Di Antara yang Berubah dan yang Tidak
Jadi seperti itu juga akhirnya, satu persatu kawan-kawanku berubah. Ada yang kasat mata, ada yang nyaris tak terasa. Tapi, mengapa terkadang ongkos-ongkos perubahan itu bisa pula sampai harus ditanggung oleh hal-hal yang tak ada sangkut-pautnya dengan perubahan itu sendiri?
Kalau memang berita dari Y itu benar, semakin tak mengertilah aku bagaimana caranya roda hidup berputar. Berkelok ke sana ke mari, tak jelas dan tak tercerna. Dan bodohnya aku tak pernah merasa bahwa keadaannya memang sudah begitu sejak lama.
Sulit rasanya untuk tidak mempercayai isi berita itu. Dari yang mampu kurasa-rasai, memang tampaknya dia sudah berubah. Berubah. Tapi, lagi-lagi, sedrastis itukah?
Ah, dunia, semakin rumit saja kau buat orang-orang menyeret-nyeret langkah.
26.3.07
24.3.07
Sabtu, 24 Maret 2007
Berlarut-larut membaca semalam, selesai sudah nyaris subuh. Aku pikir ada benarnya kata-kata Takashi Shiraisi:
''Surat-surat kabar, rapat-rapat umum, dan pemogokan tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang betul-betul baru. Partai-partai dilihat sudah begitu adanya sejak mulanya. Tokoh pergerakan dilihat sebagai tokoh partai dan beberapa dari mereka selanjutnya menjadi pahlawan nasional Indonesia. Boedi Oetomo, perkumpulan priyayi jawa, menjadi nasionalis, dan hari berdirinya ditetapkan sebagai hari kebangkitan nasional Indonesia. SI menjadi perkumpulan Islam, sebagai nenek moyang PSI bukancikal bakal PKI maupun SR. Tirtoadhisoerjo dilupakan. Tjipto menjadi nasionalis bersama musuhnya, Dr. Radjiman, R.M.A. Woerjaningrat, dan Pangeran Hadiwidjojo. Tjokroaminoto dan Soerjopranoto, para theosofis, menjadi Islam, seislam K.H. Ahmad Dahlan, H. Fachrodin, dan H. Agoes Salim. Semaoen dan Darsono menjadi komunis yang ''menyusup'' ke dalam SI. Dan meskipun menjadi anggota PKI hanya 3 tahun pada akhir karirnya sebagai pemimpin pergerakan, Marco menjadi komunis, sekomunis Sneevliet, Baars, dan Semaoen.''
''Tetapi,'' tambah Takashi, ''Ini semua pikiran yang keliru.''
Sejarah begitu abu-abu. Sekehendak hati penguasa. Butre minggu lalu memberi pengantar analisa yang menarik tentang rivalitas Minang-Jawa yang sempat mesra lewat dwitinggal Soekarno-Hatta. Hal-hal semacam ini tampaknya memang ditutup-tutupi. Jika mau jujur, tampak benar Jawa menghegemoni di alam pikir banyak manusia Indonesia. Baiklah Jawa lebih maju. Tapi itu pasti ada sebab-musababnya. Apakah sebab yang baik atau sebab yang buruk haruslah dikaji dengan cermat. Bagaimana mungkin hari kelahiran Boedi Oetomo, yang berisi pangeran-pangeran Jawa, priyayi-priyayi Jawa, dan hanya berpikir dan bertindak atas kepentingan Jawa dapat dikatakan sebagai tonggak kebangkitan nasional Indonesia? Bagaimana mungkin seorang Kartini, yang anak bupati dan selalu saja hanya bisa mengeluh tentang dirinya yang mengalami pingitan, menjadi pahlawan emansipasi wanita, sementara ada banyak perempuan lain yang nyata-nyata turun ke medan juang, di lapangan perang, di tengah-tengah masyarakat?
Matahari masih akan beredar bagi yang hendak belajar.
tulisanku tentang supersemar: rumahkiri.net
Berlarut-larut membaca semalam, selesai sudah nyaris subuh. Aku pikir ada benarnya kata-kata Takashi Shiraisi:
''Surat-surat kabar, rapat-rapat umum, dan pemogokan tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang betul-betul baru. Partai-partai dilihat sudah begitu adanya sejak mulanya. Tokoh pergerakan dilihat sebagai tokoh partai dan beberapa dari mereka selanjutnya menjadi pahlawan nasional Indonesia. Boedi Oetomo, perkumpulan priyayi jawa, menjadi nasionalis, dan hari berdirinya ditetapkan sebagai hari kebangkitan nasional Indonesia. SI menjadi perkumpulan Islam, sebagai nenek moyang PSI bukancikal bakal PKI maupun SR. Tirtoadhisoerjo dilupakan. Tjipto menjadi nasionalis bersama musuhnya, Dr. Radjiman, R.M.A. Woerjaningrat, dan Pangeran Hadiwidjojo. Tjokroaminoto dan Soerjopranoto, para theosofis, menjadi Islam, seislam K.H. Ahmad Dahlan, H. Fachrodin, dan H. Agoes Salim. Semaoen dan Darsono menjadi komunis yang ''menyusup'' ke dalam SI. Dan meskipun menjadi anggota PKI hanya 3 tahun pada akhir karirnya sebagai pemimpin pergerakan, Marco menjadi komunis, sekomunis Sneevliet, Baars, dan Semaoen.''
''Tetapi,'' tambah Takashi, ''Ini semua pikiran yang keliru.''
Sejarah begitu abu-abu. Sekehendak hati penguasa. Butre minggu lalu memberi pengantar analisa yang menarik tentang rivalitas Minang-Jawa yang sempat mesra lewat dwitinggal Soekarno-Hatta. Hal-hal semacam ini tampaknya memang ditutup-tutupi. Jika mau jujur, tampak benar Jawa menghegemoni di alam pikir banyak manusia Indonesia. Baiklah Jawa lebih maju. Tapi itu pasti ada sebab-musababnya. Apakah sebab yang baik atau sebab yang buruk haruslah dikaji dengan cermat. Bagaimana mungkin hari kelahiran Boedi Oetomo, yang berisi pangeran-pangeran Jawa, priyayi-priyayi Jawa, dan hanya berpikir dan bertindak atas kepentingan Jawa dapat dikatakan sebagai tonggak kebangkitan nasional Indonesia? Bagaimana mungkin seorang Kartini, yang anak bupati dan selalu saja hanya bisa mengeluh tentang dirinya yang mengalami pingitan, menjadi pahlawan emansipasi wanita, sementara ada banyak perempuan lain yang nyata-nyata turun ke medan juang, di lapangan perang, di tengah-tengah masyarakat?
Matahari masih akan beredar bagi yang hendak belajar.
tulisanku tentang supersemar: rumahkiri.net
24 Maret 2007 (01.45)
Tak kusangka begini senang aku jadinya pagi buta begini. Selepas makan malam, aku singgah di warnet. Si penjaga warnet menyilakanku untuk memakai bilik nomor enam. Tapi kemudian aku komplain karena komputer nomor enam ternyata tak menyediakanYahoo Messengger. Ia lalu menyilakanku untuk pindah ke bilik nomor sembilan. Ada Yahoo Messengger di situ. Aku nyalakan. Dan... bertemu dia.
Ah, dia. Serupa apa dia? Mengaku selalu senang jika berbicara denganku berpanjang-lebar. “Barang langka,” katanya. Dan aku pun senang pula menghabiskan waktu berbicara dengannya. Bercerita soal buku-buku yang sedang dibaca, bercerita soal perkembangan dunia yang digeluti sehari-hari. Dia berkisah soal pekerjaannya dalam tiga hari ini dan aku bercerita soal kesulitan di kampus. “Enak kerja?” Tanyaku. Dia jawab, “Enaakkkkk....” Dia menyuruh aku segera ke Jakarta dan bekerja. Ya, barangkali memang enak. Aku sendiri beberapa kali agak jatuh iri jika melihat di film-film atau televisi ada adegan seseorang yang sedang bersibuk dengan pekerjaannya. “Aku rindu rutinitas,” terangku.
Beberapa tulisannya yang terakhir sempat terbaca olehku. Semakin membuatku ingin pergi meninggalkan Jatinangor untuk sekadar mengganti drama hidup sehari-hari. Aku berpikiran pantai. Barang beberapa hari lalu aku ada mengirimkan pesan singkat ke beberapa orang kawan untuk mengajak mereka ke pantai. Duduk-duduk sampai malam jatuh di pantai rasanya melegakan. Membuat lupa perkara hidup sehari-hari. Hanya bicara hal-hal yang menyenangkan dan tertawa-tawa. Tapi, tampaknya kawan-kawanku memang selalu sibuk. Hanya aku yang sedikit bebas. Tak ada reaksi yang memuaskan dari kawan-kawanku itu.
Ada juga dia cerita di akhir pembicaraan kalau dia sudah berlatih capoeira. Sungguh menyenangkan. Aku sendiri sudah lama tak berolahraga. Yakinlah aku bahwa tubuh ini memang sarang penyakit. Jarang digerakkan dan tak banyak makanan bergizi masuk ke lambungnya. Perokok dan tukang tidur malam pula. Jika memang harus berkelahi, sudah pasti aku akan rubuh dengan lekas.
Kupikir berlatih capoeira adalah hal yang menyenangkan. Seni Brasil itu pun cukup indah jika ditonton. Bela diri namun tak ada body contact. Diiringi musik pula. Melihat pemain capoeira seperti melihat orang dengan tubuh seringan bulu ayam, bebas berloncat-loncatan seperti hendak terbang. Teringat pada budak-budak di Brasil, mereka yang pertama kali menemukan kesenian bela diri ini. Mereka memadukan bela diri dengan tarian agar para baron, tuan-tuan mereka, tak pernah menyangka mereka sedang berlatih bela diri. Upaya perlawanan terhadap kekuasaan lalim.
Pembicaraan dengan dia memang menyenangkan. Bukan sekali dua. Beberapa kali sudah ini terjadi. Membuatku berpikir: apa guna merasa hidup susah? Semua bisa susah jika memang dibikin-bikin susah. Semua bisa gampang dan lapang jika memang mau berpikir demikian.
Hidup tak hanya melulu menunda kekalahan.
Tak kusangka begini senang aku jadinya pagi buta begini. Selepas makan malam, aku singgah di warnet. Si penjaga warnet menyilakanku untuk memakai bilik nomor enam. Tapi kemudian aku komplain karena komputer nomor enam ternyata tak menyediakanYahoo Messengger. Ia lalu menyilakanku untuk pindah ke bilik nomor sembilan. Ada Yahoo Messengger di situ. Aku nyalakan. Dan... bertemu dia.
Ah, dia. Serupa apa dia? Mengaku selalu senang jika berbicara denganku berpanjang-lebar. “Barang langka,” katanya. Dan aku pun senang pula menghabiskan waktu berbicara dengannya. Bercerita soal buku-buku yang sedang dibaca, bercerita soal perkembangan dunia yang digeluti sehari-hari. Dia berkisah soal pekerjaannya dalam tiga hari ini dan aku bercerita soal kesulitan di kampus. “Enak kerja?” Tanyaku. Dia jawab, “Enaakkkkk....” Dia menyuruh aku segera ke Jakarta dan bekerja. Ya, barangkali memang enak. Aku sendiri beberapa kali agak jatuh iri jika melihat di film-film atau televisi ada adegan seseorang yang sedang bersibuk dengan pekerjaannya. “Aku rindu rutinitas,” terangku.
Beberapa tulisannya yang terakhir sempat terbaca olehku. Semakin membuatku ingin pergi meninggalkan Jatinangor untuk sekadar mengganti drama hidup sehari-hari. Aku berpikiran pantai. Barang beberapa hari lalu aku ada mengirimkan pesan singkat ke beberapa orang kawan untuk mengajak mereka ke pantai. Duduk-duduk sampai malam jatuh di pantai rasanya melegakan. Membuat lupa perkara hidup sehari-hari. Hanya bicara hal-hal yang menyenangkan dan tertawa-tawa. Tapi, tampaknya kawan-kawanku memang selalu sibuk. Hanya aku yang sedikit bebas. Tak ada reaksi yang memuaskan dari kawan-kawanku itu.
Ada juga dia cerita di akhir pembicaraan kalau dia sudah berlatih capoeira. Sungguh menyenangkan. Aku sendiri sudah lama tak berolahraga. Yakinlah aku bahwa tubuh ini memang sarang penyakit. Jarang digerakkan dan tak banyak makanan bergizi masuk ke lambungnya. Perokok dan tukang tidur malam pula. Jika memang harus berkelahi, sudah pasti aku akan rubuh dengan lekas.
Kupikir berlatih capoeira adalah hal yang menyenangkan. Seni Brasil itu pun cukup indah jika ditonton. Bela diri namun tak ada body contact. Diiringi musik pula. Melihat pemain capoeira seperti melihat orang dengan tubuh seringan bulu ayam, bebas berloncat-loncatan seperti hendak terbang. Teringat pada budak-budak di Brasil, mereka yang pertama kali menemukan kesenian bela diri ini. Mereka memadukan bela diri dengan tarian agar para baron, tuan-tuan mereka, tak pernah menyangka mereka sedang berlatih bela diri. Upaya perlawanan terhadap kekuasaan lalim.
Pembicaraan dengan dia memang menyenangkan. Bukan sekali dua. Beberapa kali sudah ini terjadi. Membuatku berpikir: apa guna merasa hidup susah? Semua bisa susah jika memang dibikin-bikin susah. Semua bisa gampang dan lapang jika memang mau berpikir demikian.
Hidup tak hanya melulu menunda kekalahan.
Jumat, 23 Maret 2007
Bangun tidur sudah agak siang. Matahari sudah hampir tepat di atas kepala. Mengalun dari kejauhan suara rekaman orang mengaji. Hari jumat, persiapan sholat jumat. Tapi aku tak sholat jumat. Entah untuk yang keberapa kali (ada kudengar jika seorang muslim tak melaksanakan sholat jumat tiga kali berturut-turut maka ia termasuk golongan kafir). Aku sendiri begitu bangun memilih melanjutkan membaca Pram, Jejak Langkah. Agri tengah asyik bermain game. Rupa-rupanya ia kurang pandai menjadi panglima perang China, ia terus-menerus menelan kekalahan sejak beberapa hari lalu dalam permainannya.
Maka seperti itulah siang hari aku lewatkan. Sebotol minuman dingin, tiga batang rokok, dan Jejak Langkah.
Jam dua siang Agri mengajak keluar makan siang. Lagi-lagi, berhutang! Tentu saja berhutang. Minuman dingin dan rokok sebelumnya pun aku dapatkan dengan berhutang. Sudah beberapa hari diri tak memegang uang.
Kemiskinan memang sedang mendera-dera kami: Aku, Agri dan Opik. Berhari-hari kami harus pandai bersiasat untuk memenuhi kebutuhan pokok. Jangan berpikir untuk berbelanja, untuk berpergi-pergian pun tak ada ongkosnya. Yang paling mungkin ya membaca buku, ngobrol panjang lebar, tertawa-tawa, atau iseng di depan komputer. Tapi rasa-rasanya perlu pula membesarkan hati, mengusir rasa kecil hati: orang sukses biasanya memang kerap menderita di mulanya.
Suatu pengharapan? Barangkali.
Aku sendiri tak membayangkan diriku akan menjadi apa kelak. Yang aku bayangkan diriku mampu memenuhi kebutuhan hidup ini sendiri, tak merepotkan orang, tak bergantung dan menyusahkan sekitar, dan bisa berbuat apa saja yang menyenang-nyenangkan diri dan perasaan.
Tapi, ah, jika melihat hari ini, mungkinkah aku akan menggapai itu semua?
Bangun tidur sudah agak siang. Matahari sudah hampir tepat di atas kepala. Mengalun dari kejauhan suara rekaman orang mengaji. Hari jumat, persiapan sholat jumat. Tapi aku tak sholat jumat. Entah untuk yang keberapa kali (ada kudengar jika seorang muslim tak melaksanakan sholat jumat tiga kali berturut-turut maka ia termasuk golongan kafir). Aku sendiri begitu bangun memilih melanjutkan membaca Pram, Jejak Langkah. Agri tengah asyik bermain game. Rupa-rupanya ia kurang pandai menjadi panglima perang China, ia terus-menerus menelan kekalahan sejak beberapa hari lalu dalam permainannya.
Maka seperti itulah siang hari aku lewatkan. Sebotol minuman dingin, tiga batang rokok, dan Jejak Langkah.
Jam dua siang Agri mengajak keluar makan siang. Lagi-lagi, berhutang! Tentu saja berhutang. Minuman dingin dan rokok sebelumnya pun aku dapatkan dengan berhutang. Sudah beberapa hari diri tak memegang uang.
Kemiskinan memang sedang mendera-dera kami: Aku, Agri dan Opik. Berhari-hari kami harus pandai bersiasat untuk memenuhi kebutuhan pokok. Jangan berpikir untuk berbelanja, untuk berpergi-pergian pun tak ada ongkosnya. Yang paling mungkin ya membaca buku, ngobrol panjang lebar, tertawa-tawa, atau iseng di depan komputer. Tapi rasa-rasanya perlu pula membesarkan hati, mengusir rasa kecil hati: orang sukses biasanya memang kerap menderita di mulanya.
Suatu pengharapan? Barangkali.
Aku sendiri tak membayangkan diriku akan menjadi apa kelak. Yang aku bayangkan diriku mampu memenuhi kebutuhan hidup ini sendiri, tak merepotkan orang, tak bergantung dan menyusahkan sekitar, dan bisa berbuat apa saja yang menyenang-nyenangkan diri dan perasaan.
Tapi, ah, jika melihat hari ini, mungkinkah aku akan menggapai itu semua?
22.3.07
Kamis, 22 Maret 2007
Sebelum tertidur tadi malam ada pula sempat kulanjutkan pekerjaanku membaca Jejak Langkah (Pramoedya Ananta Toer). Kurasa aku agak-agak terlarut dengan tetralogi Pram. Tak membutuhkan waktu lama untuk kulahap satu-satu tetralogi Pulau Buru. Pertama Bumi Manusia. Untuk Bumi Manusia memang agak sedikit lama, maklum harus terpotong bencana banjir di Bekasi. Anak Semua Bangsa kuselesaikan cepat. Terhitung cepat untuk buku setebal 400 halaman lebih. Terbawa-bawa au oleh suasana kolonial yang digambarkan Pram. Sederhana namun memikat. Tokoh-tokoh yang dihadirkan Pram barangkali akan sulit kulupakan: Minke, Nyai Ontosoroh, Annelies. Aku bahkan belakangan seringkali memfantasikan Annelies, Si Bunga Akhir Abad. Kiranya dia mampu kulihat zaman ini, secantik apakah dia?
Jam setengah empat pagi aku benar-benar tertidur. Kali ini tidur di kamar Agri. Di kamar atas tertidur Opik dan Butre.
Sebelum tertidur tadi malam ada pula sempat kulanjutkan pekerjaanku membaca Jejak Langkah (Pramoedya Ananta Toer). Kurasa aku agak-agak terlarut dengan tetralogi Pram. Tak membutuhkan waktu lama untuk kulahap satu-satu tetralogi Pulau Buru. Pertama Bumi Manusia. Untuk Bumi Manusia memang agak sedikit lama, maklum harus terpotong bencana banjir di Bekasi. Anak Semua Bangsa kuselesaikan cepat. Terhitung cepat untuk buku setebal 400 halaman lebih. Terbawa-bawa au oleh suasana kolonial yang digambarkan Pram. Sederhana namun memikat. Tokoh-tokoh yang dihadirkan Pram barangkali akan sulit kulupakan: Minke, Nyai Ontosoroh, Annelies. Aku bahkan belakangan seringkali memfantasikan Annelies, Si Bunga Akhir Abad. Kiranya dia mampu kulihat zaman ini, secantik apakah dia?
Jam setengah empat pagi aku benar-benar tertidur. Kali ini tidur di kamar Agri. Di kamar atas tertidur Opik dan Butre.
Subscribe to:
Posts (Atom)