1.5.07

Mengapa May Day?

source pic: http://www.wilsonsalmanac.com/images/may1_children_joy_rabbit.gif



Mereka telah memiliki hari-hari mereka sendiri, dan cukup banyak. Hari Jadi TNI, Hari Kesaktian Pancasila, dan hari-hari lainnya. Dan kami juga memiliki hari kami sendiri, hanya satu memang, tetapi hari tersebut adalah milik kami. Hari-hari mereka memperingati peperangan, mengenang keagungan para Jenderal di atas darah mereka yang tak bernama, mengingatkan kekuasaan militeristik. Mereka menancapkan monumen mereka di berbagai tempat. Nama para Jenderal, para penakluk yang mati seperti lalat yang mengerubungi mereka, sementara rakyat jelata yang mati untuk mereka tetap saja tak bernama. Mereka selalu mengumandangkan kemenangan melalui para ulama dan pendeta untuk memperlihatkan betapa darah yang tertumpah demi para pemimpin adalah demi kesucian jalan menuju surga. Sementara kami punya hari kami sendiri, festival kami, milik kami yang harus bekerja siang dan malam. Ini adalah milik kami, para pekerja dan tak ada kaitannya dengan para pembesar tersebut di atas. Dan apabila kalian pikir hari milik kami ini adalah tradisi yang bukan berbasiskan lokalitas, pertanyakan, apakah etika kerja yang kami kenal dan hidupi sekarang ini adalah sebuah produk lokal?

Lantas, siapakah para pekerja itu sebenarnya? Pekerja adalah orang-orang seperti kami yang setiap harinya harus selalu hadir di tempat kerja, melakukan tugas yang seringkali tidak dipahami gunanya selain demi keuntungan perusahaan, makan siang, bergabung kembali dengan dan sebagai mesin, pulang sore atau malam hari untuk hanya merasa begitu letih dan tak mampu melakukan aktifitas apapun selain duduk menonton televisi, minum-minum di kafĂ©, menonton film dan tertidur pulas. Dan itu semua bagi kami adalah demi di akhir atau awal bulan berharap upah akan diterima tepat pada waktunya—sementara bagi para pembesar artinya adalah uang yang selalu mengalir deras. Bangun, menjadi mesin, pulang, memulihkan tenaga, tidur, bangun, menjadi mesin... dan begitulah seterusnya hidup kami saat ini. Sedari lahir di dunia ini, kami semua dipersiapkan untuk bekerja. Sebagian dari kami memang masih bersekolah dan belum bekerja. Tapi sekolah bagi kami adalah sebuah pabrik yang mencetak kami yang awalnya terlahir bebas, untuk menjadi produk-produk impoten yang dapat engkau perjualbelikan di bursa kerja. Sebagian dari kami memang menganggur dan tersingkir dari bursa kerja, dan kami terpaksa berebut di antara kami sendiri demi agar seseorang mengucurkan upah bagi kerja-kerja kami. Bagi kami, tak ada pilihan yang tersedia selain hidup dengan cara bekerja, menghamba pada otoritas, mengikuti aturan dan tunduk sepenuhnya, demi mengharap upah. Kami terpaksa hidup sebagai seorang hamba.

Lantas, siapakah dirimu? Apakah isi hidupmu seperti hidup kami? Bila jawabnya ya, maka mari bergabung bersama kami, barisan pekerja dalam perayaan Hari Pekerja Internasional tanggal 1 Mei (M1), untuk bersama menghapuskan sistem penghambaan, selamanya.



Menghidupkan May Day – Menghidupkan Robin Hood

Dalam era permulaan tradisi pagan, May Day (yang secara harfiah berarti “Hari di Bulan Mei”) adalah sebuah festival fertiltitas (kesuburan), sebuah karnaval seksual yang membumi; Maypole, sebuah simbol falus dicemplungkan ke dalam sebuah lubang basah bundar yang digali di atas muka bumi—ritual perayaan yang menyimbolkan hari erotis ini. May Day adalah sebuah festival yang pada masa tersebut tak dapat dikontrol oleh otoritas apapun. Tradisinya, para lelaki dan perempuan muda masuk ke dalam hutan pada malam sebelum May Day, untuk memetik bunga, dan “menghadirkan Mei” serta menemukan falus yang dirasa tepat. Dan, dari kegelapan malam di bumi, dari “ratusan perawan yang memasuki hutan malam tersebut, hanya sekitar sepertiga dari mereka yang kembali ke rumahnya dalam keadaan masih perawan”. Seks di bulan Mei tersebut diikuti dengan perayaan pernikahan di bulan Juni—alasan mengapa bulan purnama Juni diistilahkan dengan “bulan perawan” dan lantas lahir juga istilah “bulan madu” yang diasosiasikan dengan perayaan pernikahan tersebut.

May Day adalah juga sebuah hari keriangan dan berkembangnya bunga-bunga. Abad pertengahan, di hutan pinggiran kota London, sekelompok orang yang berpakaian dan bertudung hijau serta dipimpin oleh seseorang yang menggunakan nama Robin Hood (yang juga dikenal sebagai “Orang Inggris yang Ceria”) selalu mengadakan pesta di awal bulan Mei—setelah pada hari-hari lainnya merampok harta-harta para penguasa lalim untuk kemudian didistribusikan bagi rakyat jelata. Hal tersebut juga menandai awal “Bulan Mei yang Ceria”, di mana orang-orang yang ceria tersebut merayakannya dengan mengadakan pesta di hutan-hutan hijau, di tengah berkembangnya bunga-bunga.

May Day adalah hari penegasian, penjungkirbalikkan, yang merupakan karnaval untuk menjungkirbalikkan waktu kerja menjadi waktu bermain, menjungkirbalikkan status-quo, memahkotai Ratu Mei (Queen of May) yang dipilih dalam festival tersebut oleh rakyat jelata, saat festival dikomandoi oleh Raja Pembangkangan (King of Disobedience). Dan orang-orang berpakaian hijau memberikan lampu hijau bagi segala tindak pembangkangan pada keteraturan yang menyelimuti penindasan. Ini adalah juga hari di mana rakyat merayakan hari-hari rakyat di atas tanah-tanah rakyat. Mereka merayakan ritual-ritualnya di atas tanah, yang juga merayakan hak-hak rakyat atas tanah.

Tapi di akhir abad tersebut, ratusan orang dan festivalnya mulai melenyap akibat aksi perampokan yang dilakukan oleh rezim Puritan atas tanah-tanah dari para pengelolanya, dari situs-situs mereka, dari festival mereka. Dengan menghilangnya hak-hak atas tanah tempat mereka menghadirkan festival, tradisi tersebut juga turut lenyap. May Day secara virtual juga mulai dilarang. Tahun 1644, rezim Puritan Inggris mendeklarasikan bahwa tradisi May Day sesuatu yang ilegal. Tahun 1644 tersebut adalah tahun terburuk bagi keriangan May Day. Semua tokoh-tokoh yang dirayakan dalam May Day—Robin Hood, Ratu Mei, Raja Pembangkangan—ditransformasikan sebagai tokoh-tokoh kriminal.

Di abad-abad berikutnya, May Day dan semangat karnavalnya semakin direpresi oleh dua hal yang paling dibenci rakyat jelata kala tersebut: Revolusi Industri dan rezim moral Victorian. Semakin banyaknya kelas menengah di Inggris era Victorian memunguti apa yang ditinggalkan oleh rezim Puritan: penolakan atas keriangan yang tanpa izin, pesta-pesta yang tak berlisensi. Tak ada lagi pesta-pesta vulgar, tak ada lagi hari-hari raya rakyat. Semua diatur dengan aturan moral baru, moral yang bukan milik rakyat jelata, moral yang hanya menjadi milik mereka yang memiliki uang untuk mendapatkan ijin, kaku, penuh basa-basi dan tekanan kepatuhan.

Revolusi Industri adalah sebuah revolusi yang mematikan keriangan. Di abad ke-12, rakyat jelata dalam satu tahun memiliki 8 minggu festival dan “hari-hari suci” (holy days yang kemudian dikenal menjadi holidays atau hari libur). Tapi bagi pabrik-pabrik yang dilahirkan oleh Revolusi Industri, ‘hari libur’ adalah bencana, dan karenanya hari-hari libur dan karnaval semakin dikikis dengan masif serta di sisi lain jam kerja semakin ditingkatkan—tak jarang pada masa tersebut yang berlaku adalah 18 jam kerja per hari atau bahkan seringkali lebih. (Hal ini juga dilegitimasi oleh kebohongan Benjamin Franklin yang menelurkan istilah terkenal “Waktu adalah Uang”, yang sampai saat ini mengesampingkan fakta yang mempertanyakan “Uang untuk siapa dan dari hasil kerja siapa?”).

Dalam abad ke-19 May Day menjadi sebuah fokus kampanye untuk mengurangi jumlah jam kerja. Sebuah pemogokan besar-besaran digelar di Amerika Serikat dan Kanada selama May Day tahun 1886. Setelah demonstrasi tanggal 4 Mei, 8 orang anarkis ditangkap dan 3 dari mereka dihukum gantung atas kampanye mereka yang menyerukan perubahan jam kerja menjadi 8 jam per hari—mereka yang kemudian dikenal sebagai “Martir-Martir Chicago”. Tahun 1889 May Day dideklarasikan sebagai Hari Pekerja Internasional untuk mengenang kematian para martir tersebut. Dan hasil perjuangan mereka adalah disetujuinya secara legal jumlah 8 jam kerja per hari yang kita rasakan sekarang ini. Fenomena May Day sebagai Hari Pekerja dibentuk juga oleh para pekerja yang menolak untuk bekerja pada tanggal 1 Mei, untuk membuktikan bahwa tanpa para pekerja, maka boss, pemerintah atau siapapun juga adalah bukan siapa-siapa.

Pertumbuhan industri berarti juga pengurangan waktu luang. Seorang filsuf, Aristoteles, menulis, “Alam memberikan pada kita bukan hanya kemampuan untuk bekerja, tetapi juga kemampuan untuk bersantai.” Bertrand Russel, dalam karyanya In Praise of Idleness (1935) berpendapat bahwa seseorang seharusnya bekerja tidak lebih dari 4 jam sehari agar hidup seseorang lebih sehat. Ia berkata, “Ada terlalu banyak kerja yang dilakukan di dunia ini dan berbagai kerusakan ditimbulkan akibat keyakinan bahwa kerja adalah sesuatu yang baik.” Waktu luang, sebagai kontrasnya, “adalah sesuatu yang esensial bagi peradaban.” Seperti seorang anak kecil yang bebas, etika bermain jauh lebih bermanfaat daripada etika kerja.

May Day di era modern kadang dipresentasikan sebagai sesuatu yang terpisah jauh dari tradisi awalnya, dan hanya mengutip sebagian saja dari tradisi bersejarahnya. Tradisi penuh bunga, yang masih digunakan oleh para sosialis yang berdemonstrasi di jalanan abad ke-19 lalu, kini justru melenyap di era modern ini. Tapi hal penting lain yang turut melenyap adalah semangat festival dan karnaval, semangat keceriaan. Karena May Day adalah tegangan antara perayaan dan kontrol, antara hasrat popular dan politik terorganisir, antara kenangan atas kematian tragis para martir sekaligus harapan akan masa depan yang timbul atas tragedi tersebut. May Day adalah tegangan antara kematian dan kehidupan, masa lalu dan masa depan, kepedihan dan harapan.

Tetapi bagaimanapun juga, May Day, tetaplah menjadi sebuah hari yang menandai universalitas; dari rakyat biasa yang merayakan hari-hari biasanya di tanah-tanah rakyat hingga internasionalisme May Day dalam terminologi pekerja. Dewasa ini, May Day seharusnya kembali pada tradisinya dengan lengkap, dengan alasan bahwa di mana-mana tanah-tanah harus dipertahankan dari kerakusan industri—industri yang sama yang memaksa para pekerjanya untuk hidup dan mati di dalamnya, industri yang memaksa ratusan hektar tanah, air, udara hancur berantakan serta menghasilkan bencana. Bulan Mei (May) dinamakan dari dewi Maia, akar terminologi yang menjelaskan hasrat tentang “pertumbuhan” dan “kesuburan”—sesuatu yang juga harus dimaknai sebagai sebuah hasrat untuk menyuburkan benih-benih masa depan harga diri manusia yang lebih bebas, lebih adil, dan berkembang bersama alam.

Apabila Robin Hood hidup hari ini, mungkin ia akan mengkampanyekan kebangkitan melawan kehancuran global. Moto yang dikumandangkannya, “merampok para penghisap untuk didistribusikan di antara kaum miskin dan sesama” akan menjadi moto yang melawan moto hidup modern yaitu “merampok para kaum miskin untuk memenuhi dompet para korporat”. Apabila semangat Robin Hood, yang melawan ketidakadilan dan penuh keceriaan, masih hidup, maka demikian juga semangat bulan Mei; penuh benih kehidupan, selalu subur, tak pernah tua, tak pernah mati dan selalu penuh dengan keceriaan. Semoga, semangat May Day tak akan pernah lagi dapat direpresi dan akan selalu hadir bagai kilatan terang bintang jatuh di tengah langit malam yang tergelap.


Semua tulisan di atas bisa didownload dan disebarluaskan dari www.apokalips.org

Download PDF verse klik di sini


No comments: