Sitti,
kini aku makin ngerti keadaanmu.
Tak’kan lagi aku membujukmu
untuk nikah padaku
dan lari dari lelaki yang melamarmu.
(Lelawa terbang berkejaran
tandanya hari jadi sore.
Aku berjanji
di kamar mandi
tubuhku yang elok bersih kucuci.
O, abang, kekasihku
kutunggu kau di tikungan
berbaju renda
berkain biru).
Nasibmu sudah lumayan.
Dari babu jadi selir kepala jawatan.
Apalagi?
Nikah padaku merusak keberuntungan.
masa depanku terang repot.
Sebagai copet nasibku untung-untungan.
Ini bukan ngesah.
Tapi aku memang bukan bapak yang baik
untuk bayi yang lagi kaukandung.
(Lelawa terbang berkejaran
tandanya hari jadi sore.
mentari nggeloyor muntah di laut
mabuk napas orang Jakarta.
O, angin.
O, abang.
Sarapku sudah gemetar
menanti lidahmu
‘njilati tubuhku)
Cintamu padaku tak pernah kusangsikan.
tapi cinta Cuma nomor dua.
nomor satu carilah keselamatan.
Hati kita mesti iklas
berjuang untuk masa depan anakmu.
Janganlah tangguh-tangguh menipu lelakimu.
Kuraslah hartanya.
Supaya hidupmu nanti sentosa.
Sebagai kepala jawatan lelaki normal
suka disogok dan suka korupsi.
Bila ia ganti kautipu
itu sudah jamaknya.
Maling menipu maling itu biasa.
Lagipula
di masyarakat maling kehormatan cuma gincu.
Yang utama kelicinan.
nomor dua keberanian.
Nomor tiga Keuletan.
Nomor empat ketegasan, biarpun dalam berdusta.
Inilah ilmu hidup masyarakat maling.
Jadi janganlah ragu-ragu.
Rakyat kecil tak bisa ngalah melulu.
(Lelawa terbang berkejaran
tandanya hari jadi sore
Hari ini kamu mesti kulewatkan
kerna lelakiku telah tiba.
Malam ini
badut yang tolol bakal main acrobat
di dalam ranjangku).
Usahakan selalu menanjak kedudukanmu.
Usahakan kenal satu mentri
dan usahakan jadi selirnya.
Sambil jadi selir mentri
tetaplah jadi selir lelaki yang lama.
Kalau ia menolak kaurangkap
sebagaimana ia telah merangkapmu dengan istrinya
itu berarti ia tak tahu diri.
Lalu depak saja dia.
Jangan kecil hati lantaran kurang pendidikan
asal kau bernafsu dan susumu tetap baik bentuknya
Ini selalu akan menarik seorang mentri
Ngomongmu ngawur tak jadi apa
asal bersemangat, tegas dan penuh keyakinan.
Kerna begitulah cermin seorang mentri.
(Lelawa terbang berkejaran
tandanya hari jadi sore.
kenanganku melayang ke saat itu
di tengah asyik nonton pawai
kau meremas pantatku
demikianlah kita lalu berkenalan
ialah setelah kutendang kakimu.
Dan sekarang setiap sore
bagaikan pisang yang ranum
aku rindu tanganmu
untuk mengupasku)
Akhirnya aku berharap untuk anakmu nanti.
Siang malam jagalah ia.
Kemungkinan besar ia lelaki.
Ajarlah berkelahi
dan jangan boleh ragu-ragu memukul dari belakang.
Jangan boleh menilai orang dari wataknya.
Sebab hanya ada dua nilai: kawan atau lawan.
kawan bisa baik sementara
Sedang lawan selamanya jahat nilainya.
ia harus diganyang sampai sirna.
Inilah hakekat ilmu selamat.
Ajarlah anakmu mencapai kedudukan tinggi.
Jangan boleh ia nanti jadi professor atau guru.
Itu celaka, uangnya tak ada.
Kalau bisa ia nanti jadi polisi atau tentara
suapaya tak usah beli beras
kerna dapat dari Negara.
Dan dengan pakaian seragam
dinas atau tak dinas
haknya selalu utama.
Bila ia nanti fasih merayu seperti kamu
dan wataknya licik seperti saya – nah!
ini kombinasi sempurna.
Artinya ia berbakat masuk politik.
Siapa tahu ia bakal jadi anggota parlemen.
Atau bahkan jadi mentri.
Paling tidak hidupnya bakal sukses di Jakarta
(Lelawa terbang berkejaran
tandanya hari jadi sore.
Oplet-oplet memasang lampu.
Perempuan-perempuan memasang gincu
Dan, abang, pesankan padaku
di mana kita bakal ketemu).
WS Rendra, Blues untuk Bonnie (1971).
9.11.13
26.3.13
Orang Muda Berhidung Merah Jambu
Ketika hari itu benar-benar datang, tak satu pun yang ia lakukan kecuali terus-menerus duduk dan melemparkan senyum termanisnya. Itu hari jumat di ujung tahun. Jumat yang cerah di mana pada saat itu hal terpantas yang semestinya terjadi adalah turun hujan dari langit Desember. Hari itu hujan tak turun, ada awan cerah di sekitar matanya.
Dia telah membayangkan semuanya sejak semula: “Tentu saja,” pikirnya, “aku akan mendapatkan ini. Dari sini semuanya akan berdatangan. Mula-mula barangkali permintaan menjadi pembicara di sekolah-sekolah. Lalu meningkat ke seminar-seminar dalam ruangan dingin di hotel-hotel mewah. Itu semua tentu setelah melewati serangkaian wawancara melelahkan permintaan dari majalah-majalah remaja, televisi berskala nasional dan radio-radio. Di koran-koran edisi hari minggu, seolah-olah setiap halaman melulu bercerita tentangku. Memuat fotoku dan mengutip karya-karyaku yang dulu cuma termangu di folder-folder tak tertata.”
Di hari itu, ia terus-menerus memikirkan itu semua. Jam dua siang, ibunya hampir mati jemu ketika harus keseratus kalinya mengingatkan ia agar segera menyentuh makan siangnya dan berhenti senyum-senyum sendiri.
Dia telah membayangkan semuanya sejak semula: “Tentu saja,” pikirnya, “aku akan mendapatkan ini. Dari sini semuanya akan berdatangan. Mula-mula barangkali permintaan menjadi pembicara di sekolah-sekolah. Lalu meningkat ke seminar-seminar dalam ruangan dingin di hotel-hotel mewah. Itu semua tentu setelah melewati serangkaian wawancara melelahkan permintaan dari majalah-majalah remaja, televisi berskala nasional dan radio-radio. Di koran-koran edisi hari minggu, seolah-olah setiap halaman melulu bercerita tentangku. Memuat fotoku dan mengutip karya-karyaku yang dulu cuma termangu di folder-folder tak tertata.”
Di hari itu, ia terus-menerus memikirkan itu semua. Jam dua siang, ibunya hampir mati jemu ketika harus keseratus kalinya mengingatkan ia agar segera menyentuh makan siangnya dan berhenti senyum-senyum sendiri.
27.2.13
17.1.13
Sajak Putih
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...
- Chairil Anwar
2.9.12
Asap
karena semuanya bisa saja menjadi begitu buruk, menjadi momen-momen luka bila terkenang. tapi bisa saja sebaliknya....
pernah kau dengar kisah guru zen dan para tetangganya? di suatu pagi guru itu kehilangan seekor kudanya. para tetangganya ramai melihat, menghampiri ia yang berdiri di beranda. ''malang sekali kau,'' seorang tetangga dari luar pagar angkat suara. ''ya, mungkin seperti itu,'' begitu guru itu menjawab singkat. kenyataannya, di esok pagi kuda guru itu kembali lagi ke kandangnya. begitu sentosa, begitu tenang. para tetangga berkumpul lagi, kali ini seseorang di antara mereka berkata, ''beruntung sekali kau.'' guru itu cuma menjawab, ''ya, mungkin seperti itu.''
di keesokan harinya anak guru tersebut patah kakinya ketika hendak menunggang kuda itu. di pagi yang mestinya cerah, guru itu harus mendapati anaknya patah kaki. ''malang sekali kau,'' tetangga-tetangganya begitu prihatin di luar pagar rumahnya. ''ya, mungkin seperti itu,'' kata guru itu seraya memapah anaknya ke dalam rumah. tapi kau tahu, di keesokan paginya lagi, segerombolan tentara datang mencari anak-anak yang sehat fisiknya untuk dikenakan wajib militer bagi negara. semua anak tetangganya dibawa pergi. tentu saja anak guru tersebut tidak dibawa. kakinya yang patah membebaskannya dari wajib militer. ''lihatlah guru,'' kata para tetangga, ''kau benar-benar orang yang beruntung!''
dan guru itu lagi-lagi bilang, ''ya, mungkin seperti itu.''
maka, mengapa kau harus menjadi asap ketika ingin menari?
pernah kau dengar kisah guru zen dan para tetangganya? di suatu pagi guru itu kehilangan seekor kudanya. para tetangganya ramai melihat, menghampiri ia yang berdiri di beranda. ''malang sekali kau,'' seorang tetangga dari luar pagar angkat suara. ''ya, mungkin seperti itu,'' begitu guru itu menjawab singkat. kenyataannya, di esok pagi kuda guru itu kembali lagi ke kandangnya. begitu sentosa, begitu tenang. para tetangga berkumpul lagi, kali ini seseorang di antara mereka berkata, ''beruntung sekali kau.'' guru itu cuma menjawab, ''ya, mungkin seperti itu.''
di keesokan harinya anak guru tersebut patah kakinya ketika hendak menunggang kuda itu. di pagi yang mestinya cerah, guru itu harus mendapati anaknya patah kaki. ''malang sekali kau,'' tetangga-tetangganya begitu prihatin di luar pagar rumahnya. ''ya, mungkin seperti itu,'' kata guru itu seraya memapah anaknya ke dalam rumah. tapi kau tahu, di keesokan paginya lagi, segerombolan tentara datang mencari anak-anak yang sehat fisiknya untuk dikenakan wajib militer bagi negara. semua anak tetangganya dibawa pergi. tentu saja anak guru tersebut tidak dibawa. kakinya yang patah membebaskannya dari wajib militer. ''lihatlah guru,'' kata para tetangga, ''kau benar-benar orang yang beruntung!''
dan guru itu lagi-lagi bilang, ''ya, mungkin seperti itu.''
maka, mengapa kau harus menjadi asap ketika ingin menari?
26.3.12
Indonesia for Sale
Intinya, 230 juta penduduk Indonesia akan disulap jadi sekumpulan pasar belaka. Kumpulan konsumen saja. Bukan kumpulan orang-orang produktif yang terlatih mengembangkan nilai tambah dan gemar berproduksi. Bangsa konsumen, bukan bangsa produsen. Ini akibat serangkaian kebijakan yang kurang merangsang dan memberi insentif pada kegiatan-kegiatan produksi, dibandingkan konsumsi. Bunga bank dikerek terus untuk kosmetik politik agar wajah inflasi tak tinggi, tapi akibatnya para produsen tak berani mengambil kredit untuk usaha.
Di sisi lain, kredit konsumsi digenjot habis-habisan. Bayangkan saja, sekarang lebih mudah membeli motor atau mobil dengan cara kredit daripada kontan. Ini sudah di luar nalar kita. Mereka yang punya uang kontan, justru tak bisa membeli barang. Jadi kita dipaksa berutang dan membayar bunga untuk menghidupi perusahaan-perusahaan penyedia jasa keuangan.
Indonesia for Sale, hal. 80-81.
Dhandy Dwi Laksono menulis buku Indonesia for Sale. Buku ini pernah terbit pada 2009 dan diterbitkan oleh Pedati, penerbit di Surabaya yang saat ini sudah tutup. Menjelang kenaikan harga BBM, Dhandy membagi buku ini secara gratis. "Dengan ini, saya telah membebaskan semua copyright yang melekat pada buku ini," tulis Dhandy dalam emailnya di sebuah milis.
Sila download di sini.
Di sisi lain, kredit konsumsi digenjot habis-habisan. Bayangkan saja, sekarang lebih mudah membeli motor atau mobil dengan cara kredit daripada kontan. Ini sudah di luar nalar kita. Mereka yang punya uang kontan, justru tak bisa membeli barang. Jadi kita dipaksa berutang dan membayar bunga untuk menghidupi perusahaan-perusahaan penyedia jasa keuangan.
Indonesia for Sale, hal. 80-81.
Dhandy Dwi Laksono menulis buku Indonesia for Sale. Buku ini pernah terbit pada 2009 dan diterbitkan oleh Pedati, penerbit di Surabaya yang saat ini sudah tutup. Menjelang kenaikan harga BBM, Dhandy membagi buku ini secara gratis. "Dengan ini, saya telah membebaskan semua copyright yang melekat pada buku ini," tulis Dhandy dalam emailnya di sebuah milis.
Sila download di sini.
7.9.11
Aku Catat Hari Ini
Aku akan memburumu seperti kutukan
-Widji Thukul
Aku catat hari ini, tanggal tujuh bulan sembilan.
Aku catat hari ini, tanggal tujuh bulan sembilan tujuh tahun lalu. Kalian bunuh seorang ayah. Kalian bunuh seorang suami. Belum lagi usianya empat puluh. Belum lagi pesawat yang ditumpanginya menyentuh daratan. Aku catat hari ini, tanggal tujuh bulan sembilan tujuh tahun lalu. Kalian bunuh lelaki kurus ini. Yang berjibaku setiap pagi, berangkat dari rumah kontrakan di Bekasi, mengendarai Astrea Grand keluaran tahun sembilan puluhan, menempuh kilometer demi kilometer untuk sekadar berbicara apa adanya. Aku catat hari ini, tujuh tahun lalu kalian bunuh lelaki ini.
Aku catat hari ini, tanggal tujuh bulan sembilan. Saat matahari begitu terang-benderang. Membakar setiap amarah yang tumpah di muka aspal, mengeringkan setiap peluh yang jatuh di dahi setiap orang di pagar istana. Aku catat nama kalian, para pembunuh.
Gerombolan bandit dengan nyali seujung kuku. Yang gemar menghitung kekayaan di balik jubah-jubah kekuasaan. Yang menjual nyawa dan meminum darah. Aku catat nama kalian.
Aku catat daftar panjang dosa-dosa kalian. Pembunuhan, penghilangan paksa, penyiksaan, pengusiran demi pengusiran. Tak akan boleh dilupakan mimik wajah kalian saat lidah kalian terjulur keluar dengan liur yang menetes di atas hamparan uang. Tak akan bisa dilupakan dengus napas serakah kalian saat menjual tanah-tanah terjanjikan. Barisan-barisan ini, mereka yang telah kalian rampas orang-orang terkasihnya, mereka yang telah kalian bunuh ayah-ayahnya, paman-pamannya, suami-suaminya, istri-istrinya, adik-adiknya, kakak-kakaknya, tak sekalipun akan melupakan kalian. Sampai akhir zaman nanti. Sampai kalian terhina dengan daftar dosa di kening-kening kalian.
Aku catat hari ini, tanggal tujuh bulan sembilan. Nama-nama kalian, dosa-dosa kalian. Aku catat hari ini. Aku sampaikan ke masa yang akan datang. Dan aku pastikan nanti, anak-cucu kalian akan merasa terhina karena telah memiliki orang tua-orang tua seperti kalian. Akan merasa jijik dengan riwayat-riwayat hitam asal-usul darahnya.
-Widji Thukul
Aku catat hari ini, tanggal tujuh bulan sembilan.
Aku catat hari ini, tanggal tujuh bulan sembilan tujuh tahun lalu. Kalian bunuh seorang ayah. Kalian bunuh seorang suami. Belum lagi usianya empat puluh. Belum lagi pesawat yang ditumpanginya menyentuh daratan. Aku catat hari ini, tanggal tujuh bulan sembilan tujuh tahun lalu. Kalian bunuh lelaki kurus ini. Yang berjibaku setiap pagi, berangkat dari rumah kontrakan di Bekasi, mengendarai Astrea Grand keluaran tahun sembilan puluhan, menempuh kilometer demi kilometer untuk sekadar berbicara apa adanya. Aku catat hari ini, tujuh tahun lalu kalian bunuh lelaki ini.
Aku catat hari ini, tanggal tujuh bulan sembilan. Saat matahari begitu terang-benderang. Membakar setiap amarah yang tumpah di muka aspal, mengeringkan setiap peluh yang jatuh di dahi setiap orang di pagar istana. Aku catat nama kalian, para pembunuh.
Gerombolan bandit dengan nyali seujung kuku. Yang gemar menghitung kekayaan di balik jubah-jubah kekuasaan. Yang menjual nyawa dan meminum darah. Aku catat nama kalian.
Aku catat daftar panjang dosa-dosa kalian. Pembunuhan, penghilangan paksa, penyiksaan, pengusiran demi pengusiran. Tak akan boleh dilupakan mimik wajah kalian saat lidah kalian terjulur keluar dengan liur yang menetes di atas hamparan uang. Tak akan bisa dilupakan dengus napas serakah kalian saat menjual tanah-tanah terjanjikan. Barisan-barisan ini, mereka yang telah kalian rampas orang-orang terkasihnya, mereka yang telah kalian bunuh ayah-ayahnya, paman-pamannya, suami-suaminya, istri-istrinya, adik-adiknya, kakak-kakaknya, tak sekalipun akan melupakan kalian. Sampai akhir zaman nanti. Sampai kalian terhina dengan daftar dosa di kening-kening kalian.
Aku catat hari ini, tanggal tujuh bulan sembilan. Nama-nama kalian, dosa-dosa kalian. Aku catat hari ini. Aku sampaikan ke masa yang akan datang. Dan aku pastikan nanti, anak-cucu kalian akan merasa terhina karena telah memiliki orang tua-orang tua seperti kalian. Akan merasa jijik dengan riwayat-riwayat hitam asal-usul darahnya.
14.7.11
Dear God
Dalam dua hari ini: Seorang teman kehilangan ibu.
Teman satu lagi memperingati 100 hari kepergian ayahnya.
Teman satu lagi memperingati 100 hari kepergian ayahnya.
Dan sore tadi, berdiri di sisi jenazah seorang kerabat.
Hi, Jane!
3.6.11
lacuna
ada yang teringat darinya saat tiga belas bintang
tiba-tiba jatuh di langit utara
tiga belas perintah ibunya telah ia lupakan ternyata
semacam hitungan yang menyisakan kegetiran sesaat
setelah itu tak ada lagi yang lain
kecuali hatinya yang meraba tertatih memilih jalan
sementara setiap mulut jalan seperti hendak
menghisapnya lumat-lumat
"ibu" suara seraknya
"lamah 'azavtani"
Yang pertama kali teringat di kepalanya adalah wajah ibunya. Wajah serupa purnama ke seratus dua puluhnya. Ia masih begitu kecil ketika tanah lapang mulai ramai kawan sebaya. Melempar entah apa dan bersorak entah mengapa. Berlari kecil dari rumahnya dan terhenti di ujung bayang pohon kelapa. Ibunya di pucuk pohon kelapa. Bulan serupa ibunya - ibunya serupa bulan. Purnama.
“Ibu,” suaranya lirih, “Mengapa kau di langit?”
Itu malam padang bulan desa. Kain-kain telah menahan ayahnya di rumah. Besok, anakku, kain-kain ini mesti dikirim ke kota. Ia lalu pergi ke lapang. Malam padang bulan. Ada ramai kawan sebaya dan ibunya di langit.
Ia tak mudah melupakan harum ibunya. Selepas memandikan dirinya, ibunya senantiasa akan menyusuinya. Melati. Mawar. Kenanga. Atau apa, ia tak mengerti. Tapi ia suka dan menikmati.
Dulu ayahnya tak menjual kain, tapi belati. Senjata-senjata tajam ragam nama ragam bentuk. Yang panjang dan yang pendek. Satu dua ada ukiran. Ibunya sering menyebutnya belati. Jangan di situ, ini kalimat ibunya yang tak terlupakan olehnya, bisa terluka kau nanti.
Dan ia memang pernah terluka. Pukul tiga sore di beranda rumah merah. Belati-belati itu sentosa di pojok dekat kursi kayu. Menunggu pembeli membawa pergi. Ia berjalan dan mengambil salah satu yang paling panjang dan berukiran. Jemarinya nyaris putus ketika ia merapatkan tangannya di mata pedang. Seolah itu mata yang indah, ia mengusapnya.
Lantai bertambah merah. Ubin ternoda. Ia mendengar ayahnya kesal memarahi ibunya yang pergi meninggalkannya sendiri demi sebotol susu. Ibunya sakit dan pergi ke langit. Ayahnya kemudian berdagang kain.
Kain tak akan melukaimu, kata ayahnya. Ia tahu itu. Tapi, ayah, kain tak pernah membuat ibu kembali lagi dari langit.
Ia selalu membayangkan itu. Suatu malam kamarnya akan semerbak. Mungkin melati atau mawar atau kenanga atau entahlah. Dan dari jendela ibunya turun dari langit. Seperti pelangi yang menjadi jembatan bagi peri-peri, kain-kain akan sambung-menyambung menjadi jembatan bagi ibunya. Berjalan-jalan di bawah bintang di atas jembatan kain. Dari langit masuk ke jendela kamar.
Ia akan bilang, ibu, tanganku sudah sembuh. Menetaplah, tak akan ayah marah lagi.
22.4.11
Satu Tahun Lima Bulan Sebelas Hari
Selama itu saya tidak pernah menulis di blog ini lagi. Oh, barangkali bukan hanya di blog ini saja. Tapi juga di tempat lain.
Tak ada alasan yang tepat untuk semua itu. Kecuali kemalasan, tentu saja.
Dan semalam saat bulan penuh dan angin menderu-deru melesak masuk ke dalam kamar melalui jendela kecil, ada terbit pikiran di kepala: aku mau menulis lagi. Namun Tuhan tahu ini, semua orang tahu ini: pikiran-pikiran kecil sering hinggap di kepala untuk selamanya hanya ada di dalam kepala. Rencana ini itu, hasrat ini itu, hanya akan berakhir sebagai rencana belaka.
Tapi barangkali tak mengapa. Langkah-langkah pada akhirnya mungkin akan terambil begitu saja. Tak seperti matahari, kadang kita tak tahu ke mana harus berjalan.
Tak ada alasan yang tepat untuk semua itu. Kecuali kemalasan, tentu saja.
Dan semalam saat bulan penuh dan angin menderu-deru melesak masuk ke dalam kamar melalui jendela kecil, ada terbit pikiran di kepala: aku mau menulis lagi. Namun Tuhan tahu ini, semua orang tahu ini: pikiran-pikiran kecil sering hinggap di kepala untuk selamanya hanya ada di dalam kepala. Rencana ini itu, hasrat ini itu, hanya akan berakhir sebagai rencana belaka.
Tapi barangkali tak mengapa. Langkah-langkah pada akhirnya mungkin akan terambil begitu saja. Tak seperti matahari, kadang kita tak tahu ke mana harus berjalan.
20.11.09
6.11.08
Kapan Ada Buya Lagi?
"Dasar kepengarangan saya adalah cinta."
(Buya Hamka)
Suatu hari rumah Buya Hamka kedatangan tamu. Kali ini tamunya sepasang muda-mudi. Si perempuan lantas mengenalkan diri sebagai putri dari Pramoedya Ananta Toer. Mengetahui itu, Buya ramah bertanya, "Oh, anak Pram. Apa kabar bapakmu sekarang?" Perempuan itu menjawab, "Sudah bebas, Buya." Lalu mengalir dari mulut Buya pujian untuk karya-karya Pramoedya seperti Keluarga Gerilya, Subuh, dan lain-lain. Lepas bincang soal Pramoedya, Buya bertanya maksud kedatangan sepasang tamunya itu. Dijelaskan: mereka hendak menikah, masalahnya, si calon mempelai pria, kekasih putri Pram, belum memeluk Islam dan hendak meminta Buya untuk meng-Islam-kannya. Dari sastrawan, Buya kembali tampil menjadi guru agama. Mengajarkan beberapa dasar agama Islam. Setelah itu dua anak muda itu pamit. "Sampaikan salam untuk ayahmu," kata Buya ramah. Anak Pram menangis. Buya juga nyaris menangis.
Cerita semacam itu bisa kita baca dari Pribadi dan Martabat, sebuah buku catatan Rusydi Hamka, putra Buya Hamka, yang terbit pertama kali pada 1981. Rusydi, yang menyaksikan pertemuan itu dari awal hingga akhir sedikit protes kepada ayahnya. "Lupakah ayah siapa Pramoedya itu?" tanya Rusydi. "Tidak," jawab Buya. "Betapapun dia membenci kita, kita tak berhak menghukumnya." Jagat sastra tanah air tentu tak pernah melupakan polemik besar-besaran di akhir era pemerintahan Orde Lama. Di mana kekisruhan politik merembes hampir di tiap lapangan kehidupan bangsa, termasuk kesusastraan. Lembaga Kebudayaan Rakyat lewat berbagai media yang dimilikinya, menjadikan Buya Hamka bulan-bulanan dengan mengatakan novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck sebagai hasil plagiasi. Ramai-ramai orang menyorot Buya Hamka. Caci maki tak henti berbulan-bulan lamanya.
Namanya Abdul Malik. Lahir pada 17 Februari 1908 di Minangkabau. Ayahnya tokoh agama, Syeikh Abdulkarim Amrullah. Di tahun 1918, Syeikh Abdulkarim mendirikan pondok pesantren, Sumatera Thawalib. Pada masa-masa itu, perdebatan-perdebatan agama antara kaum tua dan kaum muda sedang marak. Syeikh Abdulkarim termasuk salah seorang tokoh kaum muda yang menonjol. Dalam suasana perdebatan-perdebatan seperti inilah Abdul Malik dibesarkan.
Sebagaimana kebiasaan yang terjadi, Abdul Malik merantau dari tanah kelahirannya. Awalnya ke Yogyakarta, di mana ia banyak belajar pada tokoh-tokoh pergerakan Islam semacam H.O.S. Tjokroaminoto, Kibagus Hadikusumo, dan lain-lain. Usianya pada saat itu baru 16 tahun. Lepas dari Yogyakarta, dia kembali ke Sumatera menjadi aktivis Muhammadiyah, mengiringi A.R. Sutan Mansur, tokoh Muhammadiyah yang juga kakak iparnya. Lalu Abdul Malik menetap di Medan. Dari Medan inilah, pada tahun 1925, berusia 19 tahun, ia bertolak ke Mekah, menunaikan ibadah haji dan bekerja pada sebuah percetakan di sana. Sepulang haji, ia kembali ke Medan dan menjadi guru agama di sebuah perkebunan. Lepas dari itu, sampai akhir hayatnya, seolah hidupnya diserahkan sepenuhnya pada perkembangan Islam di tanah air.
Di Medan, selain tetap konsern pada kegiatan keagamaan, HAMKA (akronim dari namanya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah) menggeluti dunia kesusastraan. Pada dekade 30-an sampai 40-an, Medan dapat dikatakan sebagai salah satu kota yang menonjol dalam bidang literasi selain Jakarta. Penulis-penulis berkomunitas dan terbitan-terbitan marak. Sebagian penerbit menerbitkan buku-buku agama, sebagian lain menerbitkan roman-roman. A Teeuw, pengamat Sastra Indonesia, menempatkan Hamka sebagai seorang pengarang terkemuka di antara pengarang-pengarang Medan lainnya.
Buya Hamka memang penulis produktif. Sejak usia 17 tahun dia telah menerbitkan bukunya, Khatibul Ummat, sebuah buku agama tiga jilid yang beredar di Padang Panjang. Roman awal yang ditulis berjudul Si Sabariyah, berbahasa Minangkabau dan menggunakan aksara Arab Melayu. Roman ini sempat mengalami tiga kali naik cetak, yang mana kemudian honornya ia gunakan untuk biaya pernikahannya dengan Siti Raham pada tahun 1929. Selanjutnya, seperti tak henti tangannya menggerakan pena atau mengetik di mesin tulis (dan memang inilah kebiasannya: mengetuk-ngetukan jari-jarinya di meja seolah sedang mengetik) melahirkan karya-karyanya, baik dalam bidang agama atau dalam bidang kesusastraan seperti Di Bawah Lindungan Kabah, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Terusir, termasuk karya terjemahan Margaretta Gauthier, dan lain-lainnya. Yang paling fenomenal, tentu saja Tafsir Al Azhar. Selasai menulis lengkap tafisri tersebut, Buya Hamka berkata bahwa kini tugasnya selesai, matipun rela. Sepanjang hidupnya, tercatat 115 lebih buku berhasil ia tulis.
Sebagai seorang jurnalis, bisa dibilang majalah Panji Masyarakat tentu tak akan pernah bisa lepas dari nama Buya Hamka sendiri. Dia mendirikan dan mengasuh majalah itu. Hingga kemudian kekisruhan politik era Orde Lama menyebabkan majalah tersebut dibredel (bersamaan dengan pembredelan beberapa majalah lainnya) dan Buya Hamka ditahan.
Namun agaknya Buya memang sosok yang patut dijadikan contoh. Ditahan nyaris tiga tahun raganya dan diperlakukan tak terhormat dalam rangkaian pemeriksaan mengenai tuduhan yang mengada-ada tentang upaya kudeta dan pembunuhan Soekarno, tak membuat dirinya merasa harus membenci Soekarno. Mendengar Soekarno sakit dan wafat, air matanya tumpah. Lebih dari itu, ia mengimami Sholat Jenazah Soekarno. Tak peduli banyak orang yang mengkritik dan menyayangkan sikap Buya Hamka tersebut. Mengenai Pramoedya, pada tahun 1969 di Taman Ismail Marzuki, Buya Hamka menyatakan ketidaksetujuannya pada pelarangan karya-karya Pram. "Janganlah buku itu dilarang. Tetapi tandingi dengan tulisan," ujar Buya.
Sikap-sikap seperti inilah yang mungkin membuat kita agaknya merasa perlu merindukan sosok seperti Buya Hamka. Agamawan ramah yang menampilkan agama yang ramah. Agamawan yang tak hanya pandai di atas mimbar, tapi juga bisa menghanyutkan lewat rangkaian aksara indah.
printed version: Pikiran Rakyat
(Buya Hamka)
Suatu hari rumah Buya Hamka kedatangan tamu. Kali ini tamunya sepasang muda-mudi. Si perempuan lantas mengenalkan diri sebagai putri dari Pramoedya Ananta Toer. Mengetahui itu, Buya ramah bertanya, "Oh, anak Pram. Apa kabar bapakmu sekarang?" Perempuan itu menjawab, "Sudah bebas, Buya." Lalu mengalir dari mulut Buya pujian untuk karya-karya Pramoedya seperti Keluarga Gerilya, Subuh, dan lain-lain. Lepas bincang soal Pramoedya, Buya bertanya maksud kedatangan sepasang tamunya itu. Dijelaskan: mereka hendak menikah, masalahnya, si calon mempelai pria, kekasih putri Pram, belum memeluk Islam dan hendak meminta Buya untuk meng-Islam-kannya. Dari sastrawan, Buya kembali tampil menjadi guru agama. Mengajarkan beberapa dasar agama Islam. Setelah itu dua anak muda itu pamit. "Sampaikan salam untuk ayahmu," kata Buya ramah. Anak Pram menangis. Buya juga nyaris menangis.
Cerita semacam itu bisa kita baca dari Pribadi dan Martabat, sebuah buku catatan Rusydi Hamka, putra Buya Hamka, yang terbit pertama kali pada 1981. Rusydi, yang menyaksikan pertemuan itu dari awal hingga akhir sedikit protes kepada ayahnya. "Lupakah ayah siapa Pramoedya itu?" tanya Rusydi. "Tidak," jawab Buya. "Betapapun dia membenci kita, kita tak berhak menghukumnya." Jagat sastra tanah air tentu tak pernah melupakan polemik besar-besaran di akhir era pemerintahan Orde Lama. Di mana kekisruhan politik merembes hampir di tiap lapangan kehidupan bangsa, termasuk kesusastraan. Lembaga Kebudayaan Rakyat lewat berbagai media yang dimilikinya, menjadikan Buya Hamka bulan-bulanan dengan mengatakan novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck sebagai hasil plagiasi. Ramai-ramai orang menyorot Buya Hamka. Caci maki tak henti berbulan-bulan lamanya.
***
Namanya Abdul Malik. Lahir pada 17 Februari 1908 di Minangkabau. Ayahnya tokoh agama, Syeikh Abdulkarim Amrullah. Di tahun 1918, Syeikh Abdulkarim mendirikan pondok pesantren, Sumatera Thawalib. Pada masa-masa itu, perdebatan-perdebatan agama antara kaum tua dan kaum muda sedang marak. Syeikh Abdulkarim termasuk salah seorang tokoh kaum muda yang menonjol. Dalam suasana perdebatan-perdebatan seperti inilah Abdul Malik dibesarkan.
Sebagaimana kebiasaan yang terjadi, Abdul Malik merantau dari tanah kelahirannya. Awalnya ke Yogyakarta, di mana ia banyak belajar pada tokoh-tokoh pergerakan Islam semacam H.O.S. Tjokroaminoto, Kibagus Hadikusumo, dan lain-lain. Usianya pada saat itu baru 16 tahun. Lepas dari Yogyakarta, dia kembali ke Sumatera menjadi aktivis Muhammadiyah, mengiringi A.R. Sutan Mansur, tokoh Muhammadiyah yang juga kakak iparnya. Lalu Abdul Malik menetap di Medan. Dari Medan inilah, pada tahun 1925, berusia 19 tahun, ia bertolak ke Mekah, menunaikan ibadah haji dan bekerja pada sebuah percetakan di sana. Sepulang haji, ia kembali ke Medan dan menjadi guru agama di sebuah perkebunan. Lepas dari itu, sampai akhir hayatnya, seolah hidupnya diserahkan sepenuhnya pada perkembangan Islam di tanah air.
Di Medan, selain tetap konsern pada kegiatan keagamaan, HAMKA (akronim dari namanya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah) menggeluti dunia kesusastraan. Pada dekade 30-an sampai 40-an, Medan dapat dikatakan sebagai salah satu kota yang menonjol dalam bidang literasi selain Jakarta. Penulis-penulis berkomunitas dan terbitan-terbitan marak. Sebagian penerbit menerbitkan buku-buku agama, sebagian lain menerbitkan roman-roman. A Teeuw, pengamat Sastra Indonesia, menempatkan Hamka sebagai seorang pengarang terkemuka di antara pengarang-pengarang Medan lainnya.
Buya Hamka memang penulis produktif. Sejak usia 17 tahun dia telah menerbitkan bukunya, Khatibul Ummat, sebuah buku agama tiga jilid yang beredar di Padang Panjang. Roman awal yang ditulis berjudul Si Sabariyah, berbahasa Minangkabau dan menggunakan aksara Arab Melayu. Roman ini sempat mengalami tiga kali naik cetak, yang mana kemudian honornya ia gunakan untuk biaya pernikahannya dengan Siti Raham pada tahun 1929. Selanjutnya, seperti tak henti tangannya menggerakan pena atau mengetik di mesin tulis (dan memang inilah kebiasannya: mengetuk-ngetukan jari-jarinya di meja seolah sedang mengetik) melahirkan karya-karyanya, baik dalam bidang agama atau dalam bidang kesusastraan seperti Di Bawah Lindungan Kabah, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Terusir, termasuk karya terjemahan Margaretta Gauthier, dan lain-lainnya. Yang paling fenomenal, tentu saja Tafsir Al Azhar. Selasai menulis lengkap tafisri tersebut, Buya Hamka berkata bahwa kini tugasnya selesai, matipun rela. Sepanjang hidupnya, tercatat 115 lebih buku berhasil ia tulis.
Sebagai seorang jurnalis, bisa dibilang majalah Panji Masyarakat tentu tak akan pernah bisa lepas dari nama Buya Hamka sendiri. Dia mendirikan dan mengasuh majalah itu. Hingga kemudian kekisruhan politik era Orde Lama menyebabkan majalah tersebut dibredel (bersamaan dengan pembredelan beberapa majalah lainnya) dan Buya Hamka ditahan.
Namun agaknya Buya memang sosok yang patut dijadikan contoh. Ditahan nyaris tiga tahun raganya dan diperlakukan tak terhormat dalam rangkaian pemeriksaan mengenai tuduhan yang mengada-ada tentang upaya kudeta dan pembunuhan Soekarno, tak membuat dirinya merasa harus membenci Soekarno. Mendengar Soekarno sakit dan wafat, air matanya tumpah. Lebih dari itu, ia mengimami Sholat Jenazah Soekarno. Tak peduli banyak orang yang mengkritik dan menyayangkan sikap Buya Hamka tersebut. Mengenai Pramoedya, pada tahun 1969 di Taman Ismail Marzuki, Buya Hamka menyatakan ketidaksetujuannya pada pelarangan karya-karya Pram. "Janganlah buku itu dilarang. Tetapi tandingi dengan tulisan," ujar Buya.
Sikap-sikap seperti inilah yang mungkin membuat kita agaknya merasa perlu merindukan sosok seperti Buya Hamka. Agamawan ramah yang menampilkan agama yang ramah. Agamawan yang tak hanya pandai di atas mimbar, tapi juga bisa menghanyutkan lewat rangkaian aksara indah.
24.9.08
tadarus
ada yang sampai pada malam yang sepi dan dingin yang lamat yang besertanya bulan basah darah yang menetes mengalir menjelma Asma-Mu di lelangit kamarku yang pintunya berulang kali mengeluarkan suara ketukan yang serupa kicau burung yang menebar maut
aroma kematian yang datang menghampiri diriku yang berkali-kali menghindar dengan penolakan-penolakan halus yang kurang ajar seperti pernah kutolak sebelas perintah yang diurutkan ibu-ibu kita yang seperti lupa pernah melahirkan kita yang kini sendiri di dingin yang lamat dan malam yang sepi
mencariMu
mencari Rupa-Mu
mencari Kalimat-Kalimat-Mu
mencari Suara-Mu
mencari Hati-Mu
mencari diriku di Diri-Mu
aroma kematian yang datang menghampiri diriku yang berkali-kali menghindar dengan penolakan-penolakan halus yang kurang ajar seperti pernah kutolak sebelas perintah yang diurutkan ibu-ibu kita yang seperti lupa pernah melahirkan kita yang kini sendiri di dingin yang lamat dan malam yang sepi
mencariMu
mencari Rupa-Mu
mencari Kalimat-Kalimat-Mu
mencari Suara-Mu
mencari Hati-Mu
mencari diriku di Diri-Mu
19.9.08
Agraris?
"Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudera..."
Nenek moyang kami seorang pelaut. Seperti mereka kami hidup dari mencari ikan, menambang garam, perdagangan, pajak kapal pelabuhan, dan penangkaran mutiara.
Kami tidak mengenal pemimpin: Raja maupun bentuk pemerintahan yang lain hanya ada di orang daratan. Di negeri kami yang penuh pulau dan dihuni oleh banyak bajak laut, tiap orang harus mengurus dirinya sendiri. Kerjasama adalah sementara, hanya laut yang bisa dipercaya.
Berbeda dengan mereka yang hidup di daratan. Mereka - kaum masyarakat tingkat dua yang bodoh itu - cuma tahu bagaimana bertani dan menyenangkan tuan tanah. Bodoh karena terlalu lama dijajah.
Kami tahu saat untuk menetap, meletakkan sauh, dan menikmati persinggahan. Tetapi laut adalah hidup itu sendiri; ia adalah ibu. Ketika ia memanggil bergegas kami memasang layar, menentukan arah bintang, dan mulai berpetualang.
Jangan samakan kami dengan mereka yang sibuk bertani dan akan mati dimakan kerakusan pasar, kami tidak tahu apa itu arti bebas dan merdeka. Kami adalah camar yang berterbangan mengikuti aliran udara panas. Kami adalah pemandangan laut tak berbatas. Kami adalah angin amis yang bertiup mengibarkan rambut.
taken from themirath
Gemar mengarung luas samudera..."
Nenek moyang kami seorang pelaut. Seperti mereka kami hidup dari mencari ikan, menambang garam, perdagangan, pajak kapal pelabuhan, dan penangkaran mutiara.
Kami tidak mengenal pemimpin: Raja maupun bentuk pemerintahan yang lain hanya ada di orang daratan. Di negeri kami yang penuh pulau dan dihuni oleh banyak bajak laut, tiap orang harus mengurus dirinya sendiri. Kerjasama adalah sementara, hanya laut yang bisa dipercaya.
Berbeda dengan mereka yang hidup di daratan. Mereka - kaum masyarakat tingkat dua yang bodoh itu - cuma tahu bagaimana bertani dan menyenangkan tuan tanah. Bodoh karena terlalu lama dijajah.
Kami tahu saat untuk menetap, meletakkan sauh, dan menikmati persinggahan. Tetapi laut adalah hidup itu sendiri; ia adalah ibu. Ketika ia memanggil bergegas kami memasang layar, menentukan arah bintang, dan mulai berpetualang.
Jangan samakan kami dengan mereka yang sibuk bertani dan akan mati dimakan kerakusan pasar, kami tidak tahu apa itu arti bebas dan merdeka. Kami adalah camar yang berterbangan mengikuti aliran udara panas. Kami adalah pemandangan laut tak berbatas. Kami adalah angin amis yang bertiup mengibarkan rambut.
taken from themirath
17.8.08
16 Agustus
Ya, saya juga jadi korban "film" ini. Sebuah serangan mendadak dengan amunisi tokoh bangsa. Kecewa? Takjub?lihat komentar yang lainnya di shoutbox situs 16 Agustus.
5.8.08
Aleksandr Solzhenitsy

"Selama 15 tahun aku teronggok tersembunyi di bawah -- di kamp
kerja paksa, di pengasingan, di bawah tanah -- tak pernah
menampilkan diriku sendiri. Sekarang, aku bisa berenang ke
permukaan...."
Aleksandr Solzhenitsy
(11 Des 1918-3 Agust 2008)
kerja paksa, di pengasingan, di bawah tanah -- tak pernah
menampilkan diriku sendiri. Sekarang, aku bisa berenang ke
permukaan...."
Aleksandr Solzhenitsy
(11 Des 1918-3 Agust 2008)
29.7.08
Sepakbola
"Rangga memecahkan jendela belakang bus yang membawa para Viking, pendukung Persib Bandung. Ia menantang siapapun yang ada di dalam bus untuk turun berduel dengannya. Tatapannya kasar, sampai hanya dalam sepersekian detik ia melihat seorang mojang cantik yang terlihat panik di dalam bus yang kacau, chaos serta para Viking yang berserabutan keluar mencari senjata apapun yang bisa dibawa...."
Demikian Andi Bachtiar Yusuf menceritakan filmnya yang kini dalam proses awal produksi. Andi Bachtiar Yusuf pengamat sepakbola. Suatu hari dia bilang, "ape2 aje juga ada hubungannya ama sepakbola."
Setelah berbulan-bulan terpesona dengan sihir Franklin Foer, saya menunggu film ini dengan perasaan tak sabar.
Demikian Andi Bachtiar Yusuf menceritakan filmnya yang kini dalam proses awal produksi. Andi Bachtiar Yusuf pengamat sepakbola. Suatu hari dia bilang, "ape2 aje juga ada hubungannya ama sepakbola."
Setelah berbulan-bulan terpesona dengan sihir Franklin Foer, saya menunggu film ini dengan perasaan tak sabar.
18.6.08
Quote of the Day
"Aku tidak sependapat denganmu, tapi aku bela mati-matian hakmu untuk bebas berbicara mengeluarkan pendapat." (voltaire)
18.5.08
Dekat di Batinku

Kamu datang sebagaimana yang telah dijanjikan. Senja itu. Menjadi satu senja lagi yang cukup buram untukku, kesekian kalinya dalam paruh awal tahun ini. Kamu datang senja tadi bersama setumpuk buku milikku yang kamu pinjam. Kamu mengembalikannya, seperti hendak menyelesaikan sesuatu.
Akan ke manakah angin melayang
Tatkala turun senja yang buram
Kepada siapa lagu kuangankan
Kelam dalam kabut rindu tertahan
Tatkala turun senja yang buram
Kepada siapa lagu kuangankan
Kelam dalam kabut rindu tertahan
Tak banyak aku menatapmu, kecuali sesekali setelah berupaya bertahan terus-menerus melihat layar monitor. Di sampingku, senja itu, kamu bercerita tentang senja yang lainnya. Yang entah dengan siapa kamu saksikan. Merah, katamu. Sangat merah. Merah dan indah.
Aku tahu. Telah banyak yang sudah terjadi, akan banyak yang belum terjadi. Dan senja tadi seperti sebuah titik di mana kedua ujungnya bertemu, yang sudah dan yang belum. Bertemu untuk kemudian berjalan saling menjauhi hingga akhirnya kita sadari, kemungkinan paling besarnya adalah tak akan pernah terjadi apa-apa lagi. Tak akan ada lagi yang sudah atau yang belum. Cuma ada kosong.
Datanglah engkau, berbaring di sisiku
Turun dan berbisik dekat di batinku
Belenggulah seluruh tubuh dan sukmaku
Kuingin menjerit dalam pelukanmu
Turun dan berbisik dekat di batinku
Belenggulah seluruh tubuh dan sukmaku
Kuingin menjerit dalam pelukanmu
Selalu saja seperti terlambat aku sadari kalau hidup senantiasa begini. Berjalan dan bergerak tanpa menyisakan banyak pilihan. Selalu saja seperti bebal untuk kupahami bahwa tak semua senja hadir untukku. Hingga gelap datang dan kamu pulang, sempat aku katakan padamu keinginanku mengabadikan fajar di simpang jalan itu. Simpang yang menuntut untuk dipilih. Aku antarkan kamu hingga tepi jalan itu. Kita berpisah. Kau berbalik, aku terdiam. Kupanggil engkau. Namun tetap terdiam.
Sampai di manakah berarak awan
Bagi siapa mata kupejamkan
Pecah bulan dalam ombak lautan
Dahan-dahan di hati bergetaran
Bagi siapa mata kupejamkan
Pecah bulan dalam ombak lautan
Dahan-dahan di hati bergetaran
(Akan Ke Manakah Angin, Emha Ainun Nadjib)
Subscribe to:
Posts (Atom)
