20.11.09

bersukacitalah!
tidakkah kau dengar gurau para nabi?

bersukacitalah!
bangun dan bangkitlah!

telah dianugerahkan kepadamu
sembilan macam rasa cinta
dari tujuh puluh getsemani

6.11.08

Kapan Ada Buya Lagi?

"Dasar kepengarangan saya adalah cinta."
(Buya Hamka)

Suatu hari rumah Buya Hamka kedatangan tamu. Kali ini tamunya sepasang muda-mudi. Si perempuan lantas mengenalkan diri sebagai putri dari Pramoedya Ananta Toer. Mengetahui itu, Buya ramah bertanya, "Oh, anak Pram. Apa kabar bapakmu sekarang?" Perempuan itu menjawab, "Sudah bebas, Buya." Lalu mengalir dari mulut Buya pujian untuk karya-karya Pramoedya seperti Keluarga Gerilya, Subuh, dan lain-lain. Lepas bincang soal Pramoedya, Buya bertanya maksud kedatangan sepasang tamunya itu. Dijelaskan: mereka hendak menikah, masalahnya, si calon mempelai pria, kekasih putri Pram, belum memeluk Islam dan hendak meminta Buya untuk meng-Islam-kannya. Dari sastrawan, Buya kembali tampil menjadi guru agama. Mengajarkan beberapa dasar agama Islam. Setelah itu dua anak muda itu pamit. "Sampaikan salam untuk ayahmu," kata Buya ramah. Anak Pram menangis. Buya juga nyaris menangis.

Cerita semacam itu bisa kita baca dari Pribadi dan Martabat, sebuah buku catatan Rusydi Hamka, putra Buya Hamka, yang terbit pertama kali pada 1981. Rusydi, yang menyaksikan pertemuan itu dari awal hingga akhir sedikit protes kepada ayahnya. "Lupakah ayah siapa Pramoedya itu?" tanya Rusydi. "Tidak," jawab Buya. "Betapapun dia membenci kita, kita tak berhak menghukumnya." Jagat sastra tanah air tentu tak pernah melupakan polemik besar-besaran di akhir era pemerintahan Orde Lama. Di mana kekisruhan politik merembes hampir di tiap lapangan kehidupan bangsa, termasuk kesusastraan. Lembaga Kebudayaan Rakyat lewat berbagai media yang dimilikinya, menjadikan Buya Hamka bulan-bulanan dengan mengatakan novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck sebagai hasil plagiasi. Ramai-ramai orang menyorot Buya Hamka. Caci maki tak henti berbulan-bulan lamanya.

***

Namanya Abdul Malik. Lahir pada 17 Februari 1908 di Minangkabau. Ayahnya tokoh agama, Syeikh Abdulkarim Amrullah. Di tahun 1918, Syeikh Abdulkarim mendirikan pondok pesantren, Sumatera Thawalib. Pada masa-masa itu, perdebatan-perdebatan agama antara kaum tua dan kaum muda sedang marak. Syeikh Abdulkarim termasuk salah seorang tokoh kaum muda yang menonjol. Dalam suasana perdebatan-perdebatan seperti inilah Abdul Malik dibesarkan.

Sebagaimana kebiasaan yang terjadi, Abdul Malik merantau dari tanah kelahirannya. Awalnya ke Yogyakarta, di mana ia banyak belajar pada tokoh-tokoh pergerakan Islam semacam H.O.S. Tjokroaminoto, Kibagus Hadikusumo, dan lain-lain. Usianya pada saat itu baru 16 tahun. Lepas dari Yogyakarta, dia kembali ke Sumatera menjadi aktivis Muhammadiyah, mengiringi A.R. Sutan Mansur, tokoh Muhammadiyah yang juga kakak iparnya. Lalu Abdul Malik menetap di Medan. Dari Medan inilah, pada tahun 1925, berusia 19 tahun, ia bertolak ke Mekah, menunaikan ibadah haji dan bekerja pada sebuah percetakan di sana. Sepulang haji, ia kembali ke Medan dan menjadi guru agama di sebuah perkebunan. Lepas dari itu, sampai akhir hayatnya, seolah hidupnya diserahkan sepenuhnya pada perkembangan Islam di tanah air.

Di Medan, selain tetap konsern pada kegiatan keagamaan, HAMKA (akronim dari namanya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah) menggeluti dunia kesusastraan. Pada dekade 30-an sampai 40-an, Medan dapat dikatakan sebagai salah satu kota yang menonjol dalam bidang literasi selain Jakarta. Penulis-penulis berkomunitas dan terbitan-terbitan marak. Sebagian penerbit menerbitkan buku-buku agama, sebagian lain menerbitkan roman-roman. A Teeuw, pengamat Sastra Indonesia, menempatkan Hamka sebagai seorang pengarang terkemuka di antara pengarang-pengarang Medan lainnya.

Buya Hamka memang penulis produktif. Sejak usia 17 tahun dia telah menerbitkan bukunya, Khatibul Ummat, sebuah buku agama tiga jilid yang beredar di Padang Panjang. Roman awal yang ditulis berjudul Si Sabariyah, berbahasa Minangkabau dan menggunakan aksara Arab Melayu. Roman ini sempat mengalami tiga kali naik cetak, yang mana kemudian honornya ia gunakan untuk biaya pernikahannya dengan Siti Raham pada tahun 1929. Selanjutnya, seperti tak henti tangannya menggerakan pena atau mengetik di mesin tulis (dan memang inilah kebiasannya: mengetuk-ngetukan jari-jarinya di meja seolah sedang mengetik) melahirkan karya-karyanya, baik dalam bidang agama atau dalam bidang kesusastraan seperti Di Bawah Lindungan Kabah, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Terusir, termasuk karya terjemahan Margaretta Gauthier, dan lain-lainnya. Yang paling fenomenal, tentu saja Tafsir Al Azhar. Selasai menulis lengkap tafisri tersebut, Buya Hamka berkata bahwa kini tugasnya selesai, matipun rela. Sepanjang hidupnya, tercatat 115 lebih buku berhasil ia tulis.

Sebagai seorang jurnalis, bisa dibilang majalah Panji Masyarakat tentu tak akan pernah bisa lepas dari nama Buya Hamka sendiri. Dia mendirikan dan mengasuh majalah itu. Hingga kemudian kekisruhan politik era Orde Lama menyebabkan majalah tersebut dibredel (bersamaan dengan pembredelan beberapa majalah lainnya) dan Buya Hamka ditahan.

Namun agaknya Buya memang sosok yang patut dijadikan contoh. Ditahan nyaris tiga tahun raganya dan diperlakukan tak terhormat dalam rangkaian pemeriksaan mengenai tuduhan yang mengada-ada tentang upaya kudeta dan pembunuhan Soekarno, tak membuat dirinya merasa harus membenci Soekarno. Mendengar Soekarno sakit dan wafat, air matanya tumpah. Lebih dari itu, ia mengimami Sholat Jenazah Soekarno. Tak peduli banyak orang yang mengkritik dan menyayangkan sikap Buya Hamka tersebut. Mengenai Pramoedya, pada tahun 1969 di Taman Ismail Marzuki, Buya Hamka menyatakan ketidaksetujuannya pada pelarangan karya-karya Pram. "Janganlah buku itu dilarang. Tetapi tandingi dengan tulisan," ujar Buya.

Sikap-sikap seperti inilah yang mungkin membuat kita agaknya merasa perlu merindukan sosok seperti Buya Hamka. Agamawan ramah yang menampilkan agama yang ramah. Agamawan yang tak hanya pandai di atas mimbar, tapi juga bisa menghanyutkan lewat rangkaian aksara indah.

printed version: Pikiran Rakyat

24.9.08

tadarus

ada yang sampai pada malam yang sepi dan dingin yang lamat yang besertanya bulan basah darah yang menetes mengalir menjelma Asma-Mu di lelangit kamarku yang pintunya berulang kali mengeluarkan suara ketukan yang serupa kicau burung yang menebar maut

aroma kematian yang datang menghampiri diriku yang berkali-kali menghindar dengan penolakan-penolakan halus yang kurang ajar seperti pernah kutolak sebelas perintah yang diurutkan ibu-ibu kita yang seperti lupa pernah melahirkan kita yang kini sendiri di dingin yang lamat dan malam yang sepi

mencariMu
mencari Rupa-Mu
mencari Kalimat-Kalimat-Mu
mencari Suara-Mu
mencari Hati-Mu
mencari diriku di Diri-Mu

19.9.08

Agraris?

"Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudera..."


Nenek moyang kami seorang pelaut. Seperti mereka kami hidup dari mencari ikan, menambang garam, perdagangan, pajak kapal pelabuhan, dan penangkaran mutiara.

Kami tidak mengenal pemimpin: Raja maupun bentuk pemerintahan yang lain hanya ada di orang daratan. Di negeri kami yang penuh pulau dan dihuni oleh banyak bajak laut, tiap orang harus mengurus dirinya sendiri. Kerjasama adalah sementara, hanya laut yang bisa dipercaya.

Berbeda dengan mereka yang hidup di daratan. Mereka - kaum masyarakat tingkat dua yang bodoh itu - cuma tahu bagaimana bertani dan menyenangkan tuan tanah. Bodoh karena terlalu lama dijajah.

Kami tahu saat untuk menetap, meletakkan sauh, dan menikmati persinggahan. Tetapi laut adalah hidup itu sendiri; ia adalah ibu. Ketika ia memanggil bergegas kami memasang layar, menentukan arah bintang, dan mulai berpetualang.

Jangan samakan kami dengan mereka yang sibuk bertani dan akan mati dimakan kerakusan pasar, kami tidak tahu apa itu arti bebas dan merdeka. Kami adalah camar yang berterbangan mengikuti aliran udara panas. Kami adalah pemandangan laut tak berbatas. Kami adalah angin amis yang bertiup mengibarkan rambut.

taken from themirath

17.8.08

16 Agustus

Ya, saya juga jadi korban "film" ini. Sebuah serangan mendadak dengan amunisi tokoh bangsa. Kecewa? Takjub?

lihat komentar yang lainnya di shoutbox situs 16 Agustus.

5.8.08

Aleksandr Solzhenitsy


"Selama 15 tahun aku teronggok tersembunyi di bawah -- di kamp
kerja paksa, di pengasingan, di bawah tanah -- tak pernah
menampilkan diriku sendiri. Sekarang, aku bisa berenang ke
permukaan...."

Aleksandr Solzhenitsy
(11 Des 1918-3 Agust 2008)

29.7.08

Sepakbola

"Rangga memecahkan jendela belakang bus yang membawa para Viking, pendukung Persib Bandung. Ia menantang siapapun yang ada di dalam bus untuk turun berduel dengannya. Tatapannya kasar, sampai hanya dalam sepersekian detik ia melihat seorang mojang cantik yang terlihat panik di dalam bus yang kacau, chaos serta para Viking yang berserabutan keluar mencari senjata apapun yang bisa dibawa...."

Demikian Andi Bachtiar Yusuf menceritakan filmnya yang kini dalam proses awal produksi. Andi Bachtiar Yusuf pengamat sepakbola. Suatu hari dia bilang, "ape2 aje juga ada hubungannya ama sepakbola."

Setelah berbulan-bulan terpesona dengan sihir Franklin Foer, saya menunggu film ini dengan perasaan tak sabar.

18.6.08

Quote of the Day

"Aku tidak sependapat denganmu, tapi aku bela mati-matian hakmu untuk bebas berbicara mengeluarkan pendapat." (voltaire)

18.5.08

Dekat di Batinku



Kamu datang sebagaimana yang telah dijanjikan. Senja itu. Menjadi satu senja lagi yang cukup buram untukku, kesekian kalinya dalam paruh awal tahun ini. Kamu datang senja tadi bersama setumpuk buku milikku yang kamu pinjam. Kamu mengembalikannya, seperti hendak menyelesaikan sesuatu.
Akan ke manakah angin melayang
Tatkala turun senja yang buram
Kepada siapa lagu kuangankan
Kelam dalam kabut rindu tertahan
Tak banyak aku menatapmu, kecuali sesekali setelah berupaya bertahan terus-menerus melihat layar monitor. Di sampingku, senja itu, kamu bercerita tentang senja yang lainnya. Yang entah dengan siapa kamu saksikan. Merah, katamu. Sangat merah. Merah dan indah.
Aku tahu. Telah banyak yang sudah terjadi, akan banyak yang belum terjadi. Dan senja tadi seperti sebuah titik di mana kedua ujungnya bertemu, yang sudah dan yang belum. Bertemu untuk kemudian berjalan saling menjauhi hingga akhirnya kita sadari, kemungkinan paling besarnya adalah tak akan pernah terjadi apa-apa lagi. Tak akan ada lagi yang sudah atau yang belum. Cuma ada kosong.
Datanglah engkau, berbaring di sisiku
Turun dan berbisik dekat di batinku
Belenggulah seluruh tubuh dan sukmaku
Kuingin menjerit dalam pelukanmu
Selalu saja seperti terlambat aku sadari kalau hidup senantiasa begini. Berjalan dan bergerak tanpa menyisakan banyak pilihan. Selalu saja seperti bebal untuk kupahami bahwa tak semua senja hadir untukku. Hingga gelap datang dan kamu pulang, sempat aku katakan padamu keinginanku mengabadikan fajar di simpang jalan itu. Simpang yang menuntut untuk dipilih. Aku antarkan kamu hingga tepi jalan itu. Kita berpisah. Kau berbalik, aku terdiam. Kupanggil engkau. Namun tetap terdiam.
Sampai di manakah berarak awan
Bagi siapa mata kupejamkan
Pecah bulan dalam ombak lautan
Dahan-dahan di hati bergetaran

(Akan Ke Manakah Angin, Emha Ainun Nadjib)

8.5.08

Antropologi

Cari buku, baca reviewnya, dan langsung download. Seandainya semua orang seperti pengelola blog ini (www.undergroundanthropology.wordpress.com). Terima kasih, yah.

6.5.08

Media Bersama

India memiliki banyak saluran berita, tetapi sangat sedikit yang merekrut dan melatih tenaga-tenaga jurnalis baru. Umumnya seorang jurnalis ditempatkan di pusat kota negara bagian, padahal beberapa negara bagian India luasnya lebih besar dibanding negara-negara di dunia. Akibatnya, seorang jurnalis yang ditempatkan di pusat kota negara bagian hanya dapat menangani peristiwa-peristiwa utama yang terjadi di sekitar pusat kota negara bagian saja. Namun, dengan hadirnya media warga, kenyataan itu berubah.....

Jadilah Pewarta dari Setiap Kesaksian

30.4.08


Suatu hari nanti, Leo. Suatu hari nanti....

13.4.08

ɐɔɐqıp ɥɐsns ƃuɐʎ uɐsılnʇ ƃuɐʇuǝʇ

(= ˙˙˙˙ɐʎuɥɐpnɯ 'ıɐɥɐʍ 'ɐʇɐʎuɹǝʇ ˙ıɹɐɾɐlǝdıp ɐsıq ɐdɐ 'ɐʎuɐʇ ɐʎɐs ˙ɐɔɐqıp ɥɐsns ƃuɐʎ uɐsılnʇ ʇɐnqɯǝɯ ƃuɐʇuǝʇ nʇɐnsǝs ƃuɐlıq ɐıp 'ɐʎuƃolq ıp ˙uɐʍɐıuɹnʞ ɐʞǝ uɐsılnʇ-uɐsılnʇ uɐƃuǝp ɯnƃɐʞ nlɐlǝs ɐʎɐs

17.3.08

Quote of the Day

"Saya punya empat kemenakan yang sekolah di UI ini. Masing-masing pakai mobil. Kok dibilang kita tidak sejahtera?"

(Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI)

5.3.08

Nasib Baru Anggaran Pendidikan Kita


Mahkamah Konstitusi (MK) akhirnya memenangkan gugatan Rahmatiah Abbas dan Badriyah Rifai 20 Februari 2008 lalu yang menuntut agar gaji tenaga pengajar dimasukkan ke dalam pos anggaran pendidikan. Abbas seorang pengawas pendidikan di Sulawesi Selatan, sementara Rifai adalah dosen Universitas Hasanuddin Makasar. Ketua MK Jimly Asshiddiqie tetap membacakan langsung vonis kemenangan gugatan tersebut meski tiga dari sembilan hakim konstitusi memiliki pendapat berbeda (dissenting opinion).

Vonis tersebut kiranya layak membuat banyak dari kita gusar. Pasalnya, dengan keputusan itu MK telah membuat sejarah besar soal anggaran pendidikan kita dan bahkan dapat dikatakan bertentangan dengan bunyi amanat UU Sisdiknas No.20/2003. Dalam UU Sisdiknas Pasal 49 dikatakan bahwa "Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari APBN pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari APBD." (Ayat 1). Kemudian hal ini diperkuat lagi di Ayat 2, "Gaji guru dan dosen yang diangkat oleh Pemerintah dialokasikan dalam APBN."

Akibatnya bisa diduga. Anggaran pendidikan yang sejak UU Sisdiknas tersebut dikeluarkan belum pernah dipenuhi Pemerintah, hari ini tiba-tiba sudah nyaris terpenuhi. Dengan kata lain, Pemerintah yang selama ini nyaris bisa dibilang inkonstitusional soal anggaran pendidikan, sejak keputusan MK tersebut dapat dikatakan (nyaris) konstitusional.

Coba tengok hitung-hitungan berikut. Sejak tahun 2004 Pemerintah berkomitmen akan serius menjalankan anggaran 20 persen ini dengan cara bertahap selama periode 2004-2009, yakni 6,6 persen, 12,01 persen, 14,68 persen, 17,40 persen, dan akhirnya 20,10 persen. Sebagaimana diketahui, komitmen tersebut tidak sepenuhnya dijalankan. Dalam anggaran 2008 saja pemerintah baru mengalokasikan anggaran pendidikan sekira 12 persen dari keseluruhan APBN. Hal ini tentu masih jauh dari yang diamanatkan konstitusi. Kini, setelah keputusan MK tersebut, angka 12 persen itu tiba-tiba melonjak menjadi 18 persen. Di Jawa Barat, jika menuruti keputusan MK, anggaran pendidikan bahkan sudah melampaui 20 persen. Padahal jika gaji tenaga pengajar tidak dimasukkan, anggaran pendidikan Jawa Barat hanya berkisar 15 persen (Pikiran Rakyat, 25/02).

Indeks Pembangunan Manusia

Pertanyaannya sekarang, sesungguhnya sejauh apa Pemerintah kita memandang penting pendidikan? Di saat negara-negara tetangga sudah menangani pendidikan dengan serius, Pemerintah kita masih agak sukar melapangkan jalan untuk anggaran pendidikan ideal. Padahal sebagaimana tercatat, Indonesia masih tertinggal di dalam kancah Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) di antara negara-negara dunia. Indeks Pembangunan Manusia adalah pengukuran perbandingan dari tingkat harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. Sebuah konsep yang dikembangan nobelis Amartya Sen dan ekonom Mahbub ul-Haq. PBB memakai ukuran ini untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembangunan suatu negara. Pada 2007 Indonesia cuma bisa berada di rangking 108, tak berubah jauh dari dua tahun sebelumnya.

Dari kondisi tersebut, yang semakin membuat miris adalah permintaan Wakil Presiden Jusuf Kalla di depan warga Indonesia di Korea Selatan (24/02) agar masyarakat tidak gampang mencela atau menjelek-jelekkan negara sendiri. Wapres mengatakan bahwa kondisi Indonesia beranjak membaik. Mau bukti? Jusuf Kalla memberi contoh tentang macetnya perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng menuju Jakarta. "Itu artinya semakin banyak orang punya mobil," kata Wapres. Sekaligus Wapres juga mengajak untuk memperhatikan listrik yang sering mati. Menurutnya itu, "Bukan karena listrik kurang. Ini karena semakin banyak orang yang menggunakan pendingin (AC)." (Kompas, 25/02).

Jika sudah seperti itu, apa yang bisa kita harapkan lagi untuk majunya dunia pendidikan Indonesia? Sepatutnya MK tidak memasukkan gaji guru dan dosen ke dalam pos anggaran pendidikan. Tentu UU Sisdiknas tidak sembarangan ketika mengamanatkan bahwa anggaran pendidikan sejatinya minus gaji guru dan dosen. Kondisi objektif dunia pendidikan Indonesia memang terhitung morat-marit. Nyaris 64 tahun merdeka, dunia pendidikan kita masih kerap diwarnai gedung sekolah yang ambruk atau rusak parah. Belum lagi soal fasilitas-fasilitas pendukung pendidikan yang rasa-rasanya masih sebatas impian bagi banyak peserta didik dan pengajar.

Banyaknya yang memiliki mobil dan pendingin ruangan bukan hal esensial dalam pembentukan bangsa yang beradab.

26.2.08

Jangan Suka Cela Negara Sendiri


Wapres Kunjungi Korea Selatan
KOMPAS Senin, 25 Februari 2008
J Osdar
Seoul, Kompas - Sekali lagi, Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengharapkan kepada seluruh bangsa Indonesia agar tidak mudah mencela atau menjelek-jelekkan negaranya sendiri. Ia mengatakan bahwa keadaan ekonomi di Indonesia saat ini semakin membaik.
Menurut Wapres, membaiknya ekonomi ini bisa dilihat kalau kita berjalan dari Bandara Soekarno- Hatta di Cengkareng ke Jakarta yang kini semakin lama waktunya. ”Ini karena semakin macet. Itu artinya semakin banyak orang punya mobil,” katanya.
Ia melanjutkan, kondisi sudah sangat baik sekali. Kalau di Jakarta jalan macet, itu artinya makin banyak mobil di Jakarta. Yang kurang memang ruas jalannya.
Wapres menyatakan hal itu dalam pertemuannya dengan masyarakat Indonesia di Korea Selatan di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Korsel di Seoul, Minggu (24/2). Wapres didampingi Ny Mufidah Kalla, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, dan Dubes RI untuk Korsel Jacob Tobing. Kalla berada di Korsel mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri pelantikan presiden ke-17 Korsel, Lee Myung-bak, Senin ini.
Listrik bukan kurang
Selain kemacetan jalan sebagai petunjuk membaiknya perekonomian Indonesia, Kalla juga memberi contoh semakin sering matinya listrik sebagai bukti perekonomian membaik pula. ”Kenapa itu? Bukan karena listrik kurang. Ini karena semakin banyak orang yang menggunakan pendingin (AC). Kita terlambat membangun pembangkit tenaga listrik. Seandainya ada yang jual listrik eceran, kita bisa beli,” ujarnya lagi.
Menurut Wapres, saat ini tidak ada jalan lain kecuali harus hemat listrik. ”Jika kita menaikkan tarif listrik, orang marah. Tak ada jalan lain kecuali hemat. Sulitnya, orang tak mau hemat listrik karena murah. Disuruh hemat tidak mau dinaikkan harganya, marah. Akibatnya, ya mati lampu saja,” kata Kalla, disambut suara hadirin yang menggerutu.
Banyak hal yang disampaikan Wapres dalam pertemuan itu. Kemarin adalah hari pertama ia berada di Korsel. Selanjutnya, ia akan berkunjung ke Jepang.
Kalla juga berbicara tentang kemungkinan penggunaan tenaga nuklir yang masih banyak ditentang warga. Kendala lain adalah soal disiplin orang Indonesia. ”Kita masih mudah sembrono atau ceroboh. Ini cukup bahaya,” ujarnya.
Menjawab pertanyaan mengenai pertahanan negara menghadapi berbagai macam tekanan dari negara lain, termasuk dari negara tetangga, Kalla mengatakan, ”Indonesia siap perang atau damai. Tapi kalau bisa, jangan dengan peranglah, damai saja.”
--------
(Speechless, Anda terlalu "special" Tuan Yusuf....)

22.2.08

Sarkas

sar·kas·me n (penggunaan) kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan kasar

sar·kas·tis a bersifat mengejek; mengandung sarkasme: ia bicara dng nada --

(KBBI online)

Sederhana: kalau cuma sarkas, bukan cuma kamu yang bisa.

18.2.08

Kunang-Kunang

Sepanjang jalan tol menuju Cileunyi senja tadi, senang sekali. Pengalaman pertama setelah begitu seringnya melintasi tol tersebut: banyak kunang-kunang di tepi jalan. Kerlapkerlip sepanjang jalan. Karnaval. Di pojok bis kota terakhir yang nyaris rontok karena si kondektur yang begitu baiknya menaikkan semua penumpang, semua kebodohan dimaafkan oleh kunang-kunang baik hati.

bilakah kau menepi di labuhku?
bilakah kau menjauh?
membentang kau jelas di sana
namun tak teraih
kau datang pun tak pergi

riak-riak berlabuh di pantaiku
darahku kian menderu
sadari tak jelas di sana
apakah karenamu?
kau tak nyata pun tak semu

tidakkah cinta berkuasa?
tak mestinya luka menghentikan langkah
bila saatnya, hadapilah

bilakah kau menepi di labuhku?
bilakah kau menjauh?
membentang kau jelas di sana
namun tak teraih
kau tak datang pun tak pergi

tidakkah bimbang menyiksamu?
masih banyak pulau yang dapat kau temu
sejenak saja, hampiri aku!

berharap kan jelas di sana
hanyalah karenamu
tiap senja di labuhku
menepilah!
menepilah!
menepilah!

(Tiap Senja, Float)

6.12.07

Magical Libraries
Al Fayyadl

Perpustakaan-perpustakaan besar di dunia sungguh indah dinikmati. Baik dari segi arsitektural maupun koleksi buku yang disuguhkan di dalamnya, benar-benar memanjakan para pencinta buku yang berkunjung ke sana....

Selengkapnya


Harapan Baru itu Bernama UU Perpustakaan
Imam Hidayah Usman

Barangkali memang kita agak lupa soal perpustakaan. Di antara sekian banyak permasalahan hidup, mulai dari semakin mahalnya harga kebutuhan hidup hingga ancaman global warming, perpustakaan seolah kekal dalam citranya yang selama ini berkembang: ruang sunyi yang kaku di sudut keriuhan dinamika kehidupan....

Selengkapnya

5.12.07

Cinta, Kedamaian, Pencerahan
Gede Prama

Sulit membayangkan ada pencerahan tanpa ketekunan latihan. Raksasa spiritual dari Jalaludin Rumi, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, sampai Dalai Lama semua dibesarkan latihan. Siapa yang berani membayar latihan dengan ongkos lebih mahal, ia sampai di tempat lebih jauh. Sayang, ini tidak mau dilakukan banyak orang. Hanya berbekal intelek, lalu berharap pencerahan. Ia serupa dengan hanya melihat ujung jari, mau sampai di bulan.

Selengkapnya