
“Pelarangan tidak berarti apa-apa, karena ide tidak bisa dikerangkeng dan ide punya kaki. Dia akan bergerak sendiri, kalau tidak sekarang, ya pasti suatu hari nanti.”
(Pramoedya Ananta Toer kepada wartawan mahasiswa POLAR, Fisip Unpad)
Setahun sudah Pram pergi meninggalkan bumi manusia ini. Lagi dan lagi, rasa kehilangan itu menyusup ke dalam benak banyak pembaca karya-karyanya. 30 April 2006, setelah pesan-pesan pendek hiruk-pikuk membawa kabar kabur tentang kematian Pram di langit Indonesia, Pram benar-benar wafat ada pukul 08.55. Dua jam kemudian jenazahnya dimandikan, dikafankan, dishalatkan dan lalu diantar ke Karet Bivak.
“Kehendak mulia di dalam dunia, senantiasa tambah besar,” sepenggal lirik lagu Internasionale berkumandang mengantar Pram ke liang lahat.
Seandainya dunia adalah pasar malam. Tentu tak ada perasaan ditinggalkan oleh sang maestro. Tapi dunia memang bukan pasar malam. Orang tak “ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati.” Pernah Pram menulis, “Manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang... Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi.” Maka yang tertinggal bukan cuma merasa cemas menanti-nanti saat kepergian, tapi juga cemas merasa kehilangan ditinggal mereka yang lebih dulu pergi.
Setahun sudah. Dan apa pula arti hidup Pram yang 81 tahun itu? Buku-buku karyanya dilarang bangsanya sendiri, tak diajarkan dibangku sekolah, tak ada pemulihan nama baik, tak ada klarifikasi soal hukuman-hukuman yang ia telan, dan lain sebagainya-dan lain sebagainya. Terbakar amarah sendirian?
Diterjemahkan lebih dari empat puluh bahasa dan jadi bacaan wajib di sekolah beberapa negara. Di negeri sendiri?
Terkenang-kenang orang-orang pada Pram. Pada Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca, pada banyak karya-karyanya. Terkenang-kenang mereka di Australia yang membaca karya-karyanya dan lantas menyuratinya, mengabarinya bahwa betapa mereka menikmati karya-karyanya itu dan bagaimana hidup mereka berubah karena membacanya.
Pram datang membawa kisah dan menjadi kisah. Kepergiannya meninggalkan banyak hal untuk generasi sesudahnya. Melawan dan melawan. Orang kuat, lebih kuat dari jenderal besar yang melarang buku-bukunya. Jenderal besar takut pada kata-kata. Kata Pram, “Adalah tidak benar meninggalkan dunia ini dengan diam-diam” (Rumah Kaca).
“Dengan tangan satu memenangkan perjuangan rakyat, dengan tangan lain mengabdikannya dalam sastera.” Kalimat Pram tepat menggambarkan dirinya sendiri. Deposuit Potentes de Sede et Exaltvatat Humiles (Dia Rendahkan Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka yang Terhina). Sebagaimana kalimat itu menutup tetralogi Buru, seperti itu pula hidup Pram ditutup.
Sampai jumpa, Pramoedya!
(printed version: klik pikiran rakyat)
1 comment:
38RdWi The best blog you have!
Post a Comment