Dinamis yang Seperti Apa?
Jauh sebelum saya memasuki bangku kuliah seperti saat ini, saya sudah mengenal sesosok mahasiswa dengan reputasi yang mengagumkan bagi saya pribadi. Saya masih berseragam biru-putih waktu itu, bercelana pendek. Itu hari yang sedikit mendung, ketika di depan kelas seorang guru saya—guru bahasa Indonesia—bercerita tentang sosok tersebut. Sosok yang setengah mati saya akrabi lewat membaca catatan hariannya yang kebetulan dimiliki oleh abang saya. Sesungguhnya, saya tak pernah menyangka guru itu akan bercerita tentang dia di depan kelas. Bercerita tentang bagaimana mahasiswa itu mengkritik Soekarno dengan begitu pedasnya, tentang demonstrasi-demonstrasi yang ia ikuti (atau bahkan ia pimpin), juga tentang kisah-kisah cintanya yang tak pernah sukses. Setelah bercerita, guru saya itu menyarankan kepada murid-muridnya untuk mengikuti jejaknya: bukan untuk melawan presiden, tapi untuk membuat catatan harian. “Semua orang harus punya catatan harian. Dia, Hilman (si penulis ‘Lupus’), Rizal (si sutradara) memiliki catatan harian.” Catatan harian itu reflektif dan inspiratif, simpul saya.
Tapi saya tak begitu kagum mendengar cerita tentang mahasiswa tersebut dari guru saya. Saya sudah membacanya. Barangkali sudah lebih dari sekali. Baca dan baca lagi. Hingga, mau tak mau, sedemikan tertanamlah di benak saya tentang bagaimana kehidupan ideal seorang mahasiswa di dalam alam dunia kampus yang dinamis. Ada pesta, ada cinta, dan ada politik. Tiga hal yang rasanya kerap ada bagi seorang mahasiswa, mirip dengan apa yang pernah saya dengar tentang apa yang mesti dialami anak laki-laki: naik gunung, keluar dari rumah, dan ditolak wanita.
Tentang pesta lebih baik tidak usah terlalu saya ceritakan di sini, rasanya semua orang tahu maksudnya. Juga tentang cinta, ini urusan pirbadi, bukan? Saya hanya ingin menulis tentang politik. Yeah, politik. Maaf sebelumnya untuk yang membenci tujuh huruf ini.
Telah saya katakan sebelumnya bahwa gambaran ideal saya tentang kehidupan mahasiswa tertanam lewat pembacaan saya terhadap catatan harian mahasiswa yang diceritakan guru saya tersebut. Mahasiswa ini mahasiswa biasa, paling tidak ia mengaku begitu. Walau begitu, dia pernah menjabat sebagai ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sastra UI (Universitas Indonesia) periode 1967-1968. Juga dia seorang demonstran. Saya kira dia seorang sosialis (dia pernah bergabung dengan gerakan mahasiswa sosialis), tapi lebih dari itu saya yakin dia seorang humanis. Seorang manusia yang punya segerobak rasa kemanusiaan di saat banyak orang cuma punya segenggam. Kelak, ketika ia mati dengan begitu mengenaskan dan sepi di puncak mahameru, ia ditangisi oleh begitu banyak orang, mulai dari pilot yang membawa jenazahnya pulang hingga seorang kuli yang membuatkan peti mati untuknya. Mungkin dari tulisan-tulisannya yang tak kenal kompromi yang membuat orang-orang itu mengenalnya dan kemudian menangisinya.
Hingga kemudian saya menjadi mahasiswa… dan mendapati ternyata itu semua seperti dongeng. Dongeng tentang seorang mahasiswa yang kesepian hingga memiliki begitu banyak waktu luang untuk digunakan sendiri di dalam kamar remang bersama mesin ketik kuno dan nyamuk-nyamuk. Begitu setiap malam, mencaci-maki pemerintah yang korup, politikus-politikus barbar dan sistem-sistem yang memuakkan lewat tulisan-tulisan kaku, lurus, tak kenal kompromi, bahkan untuk urusan-urusan yang begitu sensitif seperti menyebut nama seseorang. Karena saya tidak mendapati apa yang saya dapati di buku catatan hariannya. Yang saya dapati adalah kehidupan kampus yang sepi, terseok-seok, yang berjalan gontai tanpa tahu ke arah mana hendak menuju. Yang saya dapati adalah “sisa” dari kebanggaan yang dibuat-buat atas keberhasilan mahasiswa-mahasiswa yang telah merobohkan rezim jahat Soeharto tahun 1998 lalu. Yang saya dapati adalah kata-kata “terkutuk” Herbert Marcuse tentang mahasiswa, “mahasiswa itu agen perubahan sosial”. Sementara itu, di dalam kampus “politik” begitu meriah. Mahasiswa kini tak lagi hanya bermain volley, sepak bola atau naik gunung, atau tidak hanya duduk melingkar diskusi, belajar kelompok, penelitian, atau tidak hanya berpacaran, bermain-main, berpesta, nonton film atau menggelar malam puisi, mahasiswa kini menjadi politikus (poltikus dengan ‘p’ kecil). Mulai dari ujung rambut hingga ujung kuku kaki hanya berisikan taktik-strategi politik, kursi-kursi eksekutif/legislatif mahasiswa diperebutkan persis seperti bagaimana para politikus negeri ini memperebutkan kursi presiden dan parlemen.
Betapa menjemukan menjadi mahasiswa di saat-saat seperti ini dan betapa menyegarkan dongeng yang saya baca sejak smp itu.
Ataukah zaman memang telah berganti, dan sudah semestinya kita melihat zaman ini dengan “roh zaman” ini sendiri? Atau memang inilah dinamika kampus di era milenium? Di mana permainan otot lewat volley atau naik gunung begitu primitif dan bermain politik begitu intelek karena memeras otak, mengasah taktik, merumusukan strategi? Dan saya begitu tertinggal jauh di belakang dengan romantisme naif hasil dari konsumsi dongeng yang berlebih, hingga sudah seharusnya saya bersiap-siap untuk tergilas roda zaman ini?
Atau… adakah saya sedemikian bencinya dengan politik? Saya telah berpikir sebelumnya, menimbang-nimbang soal-soal di atas. Dan saya pikir jawabannya tidak. Saya tak benci politik. Apalah politik. Yang saya benci adalah sesuatu yang telah kehilangan hakikatnya. Seperti para mahasiswa yang berpolitik itu, tidakkah itu namanya mengingkari hakikat kemahasiswaannya. Ataukah benar kata mahasiswa yang diceritakan guru saya tersebut, mereka bukan mahasiswa yang berpolitik, tapi politikus yang punya kartu mahasiswa!
Pertama, dua hal itu tentu saja berbeda. Ini menurut mahasiswa yang diceritakan guru saya tersebut. Mahasiswa yang berpolitik adalah Mahasiswa dengan ‘M’ besar (mahasiswa yang mengerti benar hakikatnya sebagai seorang pemuda yang sedang menuntut ilmu) dan Politikus dengan ‘P’ besar (mereka yang bertindak dengan sangat keras kepala demi menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah – tanpa memandang dari ideologi apa ia berasal, dari agama apa ia berangkat, atau dari organisasi mana ia bergerak). Semuanya terasa begitu alamiah. Di kelas-kelas kampus berjalan diskusi-diskusi yang sehat dan bebas, yang tidak asal main hantam demi kejayaan agama, ideologi atau organisasi. Di waktu-waktu tak ada kuliah mahasiswa sibuk membuat terbitan-terbitan, menggelar diskusi-diskusi, sampai merencanakan pendakian gunung, pertandingan basket atau volley, membuat pameran photo, pemutaran film-film dan malam-malam puisi. Begitu natural. Mereka yang berpolitik berjalan dengan begitu sehatnya, eksekutif sibuk melaksanakan program-programnya dan legistlatif begitu ketatnya mengawasi eksekutif. Mahasiswa-mahasiswa lainnya terwakili dan diapresiasi aspirasinya. Birokrat kampus berjalan di bawah pengawasan mahasiswa hingga begitu minim dosen yang tak masuk kelas, korupsi-korupsi uang mahasiswa begitu sulit dilakukan. Dan, jika sesuatu yang menyebalkan terjadi, mereka semua bersama-sama turun ke jalan-jalan, berteriak menyatakan yang salah adalah salah dan menyerukan perbaikan, menekan pihak penguasa yang dinilai korup dengan tanpa lelah. Atau mereka akan terjun ke masyarakat, hidup bersama petani, buruh, dan lainnya yang tertindas. Bersama-sama mereka memperjuangkan keadilan.
Kedua, kehidupan kampus memang sudah selayaknya dinamis. Saat-saat seseorang menjadi mahasiswa adalah saat-saat orang tersebut membentuk diri. Agak sulit rasanya jika yang terjadi ternyata hanyalah pergi ke kampus, kembali ke kost/rumah untuk keesokan harinya kembali lagi ke kampus. Begitu berulang-ulang dengan tidak dinamisnya. Mahasiswa, dan dunianya saya kira, adalah pihak yang begitu banyak orang menaruh harapan-harapan kepadanya. Dengan semangat muda dan ilmu yang terus diasah, seperti kata Soekarno, mereka mampu “mengguncangkan dunia”.
Begitu alamiah, dan begitu seperti dongeng, bukan? Tidak seperti kehidupan kampus yang saya temui saat ini, di mana begitu banyak politkus-politikus masuk ke kelas-kelas kampus, mencari-cari massa mahasiswa untuk mendukungnya bermain-main politik. Di mana begitu banyaknya agenda-agenda aksi di jalan-jalan dengan isue-isue sembarangan yang justru terkesan jauh dari kejujuran membela kebenaran, menaikkan si itu dan kemudian menaikkan si ini, mencela hal itu dan mengagung-agungkan hal ini. Di mana itu?
1 comment:
Ada beberapa pilihan :
- Buat perubahan
- Diam saja
- Memilih untuk "tidak memilih"
Ato ada pilihan lainnya?
Hehe..
Walau agak sulit untuk melawan arus, tapi disitulah mengapa seseorang dikatakan "pejuang".
Salam kenal.
Post a Comment