10.5.07

Soal Mimpi-Mimpi Sore

Bisakah hidup melulu sore? Karena sore memang selalu sempurna menyimpan setiap yang ringan dan senang.

Tak pernah matahari terlalu terik, menyengat dan membuat susah. Dan di tanah lapang selalu saja kau pertaruhkan badan bersih sehabis mandi demi menyambut senja dengan sepak bola. Menukar kepenatan hari ini dengan keringat dan renyah tawa bersama sebaya.

Karena di sore hari angin begitu lembut, memagut rambut tanpa pernah ribut. Begitu tenang hingga membuat kau nyaman. Kau tersenyum, langkah demi langkah. Trotoar tak menyisakan apa-apa kecuali kedamaian yang membuat kau enggan untuk berhenti. Berjalan terus menjauhi malam.

Karena di sore hari kau suka bersama kawan-kawanmu. Mengitari gelas-gelas kopi dan teh hangat, bermain gitar dan bercanda lepas. Kau begitu gembira mendengar cerita kawanmu yang baru saja pulang dari tempatnya bekerja. Kau lihat dia melepas kancing kemeja teratasnya dan meluruskan kaki. Di beranda kamarmu, kau berkhayal ada seribu bunga mekar di setiap sisi.

Dan jika kau sendiri, kau tak pernah lupa untuk membaca buku. Buku-buku yang menghadirkan dunia yang baru untukmu, sore yang baru untukmu. Kau memanaskan air demi segelas teh hangat. Kau menyiapkan kursi yang menghadap ke barat. Kau membasuh muka yang mulai letih. Kau menghirup udara yang tak lagi sesak. Kau duduk membaca dan menghirup aroma yang menguap dari gelasmu. Seperti kemarin saat kau lihat seorang anak kecil duduk bicara bersama dua sahabatnya yang sudah tua di reruntuhan gedung kesenian dalam sebuah buku.

Kau bermimpi. Terus bermimpi.

Bermimpi kau berada di pantai. Duduk di atas pasir hangat. Di samping seorang kawanmu yang mengalunkan gitar. Di hadapanmu, seorang kawanmu mengurai cerita-cerita. Sepuluh langkah di serong kirimu seorang kawanmu menari. Lima langkah di belakangnya seorang lagi kawanmu membuat istana pasir. Dan kau melihat kawan-kawanmu yang bermain ombak seraya bernyanyi-nyanyi.

Kau bermimpi berada di lembah. Lanskap yang membuatmu tak lagi menginginkan apapun. Di sebuah pondok tua yang selalu saja tak pernah kehabisan minuman-minuman hangat untuk teman berbagi cerita bersama siapa saja. Di samping kebun yang kau kelola sepanjang pagi. Di dekat sekolah tempat ramai anak kecil berlomba gaduh. Kau tak ingin berlari dari apapun, semua diterima dengan hangat di pondok kecil itu.

Kau terus bermimpi dan bermimpi. Sampai kau tersadar sore ini bukan yang pertama kali kau menginginkan hidup melulu sore.

No comments: