Belakangan Ini
Saya tak tahu lagi sesungguhnya siapa saya dan mau apa saya. Utara. Selatan. Timur. Utara. Barat. Selatan. Utara. Seperti tak punya lagi energi untuk mengenali diri sendiri. Hanya bisa terpaku dan terdiam mendapati kenyataan ini menggenangi.
Saya kehilangan kompas.
Menghabiskan hari demi hari dalam labirin sunyi dan gelap. Tak ada benang untuk saya rentangkan sebagai petanda jejak-jejak.
Celakanya, saya tak tahu lagi situasi seperti apakah yang seharusnya terjadi dalam hidup saya. Jika saja diri saya adalah sebatang lilin, ingin betul saya mendapati diri saya sebagai lilin yang sisa sekian mili saja. Sumbunya telah menghitam dan nyaris habis, apinya hampir padam. Jika diri ini serupa tanaman, ingin saya temukan diri saya ini sebagai tanaman tanpa bunga dengan sehelai daun tua yang pasti luruh dimain-mainkan angin.
Saya sepi. Kesepian.
Saya tak tahu lagi siapa yang dapat saya ajak bicara tentang hal-hal remeh yang ingin saya bicarakan. Saya tak tahu lagi siapa yang dapat saya percayai untuk saya ceritakan rahasia-rahasia saya. Saya tak tahu lagi siapa yang dapat saya ajak tertawa, menertawakan diri sendiri. Saya ingin ada orang yang memaki saya, dan saya terpuaskan karenanya.
Saya tahu, barangkali saya telah melangkah terlalu jauh dan tanpa perhitungan masak-masak. Dan kini di sinilah saya, teronggok sebagai bangkai. Di tengah hutan, saya adalah bangkai domba yang babak belur dihantam harimau. Di pinggir jalan, saya adalah bangkai anjing yang selalu jadi sasaran kejahilan anak-anak. Di atas trotoar, saya adalah bangkai gelandangan yang tak sekali pun sempat menikmati roti yang ia lihat di etalase sebuah toko kue. Di dunia ini, saya adalah bangkai dengan mata yang jarang mau tertutup dan paru-paru yang enggan berhenti bernapas.
Seperti patung batu yang tak pernah juga mau tahu begini hukum hidup berlaku:
“Penderitaan diri sendiri itu pantas untuk ditukar dengan kesenangan orang lain.
Kesenangan orang lain itu pantas untuk ditukar dengan penderitaan diri sendiri.”
Hidup melulu mereguk kekalahan. Dunia paket plus dengan batas minimal usia untuk bersuara.
Hidup adalah sendiri. Tak ada kawan tak ada lawan. Hanya sendiri. Berkawan dengan diri sendiri dan berlawan dengan diri sendiri. Serupa Tuhan atau Nietszche. Bukan serupa Ratna atau Galih.
O, meledaklah bunga-bunga taman, berkejaranlah pohon-pohon tepi jalan, menyelamlah langit-langit, membuncahlah buih-buih. Buat sedikit kegaduhan, selayak pesta-pesta untuk perayaan perpisahan.
1 comment:
sy akan bkn gaduh, klo begitu. sy pengen maen ke DU, ntar abis uas. bentar lagi. sy bawain sesuatu deh, apa ya? moga sehat selalu mam.
Post a Comment