11.12.03

Puisi Jadi Peluru

“... tapi beri aku keberanian
merenggut topeng busana
telanjang menari berborok sekujur badan
di hadapan hadirin sahabat-sahabatku tercinta.”
(Sajak Hari demi Hari, Wiji Thukul)



Apa yang tersisa dari kehilangan yang panjang? Wiji Thukul, penyair, hilang begitu saja. Bukan untuk satu-dua malam, tapi nyaris lima tahun! Pertemuan terakhir Dyah Sujirah, biasa dipanggil Mbak Sipon, istrinya, dengan Thukul pada Desember 1998 bisa jadi akan menjadi pertemuan yang benar-benar terakhir. Tapi bersama dua anaknya, hingga kini, Mbak Sipon masih setia menunggu. “Kesetiaan itu mahal harganya, Pon,” kata Thukul dalam mimpi yang mendatangi Mbak Sipon pada hari ketiga bulan puasa lalu.

Tapi siapakah Thukul? Kejahatan macam apakah yang membuat dia menjadi tak biasa di negeri ini? Hilang? Dihilangkan? Atau...?

Namanya Wiji Widodo, orang lebih mengenalnya sebagai Wiji Thukul. Lahir di Kampung Sorogenen, Solo, 26 Agustus 1963. Sebuah kampung dengan mayoritas penduduk buruh dan penarik becak. Ayahnya, Pak Wito Kemis, juga penarik becak. Tentang ini Thukul punya sikap: Jangan lupa kekasihku / Jika kau ditanya siapa mertuamu / Jawablah: yang menarik becak itu / Itu bapakmu kekasihku. Puisi itu ditulis Thukul ketika dia berpacaran dengan Mbak Sipon yang kelak menjadi istrinya. “Suami saya,” kata Mbak Sipon, “selalu mengajarkan, kita tidak perlu malu mengungkapkan keadaan kita sebenarnya. Kami berasal dari keluarga miskin. Ayah Wiji Thukul, Pak Wito Kemis, penarik becak, dan kebetulan bapak saya juga penarik becak. Jadi buat apa malu, asal pekerjaan itu halal."

Tapi tentu ini yang membuatnya akan tetap dikenang: puisi yang lahir dari perihnya hidup di bawah tindasan tiran menjadi peluru yang mengarah pada sang tiran. Paling tidak akan selalu ada yang menilai seperti ini: Thukul melalui puisi-puisinya telah mengajak kaumnya untuk bangun memperjuangkan hak asasi! Ditulis secara sederhana, lugas, jujur, dan oleh karenanya mudah dipahami oleh orang kebanyakan.

Menulis sejak SD, tertarik pada teater di bangku SMP, masuk sekolah menengah karawitan, meski tidak tamat: kesenian memang jalan Thukul. Thukul tercatat pernah menjadi anggota Teater JAGAT (Jagalan Tengah), bersama kelompok ini ia keluar masuk kampung untuk berkesenian. Tapi pekerjaannya adalah tukang pelitur. Dan ia bangga dengan ini. Saat-saat menjadi tukang pelitur ini, Thukul kemudian dikenal sebagai penyair pelo (cadel), karena sering mendeklamasikan puisi untuk rekan sekerja. Thukul tidak main-main dengan puisi. Dia pernah diganjar WERTHEIM ENCOURAGE AWARD (1991) dari Wertheim Stichting di Negeri Belanda bersama WS Rendra atas puisi-puisinya. Ganjarannya yang berupa uang -yang kepada Rendra dititpkan- tidak sempat ia terima hingga kini.

Tahun 2002, Thukul mendapat Yap Thiam Hien Award, sebuah penghargaan untuk mereka yang dianggap berjasa bagi perjuangan penegakkan Hak Asasi Manusia. Meski tidak berbicara tentang konvensi, deklarasi, standar, dan lain-lain instrumen hak asasi manusia, tetapi sadar atau tidak sadar Wiji telah berjuang dalam memajukan nilai kemanusiaan yang menjadi awal dan akhir dari pemajuan hak asasi manusia. Bahkan lebih dari itu, dia tidak hanya bicara, melainkan juga berbuat. Tahun 1992, bersama warga Jagalan-Pucangsawit ia bertindak melawan pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil Sariwarna Asli. 1994 ia ikut bersama petani berjuang di Ngawi. 1995 ia memimpin pemogokan buruh PT. Sritex.

Pemerintah Orde Baru, melalui Menko Politik dan Keamanan Soesilo Soedarman pada 28 Desember 1997 menyatakan Wiji Thukul sebagai buron aparat keamanan. Ini yang tak pernah bisa dimengerti Mbak Sipon. “Apa bahayanya Thukul?”, kata Mbak Sipon. “Suami Saya sehari-hari biasa saja. Ataukah mungkin karena pemerintah memang begitu bobroknya, seperti yang dibilang Thukul dalam puisinya, Peringatan, sehingga pemerintah berniat keras untuk menangkap dia,” lanjutnya.

Thukul, di manapun ia, ditangkap, hilang, dihilangkan, atau apapun, akan selalu dikenang menjadi seorang penyair yang puisinya menjadi peluru bagi mereka yang menindas. Ia akan memonumen di segenap hati yang merasa bersamanya. Terlebih bagi kedua anaknya Fitri Nganthi Wani (11) dan Fajar Merah (7) yang bersama ibunya masih senantiasa setia menunggunya pulang.

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam,
kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata:
lawan!


Thukul, pulanglah.

No comments: