Maaf Sampai Mati!
Saya ke Jakarta mencari jejak pendosa. Remy Silado membuka Ca Bau Kan dengan kalimat itu. Saya tidak ke Jakarta pagi itu, saya ke Bekasi, sebuah kota tempat di mana saya pernah dibesarkan. Dan saya mencari jejak pendosa. Jejak saya sendiri…
“Hebat Sekali. Pada akhirnya kita tak punya apa-apa lagi. Bahkan dosa sekalipun!”
Saya minta maaf. Secepatnya saya harus pulang. Dan, rasanya saya harus menyalami teman-teman semua, terutama untuk sepatah-dua pengakuan dosa. Aih… dosa-dosa ini.
Saya mohon maaf kepada mereka yang yang tertidur di saat saya berangkat: Dasuki, Dahrun, Endrie, Chokie, dan Novan. (Betapa membingungkan jika saya harus membangunkan kalian semua). Lalu untuk teman-teman di Panorama, mashokis team. Barangkali benar, Drie, mestinya malam tadi kita pergi ke gerbang. Pepeng dan Ade, saya minta maaf. Sebisa mungkin saya terus berhubungan dengan kalian.
Juga untuk yang lainnya. Yang lainnya. Yang lainnya.
Maaf Sampai Mati!
# kalian dapat salam dari Eka. Dia sudah duluan. Pagi-pagi sekali, belum ada matahari!
Pesan itu saya tulis di sebuah kertas putih yang saya dapati begitu saja. Itu jam setengah delapan pagi, di hari Sabtu tanggal 15 November. Sebuah pagi yang mendung yang membuat saya sedikit ragu untuk memutuskan sebuah perjalanan pulang. Membuat saya sedikit berlama-lama terdiam di ruang tengah rumah biru, memandangi mereka yang tertidur begitu pulas, beberapa mendengkur halus, yang dengan segera mengingatkan saya kepada dengkur bayi-bayi. Di belakang saya, berdesakan buku-buku dalam rak, seolah berebutan dengan begitu tergesa-gesanya untuk ke luar, menjatuhkan dirinya dan kemudian membiarkan halaman-halamannya terbuka dimain-mainkan angin pagi. Buku-buku itu.
Semuanya pasti akan terkenang-kenang nanti, muncul begitu saja di kepala serupa gelombang-gelombang halus pantai, datang dan pergi silih berganti. Seperti misalnya kejadian semalam. Sebuah pesan saya kirim kepada seorang kawan baik di Yogya, “Demi tuhan, betapa menyebalkannya menjadi seorang pemimpi!” Tak sampai sepuluh detik, dia membalasnya, “Kau kenapa? Aku lagi on-line sekarang!” Tak butuh waktu lama bagi saya untuk segera pergi menuju warnet, menyerahkan diri dalam labirin maya yang begitu rumit. Dan dia menyapa, “Hai!” Malam itu, 14 Desember, adalah malam di mana kekesalan telah memuncak begitu rupa, di Jatinangor, tempat yang rasa-rasanya tak perlu menunggu ratusan tahun lagi untuk mencapai kebusukannya. Sementara dia, dia sedang begitu tentramnya di sebuah rumah budaya, Akademi Kebudayaan Yogyakarta, mengerjakan sesuatu yang dia cintai begitu liar: menulis. Di beranda, ceritanya, ada Puthut EA dan kawan-kawannya sedang melingkari gelas-gelas kopi, membicarakan begitu banyak hal seraya tertawa-tawa. Dia kembali bertanya, “kau kenapa?” Tak ada, kataku. Hanya sedang sebal kepada sederetan filsuf yang ternyata berkepala penuh bualan-bualan. Dia tertawa. Hanya tertawa. Lalu dia katakan, “Mam, aku jatuh cinta (lagi)” Itulah, jawabku, aku pikir aku pun begitu.
Ehm…
Tapi dia bahkan telah menulis dua belas prosa akibat rasa cintanya itu. Menulis! Saya ceritakan sedikit tentang dia. Dia saya kenal sekira dua tahun lalu, tidak, tiga tahun lalu. Di akhir tahun 2000 di sebuah ruang gelap maya. Malam itu dia menawakan diri untuk membacakan puisinya. Saya menghampirinya, bertanya begitu saja: kau senang puisi? Dia sekolah di negara yang lain dengan saya, di benua yang lain. Kelas tiga SMU. Yang mengejutkan, dia punya satu cita-cita yang rasa-rasanya tak pernah bisa saya mengerti sampai kapan pun: kuliah di Yogyakarta! Saya membujuknya untuk jangan pernah menyimpan keinginan bersekolah di Indonesia, dengan sistem pendidikan seperti ini, maka segenap potensi yang telah ada dalam dirinya akan menjadi percuma begitu saja. Kau sudah bagus di Australia, untuk apa ke Indonesia? Jawabnya, “Ada Eka Kurniawan di Yogya”. Menulis! Bahkan dia hanya ingin berkumpul dengan para penulis di Yogya. Eka Kurniawan adalah cerita lain lagi, seorang penulis yang novelnya baru terbit dan konon yang terpanjang yang pernah ditulis penulis Indonesia. Dan kelak, selama libur di rumah, pagi-pagi saya banyak diisi dengan membaca novelnya itu. Baca dan baca lagi.
Seperti itulah, hingga akhirnya dia benar-benar kuliah di Yogyakarta, dua tempat sekaligus: Sejarah Universitas Gadjah Mada dan Fotografi Institut Seni Indonesia. Dan menjadi penulis. Di malam saat saya mengirim pesan itu kepadanya, bahkan dia sempat menulis sebuah puisi untuk Puthut EA, penulis yang sama hebatnya dengan Eka Kurniawan, bagi saya. (Ini sungguhan, bahkan surat-surat Puthut dan Eka yang pernah saya baca di berbagai media mempunyai kekuatan yang membuat saya harus mengakui bahwa Puthut begitu menggetarkan. Puthut dan Eka yang Dahsyat). Ini puisinya:
Demi Yang Maha EA
:p.e.a.
demi yang maha ea, kau masih mengaduk-aduk kata.
berapa banyak yang dibutuhkan seseorang untuk menggoncang dunia?
atau hanya dalam beberapa tangisan dalam satu malam?
kau sedang mencari kesepian dimana-mana, bahkan dalam sekeping obrolan dan segelas kopi pait.
demi yang maha ea, kau masih mengaduk-aduk kata.
masih sangat.
dalam kursi bambu yang juga hangat.
yk, 141103
Malam itu, bagaimanapun, saya memimpikan untuk bisa tidur. Karena malam-malam sebelum malam itu, percayalah, sekalipun saya tak pernah bisa tidur sebelum langit timur mulai berwarna terang. Tapi gagal, selalu gagal. Karena tepat jam setengah dua dini hari, sebuah pagi yang buta, seorang kawan datang dengan buku-buku yang baru saja ia beli. Ditemani segelas sirup jahe pemberian seorang kawan, kami bicara, juga dengan kawan-kawan yang lain, tentang mimpi untuk membuat semacam media penulisan kreatif di Jatinangor. Lalu pembicaraan melompat-lompat, pertama kali ke wilayah cerpen, lalu penulis-penulis, gosip-gosip, dan akhirnya cinta-cinta. Cinta…
Itu berlangsung hingga pagi begitu ribut dengan suara-suara yang keluar dari surau-surau. Suara-suara yang diharapkan mampu membangunkan mereka yang tertidur untuk melaksanakan sahur. Jam tiga pagi, kesunyian dengan segera menyeret saya menuju warung mencari makan. Kenyataannya, saya tidak makan, melainkan membuat segelas kopi dan mengambil beberapa batang rokok. Sebuah pagi sahur tanpa makan. Hingga kemudian saya benar-benar tertidur pada pukul lima lebih sedikit. Dari jendela mungil yang agak tinggi, bersebelahan dengan photo Soekarno yang sedang tersenyum, saya melihat matahari telah mulai memutih. Tuhan, apa lagi, saya hanya ingin tertidur?!
Saya hanya ingin tertidur pagi itu. Karena nanti, jam delapan pagi, sudah seharusnya saya berada di dalam bus yang menuju kota saya dibesarkan. Tidak bisa tidak, sore hari nanti sebabnya. Sebuah janji telah saya sepakati dengan kawan-kawan di Bekasi. Janji yang tak pantas untuk disesatkan. Kami akan bertemu membunuh sore nanti, melewatinya dengan canda-canda yang dapat dipastikan akan begitu kelewatan, dan lalu berbuka puasa bersama. Yang membahagiakan: saya tertidur pagi itu. Yang menyebalkan: saya hanya tidur satu setengah jam lamanya.
Hingga kemudian saya terbangun di pukul setengah delapan pagi dan mengusir paksa kemalasan dengan menyegerakan diri berjalan ke kamar mandi. Lalu duduk membelakangi buku-buku yang berdesakan di dalam rak seraya mendengarkan dengkuran halus beberapa kawan. Menemukan sebuah kertas putih dan mulai menuliskan pesan tadi, dan menempelkannya di papan tulis putih dengan plastik perekat yang saya ambil dari sepucuk undangan pernikahan. Saya pulang meski mungkin akan turun hujan. Sudah semestinya.
***
Sepanjang perjalanan saya mengusahakan diri untuk tetap terjaga. Sebuah perjalanan akan terasa percuma jika dilewatkan begitu saja karena pasti akan banyak yang dapat terlihat, yang mungkin dapat memberi perspektif lain bagi diri saya dalam menjalani hidup, tentu saja. Tapi percuma. Pagi, menjelang siang, yang sejuk dan sedikit mendung membuat saya benar-benar tertidur dalam perjalanan dan baru terjaga saat bus nyaris sampai di kota saya. Bekasi. Inilah sebuah kota yang begitu aneh. Saya merasa seperti turis yang datang berkunjung untuk pertama kalinya di kota ini. Bagi saya aneh, karena, seperti keajaiban yang terus terjadi berulang-ulang, setiap saya kembali datang ada saja yang berubah dari kota ini. Seperti dulu, beberapa bulan lalu. Dulu di tepi sungai kotor itu belum ada gedung parlemen kota, dan kini lihatlah, gedung itu berdiri begitu megahnya. Juga di perempatan ramai itu, dulu sisi sebelah barat jalan adalah sawah belaka, tapi betapa mengejutkannya, kini sebuah pusat perbelanjaan berdiri begitu sombongnya sementara sesungguhnya tak jauh dari sana telah ada pusat perbelanjaan serupa. Saya tidak tahu itu mal keberapa di kota ini, yang saya tahu pengemis, anak-anak jalanan menjadi begitu banyak di kota ini. Seperti siang itu, dari balik jendela angkot saya melihat beberapa “orang-orang jalanan” tengah istirahat di bawah pohon yang teduh di tepi sungai. Saya kira mereka adalah sebuah keluarga, ada seorang kakek, beberapa lelaki dewasa, perempuan dewasa, dan anak-anak kecil. Mereka duduk melingkar tak teratur dan seperti sedang membicarakan sesuatu hal yang penting. Sementara itu, di seberang sungai tempat mereka istirahat, berdiri pusat perbelanjaan megah dengan papan-papan iklan di setiap meter dindingnya. Inilah sebuah kota, di mana saya tak pernah merasa aman. Kehidupan saya terteror dengan selentingan-selentingan ketidaknyamanan yang bisa dipastikan setiap orang bisa menceritakannya.
Bagaimanapun, saya sampai di rumah. Sebuah rumah mungil yang menggairahkan. Berbeda dengan kota ini, rumah ini tak begitu banyak berubah, kecuali kini di timur beranda ada sebuah rak rotan yang dulu dipakai menyimpan koran dan majalah dan kini menjadi tempat bagi sepatu dan sandal. Lalu kursi-kursi yang berubah warna, menjadi warna hijau yang begitu saja mengingatkan saya pada agar-agar segar. Sebuah ingatan yang menjadi lelucon untuk saya dan keluarga.
Saya masih mengantuk dan berniat untuk meneruskan tidur di rumah ini. Kenyataannya saya tak pernah bisa kembali tidur, saya harus melayani semua pembicaraan yang dilancarkan oleh orang tua dan kakak saya. Mendiskusikan isi koran-koran pagi, tentang kuliah, tentang apa pun. Hingga jarum jam ternyata telah tepat berdiam di atas angka empat. Jam empat sore. Saya belum tidur. Saya belum mandi. Belum melakukan apapun meski saya ada janji sore ini. Maka saya mandi dan segera berpakaian.
Dan tuhan, apa artinya doa-doa jika tidur adalah sebuah perkara sulit?
***
Itulah sebuah sore yang menyenangkan, sebuah sore yang menyeret saya ke sebuah kenangan tiga tahun lampau, saat saya masih mengenakan seragam putih abu-abu bersama kawan-kawan yang membahagiakan, sebuah kenangan dengan peristiwa-peristiwa kecil yang tak akan lari sampai kapan juga dari ingatan. Kami, kawan-kawan sekolah dulu, berkumpul sore itu, berkumpul kembali. Dengan cerita-cerita baru, peristiwa-peristiwa baru, lelucon-lelucon baru, dan rambut-rambut baru. Dulu si itu pernah berkelahi di depan kelas dengan si ini, si dia pernah ketahuan membawa sebungkus rokok di saku baju sekolahnya begitu memasuki kelas oleh guru, si itu dulu rambutnya ikal dan kini saat mode berganti, rambutnya tiba-tiba menjadi selurus paku. Semua kenangan itu diputar kembali bersama-sama di sebuah beranda rumah seorang kawan. Dan kami tertawa-tawa. Begitu renyahnya, begitu akrabnya…
Sampai malam kemudian datang dan mengharuskan semuanya kembali kepada urusan masing-masing. Saya pulang, diantar tiga motor sekaligus. Mandi dan bersiap tidur. Dan seperti kabar buruk, tak lama berselang, seorang kawan menelepon. Apa kabar, kapan sampai, sedang apa, dan mengajak saya keluar. Apapun, kenyataannya malam itu saya urung tidur, saya keluar dengan sepeda motornya, berdua. Dia adalah seorang kawan yang lain lagi. Rumahnya tak jauh dari rumah saya, hanya saja kini dia telah lulus kuliah, hal yang mebuat risau ibu saya, “Kau masuk bareng dengannya, kenapa tidak lulus bareng?” Dan jika ibu saya sudah bertanya seperti itu, maka inilah jawaban yang terus saya ulang-ulang, yang saya kutip dari seorang kawan di Yogya yang telah saya ceritakan di atas: “Yah, orang kan beda-beda.” Salah satu kalimat favorit. Kami berputar-putar sambil bercerita banyak hal, dan terutama, lagi-lagi, tentang cinta!
***
Dari manakah semua kekejaman bermula? Kekejaman itu terjadi begitu saja di dini hari yang melelahkan. Dan sayalah pelaku kekejaman itu. Saya sedang menyelesaikan sebuah novel tua karangan penulis Rumania yang saya dapati di rak buku ayah saya, “Peradilan Terakhir” Petru Dimitriu. Sesungguhnya, sejak SMU saya telah berusaha menyelesaikan novel itu, tapi itu bukan perkara mudah, percayalah. Kertas-kertas di buku itu telah begitu menguning, bahkan kecoklat-coklatan, ditambah dengan ejaan bahasa Indonesia jauh sebelum disempurnakan. Belum lagi struktur cerita yang membingungkan: si ini bercerita tentang si itu yang kemudian dilanjutkan si itu menceritakan si dia yang lain lagi. Rasanya itu adalah cerita dari seorang penulis yang antikomunis. Banyak saya baca cerita-cerita yang menampilkan sisi buruk komunisme. Dan malam itu saya berjanji untuk membuat sebuah risalah tentang pengalaman membaca novel itu.
Kekejaman itu terjadi, begitu saja dengan mudahnya. Di telapak tangan saya tertinggal begitu banyak bercak darah. Merah. Saya yakinkan itu darah saya sendiri. Darah saya sendiri yang dihisap tanpa izin dari nyamuk yang rasanya begitu banyaknya hingga niscaya tak seorang pun yang akan sanggup menghitungnya. Haruskah saya membunuh nyamuk-nyamuk itu dengan begitu kejamnya? Dan jika pertanyaan ini mulai muncul, ingatan saya dengan segera memunculkan sebuah dialektika buntu seorang tokoh dalam novel karangan Dwi Hendro Basuki, “Dari Pojok Kamar Paling Belakang”, yang diterbitkan secara indie oleh temannya sendiri. “Apakah harus dengan membunuhnya?” Itu pertanyaan tokoh tersebut saat menghadapi nyamuk-nyamuk di kamarnya, pertanyaan yang membingungkan karena ia teringat pula pada seorang tetangganya yang mati karena demam berdarah! Tahukah, saya telah membunuh begitu banyak nyamuk dini hari itu!
Mengapa di kamar ini terlalu banyak nyamuk? Mungkinkah seperti yang pernah diceritakan di sebuah film produksi pemerintah tentang pemberontakan partai komunis di negeri ini, saat seorang jenderal mendapati kamarnya begitu banyak nyamuk, tak seperti biasanya, dan beberapa jam kemudian, ia dibunuh. Semacam isyarat untuk berfirasat. Sesuatu pikiran yang mengada-ada. Yang saya putuskan: saya membakar rokok, memakai lotion antinyamuk, dan melanjutkan membaca. (Tapi, bagaimana nyamuk-nyamuk itu akan mendapatkan makanan jika saya memakai lotion antinyamuk, tidakkah ini bentuk kekekajaman yang lain lagi?)
Di sore keesokan harinya, 17 november, saya terbangun dari tidur dan mendapati langit yang menurunkan hujan begitu derasnya, hujan yang rasa-rasanya tak akan pernah berhenti untuk ratusan tahun lamanya dan akan menenggelamkan begitu banyak kota di negeri ini. Sore yang basah. Dan sendu. Pagi tadi, sesaat sebelum saya tertidur, saya telah membuat janji dalam hati untuk mengakrabi kembali benda-benda di rumah ini. Saya ingin kembali menyentuhnya, mengamati setiap detail sudut rumah dengan segala benda-bendanya. Tapi bohong, karena kenyataannya saya hanya bisa diam saat rak sepatu di timur beranda rumah menjadi basah oleh hujan yang menggila dan saya hanya melihatnya. Hanya melihatnya dan berkomentar, “kasihan sekali, pasti akan rusak tak lama lagi”.
Saya ingin mengakrabi kembali bermacam-macam benda di rumah ini, karena biasanya selalu saja ada kejutan yang datang menghampiri. Seperti dulu misalnya, saya mendapati rekaman kaset prosesi pernikahan orang tua saya, atau juga sekoper photo-photo tua, photo-photo leluhur dan kakak-kakak saat masih kecil dulu (sementara tak saya dapati satupun photo bergambar saya!). Atau saat saya menemui buku yang saya baca sekarang, “Peradilan Terakhir”, di rak buku ayah saya. Mengakrabi benda-benda, lalu mencoba menyelematkannya dari kerusakan yang mengancam, akan banyak manfaatnya, saya yakini itu.
Di malam harinya, juga malam-malam berikutnya, banyak saya habiskan bersama kawan-kawan lama. Seorang kawan, di hari ketiga saya di rumah, pulang dari Padang, tempat kuliahnya, dan mengundang saya untuk main ke rumahnya. Sebuah pertemuan yang mirip pada saat saya bertemu dengan kawan-kawan SMU dulu, menyeret saya ke rangkaian peristiwa-peristiwa yang telah terjadi jauh di belakang. Dia banyak bercerita malam itu. Dan, lagi-lagi, yang saya dengar banyak yang berkisar di perkara cinta. Lagi-lagi cinta…
***
Barangkali satu-satunya yang saya sesali selama kepulangan di rumah adalah insomnia. Penyakit itu, terkutuklah dirinya. Sebenarnya kepulangan saya disertai harapan untuk dapat memperbaiki pola tidur yang menjadi semakin berantakan di beberapa bulan terakhir. Tapi gagal, karena ternyata tidur tiba-tiba menjadi suatu perkara rumit dan melelahkan. Selalu seperti ini: tertidur dua jam lalu terbangun, tertidur lagi, terbangun lagi. Begitu seterusnya hingga masa liburan benar-benar usai tanpa saya bisa memperbaiki pola tidur saya itu. Seolah-olah setiap hari adalah pengulangan hari-hari sebelumnya. Sungguh menyedihkan dan terkutuknya hidup yang seperti itu. Suasana liburan membuat diri tak produktif sama sekali.
***
Di suatu pagi saya terbangun begitu rupa dengan kekesalan yang tumpah tak terkendali. Sebuah mimpi bagus telah rusak. Dan inilah mimpi itu:
Jakarta begitu gelap, senja baru saja berakhir dan hitam mulai memayungi Jakarta. Tapi di jalan-jalan begitu ramai orang-orang. Seketika Jakarta menjadi merah, merah api. Dalam mimpi itu saya adalah seorang wartawan. Dan di jalanan itu sedang terjadi demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa. Tentara dengan kekuatan penuh bersiaga dengan senjata di pundak mereka. Yang menyedihkan, mahasiswa-mahasiswa itu terpecah ke dalam beberapa tempat. Tidak, tidak terpecah, tapi dipecah oleh para tentara yang mulai memprovokasi mahasiswa agar marah dan bertindak brutal. Tentara mulai membakar benda-benda di tengah jalan, semakin memisahkan barisan mahasiswa demonstran. Di saat saya sibuk membujuk para pimpinan mahasiswa untuk tetap satu barisan, meski saya seorang wartawan, para mahasiswa mulai membawa beberapa truk sampah untuk di bakar di tengah jalan: mereka mulai terpancing tentara untuk bertindak brutal. Itulah saat-saat saya merasakan kemarahan terhadap tentara, seperti yang pernah saya lakukan saat dulu berdemonstrasi di depan gedung parlemen. Saya mencoba menghampiri tentara, menemui pimpinan mereka di sebuah pos di pinggir jalan. Yang mengejutkan adalah apa yang saya temui di dalam pos: saya menemui Jenderal Besar Soeharto, mantan presiden itu di dalam pos sedang memberi pengarahan pada pimpinan tentara yang hendak saya temui! Dia begitu renta namun sehat, berpakaian putih-putih selayaknya seorang haji, duduk berhadapan dengan pimpinan tentara itu. Ups. Saya putuskan untuk melaju ke tengah-tengah arena demonstrasi yang semakin panas merah api, naik ke atas mobil yang disulap menjadi panggung orasi. Saya mengambil pengeras suara dan berorasi dengan penuh kemarahan. Saya, dalam orasi saya itu, mengajak mahasiswa dan tentara untuk bersatu. Saya mengajak mereka untuk mempercayai bahwa kita semua adalah korban dari golongan-golongan korup yang merusak negeri ini, saya mengajak mereka untuk berhenti melakukan kekerasan dan menghindari perang saudara. Saya membujuk tentara untuk tidak menaati pimpinan-pimpinan yang memerintahkan mereka untuk menembaki rakyatnya sendiri, pimpinan-pimpinan yang korup dan hidup dengan fasilitas-fasilitas mewah. Dan saya terbangun!
Begitu saja. Bermenit-menit saya memikirkan mimpi itu di atas tempat tidur saya. Soeharto. Orang tua itu, siapa yang ingat dia sekarang? Sedang apa dia? Sejauh mana proses pengadilannya? Saya membayang-bayangkan diri saya ditembak saat saya sedang berorasi di atas mobil itu. Dan melihat negeri ini menjalani masa-masa revolusinya dengan damai menuju perbaikan. Tapi, mengapa saya terbangun?
Apapun, saya telah terbangun. Dan lagi-lagi tak bisa tidur sampai pagi hari meski itu baru saja jam setengah satu pagi. Saya ke dapur membuat segelas sirup, membakar sebatang rokok dan membaca. Soeharto…
***
Itulah saat saya menyelesaikan “Peradilan Terakhir” dan kemudian beralih ke buku lainnya lagi, “Cantik Itu Luka”, karangan Eka Kurniawan. Sesungguhnya saya telah membacanya sejak pertama beli beberapa bulan lalu. Bagaimanapun, saya tak bisa tidak mengingat Gabriel Garcia Marquez yang menulis Seratus Tahun Kesunyian. Eka Kurniawan sendiri mengakui kalau dia sangat mengagumi Marquez dan kemudian terpengaruh olehnya. Berbeda dengan saat pertama kali saya membacanya, kali ini saya banyak menemui hal-hal berbau humor yang fantastis, atau barangkali ironis. Marquez dalam Seratus Tahun Kesunyian pernah menceritakan saat wabah lupa melanda Macondo, yang membuat keluarga Buendia kerepotan. Saat wabah itu menyerang untuk kedua kalinya, mereka telah mengantisipasinya dengan menuliskan nama-nama benda di atas kertas dan lalu menempelkannya di benda-benda tersebut. Tidak seperti saat wabah lupa pertama kali menyerang yang membuat mereka lumpuh dalam menjalani banyak roda kehidupan, kali ini mereka lebih siap menghadapi wabah lupa itu. Karena kini mereka tidak lupa mana yang namanya panci, kursi, bahkan sapi. Di atas meja kini tertulis, “ini namanya meja”, di atas kursi di tulis, “ini namanya kursi”. Di sapi bahkan ditulis, “ini namanya sapi, hewan berkaki empat, dan setiap pagi susunya harus di perah untuk kemudian di minum untuk menyehatkan badan”. Bahkan belakangan tulisan-tulisan itu menyentuh perkara ketuhanan, di dinding-dinding kini tertulis, “tuhan itu ada”. Begitulah, rumah keluarga Buendia menjadi penuh akan tulisan-tulisan untuk mencegah mereka dari wabah lupa. Humorkah ini?
Juga ada tipe-tipe seperti itu di Cantik Itu Luka. Seperti cerita tentang Shodanco, seorang pejuang gerilya yang begitu legendaris, yang untuk mereka yang jeli akan segera mengingatkan pada Supriyadi, gerilyawan alumnus PETA bentukan Jepang. Orang-orang Halimunda, latar novel tersebut, mempercayai bahwa jika saja Soekarno-Hatta tidak memproklamasikan Indonesia, maka Shondanco-lah yang akan memproklamasikannya. Bahkan, diceritakan pula bahwa sesungguhnya ia telah ditunjuk Presiden Soekarno untuk menjadi Panglima Tentara Indonesia. Apa daya, surat itu baru sampai berbulan-bulan setelah Indonesia merdeka, lagi pula, seandainya surat itu sampai tepat waktu, Shondaco pun tak menginginkan jabatan itu, ia lebih memilih Halimunda dan ngotot mempertahankan pangkat kolonelnya, meski ditawari pangkat yang lebih tinggi hingga kemudian Soekarno mengangkat gerilyawan yang lain lagi, Soedirman.
Ada yang lebih lucu (atau ironis), masyarakat Halimunda merayakan kemerdekaan Indonesia setiap tanggal 23 September dan bukannya 17 Agustus, ini dikarenakan pada tanggal itulah Shondanco untuk pertama kalinya mengetahui bahwa sebulan sebelumnya Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya. Ia mengetahuinya dari mulut sesosok mayat yang ia temukan di tepi pantai saat ia menghindar dari pembasmian gerilyawan oleh tentara Jepang. Mulut mayat itu menyimpan salinan naskah proklamasi. Berkali-kali pemerintah mencoba meluruskan hal ini, bahwa Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus dan bukannya 23 September kepada masyarakat Halimunda. Tapi bahkan itu selalu gagal, karena masyarakat Halimunda akan tetap melakukan upacara dan pesta pada setiap tanggal 23 September.
Kelucuan itu tak berhenti sampai situ. Ada kelucuan lain lagi, yaitu saat di mana Shondanco telah menjadi komandan rayon militer Halimunda dan saat tentara republik memperbaiki manajemen mereka. Seluruh laskar perang republik diharuskan untuk bergabung ke dalam satu badan, Tentara Keselamatan Rakyat, yang lalu berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat, lalu berubah lagi menjadi Tentara Republik Indonesia. Shondanco yang merasa dipermainkan dengan hal ini berkata kepada para pengikutnya, jika berganti nama lagi, maka kita akan berperang melawan Indonesia. Sampai di suatu pagi saat ia bersama beberapa prajuritnya memasang papan nama di markas rayon militer Halimunda yang bertuliskan Tentara Republik Indonesia Rayon Militer Halimunda, datang seorang prajurit lainnya yang membawa kabar bahwa tentara Indonesia berganti nama lagi, kali ini menjadi Tentara Nasional Indonesia. Prajuritnya bertanya kepada Shondanco, “Apakah kita akan berperang melawan Indonesia?” Dan dijawab Shondanco, “Tidak, bahkan negeri ini baru belajar membuat nama.”
Banyak hal-hal yang membuat saya tertawa waktu itu. Tentang Kamerad Kliwon misalnya, seorang komunis yang saat hendak dihukum mati, dan ditanya apa keinginannya yang terakhir menjawab, “kaum buruh sedunia, bersatulah!” Atau juga tentang Dewi Ayu sendiri, tokoh utama novel ini, yang mengatakan tuhan telah mencuri cincin-cincinnya yang telah ia sembunyikan sebelum ia diangkut Jepang menuju Bloddenkamp dan kemudian menjadi pelacur. Karena menurutnya, hanya ia dan tuhan-lah yang tahu tempat ia menyembunyikan cincin-cincin itu. Jadi, jika cincin-cincin itu lenyap, maka tuhan berarti telah mencurinya. Lalu tentang hantu-hantu komunis, ini tentu saja mengingatkan mereka yang telah membaca Marquez kepada Seratus Tahun Kesunyian.
***
Di suatu siang telepon tiba-tiba berdering. Itu dua hari sebelum lebaran. Sebuah telepon dari seorang kawan SMP dulu. Sebuah berita duka yang mengejutkan: seorang kawan telah meninggal dunia. Kematian, seperti halnya seribu kesedihan lain, seperti tak pernah jauh dari hidup ini. berkeliaran di mana-mana, menghampiri siapapun yang dikehendaki. Sesungguhnya ada semacam firasat beberapa hari sebelumnya, bahwa akan ada yang saya lihat untuk terakhir kalinya tanpa pernah melihatnya lagi sampai kapan juga. Seorang kawan saya kabari dan tak memercayainya. Lima menit setelah saya mengabarinya ia kembali menghubungi saya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa tadi bukan mimpi karena ia baru saja terbangun dari tidur. Saya jawab, “itu benar” dan menyarankannya untuk mencoba menghubungi kawan yang memberi tahu saya untuk pertama kali. Sampai malam harinya, saat saya bertemu dengan kawan saya tersebut di rumah duka, ia bercerita bahwa ia telah menyusun janji dengan kawan saya yang meninggal tersebut, bahwa akhir bulan nanti, setalah masa gajian, mereka akan saling mentraktir. “Bahkan,” katanya kepada saya, “sesaat sebelum kau telepon, aku masih misscall dia!” Sesungguhnya, beberapa minggu sebelumnya, saya pernah mendapati kabar bahwa ia sedang dekat dengan kawan saya yang meninggal siang tadi.
Kawan saya itu, begitu mudanya, seumur dengan saya. Ibunya saya dapati di sisi jenazah dengan mata yang memerah dan sembab. Ia memohon maaf untuk anaknya yang kini terbujur kaku di hadapannya. Kejadian itu, bagaimanapun, memaksa saya untuk terus mengingat kematian karena ia bisa datang kapan ia mau menghampiri saya. Di dinding di hadapan saya, terpampang photo kawan saya itu dengan pakaian toga. Ia baru saja wisuda dan baru saja bekerja! Ia hanya dirawat selama empat hari di Rumah Sakit Gatot Subroto, dan itu sama sekali tak menolongnya, ia tetap meninggal dunia, meninggalkan seorang Ibu yang kini menangis di samping saya.
Malam itu menjadi malam yang begitu panjang, karena ternyata begitu banyak kawan-kawan SMP dulu yang hadir di rumah duka, kawan-kawan yang saya kira tak akan pernah saya lihat lagi sesudah lulus SMP. Kabar-kabar berkeliaran begitu rupa. Ternyata ada yang telah menikah, ada yang telah memiliki anak, ada yang telah sembuh dari narkotika, ada yang telah lulus kuliah dan bekerja, ada yang berpacaran dengan si anu, begitu rupa-rupa. Dan kami memutuskan untuk tidak berhenti di rumah duka, melainkan untuk berpindah tempat. Bagaimana juga, tetap ada “pesta” pertemuan malam itu. Seekor ayam dibakar dengan cerita-cerita segar dari kawan-kawan lama. Diakhiri dengan sebuah janji untuk turut ke pemakaman esok pagi. Kenyataannya, pagi esoknya janji itu cidera, hanya beberapa kawan saja yang berkumpul, dan tentu saja dengan mata yang redup karena semalaman berkumpul hingga nyaris pagi memutih. Saya sendiri datang tanpa tidur sebelumnya. Masuk ke kamar seorang kawan seraya menunggu kawan-kawan lainnya datang (dan tak pernah datang) sambil mendengarkan suara Bono U2 (I’m still haven’t found what I’m the looking for!) dari tape. Entah bagaimana, saya tertidur dan mendapati jam telah menunjukkan pukul sepuluh siang ketika terbangun. Saya harus pulang dan melanjutkan tidur, rasanya hampir dua puluh jam, kecuali dua jam barusan, saya tidak tidur. Tapi percuma, karena ditengah jalan, saat saya menunggu angkot, saya mendapati seorang kawan yang memanggil, dari rumah yang lain lagi, mengajak untuk mampir ke rumahnya. Saya singgah dengan harapan ini tak akan lama. Tapi kenyataannya adalah saya mendengarkan koleksi mp3-nya yang berjumlah seribu lebih lagu, lalu setelah bosan, kami menonton Ada Apa dengan Cinta yang rasanya telah ribuan kali saya tonton. Menyebalkan. Dan melelahkan. Sampai sore hari sayup-sayup terdengar takbir di masjid-masjid yang mebuat saya tersadar besok adalah lebaran. Saya pulang. Saya harus pulang, ingin tidur!
Begitulah, saya pulang dan tidur untuk waktu yang sama sekali tak bisa dikatakan lama. Di mulai setelah berbuka dan terbangun pukul sembilan malam. Lalu keluar rumah dan mendapati beberapa kawan yang telah lama tidak saya jumpai. Bercerita tentang apa saja, mulai dari soal kuliah saya, pekerjaan mereka, teman-teman lain, dan, lagi-lagi, cinta!
***
Demi apapun, rasanya Ini semacam isyarat, atau apa, karena rasanya saya sedang jatuh cinta. Begitu banyak hal yang mengarah ke soal-soal percintaan sepanjang liburan, meski banyak juga hal-hal lainnya. Entahlah. Meski lebaran kali ini, juga bulan ramadhan, sama sekali membuat saya tak lebih religius (justru malah menyisakan keanehan beragama, bertuhan, (tuhan?), saya percaya, bahwa saya harus minta maaf kepada semuanya. Maaf sampai mati. Karena sama sekali tak pantas ada musuh dalam hidup ini! Begitulah rasa-rasanya, ya.
Maaf Sampai Mati!
1 comment:
membaca maaf sampai mati, tiba-tiba saja saya teringat jogja, kota tua yang sering disebut-sebut itu. tiba-tiba saja saya teringat anak-anak rantau yang berkumpul mengingat, menimbang, merumuskan banyak hal. memutuskan satu hal. identitas. lalu ada yang datang, lalu ada yang pergi. entah untuk kembali lagi, dengan alasan pergi karena liburan, atau memang benar-benar pergi dan membawa jogja sebagai kenangan.
ah, dorothea rosa pernah bilang bahwa kenangan adalah racun. dan jogja, dan anak-anak rantau, dan identitas, telah berhasil meracuni saya. untuk kemudian menjadi rindu tak terbantahkan.
maaf sampai hidup
salam
payjarotsujarwo.blogspot.com
Post a Comment