Satu Saja Batu...
Mengapa aku tak bisa lagi menatap matamu setelah kejadian sore itu? Sedemikian merasa bersalahkah aku? Padahal, terkadang aku bisa bercermin nyaris sempurna di lingkar matamu.
Disiplin. Kau katakan itu padaku, bukan hanya lewat pesan pendek, tapi sekaligus di depan kawan-kawan kita. Kau bahkan berkata gerakan paling disiplin sekalipun berpotensi dihancurkan. Maka, katamu, tak ada pilihan lain selain disiplin. Atau Lenin akan lahir kembali dan mendisiplinkan lewat partai elite.
Kau sendiri telah bilang, itu bukan sepenuhnya salahku. Itu salah kita. Tapi entah kutukan apa, aku lebih suka menanggung dosa ini sendirian.
Aku selalu berharap kita satu garis di dalam sebuah lingkaran sindikasi tanpa hirarki. Bukankah kita masih percaya kerjasama sukarela jauh lebih menjanjikan ketimbang sentralisme demokratik? Tidakkah kita yakini bahwa duduk setara di bawah jauh lebih bersahaja ketimbang ''kau di sana aku di sini - bersama kita menjadi partikel leninis''?
tidakkah kita sama-sama tak menginginkan revolusi yang akan membakar habis semua yang berwarna 'merah jambu' yang kita punya?
Dan kedatanganmu senja tadi, di mana kau begitu penuh tawa dengan membuat lelucon-lelucon segar. Berhasil membuatku tertawa hingga air mata nyaris tumpah. Kau masih tetap membawa kesegaran-kesegaran di lingkar-lingkar manis ini. Kau bahkan meminjamkanku buku berwarna merah untuk kubaca-baca.
Sekali saja, sekali saja dalam hidupku, aku ingin melempar sebuah batu di sampingmu.
No comments:
Post a Comment