Saya tidak tahu di halaman berapa persisnya perasaan ini muncul, tapi mestinya itu masih halaman-halaman awal: Saya ingin menulis buku semacam ini, atau setidaknya, menulis dengan cara dia menulis.
Perasaan semacam itu rasanya perasaan yang jamak hinggap di benak pembaca yang suka menulis. Perasaan itu juga yang menyergap saya tatkala baru saja mulai membaca buku Aceh: Kisah Datang dan Terusirnya Belanda dan Jejak yang Ditinggalkannya, yang ditulis dengan asyik sekali oleh Anton Stolwijk.
Buku ini terbit pertama kali pada 2016 dalam bahasa Belanda sebagai “ATJEH: Her verhaal van de bloedigste strijd uit de Nederlandse koloniale geschiedenis”, di mana buku ini mendapat apresiasi nominasi ECI Literatuurprijs, salah satu ajang penghargaan penting di Belanda dalam bidang kesusastraan. Di Indonesia, Atjeh diterjemahkan oleh Susi Moeimam dan Nurhayu Santoso. Kerja penerjemahan ini didanai oleh Dutch Foundation for Literature, Dutch Culture, Veriniging KITLV, KITLV-Jakarta, dan Yayasan Pustaka Obor.
Kenyataan bahwa buku ini ditulis dengan apik
dan diterjemahkan dengan sangat nyaman sama sekali tak menjadikan saya berhasil
menyelesaikan buku ini dengan segera. Saya membubuhkan tanda tangan pada
halaman judul buku tersebut pada Rabu, 16 Maret 2022, yang berarti pada tanggal
tersebutlah buku itu tiba di meja saya dan mulai saya baca. Halaman terakhir
benar-benar usai saya baca baru pada malam hari 31 Januari 2024. Ada rentang 687
hari, atau 1 tahun, 10 bulan, 16 hari. Untuk buku yang tebalnya bahkan tidak
sampai 300 halaman, kecepatan membaca saya layak diadu dengan siput mana pun di
Jakarta ini.
Sudahlah barang tentu penyebabnya bukanlah
karena buku tersebut sama sekali tidak menarik. Faktor-faktor yang sepenuhnya
berada di diri saya seperti kemalasan, kesibukan, melompat-lompat dari satu
buku ke buku lain (yang kemudian juga belum saya selesaikan), menjadi sebab-sebab
utamanya.
***
Sejujurnya, ketika buku ini terbit di Indonesia, saya sempat berniat segera merampungkan membaca dan membuat artikel ulasan untuk kemudian saya kirim ke media massa. Tulisan terakhir saya yang dimuat di media massa—yang saya tulis karena saya memang ingin menulis, bukan karena pekerjaan—rasa-rasanya telah lebih 10 tahun lalu. Sangat lama.
Aceh punya pengaruh besar dalam hidup saya.
Ayah saya seorang Aceh. Sepanjang yang saya ketahui, demikian pula ayah dan
ibunya. Keduanya berasal dari Sigli, hanya berbeda gampong.
Sigli kota pesisir yang jaraknya sekira 120
kilometer dari Banda Aceh. Sigli dan Banda Aceh kini telah terhubung dengan
jalan tol yang populer disebut Sibanceh, akronim dari Sigli – Banda Aceh. Pembangunan
jalan tol ini menelan biaya Rp12 triliun dan tentu saja sebagian dari jumlah
ini merupakan utang yang harus dibayar rakyat kemudian hari. Kehadiran jalan
tol ini memangkas waktu tempuh perjalanan antara kedua kota, dari tiga jam
menjadi satu jam.
Ayah saya anak tertua. Ia memiliki enam adik
yang sebagai besar, sebagaimana dirinya, telah mangkat. Ia pergi ke Jakarta setelah
huru-hara 1965-1966 mereda. Pada masa-masa tersebut ia aktif di PII dan juga KAPPI.
Dua organisasi yang pada periode tersebut berada di garis anti-PKI. Belakangan
ia juga menjadi salah seorang anggota DPRD-GR. Kuliah Teknik Sipilnya di
Universitas Syiah Kuala tak ia rampungkan. Di Unsyiah, Fakultas Teknik telah berdiri
sejak 1963 di mana satu-satunya jurusan yang ada pada saat itu ialah Teknik
Sipil.
Di Jakarta ia menjadi PNS dan kemudian
mendapatkan penugasan di Kalimantan Barat, di mana kemudian ia bertemu dan
menikahi ibu saya. Belakangan, di sela-sela bekerja sebagai PNS, ia menyempatkan
diri kuliah di Fakultas Hukum di Universitas Tanjungpura, Kalimantan Barat. Namun,
lagi-lagi, ini pun tak ia selesaikan sebagaimana mestinya. Ia benar-benar
mengalami wisuda ketika mendapat tugas belajar di salah satu akademi milik negara
pada kurun 1975-1976.
Sepanjang ingatan saya sebagai anaknya, ia
amat jarang pulang kampung ke Aceh. Momen-momen penting keluarga seperti
Idulfitri, pernikahan kerabat, atau semacamnya, tak menjadikan kami, atau
bahkan ia, “pulang kampung” ke Aceh. Pada awalnya saya berpikir bahwa dirinya
tipikal perantau tulen. Jarang pulang bila tak perlu-perlu amat. Belakangan
saya menyadari, dan mungkin inilah alasan sebenarnya, pulang ke Aceh membutuhkan
uang yang tidak sedikit. Aceh terletak di ujung barat Sumatera. Perjalanan
darat ke Aceh menempuh jarak lebih dari 2.300 kilometer. Butuh waktu dan tentu
biaya yang tak sedikit. Sebagai seorang PNS, kondisi ini jelas merupakan perkara
serius.
Ia pernah pulang saat saya masih di SD. Saat
itu ia mendapat kabar bahwa ayahnya, yang berarti kakekku, sakit parah. Ia
bersama dengan kakak perempuan saya kemudian pulang ke Aceh. Beberapa hari kemudian,
mendengar kabar bahwa di kampung ayah saya jatuh sakit, saya, dua orang abang,
dan ibu saya memutuskan menyusul menggunakan bus.
Itulah momentum pertama saya datang ke Aceh.
Bus yang kami tumpangi bernama PMTOH, singkatan dari Perusahaan Motor Transport
Ondernemer Hasan. Perusahaan angkutan ini berdiri pada 1957 dan disebut-sebut sebagai
perusahaan angkutan bus tertua di lintas Aceh. Entah apa hubungannya, tapi ingatan
saya mengatakan bus yang saya tumpangi itu memang benar-benar tua. Menurut jadwal
yang dijanjikan, bus itu akan tiba di Aceh dalam waktu 3 hari 2 malam.
Kenyataannya, bus itu baru benar-benar tiba di Sigli setelah menempuh
perjalanan 5 hari 4 malam. Entah berapa kali bus itu harus berhenti demi
mengganti ban atau mengurus sesuatu yang tampak tidak beres. Kadang di tengah
hutan gelap ia terpaksa berhenti, kadang di perkampungan.
Sesampainya di Sigli, adik bungsu ayah saya
datang menjemput. Kabar pertama yang kami terima cukup mengejutkan: ayah beserta
kakak saya sudah pulang ke Jawa.
Itu tahun 1992, atau 1993. Jangankan telepon
seluler, telepon rumah pun belum ada. Ada sedikit kesedihan, tapi pada saat itu
diputuskan kami tetap di Sigli dan mungkin akan ke Banda Aceh, mengunjungi
sejumlah kerabat.
Pada periode tersebut suasana konflik di Aceh
masih kuat. Dari Terminal Bus Kota Sigli, kami masih perlu menempuh jarak lebih
kurang 4 kilometer demi sampai ke kampung ayah saya. Jarak tersebut kami tempuh
dengan menggunakan mobil sewaan.
Kami sampai malam hari dan mungkin itu
sebabnya suasana ketegangan khas wilayah konflik cukup terasa. Sepanjang
perjalanan, beberapa kali mobil dihentikan oleh orang-orang dengan parang di
tangan. Pemeriksaan, paman saya memberi tahu. Wajah kami secara bergantian disoroti sinar senter. “Istri
dan anak-anak Abang,” kata paman saya. Lewat satu pemeriksaan, kami dihentikan
kembali selang 1-2 kilometer.
Beberapa hari kemudian, saat saya dan beberapa
sepupu berjalan menuju pantai—kampung ayah saya adalah kampung pesisir—saya mendapati
poster serupa ini di salah satu pos jaga.
![]() |
| Sumber: Tengkuputeh.com |
Saya tidak ingat, apakah ini poster yang sama
dengan yang saya lihat pada saat itu. Yang saya ingat, posternya serupa dengan
itu. Ada cukup banyak foto laki-laki yang disebutkan buron dan kita diminta untuk
melapor bila melihat orang-orang tersebut.
Pada masa-masa itu mereka disebut sebagai
Gerombolan Pengacau Keamanan (GPK). Ini merupakan sebutan yang datang dari
Pemerintah Republik Indonesia kepada mereka yang memperjuangkan Aceh Merdeka.
Menurut tengkuputeh.com, sebutan itu muncul pada 1989. Namun pada 1997,
sebutannya berganti menjadi Gerakan Pengacau Liar (GPL).
***
Buku Aceh tidak menceritakan periode
konflik Aceh dengan Pemerintah RI. Seperti tertera pada judul buku tersebut, buku
ini menceritakan bagaimana Belanda datang dan jejak-jejak yang ditinggalkannya
di Aceh. Membaca buku ini tak ubahnya membaca liputan menarik yang panjang. Bagaimana
peristiwa-peristiwa hari ini, juga benda-benda dan tempat-tempat, dikoneksikan
ke masa yang telah berada jauh di belakang.
Selama membaca buku tersebut sering pula saya
teringat pada salah satu buku fiksi memikat yang ditulis Azhari Aiyub, Kura-kura
Berjanggut (diterbitkan penerbit baNANA pada tahun 2018). Kura-kura juga
menceritakan sejarah Aceh. Dengan intensitas yang sama mencekamnya, kedua buku
ini juga menceritakan ekspedisi Van Heutsz dan Pembantaian Kuta Reh oleh
pasukan Van Daalen.
Membaca kedua buku ini, ditambah pengalaman
masa kecil—dan hingga kini, itu yang terakhir—datang ke Aceh, menjadikan Aceh
istimewa dalam diri saya. Saya merasa, tanah kelahiran ayah saya itu memang
menyimpan begitu banyak cerita memukau. Cerita-cerita masyarakatnya, kisah-kisah
perlawanannya—yang tak melulu tentang kejayaan, juga kompleksitas politik,
sejarah, dan budayanya yang entah mengapa, sulit saya jelaskan, terasa menjadi sangat
menarik.
Saya tidak tahu apakah di suatu hari nanti
saya akan datang kembali ke Aceh. Pada bagian akhir buku Aceh, Anton
bercerita Letnan Van Zanten dan Takengon. Fragmen ini mendorong saya mengetikan
“Takengon” pada mesin pencari. Anton menyebutkan, pada masanya kota benteng
terakhir Belanda di Aceh ini memiliki daya tarik wisata. Salah satu iklan hotel
pada periode 1930-an mendeskripsikan Takengon dengan kalimat menarik ini: “Cuaca
sejuk, olahraga gunung, berburu hewan liar, berlayar, mendayung, berenang,
berkuda, golf, tenis, dengan kemungkinan tamasya ke Apenberg sambil
piknik di tepi danau.” Saya belum pernah ke Swiss, juga Takengon. Tapi Anton
menulis: “seolah tanah dataran Swiss di tengah-tengah Aceh.” (h. 223).
Tentang Van Zanten sendiri, menurut saya,
akanlah sangat menarik jika kisahnya diangkat ke layar lebar.


No comments:
Post a Comment