Jadi, Apa yang Sedang Kita Lakukan?
“You know, happiness is in the doing, right, not in the... getting what you want.”
(Jesse Wallace, tokoh film Before Sunset)
Film itu saya tonton berkali-kali, Before Sunrise dan Before Sunset. Dua film yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Dibuat dengan biaya rendah oleh sutradara terkenal Richard Linklater, Before Sunrise mengambil tempat di Wina, Austria. Dan sembilan tahun kemudian, Before Sunset dibuat di Paris sebagai sekuel Before Sunrise. Dua film itu dibintangi oleh Ethan Hawke (bermain sebagai Jesse Wallace) dan Julie Delpy (sebagai Celine). “Seperti kembali bersatunya sebuah band,” kata Ethan Hawke mengomentari soal pembuatan sekuel itu kepada Los Angeles Times. Dalam Before Sunset, tidak hanya sebagai bintang, Ethan Hawke dan Julie Delpy juga turut ambil bagian menjadi penulis skenario.
Banyak yang bisa saya petik dari dialog-dialog menarik dalam dua film itu. Film itu memang menampilkan kekuatannya dalam dialog-dialog sepanjang adegan. Nyaris tanpa putus dari awal hingga akhir. Tapi, ketika malam tadi saya menonton sekali lagi Before Sunset, betapa saya terkesima dengan kalimat yang dilontarkan Jesse Wallace yang saya kutipkan di atas. Dan, walhasil, setelah nonton film itu, saya berpikir-pikir panjang dan lama. “Rasa-rasanya memang benar,” ujar saya dalam hati, “Kebahagiaan bukan karena apa yang kita dapatkan, tapi karena apa yang kita lakukan....”
Siang tadi, misalnya. Siang tadi saya mendapati anak kecil tetangga saya sedang membuat layang-layang sendiri. Sekolahnya baru menginjak kelas dua SD, seragam olahraga sekolahnya belum dia lepaskan. Saya duduk di dekatnya dan memperhatikan. “Lidinya terlalu besar, pasti akan susah terbang,” kata saya berkomentar. Tak membalas ucapan saya, dia malah semakin serius mengerjakan layang-layangnya sendiri. Dia masuk ke dalam rumah dan lalu keluar lagi dengan membawa lem kertas. Selembar halaman koran yang berisi iklan kredit motor dia gunting sesuai ukuran rangka layangan yang telah berhasil ia buat. Dengan lem kertas, dia merekatkan guntingan koran tersebut ke benang di rangka layangan. Tak lama kemudian bibirnya melempar senyum puas, seraya tertawa kecil dia bilang, “Jadi!”
Sekarang tinggal menerbangkan.
Tapi layangan itu tidak pernah terbang. Tidak pernah bisa. Dicoba berkali-kali tetap tak bisa. Dia lalu menggunting benang dari layangan tersebut, dan mengambil layangan lamanya yang dia dapatkan dari membeli. Dia sambungkan benang, dan layangan lamanya terbang. Layangan yang dia buat sendiri, dia biarkan tergeletak di samping kakinya.
Dan sama sekali saya tak menemukan guratan kekecewaan di wajah anak kecil tetangga saya tersebut. Tawanya tetap lepas ketika yang terbang ternyata adalah layang-layang yang didapatkan karena membeli, bukan hasil buatannya sendiri. Mendadak saya menjadi semakin mengerti akan kalimat milik Jesse Walace yang saya kutip di atas, yang membahagiakan adalah karena dia telah mencoba melakukan membuat layang-layang sendiri. Dia telah berpikir untuk membuat sebuah layangan, merancangnya dalam kepala, mencari lidi, kertas koran, dan benang lalu berusaha mewujudukan apa yang ada di dalam pikirannya. Mungkin dia tidak mendapatkan layang-layang baru, tapi dia telah melakukannya. Jika sudah begitu, tentulah dia pantas untuk tidak kecewa dan tetap bahagia. Tak peduli yang dimainkan adalah layang-layang lama.
***
Seandainya kita tahu apa yang kita lakukan. Bukankah banyak di antara kita yang tak benar-benar tahu apa yang sesungguhnya tengah kita lakukan? Kita berbuat begini berbuat begitu sering tanpa kita tahu untuk apa atau mengapa? Yang lebih parah lagi, betapa sering kita melakukan sesuatu karena... orang lain melakukannya!
Banyak hal. Seakan-akan kita tak tahu apa yang sesungguhnya benar-benar ingin kita lakukan untuk diri kita sendiri, sebagai diri kita sendiri. Terkadang kita melakukannya hanya karena orang lain telah melakukannya, atau karena orang lain ingin kita melakukannya, situasi ingin kita melakukannya. Kita tak lagi tahu diri kita sendiri, apa keinginan kita dan siapa sesungguhnya kita. Jika sudah seperti itu, seberapa banyak kebahagiaan bisa kita raih?
Seorang teman saya yang sejak kecil ingin belajar menari balet tidak pernah bisa melakukannya keinginannya itu karena orangtuanya tak mengizinkan. Seorang teman lagi yang pandai memintal, malah dihardik orangtuanya dengan kalimat, “Kamu disekolahkan bukan untuk jadi penjahit!” Seorang teman lagi menjadi pengikut tren habis-habisan karena, kata dia, “Ya, namanya juga anak muda!” Lalu ada pula yang setengah mati diet karena merasa bahwa yang ideal adalah yang seperti bintang iklan. Ada yang bolak-balik ke salon meniru artis ini atau artis itu.
Semuanya menjadi serba seragam, kita kehilangan keunikan kita. Seolah-olah ada begitu banyak komando yang datang dari luar diri kita untuk kita turuti. Tak lagi bebas mengekspresikan diri kita hanya sebagai diri kita sendiri, kita seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Tak lebih dari sekadar ‘pengikut’. Lucunya, terkadang kita bisa merasa bahagia.
Ah, seandainya kita tahu apa yang sedang kita lakukan....
(printed version at Seputar Indonesia, 29 Juni 2007)
4 komentar:
kadang-kadang saya yakin betul dengan apa yang saya lakukan, tapi selebihnya saya seringkali alpa tentang apa yang sedang dikerjakan. jadi pantas kan kalau si bahagia itu jarang mengunjungi saya? hehee...
apa kabar, mam?
Anak-anak hari ini memang lbh banyak jadi 'pion' orang tuanya. Kebanggan org tua yg kemudian membebani jalan hidup sang anak.
tergila-gila sekali dengan film ini, jadi penasaran pengen nonton
iya.. ya.. nonton dunks. terus ikutan milisnya dan ikutan sektenya. empat ribu lebih membernya!
Post a Comment