6.12.03

Pemburu


Pernah bermimpi menjadi pemburu? Jangan!

Karena, paling jauh, kau akan menjadi seperti ayahku. Ayahku: lelaki biasa,
lima puluh tahun desember nanti. Rambutnya mulai kelabu, tapi jangan kau
katakan ia terlihat semakin bijak oleh kelabunya, sama sekali tidak. Aku tak
tahu pasti apa yang menyebabkan ibu meninggalkannya dulu (aku masih kecil),
namun dugaanku karena ia seorang pemburu.

Ya, pemburu. Senjatanya tak bisa dibilang keluaran baru. Tergolong antik.
Barangkali sejak perang ada di negeri ini, yang sampai sekarang entah kenapa
belum juga berhenti, senjata jenis itu telah digunakan. Cuma saja ia berburu
kepala manusia. Benar-benar manusia. Kepala-kepala hasil buruannya itu dengan
setia ia letakkan di gudang belakang rumah, sebelah kamar mandi, bersebrangan
dengan dapur.

Entah sudah berapa banyak kepala manusia yang ia kumpulkan. Tapi, tentu saja,
gudang itu masih begitu banyak menyisakan ruang-ruang luang. Kepala-kepala
segar hasil buruannya yang ia simpan akan bertahan beberapa minggu saja,
kemudian membusuk, kemudian menghilang, kecuali sebongkah tengkorak pucat yang
bertindih-tindihan. Aku pernah membuka pintu gudang itu suatu hari, dan hingga
kini, tak akan lagi.

Satu hal yang tak kumengerti darinya, ia tak pernah membawa apapun selain
kepala manusia, hanya kepala, bukan kaki, tangan, dada. Hanya kepala. Kepala
manusia. Bermacam manusia. Pernah suatu ketika ia membawa kepala seorang kakek,
jenggotnya begitu lebat, begitu putih. Lalu pernah juga ia membawa kepala
seorang bayi, aih lucunya ketika kulihat kepala itu, bayi gemuk. Dan tiga bulan
lalu, ia membawa tujuh kepala sekaligus, sepertinya itu sebuah keluarga,
sepasang ayah-ibu ditambah lima orang anak-anaknya. Kuberitahu, ayahku pemburu
yang rajin. Dan sigap.

Tapi beberapa malam yang lalu ia tewas.

Itu jam setengah delapan malam. Aku sedang menonton televisi ketika ia pulang
dari berburu. Tak ada sapaan. Hanya sebuah pertanyaan, "masak apa kau
malam ini?" "Tak ada," kataku, "warung itu tak mau lagi memberikan hutangan pada kita sebelum kita lunasi hutang-hutang kita." Ia hanya diam. Melepas sepatu.

"Ini kau masak. Cuci bersih-bersih. Sop kepala manusia mungkin enak."

"Hah?!"

Aku menganga. Ia memang pemburu, dan setahuku tak sekalipun ia pernah memasak hasil buruannya, apa lagi memakannya. Tapi kali ini... aku diam saja.
Mengangguk dalam keheranan, dan meraih plastik dari tangannya.

Sebuah plastik transparan. Dua kepala di dalamnya. Yang satu pria, yang satu
perempuan, cantik. Pasti ini pasangan, pikirku. Aneh, kedua kepala itu berada
dalam posisi saling berhadapan. Betapa romantisnya. Si lelaki, matanya
menyorotkan kemesraan yang begitu terasa meski ia tak lagi punya dada kini.
Terarah masuk ke arah bola mata perempuan yang terbuka menebarkan kehangatan.

Hei, dari mana ayahku mendapatkan kepala-kepala ini? Siapa mereka? Sepasang
pengantin baru? Sepasang orang tua baru? Mereka begitu serasi, begitu mesra,
begitu menggembirakan. Adam-Hawa? Romeo-Juliet? Galih-Ratna?

Tapi, maaf, aku harus membersihkan kalian. Maka aku memulainya dengan mencukuri semua bulu, semua rambut. Hei perempuan, siapa namamu, rambutmu bagus sekali. Aku cukur yah, o, aku minta beberapa helai, akan sangat bagus untuk pembatas buku. Dan kau lelaki, berapa usiamu, kumismu, jenggotmu, kau rajin mengurusnya, hanya rambut ikalmu yang agak sulit untuk dihabisi. Lalu air panas. Kalian harus benar-benar bersih. Clink.

Dan kini bumbu telah siap. Kalian akan di sop. Maka kalian akan kurebus dulu
sampai sekira empuk. Ah, aku suka bumbu sop buatanku sendiri. Mata kalian,
mengapa masih begitu mesra?

Ayahku setia menunggu di meja makan. Ia telah menyiapkan nasi rupanya. Dan,
"ini, tak dipotong, sop kepala utuh," kataku.

Ia tak banyak bicara. Mengambil sendok garpu. Mencobai kuah sop, mengambil mata kanan si lelaki, di beri kuah sedikit, dimakannya bulat-bulat. Mata mesra itu.
Pecah di dalam mulut seperti telur setengah matang. Matanya terpejam, mulutnya
mengunyah, bergerak ke kanan ke kiri. "Benar dugaanku, kepala enak jika
di sop," katanya dengan mulut penuh mata. Ia mengambil mata kiri si lelaki.

Aku hanya melihatnya. Sama sekali belum kusentuh makanan di piringku. Ehm,
boleh kucoba. Aku memilih telinga si perempuan. Ada bekas lubang tindik. Maaf,
kataku dalam hati. Lembut.

Tapi ayahku, ia begitu bersemangat makan malam ini. Si lelaki kini setengah
tengkorak setengah kepala. Si perempuan kini bertelinga satu. Matanya, mata
mesranya, telah lenyap di telan ayahku. Ia begitu bersemangat. Bersemangat dan
bersendawa. Ia memasukkan lagi nasi ke piringnya. Menghabisi kepala si lelaki.
Keringat mengucur di dahinya. Ia menggenangi piringnya dengan kuah sop.
Memakannya. Bersendawa. "Ini luar biasa," katanya. Tapi kemudian ia tersedak. Matanya membesar. Mulutnya menganga. Keringat.

"Aks..." Ia menyeringai, seperti kesakitan. Matanya semakin membesar. Ia jatuh. Terjatuh dari kursinya. Aku berdiri, memandangnya. Mulutnya mengeluarkan busa. Ia kesakitan. Ia mati.

Ia terlalu banyak makan, pasti.

Aku melanjutkan makan malamku. Dua buah telinga perempuan cantik. Dalam hatiku, aku tak boleh banyak makan ini seperti dia. Dan tak boleh jadi pegawai negeri seperti dia. Tak boleh. Tak usah.

Juni, 2003.


No comments: