8.8.07
kudapati
ke laut kupergi; kudapati badai
ke hutan kulari; kudapati sesat
ke lembah kusepi; kudapati hujan
ke kota kudiam; kudapati kejam
ke hatimu kuada; kudapati apa?
rindu dalam-dalam
sudah, sudah
pergi sana... biar sepi di sini, biar sunyi
biar angin kusambut sendiri
malam ini bintang sendiri. kaku diam.
dan sunyi mencuri malam
sudah... pergi sana
jauh. jangan di sini.
malam biar malam
jahat biar jahat
tak perlu malaikat.
nisan, upacara, kubur dalam-dalam semua.
jangan ada lagu. jangan ada puisi.
biar sepi
biar sunyi
aku senang sendiri
aku rindu diriku. rindu dalam.
dalam-dalam
kata-kata
kata-kata menjadi cermin-cermin masa-masa lalu
masa-masa depan cermin-cermin dari detik-detik
yang tercipta sebagai momentum-momentum
di saat-saat kehadirannya dalam hidup-hidup
tiap-tiap orang yang selalu saja menyisakan
makna-makna beragam yang kadang berseberang-
seberangan meski dalam momentum yang sama
kadang juga seperti ini: pengulangan-pengulangan yang memuakan!
sajak dekapan
mendekap harta kudekap miskin
mendekap sendawa kudekap lapar
mendekap gempita kudekap sunyi
mendekap cerita kudekap kosong
mendekap mayang kudekap jeruji
mendekap titah kudekap bungkam
mendekap mulia kudekap hina
mendekap ada kudekap tiada
mendekap cinta kudekap Engkau
apa lagi?
apa lagi? semua telah dituliskan telah dinyanyikan disyairkan menyerupai gubahan-gubahan teragung sepanjang usia tapi hati masih perih dan kepala melulu panas tangan masih kaku tanpa bisa berpaling menunduk menengadah mencari apa yang belum apa yang masih bisa dijadikan serangkaian kata hingga melati mawar dan seribu bunga lainnya tersamai harumnya wanginya terserupai keindahannya keanggunannya apa lagi apa lagi apa lagi masihkah ada yang terlewatkan yang terlupakan yang belum terbahasakan segenggam cinta yang bukan karena setangkup cinta yang walau bagaimanapun walau seperih apapun setajam apapun sayatan-sayatan kisahnya sekejam apapun akibat-akibatnya menjadi hingga memenjara mengerangkeng sejuta indra memakan apa yang tersisa hingga tanpa sisa tanpa jejak tanpa bekas apa lagi apa lagi apa lagi yang belum terucap terdengar terlihat tentangmu tentang bagaimana matamu menelanjangi mataku tentang hewan-hewan disekelilingku yang tertawa begitu renyah mengejek menghina menertawai memunggungi tentang cuaca yang tak pernah bersahabat tersenyum mengulurkan tangan memapah dan menerangi hingga ujung jalan ini apa lagi apa lagi apa lagi?
*Letupan-letupan masa lalu. Berjumpa begitu saja di laci-laci.
Diposkan oleh
Imam Hidayah Usman
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
3 komentar:
meletup-letup, kaya gempa kemaren
see? laki-laki memang lebih 'berdarah-darah', lebih 'biru'. bahkan blog nya pun sekarang berwarna merah jambu.
the days of war - the nights of love... biar kayak gempa terus ;p
Post a Comment