
Kamu datang sebagaimana yang telah dijanjikan. Senja itu. Menjadi satu senja lagi yang cukup buram untukku, kesekian kalinya dalam paruh awal tahun ini. Kamu datang senja tadi bersama setumpuk buku milikku yang kamu pinjam. Kamu mengembalikannya, seperti hendak menyelesaikan sesuatu.
Akan ke manakah angin melayang
Tatkala turun senja yang buram
Kepada siapa lagu kuangankan
Kelam dalam kabut rindu tertahan
Tatkala turun senja yang buram
Kepada siapa lagu kuangankan
Kelam dalam kabut rindu tertahan
Tak banyak aku menatapmu, kecuali sesekali setelah berupaya bertahan terus-menerus melihat layar monitor. Di sampingku, senja itu, kamu bercerita tentang senja yang lainnya. Yang entah dengan siapa kamu saksikan. Merah, katamu. Sangat merah. Merah dan indah.
Aku tahu. Telah banyak yang sudah terjadi, akan banyak yang belum terjadi. Dan senja tadi seperti sebuah titik di mana kedua ujungnya bertemu, yang sudah dan yang belum. Bertemu untuk kemudian berjalan saling menjauhi hingga akhirnya kita sadari, kemungkinan paling besarnya adalah tak akan pernah terjadi apa-apa lagi. Tak akan ada lagi yang sudah atau yang belum. Cuma ada kosong.
Datanglah engkau, berbaring di sisiku
Turun dan berbisik dekat di batinku
Belenggulah seluruh tubuh dan sukmaku
Kuingin menjerit dalam pelukanmu
Turun dan berbisik dekat di batinku
Belenggulah seluruh tubuh dan sukmaku
Kuingin menjerit dalam pelukanmu
Selalu saja seperti terlambat aku sadari kalau hidup senantiasa begini. Berjalan dan bergerak tanpa menyisakan banyak pilihan. Selalu saja seperti bebal untuk kupahami bahwa tak semua senja hadir untukku. Hingga gelap datang dan kamu pulang, sempat aku katakan padamu keinginanku mengabadikan fajar di simpang jalan itu. Simpang yang menuntut untuk dipilih. Aku antarkan kamu hingga tepi jalan itu. Kita berpisah. Kau berbalik, aku terdiam. Kupanggil engkau. Namun tetap terdiam.
Sampai di manakah berarak awan
Bagi siapa mata kupejamkan
Pecah bulan dalam ombak lautan
Dahan-dahan di hati bergetaran
Bagi siapa mata kupejamkan
Pecah bulan dalam ombak lautan
Dahan-dahan di hati bergetaran
(Akan Ke Manakah Angin, Emha Ainun Nadjib)
8 komentar:
sayangnya, atau untungnya, beatles tidak punya lagu untuk setiap hati yang patah. sayangnya, atau untungnya, kita tetap bisa dan mau bernyanyi. ikan yang terluka, menyelamlah sejenak. lagulagu itu tetap disini. menunggu dinyanyikan kembali dan terus
senja tidak melulu akrab dengan perpisahan..tidak ada sudah atau belum..sebab ini hidup..sebab hidup adalah rangkaian proses tiada akhir..seperti accre yang selalu membuat rusuh..
terkadang, yang belum terjadi, terlalu jelas untuk diketahui. kadang, aku sangat sebal melewati prosesnya.
bahkan, yang akan terjadi, meski belum terlewati, tampak jelas. proses yang menyebalkan dan membingungkan
kok komentar2nya rumit dipahami yaa ketimbang postingannya sendiri? hehehe, ikutan aah .....
lelaki senja malah lebih aneh lagi. dia itu pejuang bangsa belato. tapi payah, takut sama accretia.
-tambahin juga ;)-
"Di sampingku, senja itu, kamu bercerita tentang senja yang lainnya. Yang entah dengan siapa kamu saksikan."
hmmmmhhhh... i feel like i know this part of story.. heheee.. maaf kalau geer,, =)
hehe, kaya habis baca bukunya seno yang itu digabung sama senja di pelabuhan kecil-nya chairil. tapi versi sederhana.
bagus :D
Post a Comment