30.5.07

Seratus Tahun Tak Terlupakan

Sama sekali tak ada yang salah. Aku tahu, semua penulis pasti akan menyetujui ini.”

Itulah kalimat yang dilontarkan Anne Bernays, novelis yang juga istri Justin Kaplan, pemenang Pulitzer, ketika mengomentari Penghargaan Nobel Bidang Kesusastraan yang diberikan Komite Nobel Akademi Swedia kepada Gabriel Garcia Marquez. Jumat 22 Oktober 1982, harian Boston Globe mengabarkan itu. Diberitakan pula bahwa salah satu ruang kelas di Departemen Sastra Universitas Harvard mendadak riuh dengan suara tepuk tangan para mahasiswa sesaat setelah Profesor Juan Marichal mengabarkan ihwal penghargaan itu kepada isi kelas.

Marquez menjadi legenda baru yang dipuja begitu banyak kalangan. Seratus Tahun Kesunyian (One Hundred Years of Solitude), yang terbit pertama kali dalam bahasa Spanyol pada 1967 sebagai Cien Anos de Soledad, kemudian dibaptis banyak kritikus sebagai novel terbaik di abadnya. Novel inilah yang mengantarkan Gabito, demikian ia biasa disapa, menjadi nobelis.

Di Amerika Latin, terutama di Kolombia dan Meksiko, konon novel ini lebih laris ketimbang Alkitab. Itu memang tanah kelahirannya. Ia lahir di Aracata, Kolombia pada 6 Maret 1928 (sedang ayahnya lebih yakin kalau ia lahir pada 1927). Di angkasa Amerika Latin pula namanya menjulang tinggi. Ketenarannya melampaui presiden dan hanya bisa ditandingi oleh bintang sepak bola atau ratu kecantikan. Silvana Paternostro, jurnalis yang sempat berguru pada Marquez, menuliskan dengan sangat apik ketenaran sang maestro, “Namanya muncul di kontes-kontes kecantikan kami sesering nama Paus. Jawaban para kontestan jadi repetitif: Siapa penulis favoritmu? Garcia Marquez. Siapa yang paling kamu kagumi? Ayahku, Paus, dan Garcia Marquez. Siapa yang ingin kau jumpai? Garcia Marquez dan Paus. Bila pertanyaan yang sama diajukan pada jurnalis Amerika latin, jawabannya bisa jadi sama—kecuali soal Paus barangkali.”

Suatu hari di tahun 1995, sekelompok gerilyawan menculik kerabat mantan presiden Kolombia. Tuntutan mereka: Gabriel Garcia Marquez menjadi presiden. Mereka menulis dalam permohonan mereka, “Nobel, tolong selamatkan Tanah Air!” Di tahun 1994, saat pertemuan Negara-Negara Non-Blok digelar di Cartagena, Marquez hadir bersama rombongan delegasi Kuba. Saat itu berkembang isu akan terjadi pembunuhan terhadap Fidel Castro, Presiden Kuba. Untuk melindungi Castro, Marquez menaiki delman yang sama dengan Castro dan berdesak-desakkan dengan tiga orang lainnya. “Di Kolombia sini bila aku naik panggung, tak seorang pun bakal menembak,” kata Marquez kepada Castro.


Semuanya bermula saat Marquez menjenguk kembali kota masa kecilnya, Aracataca. Di sini ia dibesarkan di rumah kakeknya yang begitu penuh cerita. Dan bersama inilah Marquez kecil tumbuh: rumah besar penuh hantu, percakapan-percakapan lewat kode-kode, mereka yang mampu meramalkan kematinan mereka sendiri, dan yang sangat membekas barangkali adalah pembantaian para pekerja perkebunan pisang. Nama perkebunan itu Macondo, sebuah nama yang kemudian diabadikan Marquez sebagai kota (imajiner) di Seratus Tahun Kesunyian. Sejarah pembantaian pekerja perkebunan pisang itu sendiri tak pernah tertulis di buku-buku teks sejarah, hal yang membuat Marquez terheran-heran di masa-masa sekolah. Nostalgia-nostalgia pada hal-hal itulah yang membuat Marquez menelantarkan istri dan keuangan rumah tangganya selama berbulan-bulan. Hasilnya? Seratus Tahun Kesunyian dan setumpuk tagihan.

Seratus Tahun Kesunyian bercerita soal sejarah keluarga besar Buendia dan segala macam hiruk-pikuknya di Macondo, sebuah kota yang tak akan pernah ditemukan di peta lanskap Amerika Latin. Ceritanya bermula dari kisah Jose Arcadio Buendia dan kedua anaknya yang untuk pertama kalinya melihat es balok yang dibawa gypsi ke Macondo. Saat itu Jose Arcadio Buendia menjadi begitu terpesona pada es yang awalnya ia sangka intan terbesar di dunia. “Ini adalah penemuan terbesar dalam sejarah kita,” kata Jose Arcadio Buendia.

Itu, diakui Marquez, dilakukan setelah ia merasa mendapat visi (penglihatan) ketika ia bersama anak istrinya hendak menuju Acapulco. Ia teringat bagaimana neneknya seringkali mendongenginya cerita-cerita fantastis dengan gaya yang dingin. Dalam penglihatan itu ia melihat, “cerita itu harus diceritakan dengan cara bercerita yang biasa digunakan neneknya, dan dimulai dari suatu sore di mana seorang bapak membawa anaknya demi melihat es.”

Lalu cerita-cerita fantastis dan penemuan-penemuan “besar” tergelar: cerita soal usaha menciptakan emas, hantu-hantu korban pembantaian, karpet terbang, hujan berhari-hari, wabah lupa, kisah-kisah cinta yang rumit, anak yang memiliki kegemaran makan tanah, dan lain sebagainya. Semuanya diceritakan Marquez seolah hal-hal itu adalah perkara biasa saja. “Nenekku selalu mendongengkan hal-hal paling liar dengan nada yang sungguh alami.”

Seratus Tahun Kesunyian telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia dan terjual lebih dari 8 juta kopi. Di Indonesia sendiri bahkan novel itu telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh dua penerbit berbeda. Seratus Tahun Kesunyian bukan lagi cuma sekadar novel tonggak Amerika Latin, tapi juga novel tonggak dunia. “Don Quixote-nya Amerika Latin,” kata Pablo Neruda.

Novel karangan seorang mahasiswa hukum drop-out ini, mampu membuat Jennifer Lopez berkomentar, “Apa yang membuaku bangga sebagai seorang latin adalah Seratus Tahun Kesunyian!” Sebuah novel yang barangkali sulit dihilangkan dalam buku-buku sejarah kesusastraan dunia.

3 comments:

Anonymous said...

Hohoho... aku bawa lagi nih, Mam, si Seratus Tahun Kesunyian dari Jogja kemarin. Rasanya kok gak lengkap rak buku [di Jakarta] ini tanpa satu novel itu di dalamnya. Ah, tentu, hayuuk baca lagi, buka lagi bualan-bualan ajaib Marquez :)

Anonymous said...

Hohoho... aku bawa lagi nih, Mam, si Seratus Tahun Kesunyian dari Jogja kemarin. Rasanya kok gak lengkap rak buku [di Jakarta] ini tanpa satu novel itu di dalamnya. Ah, tentu, hayuuk baca lagi, buka lagi bualan-bualan ajaib Marquez :)

Imam said...

hehe. efek malam ini metro tv putar love in the of cholera. hail marquez!