9.3.06

Ya, Saya Kontra Revolusioner!

Ya, saya adalah salah satu pecundang-pecundang kontrev yang mungkin hanya pantas dikasihani atau disadarkan. Saya tidak punya nyali untuk berjalan di atas setapak penuh kerikil tajam ini tanpa alas kaki. Untuk itu, maafkan saya dan juga kalimat-kalimat sloganistis kosong yang pernah saya lemparkan. Karena pada kenyataannya saya kadang jauh lebih buruk dari tabiat negara mana pun yang cuma pandai memproduksi slogan-slogan kosong seraya mereproduksi mitos-mitos tentang patriotisme, nasionalisme, persaudaraan, dan lain sebagainya itu. Saya tak imani betul kata-kata Soe Hok Gie, bahwa perjuangan pemuda bukanlah perjuangan sloganistis belaka. Atau juga syair Rendra yang berkata perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata!

Saya kontra revolusioner. Saya tidak pernah hidup di kampung-kampung buruh dan bergerak bersama mereka untuk mencoba memecahkan persoalan-persoalan yang membelit, yang karena sebab ini seorang kawan saya berkata seraya tertawa, "Pantas saja hidupmu nyaman!"

Saya bukan pemberontak sebagaimana mereka yang membesarkan saya bukanlah seorang pemberontak. Meskipun sesungguhnya saya tak terlalu yakin apakah memang ada hubungannya antara seorang anak yang jahat dengan orang tua yang jahat, seorang anak yang jago bermusik dengan orang tua yang piawai bermusik.

Saya, betapa celakanya, masih saja berkutat dengan kebingungan-kebingungan tolol atas pilihan-pilihan apakah sprite, fanta, freshtea, atau coca-cola yang saya minum.

Saya diam-diam masih berharap: hari ini saat teman ulang tahun, saya akan ditraktir di kedai fastfood jahat itu.

Hari ini, 8 Maret, di mana begitu banyak perempuan dan laki-laki revolusioner turun ke jalan memperingati Hari Perempuan, saya cuma mengirim pesan-pesan singkat lewat fasilitas yang disediakan motorola dan satelindo. Saya tak serevolusioner seorang kreatif iklan di Jakarta sana yang memang menolak memakai telepon genggam.

Lebih buruk lagi, hari ini saya merencakan untuk membuat t-shirt bintang pink yang akan ditulisi kalimat paling putus asa yang pernah saya dengar, ''Kaum Buruh Sedunia, Menyerahlah!'' Sebuah kalimat yang saya temukan di salah satu komik politik yang melawan globalisasi. Dan kami memerkosa Andre Gorz untuk kami jadikan tameng pertanggungjawaban kami atas t-shirt itu seraya bersembunyi di balik gagahnya 'sosialisme baru'.

Saya tidak semilitan pelajar-pelajar sekolah menengah yang begitu bersemangat membuat terbitan dengan headline sangar, ''musuh sejati kita adalah 'orang tua'!''

Saya masih percaya bahwa kadang masyarakat bisa jauh lebih tuhan ketimbang tuhan mana pun.

Saya tak punya energi untuk melawan semua yang menyerang saya dari berbagai penjuru ruang-waktu. Energi saya malah saya habiskan untuk hal-hal remeh semacam berdiskusi soal kebahagiaan, kegelisahan, atau asal-usul tuhan.

Saya tak pernah sungguh-sungguh menjadi 'aktivis gerakan' yang siap bergerak demi ideologi, organisasi, dan cita-cita.

Saya hanya bisa kagum dan mengangkat topi dari sini kepada para gerilyawan di chiapas, nepal, buru, aceh, dili, semanggi, seattle, genoa, venezuela, atau di manapun, di mana hidup cuma mengenal satu kata: lawan!

Ya, seperti itu, saya pecundang! Betapa hina dan dekadennya. Jadi, maafkan saya untuk keterbatasan saya. Selamat menjadi pemberontak!

No comments: