3.8.07

Sport! Sport!

Aku jarang olahraga! Dan betapa ini kenyataan yang menyebalkan. Di tengah-tengah pola hidup yang sama sekali tak sehat ini—merokok, jam tidur yang amburadul, dan menu makan yang tak menentu—aku merasa sangat kurang berolahraga. Berat badan semakin hari semakin terasa bertambah (meski kadang membingungkan juga: di pagi hari bertemu si A dan dia berkomentar, “kenapa semakin kurus?” lalu di malam harinya bertemu si B yang berkata, “makin gemuk, nih!”).

Aku pikir-pikir olahraga seharusnya menjadi kebutuhan setiap orang, orang miskin maupun orang kaya. Orang miskin butuh berolahraga karena olahraga memang menyehatkan. Mampu menghindari tubuh dari penyakit-penyakit yang aneh-aneh. Di negara dengan pemerintah yang tak sepeduli pemerintah Kuba dalam menyelenggarakan kesehatan warganya, adalah bijak untuk menjauhkan diri dari penyakit-penyakit terkutuk. Karena kalau sudah sakit, urusan bisa semakin panjang. Sebentar-sebentar bisa keluar uang. Untuk orang kaya, olahraga juga dibutuhkan. Meski bisa saja mengakses pelayanan kesehatan yang baik dan terjamin, kemewahan terkadang sasaran empuk bibit-bibit penyakit. Dan kalau penyakit sudah datang, betapa kekayaan-kekayaan yang dimiliki tak lagi senikmat saat kesehatan bukan hal asing dari tubuh. Apa artinya uang banyak kalau kena pendingin ruangan saja badan terasa mau rontok?

Dan olahraga sepertinya memang jauh dari gaya hidupku. Saat sekolah dulu satu-satunya nilah merahku adalah mata pelajaran olahraga. Entah kenapa guru olahraga itu—yang belakangan kutahu mengencani salah seorang temanku—memberikanku nilai merah. Apa pula pentingnya mata pelajaran itu sampai-sampai dia memberikan aku nilai merah? Seingatku, aku cukup rajin mengikuti pelajaran olahraga. Seandainya ternyata tak ahli dalam berolahraga, seharusnya dia memberi banyak pemakluman. Bagaimana bisa siswa-siswa yang belum tentu berbakat olahraga tertentu, sementara jam pelajaran tak lebih dari dua jam seminggu, dipaksa harus bisa melakukan teknik-teknik olahraga tertentu. Kalau aku jadi guru musik, aku tidak akan pernah memberi nilai merah kepada siswa yang tak bisa bermain gitar. Apa lagi kalau jam pelajarannya minim dan dia sama sekali tak tertarik untuk berurusan dengan nada-nada musik.

Meski begitu aku pernah rajin berolahraga. Sejak kelas lima SD aku ikut pencak silat. Berlatih dua kali seminggu. Pertama malam kamis, kedua minggu pagi. Saat-saat itu aku sering mengeluarkan keringat. Kebiasaan itu berlangsung terus sampai masa-masa awal SMA. Di masa-masa itu aku juga sering bermain basket atau sepakbola di sore hari. Kompleks rumahku menyediakan lapangan basket dan stadion sepakbola tak begitu jauh dari rumahku. Cukup berjalan kaki lima sampai sepuluh menit, sampai sudah. Aku biasa bermain dengan teman-teman tetangga rumah. Jika sedang musim bermain sepakbola, maka basket ditinggalkan. Ramai-ramai kami menuju stadion untuk bermain bola. Dan, percayalah, di antara kami banyak yang tak mengenakan sepatu. Maka, musim sepakbola berarti juga musim luka di kaki. Namun, belakangan kami sedikit serius untuk bermain bola. Mengenakan sepatu, melakukan pemanasan, dan... memanggil pelatih. Salah seorang tetanggaku mantan pelatih sepakbola. Memegang sertifikat dari PSSI kalau tak salah, dan dia bersedia melatih anak-anak kompleks.

Tapi lagi-lagi, olahraga memang sepertinya bukan duniaku. Aku tak seperti tetanggaku yang begitu serius menjadi atlet renang atau atlet bulutangkis atau atlet bola volley. Bertanding ke sana ke sini dan mendapat rezeki dari berolahraga. Saat teman-temanku sibuk berlatih dan tertib membayar iuran footsal—seiring maraknya olahraga ini—aku memilih menyirami tanaman di depan rumah jika sore tiba. Di Minggu pagi, saat stadion yang sepelemparan tangan jaraknya dari rumahku itu ramai dikunjungi orang-orang yang ingin berolahraga (senam, lari, bulutangkis, dan banyak lagi jenisnya), aku terkadang ke sana hanya untuk makan bubur atau melihat-lihat jajaran pedagang. Sungguh kemalasan yang luar biasa dan gaya hidup yang mengagumkan!

Dan masa-masa kuliah adalah masa-masa suram bagi tubuh ini. Tidak berolahraga, keluyuran malam hari, tidur justru pagi sudah menjelang, dan merokok. Belum lagi ditambah asupan makanan yang tak menentu. Jam makan, dalam pikiran ini, hanya berlaku untuk mereka yang punya jam kerja, jam tidur, dan jenis-jenis jam lainnya. Karena aku tidak punya jam-jam serupa itu, maku aku tak punya juga jam makan. Pernah dulu memang di sore hari bermain bola di lapangan kampus. Tapi itu dulu dan bisalah dihitung menggunakan jari berapa kali aku melakukannya. Tak butuh membuka-buka ingatan yang sudah disimpan jauh-jauh dalam kepala. Terlebih lagi di kampusku tidak ada mata kuliah olahraga. Beberapa kampus kudengar menyelenggarakan mata kuliah ini. ITB bahkan menyelenggarakan mata kuliah menyelam.

Kini, di akhir-akhir masa kuliah, kesadaran itu datang. Seperti sesuatu yang terlambat dan sia-sia. Aku merasa butuh berolahraga. Aku tak ingin tubuh ini kelak akan menjadi rumah seribu penyakit. Baiklah kalau aku menjadi orang berduit cukup, bisa untuk memasang balon di jantungku atau melakukan operasi di Australia. Kalau tidak? Cuma akan merepotkan orang-orang sekitarku! Aku ingin bermain bola di lapangan kampus, tapi ternyata tak ada yang aku kenal di tanah lapang itu. Agak sungkan juga untuk turut bergabung bersama mereka. Lalu aku ingin bermain bulutangkis. Ada beberapa gedung bulutangkis yang bisa disewa di sekitar kampusku, tapi aku tak punya raket. Bukan masalah besar, cukup menyisihkan uang bulanan, maka raket semestinya terbeli. Aku gulirkan ideku ini ke beberapa teman dekat, jawaban mereka sungguh mengecewakan, mereka malas bermain bulutangkis. Lalu beberapa orang mengajakku untuk membuat jadwal ke gym. Di sana bisa fitness atau treadmill. Ada beberapa memang di sini tempat-tempat semacam itu, mulai dari yang murah sampai yang mahal. Tapi, seperti kutukan, jadwal itu tak lebih dari semacam omong kosong. Semangat ketika membicarakan dan merencanakan, tapi layu bahkan lupa ketika harus melaksanakannya.

Hah, Pramoedya pasti menertewakan generasi muda semacamku ini. Loyo, tak sehat, dan urakan. Dia bahkan semasa tuanya tetap rajin menggerakan badan dan pernah memilih berjalan kaki berkilo-kilo sementara keluarganya naik kendaraan.

Kini yang menjadi satu-satunya saluran hasrat berolahragaku adalah game komputer. Bermain bola bersama teman-teman, cukup menggerakan jempol tangan saja di atas joystick games. Sesekali menang sesekali kalah, berselang-seling. Tak apalah, cukup melatih sportivitas meski tubuh ini terasa semakin lapang untuk seribu macam penyakit!

8 comments:

trinanti said...

baca dari tulisannya kok kayaknya cerewet banget itu yang nulis
hehehehe

trinanti said...
This comment has been removed by the author.
Lelaki Senja said...

Satu dua tiga empat..ronaldo membawa bola dan ah..masih membentur tiang saudara-saudara..

mensana in corpore sano (di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat)..pantesan gw sering galau, jadi ingat jarang olahraga...

Dan karena jarang berolahraga, maka berubahlah ujaran itu..men pada ke sana..women pada ke sono..wakakak..seperti kata butre, tidak apa-apa garing sebelum garing
dilarang...wakakakak

Anonymous said...

hohoho!
ga heran, namanya juga si "pip"

Gpp-lah pip, yang penting masih ada satu organ yang sehat, yaitu:jempol!

horeeeee....hidup jempol!

Anonymous said...

Tenang pip, belum ada kata terlambat. Nikmati saja hari-hari mu di sana. Kapan kamu sdh siap mendaratkan langkah mu di Jkt, maka ketika itu akan saya mulai siksa dirimu dengan capoeira!

Hoahahahaha...
Kan udah punya back ground pencak silat tuuh ternyata, knp musti takut?

2 bulan lagi saya batisado looh!
;) [caper lagi deeeh si oma perusuh satu ini, blah, ga penting banget yah]

Anonymous said...

hahaha... ayo kita semua bergaring2 ria. oma, kalau capoeira pake lompat2 sih. susyeeehhh... gimana dunks? kita gaple aja deh? mahjong? gimana, gimana??

angin-berbisik said...

tulisan yg bagus....salam kenal nan hangat ya...ayo olahraga, saya juga mulai senam lagi nih....

Anonymous said...

seminggu ini, saya sudah tiga kali lari di sabuga. lima keliling tanpa berhenti. setelahnya, rontok. hahaha. ayo mam, lari. saya juga mengkhawatirkan soal kesehatan.