ehm, tulisan ini sebenarnya adalah petikan dari sebuah diskusi di milis akademi jatinangor (rip). dulu, sudah lama juga. tentang inul. benar-benar sudah basi. awalnya adalah sebuah e-mail yang diforward Donny, sahabat saya. lalu, pelan-pelan saya menanggapinya (tulisan miring dan tebal adalah kutipan e-mail yang saya coba tanggapi-tulisan tegak adalah tanggung jawab saya).
Ada opini menarik, masih tentang kontroversi "Inul". This I got from a friend. Selamat beropini!
DN
----------------------
Liputan tentang kontroversi pernyataan Rhoma irama terhadap goyangan Inul di berbagai media cetak, elektronik bahkan online begitu luar biasa minggu-minggu ini. Pun pernyataan berbagai elemen masyarakat berhamburan menghiasi halaman muka dan tajuk-tajuk utama peliputan media, bahkan
kelompok-kelompok perempuan sampai merasa khusus perlu mengadakan aksi mendukung inul di bunderan HI.Luar biasa Rhoma Irama dan inul memang kontroversial!
Inul dan Rhoma bisa jadi memang kontroversial. Tapi, media kitalah yang mau saya sebut kontroversial. Dan kenyataan ini sama sekali tidak mengejutkan saya.
Kenyataan ini sangat mengejutkan bagi saya karena:
1. Media begitu bersemangat mengangkat kontroversi ini dibandingkan mengangkat isu penahan mahasiswa atau pemukulan wartawan Tempo oleh preman (jika isu yang diangkat adalah kebebasan berekspresi) atau isu pemerkosaan dan penganiayaan yang dialami oleh kaum perempuan di Aceh semasa DOM,jeda kemanusiaan maupun pasca penandatangan CoHA (jika isunya dalah isu perempuan) atau isu buruh-buruh perempuan dan para perempuan petani yang tanahnya diambil paksa untuk pembangunan atau tanahnya sempit (jika isunya adalah masalah pendapatan). Tidak itu saja bergam polling juga diluncurkan. Menurut pendapat saya Isu-isu tersebut lebih "penting" untuk diangkat karena posisinya jelas "ketidakmampuan negara untuk melindungi hak-hak warga negaranya". Untuk kasus Inul ini maaf saja, negara tidak mengahalang-halangi Inul berekspresi, tidak melakukan penganiayaan terhadap Inul, atau tidak memeras pendapatan Inul (kecuali pajak:)). Buat saya ini murni perdebatan warga civil dengan warga civil lainnya yang bisa diselesaikan lewat jalur pengadilan. Intinya Rhoma nggak mengerahkan massa seperti FPI yang merusak tempat-tempat hiburan, atau melarang media (sekalipun kalau iya, apa sih kekuatan hukum yang dia miliki buat melarang media?). So kenapa media begitu bernafsu mengangkat isu ini, apakah persoalan periuk nasi mereka yang terganggu (SCTV dikabarkan menagguk keuntungan iklan dari salah satu tayangan inul sebesar 500 juta rupiah hanya untuk satu jam tayang).
Mohon pencerahan untuk yang satu ini jika ada yang memiliki argumentasi lain.
Saya sama sekali tidak bertendensi untuk memberikan pencerahan. Hah, tidak capable! Tapi, sekali lagi, coba jangan terkejut dengan hal ini. Semua ini mestinya bisa kita prediksi sejak beberapa tahun lalu, ketika televisi swasta mulai bertumbuhan di Indonesia. Ada sebuah buku bagus karangan Neil Postman, Menghibur Diri Sampai Mati, di Indonesia diterbitkan Penerbit Sinar Harapan (1995). Kali ini Neil Postman yang menjadi referensi saya. (Yah, you are what you read!)
Buku ini membuktikan kecenderungan kalau apa yang diramalkan George Orwell adalah salah dan apa yang diramakan Aldous Huxley adalah benar. Orwell, seorang marxis(?), memperingatkan kita akan ancaman penindasan tirani penguasa. Sedang Huxley justru mengatakan kalau manusia justru akan semakin mencintai penindasnya, memuja berbagai teknologi yang akan membutakan pikirannya. Postman memberikan contoh seperti ini: “Orwell memprihatinkan pelarangan buku. Huxley memprihatinkan lenyapnya alasan untuk melarang penerbitan buku, karena minat baca telah punah. Orwell mencemaskan adanya pihak yang ingin menjauhkan kita dari informasi, sementara Huxley mengkhawatirkan mereka yang menjejali kita dengan begitu banyak informasi sampai kita menjadi pasif dan egois. Orwell mengkhawatirkan disembunyikannya kebenaran dari kita, Huxley mengkhawatirkan hilangnya kebenaran di dalam lautan informasi yang tidak relevan. Orwell mencemaskan datangnya masa di mana kita menjadi masyarakat yang terbelenggu. Huxley mencemaskan kemungkinan kita menjadi masyarakat remeh temeh… singkatnya, Orwell cemas akan kehancuran kita yang disebabkan oleh hal-hal yang kita benci. Huxley, sebaliknya, cemas akan kehancuran kita yang disebabkan oleh hal-hal yang kita sukai.”
Maka, mengapa saya tidak terkejut, karena apa yang kini terjadi di sini, sesungguhnya telah terjadi di, sebut saja, Amerika sana di waktu dulu. Di mana politik bahkan sudah dipengaruhi begitu jauh dengan sisi-sisi entertainment. (Menjadi presiden di sana berarti menjaga penampilan, berat badan, hindari kebotakan, dlsb!). Bukan hanya soal politik, bahkan juga soal agama. “Di Amerika, Tuhan menganakemaskan mereka yang memiliki bakat dan kemampuan untuk menghibur, apakah mereka pengkhotbah, atlit, pengusaha, politisi, guru, maupun jurnalis. Di Amerika, justru penghibur profesional yang tidak menghibur.”
Dan media sangat berperan dalam hal ini. SCTV, sebagai salah satu “media penyalur informasi”, dalam kasus Inul dan Rhoma telah menjadi media yang “Make News”. SCTV tidak mencari berita, melainkan membuat berita. Mungkin teman-teman dari FIKOM yang sangat mengerti dalam hal ini, atau juga Donny. S. Sos. Fresh graduate…. =)
2. Sudah sejak lama kelompok-kelompok perempuan melakukan perlawan terhadap komodifikasi keindahan perempuan dalam iklan-iklan yang ditayangkan televisi. Sejak dulu mereka berjuang menentang penggunaan tubuh perempuan sebagai komoditas untuk memasarkan produk bahkan dalam format pencintraan saja (tamagola secara khusus pernah membahas ini) atau saya yang salah menangkap perjuangan kelompok-kelompok perempuan tersebut? Seingat saya upaya gender mainstriming dalam dunia iklan sudah sejak lama dilakukan. Nah upaya mereka untuk membantu Inul hingga aksi turun ke jalan tidakkah bertentangan dengan hal tersebut? Atau dalam pandangan kelompok ini Inul tidak pernah menjadi korban komoditi media untuk memperoleh keuntungan.
Sekali lagi saya mohon dicerahkan dalam kebingungan saya yang kedua.
Saya jadi ingat kasus boneka barbie. Perempuan yang bukan perempuan. (Ternyata banyak jenis perempuan :p).
Di puncak popularitasnya Barbie berhasil membuat semacam kejutan manis. Saat itu kaum feminis terpolarisasi menjadi dua kutub: mereka yang sangat bahagia dan mendukung atas kemunculan Barbie dan satu lagi mereka yang menolak dan menyesal atas kemunculan Barbie. Lihatlah Barbie, perempuan itu tiba-tiba saja menjadi ikon dunia. Perempuan akan cantik jika seperti Barbie: langsing, putih, blondie, bermata indah, berkaki panjang, wah. Dan, ini dia, Barbie ternyata bisa menjadi apa saja. Dia bisa menjadi seorang dokter, astronot, guru, wanita berkarier tinggi, apa-apa yang muskil bagi seorang perempuan kebanyakan. Ini yang menjadi kebanggaan mereka yang mendukung Barbie.
Barbie punya popularitas yang luar biasa. Barangkali setiap wanita di sana punya Barbie. Mereka lahir dari sepasang ibu-bapak yang saya pikir luar biasa. Jangan kaget, pemasaran Barbie dikomandani oleh doktor psikologi lewat pendekatan Freudian! Dan jika saja Barbie disuruh rebahan dan diurut-urut, kaki yang satu menginjak kepala yang lain, maka Dunia akan menjadi lautan Barbie. Produksi mereka luar biasa.
Di urusan domestik, tentu saja, Barbie adalah ibu rumah tangga yang ideal: jago masak, menata rumah, dan… setia! Kent, pasangannya, bisa saja menjalin hubungan rahasia dengan wanita lain, tapi Barbie akan tetap setia berpasangan dengan Kent.
Mereka yang mengumpat Barbie punya alasan yang mirip dengan pertanyaan di atas. Bagi mereka, Barbie tidak pernah pro-perjuangan kesetaraan gender. Barbie mungkin menjadi astronot, dokter, dlsb, tapi Barbie tidak pernah mengangkat isue-isue khas perempuan: buruh wanita murah, kekerasan terhadap wanita, cuti hamil, dlsb. Juga tentang pencitraan cantik (seperti yang kini terjadi di iklan-iklan), mereka protes mengapa Barbie selalu berkulit putih dan tidak hitam. Tapi, oho, pasangan suami-istri itu ternyata cukup akomodatif menanggapi ini. Segera keluar-lah Barbie serie kulit hitam. Dan percayalah, beberapa tahun kemudian miss universe yang terpilih adalah seorang wanita berkulit hitam!
Mudah-mudahan tepat analoginya. =)
Tapi maksud saya sebenarnya tak banyak. Kemunculan media bukan saja berdampak semakin sulitnya mencari kebenaran dalam lautan informasi yang begitu bertebaran. (Untuk memenuhi kehausan anda dan menambah wawasan anda tentang kehidupan selebritis Indonesia, anda bisa menyaksikan infotainment setiap hari, bahkan di jam setengah lima subuh sekalipun! Tadi pagi saya menontonnya, jam setengah lima pagi! Dan bukan hanya satu stasiun teve yang memutarnya!!). Tapi juga semakin hilangnya wacana publik. Semuanya terperosok ke dalam seni pertunjukkan. (Bahkan TOYOTA dalam anggaran periklanannya menggarisbawahi bahwa bidang ekonomi lebih merupakan seni pertunjukkan). Dari sini, silakan Anda mulai analisis Anda, lewat serangkaian alat Marxisme, Smith, Freud, Religion, Levi Strauss? Terserah. Tapi, Marshall McLuhan sudah punya gagasan yang menurut saya sangat mengena, “The medium is the message”. Medium yang dipakai untuk menyampaikan suatu pesan adalah pesan itu sendiri. Lalu apakah patut disesali mundurnya zaman tipografi dan munculnya zaman televisi? Sepertinya ini asyik jika kita diskusikan… (Donny, kamu bikin pengantarnya yah.. =)
3. Adalah sebuah kenyataan bahwa masyarakat kita tidaklah homogen. ada "yang sudah" menyukai "keterbukaan" ada yang masih meyukai "ketertutupan". Menjustifikasi bahwa "keterbukaan" sebagai keniscayaan nilai-nilai yang benar, rasanya menghalangi Hak asasi orang yang suka "ketertutupan" pula untuk berekspresi.Dalam konteks media massa kita (televisi khusunya) hingga saat ini belum ada TV yang secara khusus melakukan segmentasi pasar berdasarkan isu. Misalnya televisi porno, televisi agama, atau televisi politik. Adalah hal yang berat memang ketika Televisi umum harus memformat acaranya sesuai dengan defenisi yang memuaskan semua orang. Namun tidakah lebih bijak juga jika media massa kita jika belum mampu melakukan segmentasi, ya minimal bisa sedikit memodifikasi ofrmatnya misalnya acara kekerasan dan yang "sedikit" berbau pornografi diletakan di atas jam 12. hanya saja yang paling bijak tentu saja jika kita menyediakan media TV kabel saluran porno yang hanya bisa diakses dengan biaya tertentu hingga hanya "orang-orang" terpilih saja yang menikmatinya, atau penualan VCD erotis dan porno di tempat-tempat yang telah disediakan negara hingga kita pun mampu mengontrol berapa populasi penikmat itu dan dampaknya.
Teguh Untuk Kita Semua
Pertanyaannya, mampukah negara yang seperti ini melakukan itu semua? Negara ini… apa yah? Males ah komentar tentang negara ini. Sebel melulu bawaannya. :p
Teguh Untuk Kita Semua!
Imam Gumam Dosa, Gak Gaul.
(Don, ditanggapi yah, skripsi kamu ngena gak sih? Bikin Media Watch dunks..)
1 comment:
sangat menarik, terima kasih
Post a Comment