apa-apa. Hanya mencium. Sebelumnya dia sempat berpesan untuk membangunkannya saat subuh. Dia bilang ingin ikut salat subuh. 

Pesan itu saya laksanakan. Subuh tadi pelan-pelan saya bangunkan dia sambil bertanya, apa jadi mau ikut salat subuh? Seraya matanya tetap terpejam, dia bilang, "Iya, jadi. Mau ikut salat subuh."

Kenyataannya dia memang bangun, meski matanya tetap terpejam. Saat saya berdiri salat, dia kembali tidur di ranjang samping tempat saya salat. 

Seusai salat, dia terbangun. Dia meminta saya mengantar ke bawah. Dia ingin ikut beres-beres rumah, katanya. Saya antar dia. Tak lama berselang, dia kembali naik ke atas dan berkata, "Tidak ada yang bisa Ibam bantu. Mau tidur lagi saja."  

Saya hanya tertawa kecil. 

Ibam menyelesaikan jenjang TK A hari ini. Dia mulai masa libur sebelum nanti akan lanjut ke TK B, di institusi yang sama. 

Saat mengambil rapor tadi, gurunya bercerita Ibam kemarin menangis. Dia sedih karena akan berpisah dengan dua gurunya yang tidak akan lagi bekerja di sekolah tersebut. Gurunya bercerita agak terkejut melihat Ibam menangisi kepergian guru-gurunya. Menurutnya, di sekolah Ibam tampak sebagai anak yang selalu ramai. Tetapi ternyata perasa juga. 

Gurunya juga bercerita, selain bermain dengan heboh, salah satu hobi Ibam adalah buku. Spot favoritnya selain tempat mainan ialah perpustakaan. Dia bisa asyik sendiri "membaca" buku-buku di sana. Saya juga pernah dengar Ibam berkata ke adiknya, "Buku itu seru, De. Kita bisa tahu banyak hal dari buku."

Betapa Ibam semakin besar. Saya masih menikmati masa-masa ini. Setiap pagi membangunkannya dari tidur dengan menciumi pipinya. Mengajaknya ke bawah untuk sarapan dan bersiap sekolah, lalu mengantarnya hingga gerbang sekolah. 

Tiga hari lalu Ibunya berkata kepada dia, "Jangan cepat besar, nanti gak mau dipeluk-peluk." 

Ibam bilang, "Tenang saja, Ibu. Ibam akan selalu mau dipeluk sampai besar nanti, sampai sebesar Bapak!"

27.2.24

Adnan Buyung Nasution, Tentang Kepemimpinan Nasional (1997)


"Tidak ada harapan. Apakah itu Megawati, Gus Dur, atau Bang Ali, Bintang Pamungkas, atau siapa sajalah. Sistem politik seperti sekarang ini tidak membuka kesempatan atau peluang bagi orang luar untuk tampil dan berkompetisi dengan para calon pemimpin dari dalam birokrasi, kecuali ada perubahan yang radikal. Orang kebanyakan yang berada di luar itu tidak dapat ikut berperan serta, kecuali hanya memberikan dukungan atau sama sekali diam. Kalau ada yang berani menolak, akan dicap mbalelo. Jadi, tidak ada sirkulasi elite. 

Jadi, kita harus realistis bahwa kondisi kita baru sampai di sini. Tapi, tanpa harus berhenti berjuang terus, kita juga harus melihat kemungkinan yang riil ada. Kalau belum ada, tidak bisa dipaksakan. Saya tidak ingin terjadi pertumpahan darah dalam alih kepemimpinan. Karena, jika itu terjadi, kita tidak pernah dewasa dalam berpolitik."

Dari petikan wawancara dengan Adnan Buyung Nasution, Adnan Buyung Nasution: "Banyak di Antara Kita yang Kecewa". Majalah Forum Keadilan: Edisi Khusus "Tokoh Indonesia Masa Depan", Juni 1997. 

 Unduh kliping di sini

7.2.24

Tentang Aceh

Saya tidak tahu di halaman berapa persisnya perasaan ini muncul, tapi mestinya itu masih halaman-halaman awal: Saya ingin menulis buku semacam ini, atau setidaknya, menulis dengan cara dia menulis.


Perasaan semacam itu rasanya perasaan yang jamak hinggap di benak pembaca yang suka menulis. Perasaan itu juga yang menyergap saya tatkala baru saja mulai membaca buku Aceh: Kisah Datang dan Terusirnya Belanda dan Jejak yang Ditinggalkannya, yang ditulis dengan asyik sekali oleh Anton Stolwijk.