7.3.06

Berminat Jadi Presiden? Turunkan Berat Badan Anda!



Judul buku : Opera Sabun SBY
Penulis : Garin Nugroho
Penerbit : Nastiti, Jakarta
Tahun terbit : Oktober 2004
Tebal : viii+190 halaman

Televisi sejak kejadirannya pertama kali ternyata begitu mewarnai banyak sendi kehidupan. Hebatnya, bukan cuma hiburan dan informasi yang dihadirkan televisi ke tengah-tengah kehangatan ruang keluarga, tapi juga meriahnya dunia politik.
Di Amerika, di mana televisi berkembang dengan begitu pesatnya, televisi menjadi ''juru kampanye'' yang handal bagi para calon presiden Amerika. Tidak hanya baru-baru ini, saat Bush dan Kerry bersaing merebut hati para pemilih, tapi sejak dekade lima puluhan silam. ''Di Amerika,'' kata Neil Postman, seorang guru besar ilmu komunikasi, ''Tuhan menganakemaskan mereka yang memilik bakat dan kemampuan untuk menghibur, apakah mereka itu pengkhotbah, atlit, pengusaha, politisi, guru, maupun jurnalis. Di Amerika, justru para penghibur profesional yang paling tidak menghibur.''

Maka saksikanlah fenomena Eisenhower pada kampanye pemilu presiden Amerika Serikat di tahun 1952. Eisenhower dengan terampil menggunakan iklan televisi sebagai media kampanyenya. Sementara Truman di pemilu sebelumnya (1948), menghabiskan tiga bulan demi berjabat tangan dengan 500.000 pemilih. Berikutnya, Kennedy mengulangi cara efektif Eisenhower, menggunakan iklan sebagai media kampanye.

Richard Nixon, mantan Presiden AS yang pernah kalah dalam pemilu mengatakan bahwa ia merasa yakin dirinya kalah lantaran telah disabot oleh para juru rias. Ia lantas memberi saran pada Senator Edward Kennedy: turunkan berat badan barang 10 kilo agar dapat menjadi kandidat presiden yang layak!

Inilah saat di mana kosmetik telah menggantikan ideologi sebagai tawaran para politisi. Dan di Indonesia, menurut Garin Nugroho, sineas kenamaan, masa itu telah datang.

Sebagai seorang yang ahli dalam dunia pertelevisian, Garin Nugroho mengamati iklan-iklan yang digunakan oleh partai-partai politik dan kandidat-kandidat presiden dalam pemilu kemarin. Ia menulis puluhan artikel di berbagai media massa tentang pengamatannya itu. Dan kini, artikel-artikel itu dapat dinikmati dalam sebuah buku berjudul Opera Sabun SBY yang baru saja diterbitkan.

Mengapa opera sabun?

Istilah opera sabun timbul saat drama serial mengalami masa booming di dunia pertelevisian Amerika. Drama-drama itu banyak menyedot perusahaan-perusahaan yang memproduksi sabun untuk memasang iklan. Maka disebutlah drama-drama itu sebagai opera sabun.

Menurut Garin Nugroho, opera sabun adalah sebuah konstruksi seri yang sangat panjang. Struktur kisahnya dibentuk lewat sebuah bangunan pohon keluarga. Pohon keluarga ini mendeskripsikan relasi tokoh beserta karakternya sebagai suatu keluarga besar. Keluarga di sini bukan hanya mengandung pengertian hubungan darah, tapi juga keluarga-keluarga dalam bentuk lain, entah itu bisnis hingga politik (hal.14).
Opera sabun biasanya terdiri dari dua babak. Babak pertama adalah saat dimunculkan tokoh utama perempuan yang ''bersikap pasif, tertindas, melakukan perlawanan dengan jalan sangat bersahaja, sehingga terkesan cuma bertahan di jalan yang diyakininya'' (hal.24). Di babak kedua kemudian muncul tuntutan perubahan. Tokoh mulai menunjukkan sikapnya dan menuntut hak-haknya dengan tegas (meski tetap dengan jalan yang lurus).
Garin Nugroho pada bab pertama buku ini mencoba menganalisis realitas politik
Indonesia lewat struktur opera sabun. Baginya, politik Indonesia tak ubahnya seperti serial opera sabun.

Dalam Era Opera Sabun SBY (hal.35) Garin memaparkan analisisnya soal dua kandidat presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut Garin, Megawati adalah tipikal dari pencitraan karakter ibu dalam opera sabun. Ia pernah mengalami penindasan di awal karir politiknya. Namun, ia melawannya dengan penuh karakter keibuan: ''mengayomi dan memaafkan untuk menjaga konflik, dan memberi kebebasan serta ruang luas pada lingkungannya...'' (hal.36). Sementara itu SBY adalah wakil dari citra yang diimpikan, seorang tokoh yang diharapkan muncul untuk memecah kebekuan yang bisa memberi panduan, bersikap tegas, dan menjanjikan perubahan.

Manakah dari kedua tokoh tersebut yang berhasil merebut hati ''pemirsa''? Jawaban telah ada, SBY diinginkan ''pemirsa'' untuk terus melakoni opera sabun politik Indonesia. Dan Garin punya catatannya, ''SBY adalah sebuah fenomena tersendiri. Ia memiliki syarat-syarat kebintangan peran utama opera sabun. Yakni ganteng, suaranya bagus, bahasa tubuhnya mengayomi, memandu, dan komunikasinya santun. Jangan lupa, digemari penonton utama opera sabun, yakni ibu-ibu dan perempuan remaja'' (hal.18).
Inilah sisi lain dari opera sabun. Opera sabun biasanya dikelola dengan kemampuan untuk mengelola penonton dengan memahami masa jenuh penonton, tidak semata-mata mengelola apa yang ditonton. Sepadan dengan apa yang telah diterapkan pada AFI dan Indonesian Idol yang berhasil memecahkan kejenuhan pemirsa pada bintang-bintang lama dengan menghadirkan bintang-bintang baru yang nota bene adalah pilihan pemirsa itu sendiri.

SBY diuntungkan dalam posisi kejenuhan seperti ini. Masyarakat, menurut Garin, rupa-rupanya telah begitu jenuh dengan riuhnya politik Indonesia yang begitu ingar-bingar sejak era kebebasan terbuka di 1998 lalu. Para politisi begitu sering menjadi tamu di tengah-tengah kehangatan ruang keluarga Indonesia dalam enam tahun terakhir. SBY-Kalla mampu tampil sebagai pemecah kejenuhan itu. Keduanya jauh dari citra politisi, melainkan lebih sebagai pemimpin birokrat dan birokrat pedagang. Lihatlah lawan-lawan mereka: Megawati, Amien Rais, Akbar Tanjung, Hamzah Haz, semuanya adalah wakil dari citra politisi yang berkembang di masyarakat.

Hal inilah yang tampaknya dikelola dengan baik sekali oleh tim sukses SBY. Ditambah dengan strategi menampilkan SBY sebagai ikon di berbagai iklan kampanye.

Bagaimanapun, SBY adalah sosok yang begitu ''menjual'' dalam psikologi komunal bangsa Indonesia: ganteng, memiliki suara yang bagus (SBY memiliki kemampuan menyanyi yang baik, dan ini disukai masyarakat kita), tutur yang santun (ingat, SBY pernah mendapat penghargaan dalam Kongres Bahasa). Semuanya adalah perpaduan antara ketegasan militer dalam wajah sipil.

Membaca buku ini akan membawa kita pada jawaban mengapa politik Indonesia semakin sulit terpetakan dalam koridor politik aliran, entah itu ideologi maupun agama. Membaca buku ini memberi kita sebuah perspektif baru dalam menganalisis situasi politik. Bahwa zaman telah bergerak, kini politik Indonesia telah lebih mirip pertarungan para calon bintang meraih para penggemar ketimbang perdebatan para negarawan tentang ideologi. Buku ini seakan mengingatkan kita pada saran yang pernah diberikan Nixon untuk menurunkan berat badan jika hendak menjadi presiden. Politik telah berubah menjadi tontonan layaknya opera sabun.

Sayangnya, buku setebal 190 halaman ini terlalu banyak menyimpan kesalahan tik yang cukup mengganggu. Kesalahan-kesalahan itu terjadi berulang-ulang, bahkan hanya dalam sebuah halaman.

(beberapa hari ke belakang, saat saya mulai kembali meresahkan penguasa negara ini, saya teringat pada resensi yang pernah saya buat beberapa waktu lampau. resensi ini saya buat setelah saya menghadiri peluncuran buku ini di rektorat universitas padjadjaran. garin nugroho hadir saat itu. tapi saya begitu terkesan pada pemetaan yang dilakukan idi subandi ibrahim di diskusi itu. saya tak tahu, apakah kebijakan SBY untuk menaikkan harga BBM terkait dengan program penurunan berat badan).

No comments: