6.12.03

Peluru Itu Candu

Kami hanya berdua malam itu. Sebuah malam dengan bulan yang tampak setengah. Dia masih mengenakan sarung kesayangannya. Di luar, suara jangkrik terasa seperti tak biasa. Seperti sedang menyenandungkan puja-puji dengan bahasa yang rasanya pernah kumengerti. Belum lewat tengah malam. Sesekali ada terdengar suara burung hantu. Semacam isyarat entah untuk siapa. Ini malam kedua aku di kotanya. Malam pertama tak ada dia. Hanya setengah bungkus rokok dan secangkir kopi yang kutemukan di dapur. Rumah ini semakin asing bagiku. Dapur dengan sudut-sudut yang tak lagi kupahami. Dulu kopi bukan di laci dan gula selalu di atas meja, di samping termos air panas. Jam berdetak. Perkawinan cicak.

Beberapa tahun lalu aku hapal betul apa isi puja-puji jangkrik itu, rasanya. Dan bila tengah malam telah datang, mereka akan diam sejenak. Barangkali menyambut pagi. Barangkali semacam kesedihan: hari baru datang lagi, sementara nasib musykil untuk berubah. Entah di mana jangkrik-jangkrik itu berdiam. Pernah kusangka mereka menguasai kebun di belakang rumah. Tapi ternyata tidak. Hanya ada sunyi di sana. Begitulah seterusnya, tidak juga di samping rumah atau di depan rumah. Hanya kutahu di mana burung hantu itu akan mulai bersuara, di pohon nangka milik tetangga. Dia akan datang ketika para jangkrik memulai kidungnya. Lalu beberapa saat mendengarkan. Hening tanpa suara. Hingga tiga perempat sebelum tengah malam, saat para jangkrik akan jeda, dia akan mulai bersuara. Panjang, kadang parau, dan terasa menusuk. Lalu dari ruang tengah akan datang dentang dari jam yang tergantung. Dua belas kali. Sebuah jam tua impor hadiah perkawinan.

Jumlah jangkrik-jangkrik itu masih merupakan misteri bagiku. Dan biarlah itu lestari sebagai misteri. Populasi yang tak ingin kucoba persepsi. Satu atau seribu tak akan mengubah ketidaktahuanku atas tempat tinggal mereka. Pernah suatu senja kurayapi setiap meter pekarangan, mencari di manakah mereka akan mempersiapkan pesta mereka, atau altar mereka untuk melantunkan kidung yang tanpa sengaja kumengerti itu. Nihil. Dan sejak itu, kubiarkan mereka dan kunikmati kidung-kidungnya. Kidung jangkrik di bukan malam natal. Kidung sunyi dengan jeda suara merdu burung hantu. Beberapa tahun lalu, aku masih bersamanya. Membicarakan mengapa pilihannya hanya siang dan malam, atau pagi dan sore, dan mengapa matahari begitu teratur berputar, mengapa harus ada pilihan, mengapa tidak enam, tidak dua belas, sesuka hati, dan bukan cuma dua?

Sarungnya masih yang dulu. Rokoknya masih yang dulu, masih sama kuatnya. Hanya mampu berhenti paling lama lima belas menit. Dan suara jangkrik tak lagi kumengerti. Dari ruang tengah datang dentang sebelas kali. Sudah tiga jam. Tiga gelas kopi dan dua setengah bungkus rokok. Dan aku hanya mendengar. Hanya bisa mendengar.

Kali ini ceritanya tentang perang. Dia memulainya dengan kalimat tanya retorik lugas kau mau tahu rasanya kehabisan peluru dan kehilangan seorang teman. Lalu dia memulainya dari kisah bagaimana dia menjadi prajurit rendahan angkatan perang. Sebuah kisah yang menyedihkan menurutku: Menjadi prajurit adalah pilihanku. Hah, tidakkah terlihat gagah, menyandang senjata di bahu kanan, dan memperlihatkan pangkat yang terpampang di bahu kiri. Tak ada orang tua yang menolak gadisnya dipinang tentara. Memenuhi tugas panggilan negara dan dimakamkan di taman makam pahlawan. Apalagi perekonomian telah terporosok ke dalam jurang kepayahan. Kau bertani, maka kau akan kecap kerugian akibat mahalnya ongkos produksi. Kau melaut, maka kau akan berhadapan dengan kapal-kapal besar bermodal besar. Maka aku mendaftar di sebuah sekolah calon prajurit rendahan, suap sana-sini, dan lulus.

Kemudian dia bercerita tentang sebuah negeri warisan kolonial yang kerap berontak. Negeri dengan orang-orangnya yang tak mirip denganku, berbahasa beda denganku, dan beragama beda denganku. Dia telah menjadi prajurit waktu datang penugasan ke negeri tersebut. Satu pengalaman pertama. Setelah bertahun-tahun berlatih menggunakan senjata, akhirnya tiba saatnya dia akan menggunakan senjata itu sebagaimana mestinya: menghancurkan mereka yang memusuhi negara.

Kau tak akan tahu bagaimana rasanya meninggalkan rumah, menciumi pipi istrimu dan menghapus air matanya dengan jemarimu. Mengucapkan janji kau akan pulang dengan selamat, lalu membesarkan anak bersama, dan berkata, Ini tugas negara. Tenanglah. Tapi kau tak akan menangis. Tidak, tidak, itu tidak boleh. Yang kau lakukan adalah tetap memanggul senjata di bahu kananmu. Dan kau akan melambaikan tanganmu dari atas geladak, melihat istrimu memeluk anakmu. Dan juga akan segera kau rasakan ketegangan area medan tempur beberapa menit sesudahnya. Serangkaian upacara, komando-komando.

Burung hantu mulai bersuara. Jangkrik terdiam. Hampir tengah malam. Hening.

Oh, bagaimanakah aku harus menjelaskan ini kepadamu. Ngeri yang tak pernah datang sebelumnya kepadaku. Kau tahu, malam itu aku dengan lima orang rekanku, tentu saja, mendapat tugas patroli keliling. Sebuah desa yang baru saja beberapa hari kukenal dengan penduduk yang tak satu pun kukenal. Entah apa, mata mereka cukup untuk membuktikan bahwa mereka sangat takut kepada kami. Atau benci. Yah, ketakutan dan kebencian akan sangat serupa jika dipancarkan lewat tatapan mata. Hingga datang rentetan tembakan itu. Dan kami tak sempat sembunyi, kecuali berlindung di balik tiga buah pohon besar. Baru kali itu aku benar-benar mengutuki kegelapan. Kami baku tembak. Seorang rekan berusaha menghubungi markas. Kami terus baku tembak, saling memuntahkan peluru. Dan rekan di sebelahku, seseorang yang kepadanya baru saja kuperlihatkan gambar istriku dan anakku, tertembak. Di dadanya, ehm, tidak, di perutnya, hampir di dadanya. Darah mengalir. Dan dia mati. Begitu saja. Tapi aku tidak menangis melainkan mengeluarkan badan menghadapi mereka yang menembaki kami, dan, sial, peluruku habis. Tak ada amunisi cadangan karena kami hanya patroli. Hingga kemudian datang pasukan dari markas.

Dia menghirup kopinya. Gelas ketiga sisa setengah. Dari ruang tengah datang dentang dua belas kali. Dia menyalakan rokoknya dan tidak melanjutkan ceritanya.

Aku pernah kenal suara jangkrik-jangkrik itu. Juga suara burung hantu di atas pohon nangka milik tetanggaku itu. Malam akan semakin terasa larut jika mereka mulai tersendat-sendat bernyanyi. Aku tidak merokok di hadapannya. Dan aku meminta diri sebentar untuk pergi ke dapur membuat kopi lagi. Dapur ini semakin tertata dengan tata yang tak kumengerti lagi. Tempat gelas menjadi sangat jauh dari termos air panas. Meja makan menjadi lebih ke depan dan akan lekas kosong. Setelah makan malam, makanan akan dengan segera masuk kembali ke lemari yang letaknya tak lagi berjauhan dari meja makan. Tak akan ada lagi yang pulang telat dan makan. Di dapur kucoba mengerti kembali suara-suara itu. Suara malam jika mulai larut. Dulu ada salah satu kidung mereka yang kumengerti, kidung tentang kematian dari pembunuhan-pembunuhan tanpa arti. Berdurasi panjang dan sama sekali tidak berisi hal-hal remeh-temeh. Semacam kebijakan dari makhluk-makhluk malam. Terdengar dia batuk. Semakin hari, sepertiku, dia semakin tua. Hanya terlihat sekali tubuhnya mulai peka terhadap sakit-sakit kecil yang dulu seperti tak pernah hinggap di tubuhnya. Aku keluar dengan secangkir kopi panas.

Ini kepulanganku setelah beberapa tahun tak pulang. Sebuah kota yang tak lagi kumiliki dengan rumah yang semakin tak kupahami.

Dia lalu kembali bercerita dengan rupa gumaman panjang. Tentang perang yang masih saja terjadi di mana-mana. Tentang keserakahan. Tentang bagaimana membawa kepala teman sendiri di dalam sebuah kaleng bekas.

Malam itu aku kehabisan peluru hingga tak sempat membalaskan tembakan itu. Dia tertembak tepat di sampingku. Aku melihat bagaimana bajunya mulai merah perlahan. Aku melihat bagaimana keringat dingin membasahi wajahnya, melewati matanya yang menjadi tajam. Tangannya masih menggenggam senjatanya. Peluruku habis, tak satu pun tersisa. Beruntung pasukan dari markas segera tiba, jika tidak maka akulah korban selanjutnya. Kau tahu, dua tahun! Dua tahun setelah itu aku masih harus bergelut dengan kengerian-kengerian seperti itu. Patroli-patroli rutin, pertempuran-pertempuran, razia-razia, menatap mata-mata yang ketakutan, yang penuh kebencian. Apa yang tersisa? Tak ada. Kosong. Kosong. Kecuali serangkaian kengerian yang niscaya tak akan bisa kau lupakan.

Dia bercerita kembali. Ini kali tentang orang-orang yang pernah dia bunuh. Beberapa hanya dengan tangan kosong, tentu saja setelah si musuh tak berdaya. Mereka, pasukan-pasukan itu, akan bergilir memukuli si musuh dengan senang hati. Dan dia mengatakan kalau cara-cara semacam itu menjadi arena baginya melampiaskan segenap kesumatnya, juga barangkali rindunya kepada rumahnya. Dia akan semakin menikmati ketika si musuh benar-benar tak berdaya. Dan beberapa kali dia beruntung, di tepat gilirannya adalah nafas-nafas terakhir si musuh. Sekali pukulan dan beberapa kali tendangan, si musuh tewas seketika. Malam-malamnya menjadi akan terasa lebih seru ketika dia harus berpatroli, karena dia akan selalu melebihkan bekal amunisinya. Dia akan berangkat dengan segumpal dendam di hatinya. Matanya menjadi lebih awas dan peka lagi terhadap kegelapan. Dia mulai mengangkrabkan diri kepada gelap, sesuatu yang aku lakukan sejak usiaku menginjak belasan hingga kumengerti suara-suara jangkrik.

Dan kosong. Kau tak akan pernah merasa dendammu terlampiaskan. Juga rindumu terpecahkan. Melainkan penyesalan atas kesia-siaan waktu.

Aku tak pernah tahu, dia selalu saja seperti ini, berdiri dengan kaki yang satu berjauhan dengan kaki yang lain. Kadang kusangka dia amat menyesali jalan hidupnya menjadi tentara, tapi bahkan hingga kini dia masih membiarkan photo-photo yang menunjukkan ketentaraannya di ruang tamu. Di pintu depan rumah juga masih tertera stiker ketentaraan. Aku tak pernah tahu, sejak istrinya meninggal beberapa tahun lalu, bagaimanakah dia mengisi hari-harinya. Di ruang tengah koran memang banyak bertumpuk. Dan setiap hari selalu saja ada berita tentang perang. Adakah dia membacanya dan lalu barangkali menangis, menyadari kalau dulu dia pernah melakukan hal serupa, dan lalu menyesalinya?

Aku hanya terdiam mendengarnya. Seperti semula hanya bisa mendengarnya.

Kau tahu, ada kesenangan tersendiri ketika kau pergi dari rumah ini. Paling tidak dalam benakku, aku yakin kau tidak akan menempuh jalan yang telah kutempuh. Tidak, anakku, tidak. Kau tidak akan menjadi tentara, menjadi prajurit maupun perwira. Peluru itu candu. Kau tidak boleh! Cukup aku yang tahu apa rasanya membaca berita-berita tentang perang di koran-koran di satu hari tuamu. Kau harus tetap kuliah. Kalau kau mau, kau bisa sambil bekerja. Tidak menjadi tentara!

Aku masih hanya bisa mendengarnya. Kuhirup kopiku. Dan kudengar jangkrik bernyanyi kembali, sebuah lagu yang akhirnya kumengerti, lagu cinta termanis seorang ayah kepada anaknya.

Jatinangor, 18 Juni 2003

No comments: