3.6.11

lacuna

 ada yang teringat darinya saat tiga belas bintang
tiba-tiba jatuh di langit utara
tiga belas perintah ibunya telah ia lupakan ternyata
semacam hitungan yang menyisakan kegetiran sesaat

setelah itu tak ada lagi yang lain
kecuali hatinya yang meraba tertatih memilih jalan
sementara setiap mulut jalan seperti hendak
menghisapnya lumat-lumat

"ibu" suara seraknya
"lamah 'azavtani"


Yang pertama kali teringat di kepalanya adalah wajah ibunya. Wajah serupa purnama ke seratus dua puluhnya. Ia masih begitu kecil ketika tanah lapang mulai ramai kawan sebaya. Melempar entah apa dan bersorak entah mengapa. Berlari kecil dari rumahnya dan terhenti di ujung bayang pohon kelapa. Ibunya di pucuk pohon kelapa. Bulan serupa ibunya - ibunya serupa bulan. Purnama.

“Ibu,” suaranya lirih, “Mengapa kau di langit?”

Itu malam padang bulan desa. Kain-kain telah menahan ayahnya di rumah. Besok, anakku, kain-kain ini mesti dikirim ke kota. Ia lalu  pergi  ke lapang. Malam padang bulan. Ada ramai kawan sebaya dan ibunya di langit.

Ia tak mudah melupakan harum ibunya. Selepas memandikan dirinya, ibunya senantiasa akan menyusuinya. Melati. Mawar. Kenanga. Atau apa, ia tak mengerti. Tapi ia suka dan menikmati.

Dulu ayahnya tak menjual kain, tapi belati. Senjata-senjata tajam ragam nama ragam  bentuk. Yang panjang dan yang pendek. Satu dua ada ukiran. Ibunya sering menyebutnya belati. Jangan di situ, ini kalimat ibunya yang tak terlupakan olehnya, bisa terluka kau nanti.

Dan ia memang pernah terluka. Pukul tiga sore di beranda rumah merah. Belati-belati itu sentosa di pojok dekat kursi kayu. Menunggu pembeli membawa pergi. Ia berjalan dan mengambil salah satu yang paling panjang dan berukiran. Jemarinya nyaris putus ketika ia merapatkan tangannya di mata pedang. Seolah itu mata yang indah, ia mengusapnya.

Lantai bertambah merah. Ubin ternoda. Ia mendengar ayahnya kesal memarahi ibunya yang pergi meninggalkannya sendiri demi sebotol susu. Ibunya sakit dan pergi ke langit. Ayahnya kemudian berdagang kain.

Kain tak akan melukaimu, kata ayahnya. Ia tahu itu. Tapi, ayah, kain tak pernah membuat ibu kembali lagi dari langit.

Ia selalu membayangkan itu. Suatu malam kamarnya akan semerbak. Mungkin melati atau mawar atau kenanga atau entahlah. Dan dari jendela ibunya turun dari langit. Seperti pelangi yang menjadi jembatan bagi peri-peri, kain-kain akan sambung-menyambung menjadi jembatan bagi ibunya. Berjalan-jalan di bawah bintang di atas  jembatan kain. Dari langit masuk ke jendela kamar.

Ia akan bilang, ibu, tanganku sudah sembuh. Menetaplah, tak akan ayah marah lagi.

4 komentar:

amimoy said...

=,)

hore, imam nulis lagii :)

Anonymous said...

Aw aw aw...
Sulit rasanya untuk ukur cinta dan benci, mereka itu saudara kembar...

Horeeee Imaaaaam!!

sonn said...

nice one, mam!'

like this ::jempol::

Anonymous said...

baru mampir lagi, semangat terus