20.10.15

Agenda Penting

Image: pixabay.com

Kamar menjadi satu-satunya dunia kecil saya sejak dua bulan terakhir. Keluar kamar (dan rumah) demi urusan pekerjaan, tak terlalu sering saya lakukan. Demikian pula duduk melingkar dengan sejumlah kawan baik. Syukur-syukur bisa sebulan sekali.

"Kamu ini orang yang tahan gak ke mana-mana. Berdiam di kamar sampai dua minggu," kata teman saya suatu saat dengan nada heran.

Saya diam saja. Baru tahu kalau tidak ke mana-mana sampai dua minggu merupakan hal janggal.

Maka ketika hari ini saya harus meninggalkan kamar demi meeting urusan kantor, saya susun agenda penting yang akan saya lakukan sebelum pulang: pergi ke pasar.

Pasar selalu tempat yang menyenangkan. Segala macam aroma masuk berdesakan ke lubang hidung. Jika bertandang pada malam hari, bohlam-bohlam yang bergelantungan di atas setiap lapak pedagang memberi kesan meriah. Terang dan segar.

Saya memarkir motor. Saya ingin membeli buah.

Satu lapak saya datangi. Semangka, jambu, mangga, buah naga (sejak kecil saya selalu menyangka naga itu serupa hewan, ternyata nama buah), melon, alpukat, pisang, salak, anggur, dan seterusnya.

"Ini berapa?" Saya menunjuk melon.

Harga disepakati. Melon madu berukuran tak terlalu besar sekaligus tak terlalu kecil. Memiliki bobot 2,5 kg.

"Ini bagus kan?" Saya tak terlalu piawai membedakan mana buah yang bagus dan tidak.

"Mau dicoba dulu?" Si penjual menantang.

"Gak usah. Ya sudah, bungkus."

Selepas dari deretan buah, giliran blok tukang sayur. Cabe merah, labu, bayam, kangkung, segar-segar. Baru datang entah dari mana.

Saya ingin timun. Sampai saat ini saya masih tidak mengerti apakah timun itu sejenis buah-buahan atau termasuk sayur-sayuran. Tapi saya tak terlalu peduli. Yang saya pedulikan adalah bayangan saya soal air parutan timun. Dingin. Segar. Menu yang nyaris rutin selama orang tua saya masih ada.

"Dua kilo, Bang!"

Si tukang sigap mengambil plastik. Memilih timun sementara saya mengawasi. Jika ada yang --menurut saya-- kurang oke, saya minta ganti.

Heran juga saya. Butuh waktu berapa lama untuk timun tumbuh dan siap dijual? Mengapa harga per kilo tak terlalu mahal?

Saya kembali ke parkiran dan segera pulang.

Sepanjang jalan saya berpikir-pikir: mengapa ideologi-ideologi besar, agama-agama besar, tak suka menyuruh para penganutnya untuk rajin makan buah? Tidakkah buah baik untuk kesehatan?

11.10.15

Tentang Orang Ketiga

Ia sesungguhnya tak pernah merencanakan sepedanya akan berakhir sebagai rongsokan tua. Bertahun-tahun yang lalu, saat bunga krisan di depan rumahnya mulai bermekaran, ia katakan itu pada ibunya. "Sepeda ini akan bersamaku, sampai kapan pun."

Ibunya, yang tengah sibuk menyirami deretan bunga krisan, sama sekali tak memberi respons. Sementara ia mulai membawa masuk sepedanya melewati pagar, ibunya melontarkan pertanyaan singkat. "Apa kamu tahu, bunga krisan mekar pertama kali pada zaman kapur, empat juta tahun yang lalu?"

Ia hanya berhenti sejenak, menolehkan kepala ke arah ibunya, untuk kemudian kembali menggiring sepedanya ke pinggir teras.

Ia dan sepeda. Betapa teman-teman sekolahnya dulu tak henti-henti mengolok dirinya karena sepeda itu. Tapi kepalanya memang sekeras batu.

Tak terhitung jumlah kawan yang mulai meninggalkan sepeda, ia tetap setia mengayuh sepeda, dari rumah menuju sekolah. Di halaman parkir sekolah berjejal kendaraan-kendaraan bermesin. Namun sepeda biru telur asin miliknya, senantiasa sentosa di salah satu sudut halaman parkir.

Hal semacam itu terus terjadi bahkan ketika ia mulai berpacaran dengan salah seorang laki-laki atlet tim hoki sekolahnya. Tak peduli sejuta kali si atlet melancarkan bujuk-rayu agar ia meninggalkan sepeda, dan dengan demikian mau untuk diantar-jemput menggunakan mobil, ia dan sepedanya tetap tak terpisahkan. Seteguh sumbing dan sindoro.

Tapi semuanya berubah bertahun-tahun kemudian.

1.10.15

Ketukan di Daun Pintu

Aku meletakkan lengan tepat di atas kening, berbaring mencoba tidur. Pintu kamar yang tak biasa kukunci diketuk, sebelum akhirnya segera terbuka. Wajah ayahku muncul.

"Mengapa tidur seperti itu, banyak pikiran?"

Tentu saja tidak. Pikiran apa yang membebani siswa sekolah menengah atas. Aku sendiri tidak mengerti mengapa kerap kali aku tidur dengan cara seperti itu. Membiarkan tanganku tergeletak di atas kening atau sesekali mata. Mungkin upaya kecil menghalau cahaya.

Aku tak menjawab, hanya tersenyum singkat seraya menyingkirkan tangan.

Wajah ayahku menoleh ke meja belajarku. Ia melangkah masuk. Meraih buku yang belum tuntas kubaca. "Renungan dan Perjuangan", Sutan Sjahrir. Buku bersampul merah putih dengan potret Sjahrir yang tampak menatap sesuatu.

Buku ini memuat renungan-renungan Sjahrir yang ia tulis berdasarkan pengalamannya. Juga catatan-catatannya selama di pengasingan, terutama Banda Neira. (Dan kelak, dari sini pulalah muncul mimpi untuk mengunjungi Banda Neira suatu hari nanti, mimpi yang belum juga berangkat nyata).

"Kamu boleh membaca apa pun, tapi tidak menjadi komunis," Ayahku berkata seraya meletakkan buku tersebut ke tempatnya kembali.