karena semuanya bisa saja menjadi begitu buruk, menjadi momen-momen luka bila terkenang. tapi bisa saja sebaliknya....
pernah
kau dengar kisah guru zen dan para tetangganya? di suatu pagi guru itu
kehilangan seekor kudanya. para tetangganya ramai melihat, menghampiri
ia yang berdiri di beranda. ''malang sekali kau,'' seorang tetangga dari
luar pagar angkat suara. ''ya, mungkin seperti itu,'' begitu guru itu
menjawab singkat. kenyataannya, di esok pagi kuda guru itu kembali lagi
ke kandangnya. begitu sentosa, begitu tenang. para tetangga berkumpul
lagi, kali ini seseorang di antara mereka berkata, ''beruntung sekali
kau.'' guru itu cuma menjawab, ''ya, mungkin seperti itu.''
di
keesokan harinya anak guru tersebut patah kakinya ketika hendak
menunggang kuda itu. di pagi yang mestinya cerah, guru itu harus
mendapati anaknya patah kaki. ''malang sekali kau,''
tetangga-tetangganya begitu prihatin di luar pagar rumahnya. ''ya,
mungkin seperti itu,'' kata guru itu seraya memapah anaknya ke dalam
rumah. tapi kau tahu, di keesokan paginya lagi, segerombolan tentara
datang mencari anak-anak yang sehat fisiknya untuk dikenakan wajib
militer bagi negara. semua anak tetangganya dibawa pergi. tentu saja
anak guru tersebut tidak dibawa. kakinya yang patah membebaskannya dari
wajib militer. ''lihatlah guru,'' kata para tetangga, ''kau benar-benar
orang yang beruntung!''
dan guru itu lagi-lagi bilang, ''ya, mungkin seperti itu.''
maka, mengapa kau harus menjadi asap ketika ingin menari?
No comments:
Post a Comment