21.7.04

Revolusi Tidak Akan Disiarkan Melalui Televisi:
Bermain-main dengan Peri-peri Merah Muda
 
 
Bagi mereka yang mengenal akronim ini dapat mudah diuraikan: 20 Juli 2001, seruan aksi disampaikan kepada ratusan ribu orang dengan mengarahkan mouse: Genoa. Saya belajar tentang protes Genoa pertama kali melalui internet, sebagaimana kebanyakan mereka yang berkumpul di sana. Surat berantai dikirimkan kepada ribuan orang dan diteruskan kepada lebih dari ribuan orang, yang akhirnya sampai kepada saya. Perang maya (cyber war) dengan pesan jelas: ke sanalah, jika Anda berpikir globalisasi gagal. Ke sanalah jika Anda ingin protes menentang kapitalisme global. Ke sanalah jika Anda berpikir perusahaan-perusahaan multinasional terlalu kuat. Jika Anda tidak lagi mempercayai wakil-wakil terpilih Anda akan mendengar. Ke sanalah jika Anda ingin didengar.
 
Pada 20 Juli, Genoa adalah kota tuan rumah puncak pertemuan tahunan negara-negara G-8, tempat bagi kericuhan para ‘veteran’ Seattle, Melbourne, London, dan Parliament Square, bagi para veteran Washington, Prague, Nice, Quebec, dan Gohenburg (jika 11 veteran adalah istilah pantas yang bagi sebuah pergerakan yang baru berumur beberapa tahun). Mereka berkumpul di Genoa: peri-peri merah muda mengamuk, setan-setan merah mengacungkan spanduk ‘Boycott Baccardi’, para anarkis Italia membentuk perisai tubuh yang dilindungi permainan pertunjukkan, para pecinta lingkungan dengan telepon genggam, orang-orang kota pinggiran dengan jepretan kamera seolah-olah sedang dalam perjalanan liburan ke kota besar—suatu ungkapan bahasa dan tujuan berbeda berkumpul di bawah satu bendera “anti”, saya siap untuk gas air mata: saya telah membaca buku pegangan California-based Ruckus Society, bacaan wajib bagi pengunjuk rasa, dan membaca jeruk lemon dan cuka serta sebuah sapu tangan untuk menutupi muka, dan juga darah buatan dalam botol shampo (baik apabila Anda ingin menyelinap ke dalam suatu kerumunan).
 
Saya siap bentrok dengan polisi. Saya telah mempelajari taktik pembangkangan sipil dan aksi langsung di workshop non-kekerasan yang saya ikuti sebelum tahun itu di suatu gudang mirip tempat pertemuan di pinggiran barat laut Prague. Walaupun tidak ada hal yang sepenuhnya dapat memancing saya atas kebrutalan polisi Italia. Apa yang tidak siap bagi saya adalah tingkat rasa-komunitas di antara kepentingan berbeda dan sering berseberangan, rasa kesetiakawanan dan persatuan atas lawan bersama terhadap status-quo­. Begitu juga saya tidak siap untuk kemarahan belaka, disulut oleh suara genderang terus-menerus dan barisan terompet dihiasi warna pelangi yang dijual dengan harga satu dollar per buah: para anarkis mazhab hitam asyik masyuk menghancurkan jendela depan toko; fokus kebanyakan mereka di sekitar saya merobek pagar yang dipasang penguasa Italia untuk menjaga para pemimpin dunia yang berada di dalam dan pengunjuk rasa yang di luar.
 
Barangkali, setidaknya, saya siap untuk tingkat di mana mereka yang berbicara dengan saya sangat kecewa terhadap politik dan politikus, terhadap perusahaan dan orang-orang sejenisnya, dan sepanjang mereka siap untuk membongkar konspirasi diam-diam. Pemuda bertelanjang dada dengan tangan terbentang sebagai tanda pecinta damai, yang tetap bertahan sekalipun semprotan meriam air menghantam punggungnya; Venus, seorang gadis dengan rambut merah muda dan bintang-bintang gemerlap menempel pada kelopak matanya, yang berbicara kepada saya dengan logat lembut Irlandia bahwa ia ‘rela mati demi perjuangan ini’.
 
Sepuluh tahun setelah tank-tank merangsek menuju Red Square, 20 tahun setelah Tembok Berlin runtuh, setelah periode terpanjang ledakan ekonomi, perlawanan terus tumbuh dengan percepatan luar biasa, yang disuarakan bukan hanya oleh ratusan ribu orang yang berkumpul di Genoa atau Gothenburg, Prague atau Seattle, bukan hanya barisan pelangi, namun juga oleh partai-partai putus asadan sering mengejutkan—orang-orang biasa dengan kehidupan biasa, ibu-ibu rumah tangga, guru-guru sekolah—kaum miskin kota dan warga kota. Kepedulian orang-orang di belahan dunia muncul berkenaan loyalitas pemerintah dan tujuan-tujuan perusahaan. Kepedulian bahwa pendulum kapitalisme hanya dapat sedikit bergeser; bahwa perselingkuhan kita dengan pasar bebas telah mengaburkan kebenaran sejati; bahwa terlalu banyak orang kalah. Bahwa negara tidak dipercaya lagi untuk melindungi kepentingan kita; dan bahwa kita akan membayar harga terlalu tinggi untuk pertumbuhan pesat ekonomi kita. Mereka khawatir pada kekuatan bisnis akan melenyapkan suara-suara rakyat.
 
Akhir kisah yang dimulai di Westminster pada 3 Mei 1979, saat Margaret Thatcher mulai berkuasa, dan kemudian direproduksi di AS, Asia Timur, sebagian besar negara-negara Afrika dan ujung Eropa—yaitu cerita tentang jalan-jalan yang sedang diaspal emas, dan realisasi mimpi amerika—tidak lagi diterima begitu saja. Mitos=mitos yang diabadikan selama era Perang Dingin, yang tanpa takut melemahkan posisi ‘kita’, mulai hilang. Kekayaan tidak selalu menetas ke bawah. Ada batas-batas pertumbuhan. Negara tidak akan melindungi kita. Masyarakat yang dituntun oleh konsep pasar invisible hand bukan hanya tidak sempurna, tetapi juga tidak adil. Dunia yang muncul dari perang dingin merupakan antitesis satu dunia para hiperglobalis yang terselubung. Dunia tersebut sebenarnya bingung, bertentangan dan tidak beraturan. Inilah sebuah dunia yang di dalamnya litani keragu-raguan mulai dipanjatkan. Sebuah dunia yang di dalamnya loyalitas tidak lagi ditentukan, dan aliansi tampak telah berganti.
 
Sementara BP sedang menjalankan program-program untuk dua ratus eksekutif papan atas tentang masa depan kapitalisme di mana keuntungan dan kerugian globalisasi diperdebatkan, pemerintah Partai Buruh Inggris sedang berjuang melakukan privatisasi terhadap kontrol lalu lintas udara. Dunia Space Odyssey 2001, dengan penuh bahaya, sedang mendekati visi-visi apokaliptik Rokerball, Network dan Soylent Green. Inilah dunia yang di dalamnya, seperti yang akan kita lihat, perusahaan-perusahaan besar mengambil alih negara, pengusaha menjadi lebih kuat ketimbang politikus, dan kepentingan komersial menjadi sangat penting. Seperti yang akan saya tunjukkan, unjuk rasa akan menjadi satu-satunya metode yang cepat untuk mempengaruhi kebijakan dan mengontrol ekses-ekses aktivitas perusahaan.
 
Gagasan Besar Benetton
 
Kita dapat memberi tanggal permulaan dunia ini, dunia Perampokan Diam-diam, dari kekuasaan Margaret Thatcher. Perempuan besi dengan rambut bercat ini, bersama kawannya Reagen, menganut bentuk khusus kapitalisme dengan memberi kekuasaan penuh kepada tangan-tangan perusahaan, dan memperoleh saham pasar dengan mengorbankan bukan hanya politik tetapi juga demokrasi. Bentuk khusus kapitalisme tersebut menjadi produk tahan lama. Terlepas dari gigitan yang perlahan, bentuk khusus kapitalisme mereka menjadi ideologi dominan sebagian besar negara dunia. Politik pasca-Perang Dingin menjadi suatu komoditas yang kian terhomogenisasi dan terstandarisasi. Benetton memberi metafor yang pas untuk politik saat ini.
 
Sekitar enam belas tahun lalu perusahaan pakaian kampanye mode Italia ini mengiklankan kampanye paling provokatif yang pernah terlihat. Dua puluh papan iklan berkaki dengan foto bayi kulit hitam yang sedang kelaparan; penderita AIDS yang sedang sekarat; seragam penuh darah prajurit Bosnia yang mati; kampanya “Serikat Pembunuh Benetton”; sisipan majalah 96 halaman yang berisi foto-foto para tahanan yang sedang berjejer meratapi kematian prajurit Amerika. Benetton mengejutkan perhatian kita, namun kejutan hanya kejutan.  Kejutan tersebut tidak mendorong kita bergerak, berusaha, dan menyelesaikan persoalan itu. Iklan mereka tidak menjelaskan apa pun tentang moralitas perang, tidak ada upaya untuk mengurangi kemiskinan dan mengobati AIDS. Satu-satunya tujuan iklan tersebut adalah meningkatkan penjualan, bukan memulai diskusi tentang persoalan-persoalan di balik tingkah polah modal. Dan jika Benetton memperoleh keuntungan di atas kesengsaraan orang lain, lalu apa?
 
Kita sedang hidup di bawah gagasan besar Benetton. Kita dicekoki citra foto-foto mengejutkan oleh para politikus yang berusaha meraih dukungan kita dengan mengutuk lawan-lawannya dan menyoroti bahayanya representasi yang ‘salah’. Para politikus tersebut berkoar tentang perubahan dan upaya mengubah hidup kita. Partai-partai besar menawarkan solusi dan pilihan yang sangat berbeda kepada kita: orang-orang Demokrat menggembor-gemborkan kebijaksanaan liberal, orang-orang Republik menggembor-gemborkan konservatisme. Semua berupaya memperoleh suara kita. Namun retorika tidak sesuai dengan kenyataan. Solusi yang ditawarkan politkus kita sama palsunya dengan solusi Benetton: gadis China di samping pria Amerika, perempuan kulit hitam sedang berpegangan tangan dengan perempuan kulit putih. Model-model dengan wajah yang tidak biasa, wajah menyolok, kadang indah dan kadang tidak. Orang-orang dengan berbagai warna kulit berpakaian warna-warni. Jawaban-jawaban politik menjadi ilusi seperti halnya deretan pakaian yang diseragamkan, T-shirt standar, dan cardigan yang dipajang di toko Benetton lokal Anda. Konservatisme dan kompromi yang dikomersialisasikan par excelence. Para politikus hanya menawarkan solusi tunggal: sebuah sistem berdasarkan ekonomi laissez-faire, budaya konsumerisme, kekuatan uang, dan perdagangan bebas. Mereka memperjuangkannya, dan menjualnya dengan variasi corak biru, merah atau kuning. Namun semuanya masih dalam sistem, di mana perusahaan adalah raja, negara adalah subyeknya, dan warga negara konsumennya. Penelikungan diam-diam sebuah kontrak sosial.
 
Namun, saya akan berargumen, bahwa sistem tersebut benar-benar gagal. Di balik konsensus ideologis dan kemenangan telak kapitalisme, keretakan muncul. Jika segalanya begitu indah, mengapa, seperti yang akan kita lihat, orang-orang mengabaikan kotak suara, dan sebaliknya lebih suka di jalanan dan pusat-pusat perbelanjaan? Seberapa bermaknanya demokrasi jika hanya setengah yang memberikan suara, seperti dalam pemilihan presiden Gore-Bush, meskipun setiap orang tahu pemilihan tersebut akan menjadi pertarungan tertutup? Apa kelaikan perwakilan kita sekarang lebih patuh pada perintah perusahaan daripada amanat rakyat mereka sendiri?
 
Kapitalisme Tak Terbatas
 
Membutuhkan waktu bagi masyarakat untuk bangkit melawan, untuk menyadari bahwa negara yang lemah tidak mungkin menciptakan dunia yang aman dan bersih yang mereka inginkan untuk tumbuh kembang anak-anak mereka. Sekian lama masyarakat tidak mempertanyakan dunia yang homogen dan dunia dengan ideologi tunggal. Mengapa?
 
Bagi kebanyakan orang, kehidupan telah cukup baik dan akan lebih baik lagi. Bagi sebagian besar orang pada dua puluh tahun lalu, pasar bursa meningkat dan tingkat suku bunga turun. Lebih banyak orang, dibanding sebelumnya, memiliki rumah sendiri. Dua pertiga dari kita, di negara maju, memiliki televisi. Kebanyakan kita, di Barat tepatnya, memiliki mobil. Anak-anak kita memakai Nike dan Babay Gap. Kelas menengah tumbuh dengan pesat. Kita adalah patung-patung yang diberi makan yang menguatkan impian kapitalis ini. Studio dan berbagai jaringan media memperindah esensi kapitalisme. Norma-norma yang berlaku dan pemikiran arus utama, direkam, diputar kembali, dan diperkuat dalam Technicolor, sementara berbagai kritik terhadap ortodoksi secara sadar ditarik kembali. Unsur damai dalam unjuk rasa Seattle, Gothenburg dan Genoa, sulit ditayangkan. Proctor dan Gambble secara terang-terangan melarang program iklan komersialnya “yang dengan berbagai cara dapat mendukung konsep bisnis menjadi dingin dan kejam”. Program-program yang dicari adalah program yang mendukung pesan-pesan pengiklan. “Setiap saat televisi dihidupkan, basis politik, ekonomi dan moral bagi tatanan sosial yang dikemudikan oleh profit, secara implisit dilegitimasi”.
 
Pada 1997 Adbuster, sebuah organisasi ‘pengacau kebudayaan’ Kanada, berusaha mengudarakan iklan counterconsumerism di mana babi aminasi yang melapisi bagian atas peta Amerika Utara mengecap-ngecapkan bibirnya sambil berkata, “Orang Amerika Utara mengkonsumsi rata-rata lima kali lebih daripada orang India... Berikanlah sisanya.”
 
Tanggal 28 November adalah hari tanpa belanja (Buy Nothing Day). Namun stasiun televisi AS seperti NBC, CBS, dan ABC dengan tegas menolak mengampanyekannya, kendatipun ada dana untuk biaya iklan itu. “Kami tidak ingin mengambil iklan apa pun yang bertentangan dengan kepentingan bisnis sah kami,” kata Richard Gitter, wakil presiden standar pengiklan di General Electric Company milik NBC. CBS Westinghouse Electric Corporation, dalam suratnya, bahkan lebih keras menolak iklan komersial tersebut, sambil membenarkan keputusannya dengan alasan bahwa Buy Nothing Day, “Bertolak belakang dengan kebijakan ekonomi yang berlaku saat ini di AS.”
 
Raksasa-raksasa perusahaan yang demikian adalah warisan kami. Suatu dunia di mana kepentingan-kepentingan perusahaan merajai, perusahaan-perusahaan besar menyebarkan jargon melalui gelombang udara dan mencekik bangsa-bangsa lainnya dengan aturan imperialistik mereka. Perusahaan-perusahaan telah menjadi raksasa, raksasa global yang sangat besar yang memegang kekuatan politik sangat besar. Didorong kebijakan pemerintah tentang privatisasi, deregulasi, dan liberalisasi perdagangan dan kemajuan teknologi dua puluh tahun yang lalu, pergeseran kekuasaan telah berlangsung.
 
Saat ini, ratusan perusahaan multinasional terbesar mengendalikan sekitar 20 persen aset asing global, dan 51 dari 100 kekuatan ekonomi paling besar di dunia adalah perusahaan. Penjualan General Motors dan Ford lebih besar daripada GDP seluruh negara Afrika sub-Sahara; aset IBM, BP, dan General Electric, melebihi kemampuan ekonomi sebagian besar negara-negara kecil; dan Wal-Mart, sebuah supermarket, memiliki pendapatan lebih tinggi daripada sebagian besar negara-negara Eropa Timur dan Tengah.
 
Ukuran perusahaan terus meningkat. Pada tahun pertama milenium kedua, Vodafone bergabung dengan Mannesman (harga jual $183 miliar), Chrysler dengan Daimler (perusahaan gabungan yang saat ini mempekerjakan sekitar 400.000 orang), Smith Mine Beecham dengan Glaxo Wellcome (yang keuntungan pra pajaknya $7,6 miliar seperti Glaxo Smith Kline), dan AOL dengan Time Warner dengan harga merjer $350 miliar. Jumlah total perusahaan yang merjer pada tahun 2000 adalah 5000 perusahaan, dan dua kali lipat tingkat merjer pada dekade sebelumnya. Mega merjer ini memukul aktivitas M&A tahun 1980-an. Setiap merjer baru selalu menjadi lebih besar dibanding sebelumnya, sementara jarang sekali pemerintah yang memiliki kekuasaan tetap. Seluruh barang yang kita beli atau gas yang kita gunakan, obat-obatan yang dianjurkan dokter, kebutuhan penting seperti air, kesehatan, transportasi, dan pendidikan, bahkan komputer-komputer sekolah baru dan peningkatan hasil panen sawah di sekitar komunitas kita—berada dalam genggaman perusahaan yang mungkin, sesuai kehendak mereka, merawat, menghidupi, atau mencekik kita.
 
Inilah dunia Perampokan Diam-diam, dunia pada fajar milienium baru. Kekuasaan pemerintah nampak terbelenggu dan kita semakin tergantung pada perusahaan. Bisnis berada di tempat duduk pengemudi, perusahaan menentukan aturan main, dan pemerintah mejadi wasit, yang menguatkan aturan yang didiktekan orang lain. Sekarang perusahaan yang mudah dipindah-pindah adalah pesta besar yang dapat dipindahkan, dan pemerintah berusaha keras menarik atau menahan perusahaan tersebut tetap berada di negerinya. Mata-mata buta dijebak kedalam lobang pajak. Para gembong bisnis memakai alasan pajak yang rumit untuk membiarkan kekayaannya tetap di luar negeri. Rupert Murdochs News Corporation hanya membayar 6 persen pajak di seluruh dunia. Dan di Inggris, sampai akhir 1998, perusahaan tersebut sama sekali tidak membayar pajak perusahaan, walaupun telah mengeruk keuntungan 1,4 miliar poundsterling sejak 1987.
 
Inilah sebuah dunia di mana, walaupun kita telah melihat tanda-tanda pengikisan dasar pajak yang meremukkan dalam pelayanan publik dan infrastruktur, para wakil terpilih kita menyembah-nyembab bisnis, takut tidak ikut menari mengikuti irama pemusik tiup. Dulu pemerintah berjuang demi teritori fisik. Sekarang mereka berjuang melawan penyakit demi kepentingan pasar. Salah satu tugas utama mereka adalah menciptakan lingkungan bisnis yang kondusif, yang menarik bagi bisnis. Peran negara bangsa pada skala luas menyediakan sarana publik dan infrastruktur yang diperlukan bisnis pada harga paling rendah sambil melindungi sistem perdagangan bebas dunia.
 
Dipecah Kita Runtuh
 
Hal-hal berkenaan keadilan, persamaan, hak-hak, lingkungan, dan bahkan persoalan keamanan nasional, telah runtuh. Ambillah kasus Taliban—yang didukung AS sampai 1997 karena kepentingan perusahaan minyak, walaupun rekor rezim atas HAM suram. Keadilan sosial menjadi alat untuk mengakses pasar. Jaringan Pengaman Sosial diperlemah. Kekuatan serikat buruh dihancurkan. Tidak pernah sebelumnya di zaman modern ini jurang pemisah antara kaum kaya dan kaum miskin begitu lebar, juga tidak pernah sebelumnya begitu banyak orang malang atau kalah. Empat puluh lima juta orang Amerika memiliki asuransi kesehatan. Di Manhattan orang-orang mengais kaleng dan botol minuman kosong dari tempat sampah untuk ditukar dengan harga lima sen, sementara di London, para pencuci kaca depan mobil dengan alat pembersih dan seember air kotor menghadang mobil-mobil di perempatan lampu lalu lintas. Orang-orang Amerika menghabiskan $8 miliar pertahun untuk membeli kosmetik, sementara dunia tidak dapat mencari uang $9 miliar, menurut hitungan PBB, yang dibutuhkan untuk memberikan akses air minuman bersih dan sanitasi kepada semua orang.
 
Partai Buruh Inggris dengan terus terang menyatakan bahwa sekarang ini menciptakan kekayaan jauh lebih penting daripada redistribusi kekayaan. Di Amerika, selama 10 tahun setelah 1988, pendapatan keluarga termiskin naik kurang dari 1 persen, sementara pendapatan seperlima keluarga terkaya melonjak 15 persen. Di New York City 20 persen keluarga termiskin berpendapatan rata-rata $10.700 per tahun, sementara 20 persen keluarga terkaya berpendapatan $152.350 per tahun. Upah bagi keluarga kelas bawah tersebut begitu rendah sehingga, walaupun gambaran pengangguran di negeri tersebut rendah, jutaan orang Amerika dipekerjakan , dan 1 dari 5 anak Amerika, hidup di bawah garis kemiskinan. Tidak pernah sebelumnya sejak 1920-an jurang pemisah antara yang kaya dan miskin begitu besar. Keuntungan bersih Bill Gates sendiri pada akhir abad lalu, misalnya, pada dasarnya sama dengan 50 persen pendapatan total keluarga Amerika.
 
Kapitalisme telah menang, namun kehancurannya tidak ditanggung bersama oleh semua orang. Kegagalan-kegagalannya diabaikan pemerintah yang, sambil berterima kasih atas ukuran-ukuran kebijakan yang diperkenalkan pemerintah, semakin tidak mampu menghadapi konsekuensi-konsekuensi sistem mereka.  Dan sistem tersebut busuk. Skandal-skandal politik terlalu sering terbongkar: Kohl, Schmidt, dan Mitterland adalah di antara mereka yang telah kita kenal atau curigai. Bahkan para politikus yang tidak menanggung akibatnya tersebut semakin merasa berutang budi pada atau terlibat dengan bisnis. Tidak ada tempat yang lebih nampak jelas daripada di AS. Kepresidenan Clinton terjerembab skandal secara simultan: dari tuduhan Whitewater, lebih semalam tinggal di kamar tidur Lincoln demi para pemberi dana partai, sampai kebijakan final mengampuni para pengelak pajak dan pedagang senjata Marc Rich. Untuk para kandidat pemilihan presiden Amerika 2000, kemampuan mereka meraih suara terbanyak sangat tergantung pada pendanaan perusahaan kuat mereka.  Kotak dana perang kampanye George W. Bush adalah $191 juta, Gore $133 juta. Dan keberatan-keberatan terhadap RUU McCain Feingold tentang reformasi keuangan kampanye, yang dampaknya akan menghambat bisnis, serikat dagang, dan individu-individu untuk menciptakan kontribusi ‘uang lunak’ tak terbatas bagi partai-partai politik, berasal dari demokrat dan republik. Tidak heran bintang politikus memudar. Rakyat mengetahui kepentingan yang bertentangan para politikus dan keengganan memenangkan mereka, dan memulai meninggalkan politik.
 
Sebaliknya, pada 1980-an demokrasi muncul di seluruh dunia sebagai bentuk pemerintah yang dominan, yang diperkuat legitimasi unik dan dukungan massa yang kuat. Pada 1990-an partisipasi pemilih di mana-mana turun, keanggotaan partai berkurang, para politikus dihargai di bawah ukuran pembantu yang layak dihormati. Di seluruh dunia, dari demokrasi tua AS dan Eropa Barat, sampai negara-negara Amerika Latin dan Timur Jauh, masyarakat kurang mempercayai institusi pemerintah saat ini daripada satu dekade yang lalu. Hanya 59 persen pemberi suara Inggir memberikan suara pada pemilihan umum 2001, turun dari 69 persen pada 1997, kemunduran terendah sejak Perang Dunia I. Di AS, tidak sampai dua abad, begitu banyak warga negara AS dengan sadar tidak memberikan suara seperti 6 tahun lalu. Produk yang dijual politikus dianggap rusak, tidak lagi dianggap layak beli.
 
Memecahkan Kebisuan
 
Inilah dunia Perampokan Diam-diam yang akan saya uraikan dalam buku ini. Tujuan saya adalah memahami dunia ini dan mengerti ke mana kita akan di bawa: sebuah dunia yang di dalamnya penghasilan perusahaan memperkecil penghasilan negara-negara, dan pengusaha lebih tinggi pangkatnya daripada politikus; yang di dalamnya tiga perempat rakyat AS sekarang berpikir bahwa bisnis memperoleh kekuasaan terlalu besar atas banyak aspek kehidupan mereka; dan yang di dalamnya, meskipun teknik menjual politik partai lebih kuat dan agresif, kian sulit untuk dipilih. Sekarang ekonomi dihargai lebih besar daripada politik. Rakyat telah ditinggalkan. Dan konsumen adalah segalanya. “Partisipasi dalam pasar telah menggantikan partisipasi dalam politik.”
 
Argumen saya tidak dimaksudkan antikapitalis. Kapitalisme jelas merupakan sistem terbaik untuk menghasilkan kekayaan. Perdagangan bebas dan pasar modal terbuka telah membawa pertumbuhan ekonomi luar biasa untuk kebanyakan, jika tidak semua orang di dunia. Begitu pula buku ini tidak bermaksud antibisnis. Perusahaan tidaklah amoral tetapi, saya berargumen, secara moral ambivalen. Sebenarnya di bawah kondisi pasar tertentu, bisnis lebih mampu dan lebih memiliki kemauan untuk menangani banyak persoalan di dunia daripada pemerintah. “Tanggung jawab sosial”, “Pembangunan berkelanjutan”, dan “Dampak lingkungan” adalah istilah-istilah yang saat ini kemungkinan lebih didengar dari CEOs daripada menteri-menteri pemerintah.
 
Demikian juga, saya tidak bermaksud mengagungkan pemerintah. Walaupun, seperti yang akan saya katakan, negara memiliki peran jelas dalam masyarakat, saya tetap sangat meragukan kemampuan pemerintah memainkan peran ini, terutama saat ini di mana batas-batas antara bisnis dan pemerintah sangat kabur, dan terdapat kesenjangan kepemimpinan atau kemauan politik.
 
Namun sejujurnya, tujuan buku ini adalah untuk mendukung rakyat, demokrasi, dam keadilan. Saya bermaksud mempersoalan justifikasi moral bentuk kapitalisme yang menganjurkan pemerintah menjual warga negaranya dengan harga yang sangat murah; menentang legitimasi dunia di mana banyak yang kalah dan sedikit yang menang; menjelaskan bagaimana pengambil-alihan ini membahayakan demokrasi; juga berargumen bahwa ada paradoks mendasar pada jiwa kapitalisme laissez-faire, bahwa dengan mereduksi negara pada tingkat paling rendah dan menempatkan perusahaan pada tingkat paling tinggi, negara mengancam legitimasinya sendiri. Saya akan menjelaskan implikasi-implikasi sebuah dunia yang di dalamnya pemerintah tidak bisa dipercaya untuk menjaga kepentingan-kepentingan kita, dan yang di dalamnya kekuasaan bukan hasil pemilihan (unelected powers)—yaitu perusahaan-perusahaan besar—mengambil peran pemerintah, dan meneliti konsekuensi-konsekuensi watak politik yang menghargai pengerjaan pasar di atas segalanya. Saya akan memetakan pengejaran keuntungan yang gesit ini, dan mengonfrontasikan mereka yang menjustifikasi politik uang sebagai sebuah ungkapan kebebasan berbicara, dan mereka yang membenarkan non-intervensi dalam urusan negara lain untuk alasan kepentingan dagang mereka sendiri. Sekitar dua dekade terakhir, keseimbangan kekuasaan antara politik dan komersial telah berubah secara radikal, yang meninggalkan politikus semakin menjadi subordinat kekuasaan ekonomi kolosal bisnis besar.
 
Disebarkan oleh poros Reagen-Thatcher, dan dipercepat oleh akhir Perang Dingin, proses ini telah menumbuhkan hidrolik sekitar dua dekade lalu dan sekarang mewujudkan dirinya dalam beragam bentuk negatif dan positif. Bagaimanapun cara kita melihatnya, perusahaan sedang mengambil alih tanggung jawab pemerintah. Dan ketika bisnis meluaskan perannya, wilayah publik, seperti yang akan kita lihat, benar-benar akan ditentukan oleh bisnis. Negara politik telah menjadi negara perusahaan. Pemerintah, dengan tidak mengakui pengambilalihan pun, mengambil risiko hancurnya kontrak penuh antara negara dan rakyat yang menjadi inti masyarakat demokratik. Menolak kotak suara dan yang mencakup bentuk non-tradisional ungkapan politik menjadi alternatif yang kian menarik. Menjelaskan perkembangan proses-proses ini dan konsekuensinya merupakan isi buku ini. Keputusan saya menulis The Silent Takeover bukanlah tanpa kepentingan. Saya perlu memahami ketidakpuasan saya yang sedang tumbuh dan perasaan saya sendiri bahwa hal-hal tersebut menjadi serba salah. Apa sebabnya kehidupan dalam banyak hal tidak pernah lebih baik, sekalipun saya dan begitu banyak orang di sekitar saya sudah tampak begitu susah?
 
Bagaimana bisa demikian, saya, putri seorang perempuan yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk membawa perempuan ke dunia politik, sekarang menyaksikan dunia politik terkooptasi, seperti arena yang kian kehilangan makna—arena yang dagelan politik terbaiknya adalah pemilihan presiden AS terakhir? Bagaimana bisa, setelah 10 tahun mendarat di Leningrad untuk menata bursa saham Rusia yang pertama—seorang pelayan toko dengan gelar MBA dari Wharton di tas saya—sekarang merasa terbakar untuk mempertanyakan pendirian-pendirian saya? Mengapa di Fakultas Ekonomi Universitas Cambridge, tempat saya mengajar, ketika saya menjelaskan bahwa saya ingin mengawasi isu yang diuji buku ini, saya dibanjiri pertanyaan mahasiswa, yang saya gagal memberikan jawaban memuaskan kepada mereka?
 
Kita sekarang berdiri di titik waktu yang kritis. Jika kita tidak melakukan apa pun, jika kita tidak melawan perampokan diam-diam ini, jangan tanyakan sistem keimanan kita, jangan akui kebersalahan kita sendiri dalam rangka mencetak “tata dunia baru,” dan kemudian hilanglah semuanya.
 
Sebagaimana kita lihat, ketidaksetaraaan dalam pendapatan bukan hanya buruk bagi kaum miskin, namun juga bagi kaum kaya. Pengikisan terus menerus terhadap pemerintah dan politik berbahaya bagi semua, tidak peduli pada persuasi politik. Sebuah dunia di mana, George Bush mengesahkan Undang-Undang setelah disahkannya Undang-Undang yang mendukung kepentingan bisnis, Rupert Murdoch memiliki kekuasaan melampui Tony Blair, dan perusahaan mengatur agenda politik, merupakan dunia yang menakutkan dan tidak demokratik. Gagasan perusahaan mengambil alih peran pemerintah dalam banyak hal mungkin nampak sebagai seruan, naum risiko-risikonya semakin membiarkan kita tanpa sumber daya. Kisahnya akan diceritakan melalui beragam warna karakter yang akan kita temui. Granny D, nenek berusia 90 tahun, yang menyeberang ke AS untuk memenangkan reformasi dana kampanye; saudara putri Patricia Marshall, aktivis biarawati pemegang saham, yang membujuk PepsiCo menjual kebun pembotolan di Burma, Oskar Lafontaire, Menteri Keuangan Jerman, yang dalam pidato perpisahan pengunduran dirinya mengatakan, “Hati tentu tidak dijual di bursa saham.” Suara-suara tersebut merupakan sebagian kecil suara yang akan kita dengar. Namun buku ini bukanlah kumpulan kisah-kisah mereka yang berbeda-beda, buku ini merupakan kumpulan kisah kita semua. Kita semua tengah dalam perampokan diam-diam yang dilakukan perusahaan. Tujuan saya adalah menunjukkan bagaimana perampokan diam-diam ini merangkak di atas kita, mengapa ini bermasalah, dan apa yang dapat kita lakukan untuk ini.
 
Pendahuluan buku Noreena Hertz, The Silent Takeover, Global Capitalism, and the Death of Democracy, Associate Director pada Center for International Business, University of Cambridge. Diterjemahkan Farid Assifa, TRADEM YOGYAKARTA.