13.5.07

Kejengkelan

Di akhir sebuah acara diskusi, pementasan teater, dan pemutaran film tentang penyair yang hilang, saya bersama beberapa orang kawan memutuskan untuk membantu memberes-bereskan tempat acara. Dispenser, galon air minum, dan karpet yang dipinjam dari tempat saya, bisa dibawa pulang langsung ke tempat saya. Oleh siapa? Ya, oleh saya.

Tentu saja ketiga barang itu tak bisa saya bawa sendirian. A bilang mau ikut membantu. R, tentu tak bisa saya minta bantuannya. Ia sendiri ragu, sepertinya ia akan pulang langsung ke Bandung. Maka aku bertanya pada D dan M, pasangan muda yang selalu bikin iri, “Kalian mau ke mana setelah ini?” Biasanya mereka akan singgah dan nongkrong sejenak di tempat saya. Saya berpikir untuk meminta bantuan mereka berdua.

“Yee, mau tahu aja!” Tiba-tiba suara dari orang yang tidak kuharapkan jawabannya terdengar. Kasar seperti mengejek. Nadanya menyakitkan dan sama sekali tak lucu. Menjengkelkan.

“Oh, begitu cara mainnya,” ujar saya dalam hati.

D saya lihat tersenyum pada saya, “Sip, saya bantu,” kata dia.

Setelah itu, sampai pagi saat saya menuliskan ini, kedongkolan menjadi-jadi.

1 comment:

Anonymous said...

hihihihi, spt apa yaah raut wajahmu ketika dongkol? *membayangkan*

seru deh kayaknya...

salam kenal buat si A yang katanya mau membantu, si R yang hendak buru-buru kembali ke bandung dan salam kenal juga untuk si D dan M -pasangan yang selalu bikin iri

*termangu*